Share

Bab 2

Author: Goldhour
Memang aku cukup kuat, bahkan bisa bertahan lebih dari satu jam. Aku sampai pernah curiga, jangan-jangan istriku meninggal karena sakit akibat tidak tahan dengan diriku.

Saat aku tidak tahu harus menjawab apa, calon menantuku tiba-tiba mendekatiku. "Kalau Om merasa tersiksa, sebenarnya aku bisa bantu."

Tubuhnya yang lembut bersandar padaku, sementara bagian dadanya yang penuh menempel di lenganku. Seketika, aku bisa merasakan kehangatan dan kelembutan tubuhnya.

Aku sudah melajang selama bertahun-tahun, ditambah lagi aku memang memiliki kebutuhan sebagai seorang pria. Kalau bilang aku sama sekali tidak punya hasrat, tentu itu bohong. Namun, mana mungkin aku membiarkan calon menantuku sendiri yang memenuhi kebutuhanku?

Selain itu, aku juga tidak mengerti. Dia masih muda dan cantik, bagaimana mungkin tertarik pada pria tua sepertiku?

"Kamu ... jangan begini. Ini nggak baik ...."

"Haha. Om sampai ketakutan begitu. Aku cuma bercanda lho." Calon menantuku menarik kembali tatapan menggoda di matanya, lalu terkikik.

Jadi, dia hanya bercanda. Aku hampir saja menganggapnya serius. Anehnya, di dalam hati aku malah merasa sedikit kecewa.

Bus yang kami tunggu datang. Kami berdua pun naik. Karena sekarang sedang jam sibuk, busnya penuh dan sesak. Aku dan calon menantuku susah payah berdesakan hingga berhasil masuk.

"Om, bisa berdiri di belakangku? Orang-orang ini terus saja mendekat ke arahku," bisik calon menantuku.

Aku melihat ke sekeliling. Benar saja, ada beberapa pria di sekitar calon menantuku yang tampak sengaja mendekatinya dengan niat buruk. Aku maju sedikit. Calon menantuku langsung bersandar ke pelukanku.

Entah karena bus terlalu berguncang atau memang sengaja, tubuhnya terus terdorong ke belakang.

Tak lama kemudian, tubuhku mulai bereaksi. Aku merasakan hawa panas menjalar ke kepala, bahkan napasku mulai terdengar sedikit berat.

Aku berusaha keras menjauhkan tubuhku ke belakang, takut calon menantuku menyadarinya. Namun, sopir tiba-tiba mengerem mendadak. Karena guncangan itu, tubuhku langsung terdorong dan menekan tubuh calon menantuku.

"Ah ...." Calon menantuku mengeluarkan erangan pelan dan menoleh. Jarak kami begitu dekat hingga bibir lembutnya hampir menyentuh leherku.

Wajahnya memerah. Dia lalu berbisik, "Om kenapa terangsang begini?"

Selain merasa canggung, aku juga cukup terkejut. Kenapa calon menantuku hari ini begitu berani? Dia bahkan berani mengatakan apa saja padaku. Apa jangan-jangan dia sedang menggodaku?

Aku berdeham, tetapi tidak tahu harus berkata apa.

Tak disangka, calon menantuku malah mendekat dan menggoda, "Ternyata David kalah jauh dari Om."

Sambil berkata begitu, dia diam-diam menyentuh bagian selangkanganku. "Huh, seandainya dulu aku bertemu Om lebih dulu."

Sentuhan itu membuatku semakin tersiksa. Sebenarnya dia mau apa? Kalau dia terus menggodaku seperti ini, aku benar-benar bisa melakukan sesuatu yang salah.

Untungnya, saat itu ada seseorang yang turun dari bus, sehingga calon menantuku mendapatkan tempat duduk.

Setelah tiba di rumah teman calon menantuku, kami mengemas semua barang dan memanggil mobil pengangkut.

Setelah semua barang dimasukkan ke kendaraan, calon menantuku berkata bahwa masih ada sepeda motor yang harus dibawa. Aku pun mengatakan bahwa aku akan mengendarainya, sementara dia mengikuti mobil pengangkut.

Tak disangka, calon menantuku berkata dia takut aku tidak tahu jalan.

Tadi saja aku sudah hampir tidak bisa menahan diri. Aku takut kalau terus berdekatan, kami akan melakukan kesalahan besar. Jadi, aku ingin mengatakan bahwa aku bisa mencari jalan sendiri.

Namun, sebelum aku sempat membuka mulut, dia sudah menyuruh mobil pengangkut itu berangkat.

Aku hanya bisa mengenakan helm dan naik ke sepeda motor. Namun, yang mengejutkanku, calon menantuku tidak duduk di belakang. Dia malah langsung menyelinap melewati lenganku dan duduk di bagian depan.

"Om, ayo!" Calon menantuku menoleh ke belakang sambil tersenyum menggoda. Aroma samar parfumnya membuat seluruh tubuhku seketika terasa gelisah.

Melalui pakaian kami, aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya. Tubuhku kembali bereaksi.

"Ehem, ehem ...." Aku terpaksa menutupi kegelisahan dan kecanggunganku dengan batuk.

Mungkin karena terlalu gugup, aku langsung memutar gas sepeda motor hingga penuh. Dorongan mendadak itu membuat calon menantuku terjatuh ke belakang dan menekan tubuhku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hasrat Terlarang Sang Calon Menantu   Bab 9

    Sampai di kantor polisi pun, kepalaku masih terasa kacau. Aku benar-benar sulit memercayainya. Aku merasa polisi pasti telah melakukan kesalahan.Kenapa aku dituduh melakukan pelecehan? Kenapa aku sendiri tidak tahu?Setelah tiba di kantor polisi, barulah aku mengerti. Ternyata orang-orang yang melaporkanku atas tuduhan pemerkosaan adalah Shila, Melly, dan Jane.Namun, mereka jelas-jelas melakukannya atas kemauan sendiri. Aku meminta untuk berhadapan langsung dengan mereka.Sikap ketiganya sudah berubah. Mereka memperlihatkan bekas-bekas luka dari malam sebelumnya kepada polisi.Aku benar-benar terpaku. Ternyata semuanya memang disengaja. Mereka sengaja menjebakku.Namun, aku tidak punya dendam atau masalah apa pun dengan mereka. Shila bahkan adalah calon menantu putraku.Aku hancur. Pada akhirnya, aku benar-benar dijebak dan dihukum atas tuduhan itu.Tindakanku dianggap sudah meninggalkan trauma mendalam yang sulit dihilangkan pada para korban. Akibatnya, aku dijatuhi hukuman sepuluh

  • Hasrat Terlarang Sang Calon Menantu   Bab 8

    Calon menantuku masih muda, jadi sedikit pemalu."Om, aku perlu berbalik nggak? Kalau saling berhadapan ...." Wajahnya memerah saat dia berbisik di telingaku.Ucapannya mengingatkanku, lalu aku membantunya perlahan berbalik. Bokongnya menempel pada bagian bawah tubuhku, sementara kedua tanganku melingkari pinggangnya yang ramping.Tanpa sadar, dia menggerakkan bokongnya sedikit. Celah bokongnya yang lembut dan kenyal pun menjepit kemaluanku. Seolah merasakan sesuatu, dia kembali menggerakkan bokongnya tanpa sadar."Pegang lengan Om erat-erat, Om akan mulai.""Om! Seru sekali! Yay!" Dia berteriak kegirangan, "Om! Lebih tinggi lagi! Aku mau terbang lebih tinggi!"Dia benar-benar tenggelam dalam kegembiraan dan sensasi penerbangan pertamanya, sama sekali tidak menyadari bahwa bagian selangkangan celana bikininya sudah tertekan hingga cekung ke dalam.Kami berdua terbang sambil menikmati sensasi yang kami rasakan. Tidak ada yang mengungkit seolah sama-sama memahami satu sama lain tanpa per

  • Hasrat Terlarang Sang Calon Menantu   Bab 7

    Festival tiba. Awalnya aku ingin beristirahat, tetapi tiba-tiba aku menerima telepon dari David. Dia mengatakan bahwa dirinya menyewa sebuah kapal pesiar kecil dan mengajak kami pergi berwisata bersama selama liburan.Aku bilang tidak ingin pergi, tetapi David tiba-tiba marah. Setelah kupikir-pikir, memang belakangan ini aku sudah terlalu sering menolak ajakannya. Pada akhirnya, aku terpaksa memberanikan diri untuk datang.Saat naik ke kapal, aku langsung merasa suasananya benar-benar tidak cocok untuk pria paruh baya sepertiku."Semuanya! Angkat tangan kalian! Ayo goyang!"Seorang DJ wanita berseru penuh semangat. Diiringi irama musik yang mengentak, beberapa wanita seksi di atas dek kapal pesiar menari sepuasnya sambil memegang gelas.Setelah kuperhatikan baik-baik, aku baru sadar bahwa mereka bukan orang lain. Mereka adalah calon menantuku, Melly, dan Jane. Tak kusangka mereka semua ada di sana.Saat aku berjalan masuk, DJ wanita itu menggoyangkan tubuhnya dan memunggungiku. Tangann

  • Hasrat Terlarang Sang Calon Menantu   Bab 6

    Tadi karena begitu haus akan belaian, Melly sampai merendahkan dirinya seperti wanita murahan. Namun, ketika menyangkut kebahagiaan putrinya di masa depan, ekspresinya langsung berubah. Sepertinya demi anak-anak, semua orang tua sama saja, bahkan wanita seperti Melly pun tak terkecuali.Aku benar-benar panik. Namun, sikap Melly sangat tegas. Saat keadaan sedang menemui jalan buntu, Jane akhirnya berbicara."Sebenarnya Om tetap bisa dapat menantu. Itu tergantung gimana Om menanganinya." Sambil berkata begitu, dia melemparkan tatapan menggoda kepadaku.Aku sempat tertegun, lalu langsung mengerti maksudnya. Sepertinya, malam ini aku memang tidak bisa menghindar dari ketiga wanita itu.Baiklah, untuk saat ini aku harus menenangkan keadaan terlebih dulu. Lagi pula, kalau David memang tidak mampu, mungkin tidak akan mudah baginya untuk mencari pasangan lain.Aku masih berharap bisa menggendong cucu yang menggemaskan. Bagaimanapun, cucu-cucu teman sebayaku di desa bahkan sudah bisa berjalan.

  • Hasrat Terlarang Sang Calon Menantu   Bab 5

    "Sudahlah ...." Aku buru-buru menolak. Mertua dan calon menantu .... Ini benar-benar keterlaluan. Bagaimana aku bisa mempertanggungjawabkannya kepada putraku?Jane mengerucutkan bibirnya dan berkata dengan manja, "Om, sebagai laki-laki, kalau kalah harus berani mengaku kalah. Jangan curang dong. Pokoknya hari ini aku nggak akan melewatkan kesempatan ini.""Besan, suamiku sudah nggak mampu, sementara suami Jane juga sudah meninggal. Gimana kalau kamu puaskan kami saja? Kata Shila, kamu besar dan kuat.""Tenang saja, soal ini cuma kita berempat yang tahu. Kami nggak bakal ngomong ke orang lain." Melly berkata dengan wajah penuh pesona.Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Kalaupun mereka memang punya kebutuhan, aku tetap ayah mertua Shila. Bagaimanapun, kami masih terikat sebagai keluarga.Kini, aku benar-benar mengerti. "Jadi, permainan kartu malam ini memang sudah kalian rencanakan dari awal ya?""Om, kumohon. Selama bertahun-tahun menjanda, aku sudah sangat tersiksa. Adikku b

  • Hasrat Terlarang Sang Calon Menantu   Bab 4

    Wajahku langsung memerah. Wanita itu menyilangkan kakinya tinggi-tinggi. Belahan gaunnya begitu tinggi hingga sebagian bokongnya terlihat. Pemandangan itu membuat seluruh tubuhku terasa panas."Om, kalau benar-benar sudah nggak tahan, datang saja cari aku. Aku juga sudah setengah tahun nggak 'diservis'." Jane menggigit bibir merahnya sambil sengaja membungkukkan badan, membuat belahan dadanya terlihat semakin mencolok.Benar saja, ternyata dia tipe yang penuh kontras. Setelah membuka mulut, sifat aslinya langsung terbongkar.Katanya, dia seorang guru SMA. Bukankah orang bilang wanita berkacamata justru yang paling liar?Tak kusangka keluarga calon menantuku akan begitu berani dan terus terang. Sebenarnya, apa yang mereka inginkan?"Sudah, sudah. Masa keluarga sendiri pun mau kalian goda? Ini calon ayah mertuaku lho." Calon menantuku memutar bola mata dengan kesal ke arah mereka berdua.Melly mengangkat alis. "Aduh, memangnya kenapa? Ayah mertuamu juga nggak punya istri. Kami cuma ingin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status