LOGINRaymond bergegas menghampiri Dara yang masih terduduk lemas di lantai. Tangannya terulur mencoba membantu Dara berdiri, tapi wanita itu justru menggeleng keras sambil menangis."Jangan sentuh aku," bisik Dara dengan suara parau. Air matanya terus mengalir membasahi pipinya yang pucat. "Jangan dekati aku Raymond.""Dara kumohon," Raymond berlutut di hadapan Dara. Tangannya ingin menyentuh pipi basah itu tapi ditepis dengan kasar. "Dengarkan aku dulu.""Pergi!" teriak Dara frustasi. Matanya menatap Raymond dengan tatapan penuh luka. "Pergi kejar Rara! Dia lebih membutuhkanmu sekarang. Bukan aku!"Raymond terdiam. Dadanya sesak melihat Dara dalam kondisi seperti ini. Tapi sebagian hatinya juga khawatir pada Rara yang pergi dengan air mata."Dara...""Kumohon Raymond," Dara menatap mata Raymond dengan tatapan memohon. "Kejar Rara. Pastikan dia baik-baik saja. Aku yang sudah merusak segalanya. Setidaknya pastikan dia tidak melakukan hal yang bodoh."Sebelum Raymond sempat menjawab, Reyhan
Angga yang sejak tadi diam akhirnya bangkit. Wajahnya memerah, matanya menatap Raymond dengan tatapan tidak percaya."Kamu tahu apa artinya ini?" tanya Angga dengan nada dingin. "Kamu tahu apa yang akan terjadi pada reputasi keluarga kita kalau kamu membatalkan pertunangan begitu saja?""Aku tahu Papa," Raymond mengangguk. "Tapi aku tidak bisa menikah dengan wanita yang tidak aku cintai. Itu tidak adil untuk Rara. Dan juga tidak adil untukku."Erik yang sejak tadi mendengarkan dengan saksama akhirnya angkat bicara. "Jadi selama ini kamu dan Dara..." dia tidak melanjutkan kalimatnya, tapi semua orang sudah mengerti maksudnya.Dara yang mendengar semua itu hanya bisa menangis dalam diam. Tubuhnya gemetar hebat. Ini adalah mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Semua yang dia takutkan terjadi.Dia melirik ke arah Rara yang masih duduk dengan kepala tertunduk. Tidak ada air mata di wajah sahabatnya itu. Hanya keheningan yang mencekam.Dengan langkah gontai, Dara menghampiri Rara dan berlutut
Rara mencoba mencairkan suasana, meski dia tahu Raymond akan mengatakan yang sebenarnya. Suasana di ruang tamu rumah Erik masih terasa mencekam. Raymond berdiri dengan napas tersengal, wajahnya pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya. Semua mata tertuju padanya, menunggu kelanjutan kalimat yang terhenti di tengah."Karena aku..." Raymond menarik napas panjang, tangannya terkepal erat di sisi tubuh.Tepat saat itu, pintu rumah terbuka dengan bunyi yang cukup keras. Langkah kaki terdengar mendekat, membuat semua orang menoleh ke arah pintu ruang tamu.Dara dan Reyhan muncul di ambang pintu.Wajah Dara terlihat pucat, matanya sedikit bengkak seperti habis menangis. Sementara Reyhan berdiri di sampingnya dengan ekspresi datar namun tatapannya tajam tertuju pada Raymond."Maaf kami datang terlambat," ucap Reyhan sambil tersenyum tipis. Tangannya merangkul pinggang Dara dengan posesif. "Tadi ada sedikit urusan yang harus diselesaikan."Raymond merasakan dadanya seolah ditikam melihat p
Bandara internasional dipenuhi hiruk pikuk orang-orang yang datang dan pergi. Suara pengumuman penerbangan bergema di seluruh ruangan, bercampur dengan obrolan para penumpang dan suara roda koper yang bergesekan dengan lantai.Di area kedatangan, keluarga besar Raymond dan keluarga besar Rara sudah berkumpul sejak setengah jam yang lalu. Rania dan Angga berdiri paling depan, sesekali melirik jam tangan mereka dengan wajah tak sabar. Di belakang mereka ada Erik dan Citra. Rara berdiri agak ke samping, wajahnya terlihat pucat meski sudah diberi sedikit riasan."Pesawatnya sudah mendarat," ucap Angga sambil mengecek ponselnya. "Raymond sebentar lagi keluar."Rania mengangguk antusias. "Akhirnya dia pulang juga. Sudah lama sekali dia di Inggris.""Sayang, Dara dan keluarganya tidak datang." "David dan Laura masih ada urusan," jawab Erik. "Jadi mereka tidak bisa ikut menjemput."Rara mendengar percakapan itu dengan hati yang mencelos. Dara memang tidak ikut. Sejak kemarin, sahabatnya itu
Malam itu rumah keluarga terasa lebih ramai dari biasanya. Lampu-lampu di ruang tamu menyala terang, menerangi wajah-wajah yang berkumpul di sana. Erik dan Citra duduk di sofa utama, sementara Rania dan Angga duduk di sofa seberang. David dan Laura berada di sampingnya.Dara dan Rara duduk berdampingan di sofa samping, meski ada jarak yang terasa lebih lebar dari biasanya di antara mereka."Jadi Raymond akan pulang lusa?" tanya Erik sambil menyeruput kopi hangatnya.Angga mengangguk. "Iya. Dia bilang ada beberapa urusan yang harus diselesaikan di sini. Dan tentu saja, dia ingin bertemu Rara."Rara tersenyum tipis mendengar itu. Tapi senyumnya tidak sampai ke mata. Dadanya masih sesak mengingat semua yang terjadi belakangan ini."Bagus kalau begitu," sambung Citra dengan nada riang. "Pasti dia kangen dengan kita semua.”"Dan kangen dengan tunangannya," tambah Rania sambil melirik Rara dengan senyum lebar. "Benar kan Rara?"Rara hanya mengangguk pelan. Tangannya terkepal di atas paha, b
Rara menutup pintu kamarnya dengan pelan. Tubuhnya merosot di balik pintu, punggungnya bersandar pada kayu yang dingin. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya mengalir deras membasahi pipinya.Tangannya masih gemetar memegang ponsel. Layarnya menampilkan chat dengan Raymond yang tak kunjung dibalas. Padahal tadi, ketika menggunakan ponsel Dara, pria itu langsung membalas dalam hitungan detik."Kenapa?" bisik Rara dengan suara bergetar. "Kenapa dia begitu cepat membalas Dara tapi mengabaikanku?"Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Semakin dia memikirkannya, semakin sakit dadanya. Ada sesuatu yang tidak beres. Ada sesuatu yang disembunyikan dari dirinya.Rara menatap foto Raymond di wallpaper ponselnya. Foto yang diambil saat acara pertunangan mereka. Di foto itu, Raymond tersenyum. Tapi entah kenapa, senyum itu terlihat dipaksakan. Matanya tidak berbinar seperti mata orang yang bahagia."Apa dia tidak mencintaiku?" gumam Rara pelan. Air matanya semakin deras. "Apa selama ini







