LOGIN“Kamu dandan semenor ini untuk apa, Olivia? Mau menggoda pria-pria di kantor?”
Olivia yang masih mengenakan make pun langsung berhenti. Manik matanya menatap ke arah Sean dari pantulan cermin. Rahangnya tampak mengeras dengan tatapan tajam. Dia benar-benar kesal dan merasa sakit hati dengan ucapan Sean kali ini. Kalau saja bukan karena dia yang sudah menjadi istrinya, Olivia pasti sudah melayangkan tamparan di wajah pria itu. “Kenapa menatapku begitu? Kamu gak terima?” tanya Sean ketika melihat ekspresi kesal tergambar di wajah wanita itu. Namun, Olivia tidak menjawab. Dia memilih melanjutkan make up dan tidak memperdulikan keberadaan Sean. Sejak mengetahui pria itu berselingkuh darinya, Olivia memilih untuk mengabaikannya. Dia sudah mencintai begitu lama, memberikan pengorbanan yang besar. Kalau Sean tidak bisa menerima, dia juga tidak mungkin memaksanya. “Aku peringatkan denganmu, Olivia. Kamu itu sudah bersuami. Meski kita menikah karena perjodohan, tetapi kamu tetap istriku. Jadi, jangan menjadi wanita murahan yang merayu pria-pria di luar sana,” kata Sean kembali. Benar-benar menyebalkan. Olivia yang awalnya ingin mengabaikan pun mulai tidak tahan. Dia membuang napas kasar dan bankit. Kakinya melangkah ke arah Sean, berhenti tepat di depan pria itu dan mengamati penampilan suaminya. “Kamu itu seorang atasan, Sean. Tapi pikiranmu tidak pernah bisa jernih sama sekali. Aku curiga kalau sebenarnya kamu itu Cuma petugas kebersihan di kantor,” ucap Olivia dengan sinis. Ini pertama kalinya dia menjawab Sean dengan nada suara tidak bersahabat. “Apa maksudmu, Olivia?” Sean menatap tajam dengan kedua tangan mengepal. Tatapan tidak terima dan menunjukkan kekesalan, “Bukan apa-apa. Hanya perkataan tidak penting,” jawab Olivia enteng. Dia langsung meraih tas di dekatnya dan melangkah keluar. Sedangkan Sean yang melihat tingkah Olivia mulai acuh tidak acuh dengannya semakin kesal. Kedua tangannya mengepal dengan rahang mengeras. Napasnya terdengar memburu. Hinga dia menarik napas dalam dan membuang perlahan. Berulang kali Sean melakukan hal yang sama. Hingga dia merasa membaik, membuatnya membuka pintu dan melangkah keluar. ‘Kamu tidak boleh terpancing dengannya, Sean. Dia hanya mencari perhatianmu saja,’ batin Sean mengingatkan. Setelah merasa membaik, Sean pun langsung menuju ke arah pintu kamar dan keluar. Dia menuruni satu per satu anak tangga, tetapi saat berada di anak tangga terakhir, dia berhenti. Di sana juga ada Olivia yang tidak langsung menuju ke arah ruang makan. Manik matanya menatap lekat ke arah pria yang berada tepat di depannya. ‘Simon. Untuk apa dia kesini?’ tanya Sean dalam hati. Perlahan, dia mendekat ke arah Simon dan menatap pria itu taja. “Untuk apa kamu pagi-pai ke sini, Simon?” tanya Sean dengan tatapan tidak suka. Meski merasa bersaudara, tetapi tetap saja Sean dan Simon tidaklah akur. Sedangkan Simon yang ditanya malah tersenyum tipis dengan sebelah bibir diangkat. Tatapan meremehkan itu selalu ditunjukkan ketika dia berhadapan dengan Sean. Hal yang selalu membuat Sean semakin membenci dan merasa kesal. “Simon, kamu ke sini? Kalau begitu, ayo kita sarapan bersama.” Simon yang sejak tadi memperhatikan Sean pun langsung mengalihkan pandangan, menatap ke arah Charles yang baru saja datang. Dia tidak menjawab, tetapi melihat pria itu melangkah ke arah ruang makan, dia memilih ikut. Sedangkan Sean yang tidak mendapat respon langsung mendengus kesal dan bergumam, “Aku benar-benar ingin membuang anak haram itu.” Meski begitu, dia memilih melangkah ke arah ruang makan. Tatapannya masih terus tertuju ke arah Simon berada. “Aku rasa perusahaan keluarga Gama yang menampungmu akan bangkrut sampai sarapan pun tidak bisa mereka sediakan untuk Tuan Mudanya, Simon,” celetuk Sean ketika sampai di ruang makan dan duduk. “Sean, jaga bicaramu.” Charles yang mendengar pun langsung memberikan teguran. Dia tidak mau kalau Simon kembali menjauhinya. Sudah lama putranya itu tidak ke rumah. Jangankan untuk makan bersama, menginjakan kaki saja tidak mau. Jadi, Charles tidak mau anaknya kabur lagi. “Kenapa, Pa? Aku hanya mengatakan kenyataannya,” ucap Sean, tdiak mau mengalah meskipun sudah mendapat peringatan. Meski begitu, Simon hanya tertawa kecil. Dia mengambil susu di sebelahnya dan meneguk perlahan. Hingga minuman itu hampir setengah, membuatnya berhenti dan berkata dengan nada sombong, “Tenang saja, Sean. Keluarga Gama tidak akan bangkrut. Kekayaannya bahkan lebih banyak dibandingkan keluarga Charles. Jadi, bagaimana dia bisa lengser.” Kalah telak. Sean langsung mengepalkan kedua tangan ketika mendengarnya. Dia benar-benar kesal ketika Simon mulai menyombongkan kekayaan. Dia akui, keluarga Charles memang bukanlah tandingan keluarga Gama. Itu juga yang membuatnya membenci Simon. Siapa Simon sampai dia lebih unggul darinya? “Sudah, jangan ribut. Sekarang lebih baik kita habiskan sarapannya,” kata Charles, tahu suasana kembali memanas. Semua diam. Meski menurut, tetapi Sean masih menatap ke arah Simon yang duduk tepat di hadapannya. Perasaan benci dan tidak terima benar-benar sudah tumbuh dalam dirinya. Tatapannya juga tidak bersahabat sama sekali. “Oh iya, Simon. Apa kamu kesini karena ada urusan?” tanya Charles, mengingat Simon tidak pernah datang. Dia pikir ada masalah yang mau dikatakan. Sayangnya Simon dengan tenang menjawab, “Tidak. Aku kesini karena mau menjemput Olivia.”“Hah, lagi-lagi aku menjadi tameng untuk mereka lagi.”Olivia membuang nafas kasar. Dia melangkah pergi, memilih menjauh dari Sean dan Elsa. Dia bukannya kesal dengan pasangan tersebut, tetapi berada di dekat keduanya semakin membuatnya muak. Pasalnya, Olivia selalu merasa kesal karena terus dijadikan sebagai bahan sindiran oleh Elsa. Padahal dia tidak melakukan apapun, tapi tetap terlihat salah di mata wanita itu. “Kalau tahu begini lebih baik aku bilang dengan Simon tadi. Setidaknya dia bisa menemaniku di sini,” ucap Olivia dengan diri sendiri. Bibirnya dimanyunkan, merasa menyesal dengan keputusannya menyembunyikan kepergiannya kali ini. Sekarang, Olivia bahkan ditinggal sendiri. ‘Benar-benar tidak belajar dari pengalaman,’ batinnya lagi. Dia mulai menyalahkan diri sendiri. “Sedang membicarakan?”Olivia yang saat itu sedang berdiri dan sesekali menendang kerikil di depannya langsung mengalihkan pandangan. Dia menatap asal suara. Melihat siapa yang berada di depannya, Olivia mele
“Tuan, Anda ada rencana apa? Apa Saya turun dan memberitahu Nona Olivia?”Simon yang masih berada di mobil pun langsung menggelengkan kepala. Hari ini dia memang sengaja mengikuti Olivia tanpa mengatakan lebih dulu. Alasannya hanya satu, dia penasaran ke mana Olivia akan pergi. Pasalnya, wanita itu selalu mengatakan tujuannya, tetapi kali ini Olivia bahkan hanya diam dan tidak mengatakan bahwa kepergiannya juga bersama Sean. “Kita tunggu saja di sini. Sebentar lagi akan ada yang bertindak,” kata Simon. Dafa hanya menganggukkan kepala, mengerti dengan ucapan tuannya. Dia tidak banyak berbicara. Dafa cukup tahu seperti apa kerja tuanya. Dia juga tahu kalau pria itu pasti sudah merencanakan begitu banyak hal untuk menggagalkan kepergian Olivia dan Sean kali ini. “Mengenai perintahku sebelumnya, kamu sudah melakukannya?” tanya Simon. “Sudah, Tuan. Beberapa hari ini Tuan Charles tidak kemana-mana, hanya ke perusahaan saja. Tetapi beberapa waktu lalu saya melihatnya di depan perusahaan
“Aku yakin Sean akan menyukai masakanku.”Elsa yang membawa bekal ke kantor tersenyum dengan lebar. Sejak pagi tadi dia terlihat begitu bahagia. Senyumnya bahkan tidak luntur sama sekali. Sesekali, wanita itu bersenandung, menandakan kebahagiaan yang begitu besar. Hingga Elsa berada tepat di depan ruangan Sean dan menghentikan langkah. “Aku harus bisa memikat hati Sean. Orang-orang melalui masakan kita akan bisa mendapatkan cinta dari seorang. Aku yakin setelah ini Sean akan semakin mencintaiku,” ucap Elsa dengan penuh percaya diri. ‘Aku harus benar-benar membuatnya tunduk sebelum kebenarannya terungkap,’ batin Elsa. Elsa menarik nafas dalam dan membuang secara perlahan. Dia langsung mengetuk pintu ruangan Sean. Belum juga mendapat jawaban dari dalam, dia sudah membukanya. Bagi Elsa, dia tidak membutuhkan izin itu. Sean pasti akan menerimanya dengan lapang dada. “Sean, aku membawakan makanan untukmu. Aku mau masaknya sendiri,” kata Elsa. Namun, saat dia sudah memasuki ruangan itu
“Kalian di sana yang akur. Kalau memang sudah terlalu sore, kalian bisa menginap di hotel saja. Untuk biayanya Biar Papa yang menanggung.”Olivia dan Sean yang mendengar ucapan Charles hanya menganggukkan kepala dan bergumam pelan. Keduanya tampak tenang, tetapi hatinya cukup bergemuruh. Olivia sendiri merasa tidak nyaman, beberapa kali melirik ke arah Sean dengan sorot mata dipenuhi kekesalan. Jujur, dia malas untuk pergi dengan suaminya itu. Kalau bukan sang mertua yang menyuruh, Olivia juga enggan. “Kalau begitu kalian berangkat sekarang dan hati-hati,” ucap Charles lagi. Olivia dan Sean pun langsung membalikkan tubuh, melangkah ke arah mobil. Tapi, baru saja kakinya terayun, Charles meraih pergelangan tangan Sean. Jelas keduanya langsung berhenti. Olivia menatap ke arah sang mertua dengan sorot mata menyelidiki. ‘Apalagi yang mau dilakukan?’ batin Olivia bertanya-tanya. “Olivia, papa lupa memberitahu Sean beberapa hal. Jadi, bisa kamu masuk ke mobil dulu?” Charles tersenyum l
“Benar-benar kurang ajar.”Olivia yang baru sampai di dalam kamar langsung menggerutu dengan raut wajah kesal. Dia pikir Sean akan membantunya berbicara, tetapi pria itu malah semakin memperkeruh keadaan. Sekarang, rasanya Olivia benar-benar sudah tidak bisa mundur lagi. Mau tidak mau, dia harus mengikuti keinginan mertuanya itu. Hingga dari ponsel terdengar, membuat Olivia mengalihkan pandangan. Simon. Olivia yang membaca nama pria itu tertera di layar langsung menarik nafas dalam dan membuang secara perlahan. Dia melakukan hal yang sama berulang kali, mencoba menghilangkan emosi yang sejak tadi menguasainya. Olivia tidak ingin Simon melihat wajah kesalnya kali ini. Sampai dia merasa membaik, membuatnya mengangkat panggilan.“Halo, Simon. Ada apa?” tanya Olivia langsung.“Kamu baik-baik saja?” Simon yang berada di seberang malah balik bertanya. Olivia menganggukkan kepala dan bergumam pelan. Dia tidak ingin membuat Simon menjadi banyak pikiran karena dirinya. Lagipula Olivia merasa
“Sebenarnya apa yang mau Papa bicarakan? Kenapa aku merasa kalau suaranya terdengar serius?”Olivia yang baru sampai rumah langsung keluar dari mobil. Sejak tadi dia bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mertuanya tidak membiarkan untuk bekerja lembur? Apa ada hal serius yang terjadi di rumah?“Rasanya benar-benar misterius sekali,” gumam Olivia. Olivia baru akan memasuki rumah, ketika mobil Sean memasuki halaman. Olivia menghentikan langkahnya sejenak, membalikkan tubuh dan menatap asal suara. Melihat Sean yang baru saja turun dari mobil, Olivia memutar bola mata pelan dan melanjutkan langkahnya. Dia sedang tidak ingin mencari masalah dengan Sean. Namun, hal berbeda ditunjukkan Sean. Pria itu malah melebarkan langkah dan menyusul Olivia yang sudah berjalan lebih dulu. Hingga dia berjalan tepat di sebelah sang istri.“Jangan terlalu menunjukkan kalau kamu membenciku, Olivia. Bagaimanapun dulu kamu pernah memiliki rasa denganku. Jadi, bertingkahlah lebih sopan sedikit,”







