Mag-log in“Jadi, dia benar-benar sudah gila karena mau memilikimu?”Hera yang mendengar cerita dari Olivia pun langsung tersentak kaget. Kedua matanya melebar, tidak menyangka dengan kelakuan Sean kali ini. Pasalnya, selama pernikahan, Sean selalu bersikap dingin dan bahkan tidak peduli dengan Olivia.Jadi, kenapa sekarang dia peduli?‘Apakah ini yang dinamakan peduli di saat seseorang sudah memiliki hati yang lain?’ batin Hera. Dia mengelap sisa air yang belepotan di bibir.Sedangkan Olivia hanya bergumam pelan dan menganggukkan kepala. Dia tampak santai sembari menyeruput minuman di tangan. Benar-benar tidak terlihat seperti seseorang yang baru mengalami kejadian tak terduga.“Terus, dia melakukan apa denganmu?” tanya Hera dengan tatapan lekat. Dia semakin penasaran.“Dia mau menodaiku, berharap itu bisa membuatku menjadi milik dia seutuhnya. Tapi sayangnya, aku tidak peduli sama sekali. Aku sudah muak dan apa pun yang akan dilakukannya, aku tidak akan pernah kembali,” jawab Olivia.Hera yang
Hening. Charles masih duduk di gazebo sebelah rumah, menikmati pemandangan sekitar dan udara sore yang terasa sejuk. Sesekali, dia menyeruput kopi dan kembali menatap sekitar. Hingga seseorang berhenti di sebelahnya, membuat Charles mengalihkan pandangan.“Ada apa, Tomy?” tanya Charles dengan ekspresi datar.“Tuan Simon mencari anda, Tuan.”Simon? Charles yang mendengar nama itu pun terdiam. Keningnya berkerut dalam dengan raut wajah berpikir. Dia mencoba mengingat sesuatu. Hingga menghela napas lirih.“Apalagi yang mau dibuat anak kurang ajar itu?” gumam Charles. Dia yakin, kedatangan putranya itu pasti memiliki tujuan lain.“Tuan Simon terlihat marah, Tuan,” ucap Tomy lagi.“Memangnya kamu pernah melihat wajahnya bersahabat saat datang ke rumah ini?” tanya Charles dengan nada ketus. Rasanya kesal karena setiap Simon datang, hanya masalah yang dibawa. Padahal dulu dia mendekati Simon untuk membangun hubungan ayah dan anak yang sempat terputus, tetapi siapa sangka tujuannya tidak terc
“Aku sudah baik-baik saja, Simon. Jadi, kamu lanjutkan pekerjaanmu saja.”Olivia yang sudah sampai rumah pun menatap ke arah Simon dengan senyum lebar. Sebisa mungkin, dia menunjukkan ekspresi baik-baik saja. Selama diperjalanan, dia sudah melihat seberapa cemasnya Simon, membuatnya tidak ingin menambah masalah pria tersebut.“Aku tahu, tetapi aku mau menunggu sebentar lagi. Aku masih mau menemanimu,” sahut Simon. Dia menggenggam jemari Olivia dan mengelus lembut.“Kamu masih takut kalau Sean mengejarku lagi?” tanya Olivia, cukup tahu pikiran pria di depannya.Mendengar tebakan yang benar, Simon tertawa kecil. Dia berkata, “Aku benar-benar tidak bisa menyembunyikan apapun darimu, Olivia.”Olivia tertawa kecil. Benar. Simon memang tidak bisa menyembunyikan apapun darinya. Sekecil apapun masalahnya, entah kenapa Olivia selalu mengetahuinya.Olivia menghela napas lirih. Kali ini dia melepas tangan Simon, berganti dia yang menggenggam. Jemarinya mengelus pelan sembari berkata, “Kamu tenan
Hening. Suasana di dalam mobil terasa mencekam, tidak ada yang membuka suara sama sekali. Simon yang baru saja memukul Sean pun hanya diam, membuat suasana di ruangan tersebut terasa mencekam. Hingga Olivia yang sejak tadi bungkam mulai bergerak, meraih jemari Simon yang sejak tadi mengepal dan menggenggam lembut.“Sakit?”Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut Olivia. Sejak tadi dia hanya menutup mulut bukan karena takut melihat aura Simon yang mematikan, tetapi dia merasa kasihan dengan pria tersebut. Melihat banyak darah di tangan pria itu, ada perasaan sakit. Meskipun bukan darah Simon sendiri.Namun, tidak ada jawaban dari pria itu. Olivia sendiri tidak menanyakannya lagi. Dia memilih meraih kotak di depannya, mengambil tisu dan mengelap darah yang masih menempel di jemari pria itu. Ada sedikit lecet, membuat Olivia melakukannya secara perlahan dan mengobati. Sampai perban di jemari Simon selesai, membuat Olivia menghela napas lirih.“Setelah sampai rumah, jangan lupa untu
“Sean, kamu sudah gila! Kita itu sudah berpisah!”Olivia yang baru saja mendengar ucapan Sean mencoba untuk menyadarkan. Mereka sudah mendaftarkan perceraian dan tinggal menunggu sidang pertama yang akan diadakan beberapa minggu lagi. Selain itu, Olivia juga sudah enggan berurusan dengan Sean, dalam hal apapun.Sayangnya, Sean tidak memperdulikan hal itu. Dia tersenyum sinis mendengar ucapan Olivia. Genggamannya juga semakin mengerat. Hingga dia menarik tangan Olivia, membuat wanita itu mendekat ke arahnya.“Aku tidak pernah mau berpisah denganmu, Olivia. Aku tetap ingin mempertahankan pernikahan ini,” ucap Sean dengan penuh penekanan.“Tapi aku sudah tidak mau, Sean. Sampai kapan pun aku tidak akan mau bersama kamu lagi,” sahut Olivia dengan tatapan tajam, menunjukkan keseriusan.Jujur, Sean sempat kesal mendengar sahutan itu. Dia sudah berniat memperbaiki semuanya. Bahkan berulang kali dia memohon, tetapi jawaban Olivia malah selalu melukainya. Sampai kekesalan itu mereda, membuat e
“Sial. Aku benar-benar tidak pernah menyangka kalau Sean akan melakukan hal gila ini.”Simon yang berada di dalam mobil masih terus menggerutu dengan pikiran tidak karuan. Ekspresi wajahnya tampak tegang, merasa takut dan menyalahkan diri sendiri. Banyak andai yang terus saja dipikirkan. Andai dia lebih memperhatikan Olivia, memberikan pengawalan yang ketat, semua pasti tidak akan terjadi. Itulah yang terus saja bergumam di hati pria tersebut.Namun, semua sudah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur dan tidak ada yang bisa ubahnya. Sekarang dia hanya perlu mencari keberadaan wanita itu. Berulang kali dia melihat ke layar ponsel, berharap anak buahnya memberikan kabar keberadaan sang kekasih. Kali ini, Simon tidak fokus dengan kemudi sama sekali, membuat Cakra yang ada di sebelahnya menjadi tidak tenang.“Simon, biar aku saja,” kata Cakra. Dia masih sayang dengan nyawanya sendiri karena beberapa kali Simon hampir menyebabkan kecelakaan.Sayangnya, Simon tidak mendengarkan sama sekali. Dia
“Kamu dandan semenor ini untuk apa, Olivia? Mau menggoda pria-pria di kantor?”Olivia yang masih mengenakan make pun langsung berhenti. Manik matanya menatap ke arah Sean dari pantulan cermin. Rahangnya tampak mengeras dengan tatapan tajam. Dia benar-benar kesal dan merasa sakit hati dengan ucapan
“Simon, kamu mau apa?”Olivia yang melihat Simon melangkah mendekatinya pun langsung perlahan mundur. Dia menatap lekat, tidak mengalihkan pandangan sama sekali. Olivia takut, kalau dia berpaling, pria itu akan menangkapnya.“Menurutmu, aku mau apa, Olivia?” Simon malah balik bertanya. Dia mulai me
“Silahkan, Nona. Tuan Simon sudah menunggu anda.”Olivia yang baru saja datang ke perusahaan Simon dibuat terpana dengan bangunan tersebut. Semua tersusun dengan rapi dan gaya yang elegan. Baru masuk saja, Olivia sudah disuguhkan dengan desain perusahaan yang berbeda dari perusahaan kebanyakan. Dia
“Pa, kenapa Papa malah mendukung Olivia kerja di perusahaan Simon? Papa tahu kan dia itu seperti apa? Dia tidak pernah menyukai keluarga kita.”Sean yang kesal karena sang papa mendukung keinginan Simon pun langsung melayangkan protes. Sejak tadi dia sudah menahan karena sang papa yang memberikan i







