Langkah Kayla Janneth tertatih, hak tingginya nyaris patah, dan napasnya berat dengan aroma alkohol yang menyelimuti tubuhnya.
Ia tidak pernah terbiasa minum, tapi malam ini, dia ingin melupakan semuanya. Jeremy, mantan tunangannya, pria brengsek yang membawa kabur semua uang tabungannya termasuk cicilan apartemen yang baru dibayar setengah.
Matanya yang setengah terpejam menangkap nomor kamar 2703 dan tanpa berpikir, dia menempelkan kartu akses yang diberikan oleh resepsionis bar hotel.
Entah bagaimana bisa kartu itu berada di tangannya, Kayla tak tahu. Yang dia tahu hanyalah kasur empuk dan tempat tenang adalah satu-satunya pelarian saat ini.
Pintu terbuka. Lampu kamar temaram, beraroma maskulin dan dingin.
Seorang pria tinggi berdiri dengan setelan hitam rapi, dasinya sudah dilepas dan segelas wine di tangannya. Matanya menyipit tajam saat melihat wanita asing—Kayla—menerobos masuk begitu saja.
Namun sebelum dia bisa mengucap kata protes, wanita itu telah menutup pintu di belakangnya lalu mendekat dan menggenggam kerah bajunya.
“Kau ... pria paling tampan yang pernah kulihat,” Kayla bergumam dengan napas beratnya. “Tolong buat aku melupakan semuanya.”
"Apa maksudmu?" tanyanya dengan nada dingin sembari melepaskan tangan Kayla dari kerah bajunya.
"Keluar dari kamarku sekarang juga. Kau salah masuk kamar, Nona," ucapnya lagi.
Kayla mengembungkan pipinya hingga aroma alkohol merebak di penciuman pria itu.
"Oh, ayolah. Hidupku sangat hancur. Tunanganku, Jeremy. Dia membawa kabur semua uangku, menguras habis kartu kreditku dan kini aku dikejar debt colector. Ah, sial! Sepertinya aku sudah gila."
Pria itu mengangkat alisnya begitu mendengarnya. Wajah tegasnya menatap Kayla dari atas sampai bawah. Dia memang memesan wanita malam untuk melampiaskan kemarahan pada orang tuanya yang terus menjodohkan dia.
Bajunya lusuh, langkahnya goyah. Sangat kontras dengan penampilan dia yang begitu tegas, tampan, mengenakan setelan mahal, bahkan wine di genggamannya pun bisa membeli tas yang dikenakan oleh wanita itu.
"Sebaiknya keluar dari kamarku sekarang, Nona," usirnya kembali, dengan nada dinginnya.
Kayla mendekat kemudian tangannya menyentuh dada Samuel dengan lembut. “Aku butuh pelarian. Aku mohon. Tiduri aku sekarang juga.”
Samuel menaruh gelas wine tersebut di nakas dan menatap datar wajah Kayla. "Siapa namamu?" tanyanya kemudian.
"Kayla Janneth." Mata lelahnya menatap lekat wajah pria dingin itu lalu membelai dada bidang di balik kemeja putih yang dikenakannya. "Ayolah, apa lagi kau tunggu, hm? Sentuh aku, pria tampan!" titahnya dengan suara seraknya.
Samuel menggeram kesal melihat Kayla yang terus menggodanya. Namun, pesona wanita di hadapannya ini memang sangat menggoda, terlebih dia juga sedang menunggu wanita malam itu datang, namun tidak juga tiba.
"Baiklah, jika memang itu yang kau inginkan!"
Tanpa banyak kata lagi, Samuel menarik tubuh Kayla ke pelukannya. Ciuman mereka liar, dalam, dan serakah. Tubuh Kayla terasa hangat dan menggoda dalam dekapannya itu.
Tangannya yang gemetar lantas melepas kemeja Samuel, sementara pria itu sudah menyusuri garis lehernya dengan bibir penuh nafsu.
Tubuh telanjang mereka menyatu di atas ranjang. Desahan dan rintihan memenuhi ruangan, memecah keheningan malam.
Paha Kayla melingkar erat di pinggang Samuel, tubuhnya melengkung mengikuti gerakannya, dan setiap gesekan kulit mereka membuatnya melambung lebih tinggi dalam kenikmatan. Ia meracau, memohon, dan mendesah tanpa malu.
“Jangan berhenti. Tolong lebih dalam lagi, ahh ....”
Samuel menjawab dengan aksi yang lebih dalam dan panas. Dia mengeksplor tubuh wanita itu seperti musisi memainkan alat musik yang paling ia kuasai. Kayla menggigit bibir, menahan jeritan saat klimaks menyapu seluruh sarafnya.
**
Kayla membuka mata pelan setelah merasakan matahari menerobos celah jendela dan menyinari wajahnya. Dia mendapati dirinya telanjang, seprai berantakan, dan tubuhnya masih hangat karena sisa percintaan semalam.
“Oh, Tuhan ...,” gumamnya lirih sambil meraih gaunnya yang tergelatak di lantai. “Apa yang telah aku lakukan?” gerutunya sambil mengusap wajahnya dengan pelan.
“Tidurmu nyenyak, Nona?” suara bariton dari arah samping membuat Kayla menoleh.
“Si-siapa kau? Dan kenapa kau ada di sini?” tanyanya dengan gugup.
“Ini kamarku, dan sepertinya kau salah masuk kamar," jawabnya dengan tenang.
Kayla menjambak rambutnya sendiri saat mendengar ucapan dari Samuel tadi. Suara alarm yang berbunyi membuatnya menoleh. Matanya terbelalak ketika melihat jadwal yang tertera di layar ponselnya itu.
“Sial! Hari ini aku ada wawancara kerja!” Ia buru-buru mengenakan pakaian sambil menahan nyeri di bagian-bagian tubuhnya yang semalam digempur dengan hebat.
“Maaf, aku harus pergi sekarang. Dan lupakan malam ini. Aku harap kita tidak bertemu lagi.”
Ia berlari keluar hotel dengan rambut acak-acakan, wajah nyaris tanpa riasan, dan hati yang masih tercekat karena malam gila yang tak pernah dia rencanakan.
**
Sepanjang perjalanan menuju kantor yang menjadi tujuan wawancaranya, Kayla terus memukul-mukul kepalanya sendiri.
“Kenapa aku bisa tidur dengan pria asing?! Bodoh! Gila! Kau sangat gila, Kayla!” makinya pada dirinya sendiri.
Ia menggigit bibir bawahnya, merasa malu, jijik, dan—secara absurd—masih merasakan sensasi panas di kulitnya. Dia buru-buru mengambil setelan baju rapi saat tiba di apartemen mininya.
Mengenakan pakaian sopan seadanya dan kembali berlari menuju gedung di mana dia akan melakukan wawancara kerja hari ini.
Lima belas menit kemudian, Kayla berdiri di depan gedung Thomas Corp, jantungnya berdetak tidak karuan.
Bukan hanya karena gugup menghadapi wawancara, tapi juga karena perasaan bersalah dan ketakutan bila pria tadi malam adalah seseorang yang penting di dunia ini.
Ia masuk ke dalam dan disambut oleh resepsionis, kemudian diantar ke ruang wawancara di lantai 47.
Begitu pintu terbuka, napas Kayla terhenti.
Di sana, duduk dengan anggun dan percaya diri di belakang meja marmer besar, adalah pria yang tidur dengannya semalam.
Samuel Thomas. Mengenakan setelan biru gelap, kemeja putih bersih, dan ekspresi santai penuh dominasi.
“Kita bertemu lagi, Nona,” ucapnya datar namun dengan senyum setengah mengejek.
Kayla membeku. Matanya membulat, wajahnya memucat. “Ka-kau ….”
Samuel bangkit dari duduknya dan melangkah santai, lalu bersandar di meja tepat di depannya.
“Ya. Aku adalah Samuel. Pria yang tidur denganmu semalam. Dan sepertinya kau sangat menikmati peranku semalam, Nona.”
“T-tidak. Itu ... Itu salah. Itu hanya … sebuah kecelakaan,” Kayla berbisik.
Wajahnya merah padam. Ia kemudian memalingkan muka, berharap bisa lenyap dari bumi ini karena tidak menyangka akan bertemu dengan pria yang menghabiskan malam bersamanya.
"Kau masih membutuhkan pekerjaan ini, Nona?"
“Kau ikut denganku malam ini,” ucapnya tanpa basa-basi setelah pria itu selesai dengan pertemuannya.Kayla mengerutkan kening mendengarnya. “Maksudnya?” tanyanya bingung.“Makan malam.”Kayla terbelalak dan langsung beranjak dari duduknya. “Tuan Samuel, aku—”“Tenang. Kau tidak akan duduk satu meja denganku. Ada meja VIP terpisah. Aku akan memesan untukmu. Kau hanya perlu menungguku di sana. Aku tidak ingin berbincang terlalu lama dengan mereka.”“Untuk apa? Bukankah … makan malam ini adalah urusan pribadi Anda?” nada Kayla mengeras.Samuel mencondongkan tubuh sedikit menatap Kayla dengan tatapan intens. “Kalau kau tidak datang, aku akan memikirkan ulang kontrak kerjamu. Termasuk fasilitas apartemen yang kau nikmati sekarang, Kayla.”Kalimat itu membuat napas Kayla tertahan. Ia menatapnya dengan tatapan tak percaya, tapi ia tahu pria ini tidak main-main dengan ucapannya tadi.Dia kemudian menghela napasnya dan mengangguk singkat. “Baiklah.”**Malam itu, mereka datang terpisah.Samuel
Kayla masih berdiri di sudut lift dengan kedua tangannya memegang map erat-erat. Nafasnya kacau, wajahnya panas. Dan dia hanya tahu satu hal—dia harus menghindari pria itu.Tapi bagian terdalam diriny … diam-diam menunggu “nanti” itu datang.“Kau sudah gila, Kayla!” gerutunya sambil menghina dirinya sendiri karena mulai terperangkap dalam gairah yang Samuel berikan padanya.Setibanya di ruang kerja Samuel, Kayla melangkah masuk terlebih dahulu sambil membawa setumpuk dokumen yang baru saja dia peroleh dari sekretaris divisi keuangan.Samuel berjalan santai di belakangnya, jemari tangan kirinya menyelip di saku celana dengan aura otoritasnya memenuhi ruangan seperti biasa.Belum sempat Kayla meletakkan dokumen di atas meja, ponsel Samuel berdering nyaring. Nada dering khusus yang dia gunakan untuk satu orang—ibunya.Samuel melirik layar sebentar lalu menjawab dengan nada datar. “Ya, Ma?”Suara seorang wanita paruh baya terdengar lantang dari seberang, penuh dengan wibawa dan tanpa memb
Hari pertama Kayla bekerja sebagai asisten pribadi Samuel berjalan dengan ritme yang melelahkan.Dari pagi, dia sudah harus mendampingi rapat internal, mengatur jadwal meeting klien, hingga memastikan dokumen penting siap di meja bosnya itu.Namun, bukan beban kerja yang membuatnya gugup sepanjang hari. Tapi, karena tatapan Samuel.Tatapan yang menusuk tanpa suara, seperti sesuatu yang dia rasakan di kulit, bahkan di tulang setiap kali dia berani mengangkat kepala. Tatapan yang seolah ingin mengupas lapisan demi lapisan dirinya sampai habis.Saat rapat berlangsung di ruang konferensi besar, Kayla duduk di sisi kanan Samuel, sedikit menunduk sambil mencatat poin-poin penting.Namun dari sudut matanya, dia bisa merasakan—pria itu sedang menatapnya.Kayla tetap mencoba untuk fokus pada pembicaraan direksi, tapi kata-kata di udara terdengar seperti gumaman tak jelas.Satu-satunya hal yang terasa nyata adalah tatapan itu. Perlahan dia melirik, dan benar saja—Samuel sedang memandangnya, tid
Kayla berdiri di lorong panjang gedung itu, jemarinya masih meremas map berisi berkas lamaran. Ruang kerja Samuel ada di ujung sana, tapi langkahnya justru menjauh.Udara dingin dari pendingin ruangan tidak mampu meredam panas yang membakar pikirannya. Tawaran yang baru saja dia dengar terasa seperti jebakan yang dibungkus dengan pita emas—menggiurkan, namun berbahaya.Ia naik ke lantai atas, menuju area rooftop yang biasanya sepi. Dari sana, kota terbentang luas di bawah langit mendung.Mobil-mobil tampak seperti mainan kecil yang bergerak lambat di jalanan, lampu-lampu mulai menyala meski sore belum sepenuhnya tenggelam. Kayla berdiri di tepi pagar pengaman, memeluk dirinya sendiri tengah mencoba berpikir jernih.Tiga puluh juta per bulan. Apartemen. Kendaraan. Tunjangan. Semua yang dia butuhkan untuk memperbaiki hidupnya ada di dalam tawaran itu.Tapi, bekerja langsung di bawah Samuel, pria yang semalam menjadi bagian dari malam paling memalukan dalam hidupnya?Dia menutup matanya
“Aku … tidak mengerti maksudmu,” ucap Kayla seraya menatap datar wajah Samuel. Ia berusaha menekan gelombang kegelisahan yang mulai muncul dari dalam dadanya.Samuel menyilangkan kakinya dengan angkuh, lalu bersandar santai di kursinya yang terbuat dari kulit hitam mahal.Ia tampak seperti raja di singgasananya, mengamati Kayla layaknya pion yang baru masuk ke dalam permainan catur miliknya. “Kau tahu posisi apa yang kau lamar di sini?” tanyanya dengan suara rendah tapi mengandung tekanan.“Asisten administratif,” jawab Kayla singkat. Ia kemudian menggenggam tangannya erat di pangkuan, sedang mencoba menyembunyikan kegugupan.Samuel menatapnya dalam, pandangannya tajam menembus lapisan luar pertahanan diri Kayla. “Aku punya tawaran yang sedikit berbeda untukmu,” katanya dengan pelan.Kayla mengerutkan kening, naluri curiganya langsung menyala. “Berbeda?” ulangnya dengan nada waspada.“Jadi asisten pribadiku,” ucap Samuel dengan nada yang tenang tapi tegas. Manik matanya yang tajam seo
Langkah Kayla Janneth tertatih, hak tingginya nyaris patah, dan napasnya berat dengan aroma alkohol yang menyelimuti tubuhnya.Ia tidak pernah terbiasa minum, tapi malam ini, dia ingin melupakan semuanya. Jeremy, mantan tunangannya, pria brengsek yang membawa kabur semua uang tabungannya termasuk cicilan apartemen yang baru dibayar setengah.Matanya yang setengah terpejam menangkap nomor kamar 2703 dan tanpa berpikir, dia menempelkan kartu akses yang diberikan oleh resepsionis bar hotel.Entah bagaimana bisa kartu itu berada di tangannya, Kayla tak tahu. Yang dia tahu hanyalah kasur empuk dan tempat tenang adalah satu-satunya pelarian saat ini. Pintu terbuka. Lampu kamar temaram, beraroma maskulin dan dingin.Seorang pria tinggi berdiri dengan setelan hitam rapi, dasinya sudah dilepas dan segelas wine di tangannya. Matanya menyipit tajam saat melihat wanita asing—Kayla—menerobos masuk begitu saja.Namun sebelum dia bisa mengucap kata protes, wanita itu telah menutup pintu di belakang