Share

Rendra Malu

Author: CitraAurora
last update Last Updated: 2025-09-19 21:30:22
Sontak raut wajah Rendra berubah jika Laura ikut ke pameran otomatis dia akan mengklaim kalau semua desain itu adalah miliknya.

Rendra mencoba mengalihkan perhatian David, “Laura capek paman dari tadi dia bersih-bersih rumah,” katanya sembari mengelus rambut istrinya.

Kini tatapan Rendra beralih ke Laura, “Iya kan sayang kamu capek.” Dia mencoba mengintimidasi Laura lewat tatapannya berharap wanita itu tak terpengaruh dengan ucapan David.

“Aku tidak capek kok mas,” jawabnya yang membuat Rendra kembali tak karuan.

“Kamu ini sekali-kali ajaklah istrimu menghadiri acara perusahaan.” Ujar David.

Renda kini serba bingung bagaimana jika istrinya benar-benar ikut ke pameran?

“Laura lebih senang di rumah paman daripada menghadiri acara-acara seperti itu,” dia kembali mengintimidasi Laura namun istrinya bersikeras ingin ikut ke pameran.

"Aku suka kok Mas ikut ke pameran, kan karyaku ada disana." Laura tersenyun menatap Rendra.

Suaminya mau cari alasan lagi, malam ini dia aka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (11)
goodnovel comment avatar
NACL
wkwkwkwkw bisa ea lo vid vid, justru Uncle yang modus kan?
goodnovel comment avatar
Mega
lucu lucu xixixixi
goodnovel comment avatar
CitraAurora
siap Kak Sari
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hasrat Liar Paman Suamiku    Kita Adakan pesta

    Rendra langsung tersadar dan tertawa canggung. Tangannya menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal. "Maaf Paman, maaf. Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya memberikan pujian biasa. Lagipuan aku sudah punya Sinta. Paman tidak perlu khawatir.""Omong-omong Sinta," David mengalihkan pembicaraan dengan nada yang sedikit ketus. "Mana dia? Kenapa tidak ikut? Dan anak kalian?""Sinta dan anak-anak akan pulang seminggu lagi," jawab Rendra sambil memasukkan tangan ke saku celananya. "Aku pulang terlebih dahulu karena ada urusan bisnis yang harus diselesaikan di sini. Kontrak yang mendesak. Jadi ya terpaksa aku duluan deh."Laura yang mendengar itu mengangguk pelan. "Anak-anak kamu usia berapa sekarang?" Tanya David. "Raka sudah berusia dua puluh tahun, sedangkan Risa berusia 15 tahun. Nanti kalau mereka sudah sampai, aku bawa ke sini biar mereka ingat." Jelas Rendra dengan tersenyum. "Sudah besar-besar ternyata, aku sudah lupa wajah anak-anak kamu." "Iya Paman," Rendra menggaruk kep

  • Hasrat Liar Paman Suamiku    Kedatangan Rendra

    Pagi yang tenang di kediaman keluarga David dan Laura tiba-tiba terganggu oleh bunyi klakson mobil yang terus berbunyi tanpa henti. Suara memekakkan itu membuat David yang sedang membaca koran di ruang keluarga mengerutkan kening dengan kesal."Siapa sih yang tidak tahu sopan santun?" gerutu David sambil melipat korannya dengan kasar. "Pagi-pagi sudah membunyikan klakson seperti itu."Laura yang baru turun dari lantai dua juga terlihat terganggu. "Mungkin tamu penting. Coba kamu lihat dulu siapa."David bangkit dari sofa dengan wajah kesal dan berjalan menuju pintu depan. Laura mengikuti di belakangnya dengan rasa penasaran. Begitu pintu terbuka, mata David langsung membulat melihat mobil mewah hitam metalik yang terparkir di halaman rumahnya.Pintu mobil terbuka, Rendra turun dengan senyum lebar. Penampilannya sangat rapi, mengenakan kemeja putih yang dimasukkan ke dalam celana bahan hitam, lengkap dengan jam tangan mewah di pergelangan tangannya. Rambutnya disisir rapi ke belakang,

  • Hasrat Liar Paman Suamiku    Dara Bahagia

    Keheningan menyelimuti ruangan beberapa detik. Semua orang masih mencerna informasi yang baru saja mereka dengar.David yang pertama kali bereaksi. "Kalian... kalian serius?""Sangat serius Papa," jawab Rara dengan senyum tulus. "Kami sudah berpikir matang tentang ini. Kami tahu ini mungkin terdengar terburu-buru. Tapi kami yakin dengan keputusan kami."Erik bangkit dari duduknya, wajahnya masih menunjukkan keterkejutan. "Tapi kalian baru saja... maksudku, bukankah kalian baru...""Baru putus dengan pasangan kami?" Reyhan melanjutkan kalimat Erik dengan tenang. "Iya, kami tahu. Tapi justru karena itu kami merasa ini adalah waktu yang tepat. Kami berdua memahami satu sama lain. Kami berdua tahu apa yang kami lewati. Dan kami yakin bisa saling mendukung, saling menguatkan."Rania menatap anaknya Raymond, seolah mencari konfirmasi. Raymond tersenyum dan mengangguk. "Aku mendukung mereka Mama. Kalau mereka sudah yakin, kenapa tidak?"Dara juga bangkit dan berlari memeluk Rara. "Aku sangat

  • Hasrat Liar Paman Suamiku    Kami Juga Ingin Menikah

    Sore itu Reyhan dan Rara duduk berhadapan di sebuah cafe yang tenang. Di hadapan mereka masing-masing tersaji secangkir kopi yang masih mengepulkan uap hangat. Suasana di antara mereka terasa lebih ringan dibanding beberapa hari yang lalu, meski masih ada sedikit canggung yang menyelimuti.Reyhan menatap Rara dengan tatapan serius. Tangannya terulur di atas meja, menggenggam tangan Rara dengan lembut namun tegas."Rara, aku sudah berpikir panjang tentang usulanku kemarin," ucap Reyhan membuka pembicaraan. "Dan aku masih tetap pada pendirianku. Aku pikir kita bisa mencoba untuk saling membuka hati."Rara menatap genggaman tangan Reyhan, lalu mengangkat kepalanya menatap mata pria di hadapannya. "Aku juga sudah berpikir Rey. Dan sejujurnya, aku pikir ini bisa jadi solusi yang baik untuk kita berdua."Senyum tipis muncul di wajah Reyhan. "Jadi kamu setuju?""Iya," Rara mengangguk pelan. "Aku tahu ini tidak akan mudah. Kita berdua masih mencintai orang lain. Tapi seperti yang kamu bilang,

  • Hasrat Liar Paman Suamiku    Aku Ingin Menjelajah

    Sore itu, matahari perlahan turun di balik puncak gunung yang menjulang, menciptakan siluet indah yang menenangkan jiwa. Angin sepoi-sepoi berhembus lembut, membawa aroma segar pegunungan yang menyegarkan.Dara berdiri di balkon villa yang luas, kedua tangannya bertumpu pada pagar kayu yang kokoh. Matanya terpaku pada pemandangan menakjubkan di hadapannya. Ini pertama kalinya dia benar-benar menikmati kebersamaan dengan Raymond tanpa harus bersembunyi atau merasa bersalah."Indah sekali," gumam Dara dengan suara pelan, hampir seperti bisikan.Tiba-tiba dia merasakan sepasang lengan kekar melingkari pinggangnya dari belakang. Tubuh hangat Raymond menempel di punggungnya, membuat jantungnya berdetak lebih cepat."Tidak seindah kamu," bisik Raymond di telinga Dara, suaranya dalam dan serak, membuat bulu kuduk Dara merinding.Dara tersenyum, pipinya merona merah. "Kamu ini gombal sekali."Raymond mengendus lembut jenjang leher Dara, menghirup aroma vanilla yang selalu membuatnya mabuk kep

  • Hasrat Liar Paman Suamiku    Harus Bangkit

    Pagi itu matahari bersinar cerah, menerangi kota dengan cahaya keemasan yang hangat. Udara terasa segar, membawa harapan baru setelah badai emosional yang melanda malam sebelumnya.Dara baru saja selesai sarapan ketika ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Raymond muncul di layar."Aku sudah di depan rumahmu. Pakai baju yang nyaman. Kita akan pergi."Dara mengerutkan kening membaca pesan itu. Pergi kemana? Raymond bahkan tidak memberitahunya sebelumnya. Tapi entah kenapa, dadanya terasa hangat. Ini pertama kalinya sejak semua drama kemarin mereka bisa bersikap terbuka tanpa perlu bersembunyi lagi.Dengan cepat, Dara mengganti pakaiannya dengan dress santai berwarna putih dan cardigan krem. Rambutnya diikat setengah, membiarkan sebagian helaian rambut panjangnya jatuh di punggung. Setelah memastikan penampilannya cukup rapi, dia mengambil tas kecil dan bergegas keluar.Raymond berdiri di samping mobilnya, mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru muda yang dilipat sampai siku dan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status