Home / Romansa / UNWRITTEN OBSESSION (Hasrat Terlarang Sang Detektif) / 2. Paket Misterius dan Pembunuhan Eksentrik

Share

2. Paket Misterius dan Pembunuhan Eksentrik

Author: Nina Milanova
last update Last Updated: 2025-11-11 16:01:42

Satu jam kemudian, Greg sudah tiba di Kantor Polisi Hackney. Dia membuka pintu ruangannya, yang terletak di lantai dua, dengan satu dorongan. Hidung dan kulitnya menyapa udara pengap dari pendingin ruangan yang selalu terlalu pelit menyesuaikan suhu.

Matanya masih sembab. Kemejanya masih berbau asap rokok, sisa pertemuannya dengan Bill Dickinson, kepala kepolisian Hackney, tiga jam lalu. Dan mantelnya... masih berbau kopi dari sebuah insiden dengan seorang wanita berambut pirang.

Dijatuhkannya map dari pertemuan pagi tadi ke tumpukan berkas. Diletakkannya tas laptop di atas meja, lalu memandangi sebuah kotak dengan bungkus coklat tua di tangannya. Kotak yang disampaikan oleh Lucy Redcliff, sekretaris merangkap resepsionis tim, di depan ruangannya tadi.

Tidak ada nama pengirim. Tidak ada logo perusahaan ekspedisi. Hanya alamat kantor polisi pusat dan namanya. Semua ditulis tangan, miring, dengan tinta biru yang mulai luntur.

Dengan gerakan terlatih, Greg membuka pembungkusnya, lalu membuka laci dan menarik keluar sarung tangan lateks. Dia juga mengambil pisau kecil pembuka surat untuk membelah segel.

Kotak itu terbuka. Diiringi bau busuk yang seketika menyergap.

Setelah berkarir di kepolisian selama 15 tahun, di usianya yang sekarang menginjak angka 37, hal-hal semacam ini bukan lagi kejutan bagi Greg. Apalagi, semenjak dia mulai membersihkan divisinya dari para personel yang bermasalah.

Dan, Greg lebih seringnya bisa menyebutkan dengan tepat siapa pelaku tindakan ilegal tersebut. Untuk kemudian mengirim mereka ke sel.

Greg mengambil kantong bukti. Dengan cepat tetapi hati-hati, dia memasukkan seluruh isi paket ke dalamnya. Setelah selesai, Greg mengaktifkan interkom dan berbicara pada Lucy. "Minta Roger ambil ini di ruanganku, Lucy.”

"Baik, Inspektur," sahut Lucy tanpa banyak bertanya.

Greg menutup telepon, melepaskan mantel, lalu menekan nomor internal lain. “Ethan. Selidiki Junssen dan Leech. Seorang dari mereka mencoba mengintimidasiku. Pastikan dia masuk ke sel sebelum tengah malam.”

Jawaban di seberang datang dengan cepat. “Siap, Komandan.”

Kedua nama yang Greg sebutkan tadin Carl Junssen dan Barry Leech, baru dikeluarkan dua minggu lalu. Dapat dipastikan, mereka sama-sama masih dendam.

Greg duduk menyandarkan sambil punggung di kursi besarnya. Bahunya pegal tetapi pikirannya tetap tajam. Dia mengeluarkan selembar kertas yang terlipat di saku mantelnya.

Greg membaca tulisan di atasnya sekali lagi. Saat dia memejam sejenak, wanita tadi, si pirang pemilik kertas itu, langsung terbayang. Tawa kecil pun meluncur begitu saja dari mulutnya. Mengingat kopinya yang tumpah dan betapa abainya wanita itu untuk sekadar meminta maaf.

Greg tidak tahu apa sebabnya. Namun, dia yakin wajah itu akan muncul lagi. Lebih tepatnya, muncul di sesuatu yang lebih besar.

*

Pagi itu dimulai dengan Greg kembali menekuni berkas-berkas milik anggota timnya. Tanpa terasa, waktu terus bergerak hingga menjelang jam sembilan.

Ini bukan rutinitas biasa. Ini bukan laporan kasus. Melainkan evaluasi berkala tiap anggota.

Greg tahu ada yang berubah sejak kasus seorang pelaku pembunuhan atas wanita penghibur melarikan diri dalam proses penyelidikan. Dia merasa perlu melihat kembali ke dalam. Bukan hanya ke arah pelaku yang belum tertangkap. Tetapi ke arah timnya sendiri.

Dia menilai mereka berdasarkan senioritas. Bukan peringkat. Greg selalu percaya bahwa keandalan tidak selalu datang dari pangkat. Melainkan dari intuisi dan stabilitas mental yang kadang tidak tercermin di atas kertas.

Beberapa laporan menunjukkan pola mengkhawatirkan. Ketegangan meningkat di antara anggota, investigasi terlalu cepat ditutup, beberapa saksi merasa ditekan. Greg membaca dengan perlahan, mencoret-coret dengan pena merah di bagian tertentu, menggarisbawahi catatan emosional yang muncul dalam laporan internal.

Dia berhenti cukup lama di laporan Rachel Bishop. Detektif muda yang cerdas, cepat bertindak, dan memiliki reputasi tak kenal takut, tetapi juga sering melampaui batas.

Dua minggu lalu, Rachel menerima teguran ringan karena memeriksa rumah seorang tersangka tanpa surat resmi. Seminggu kemudian, dia menghadiri sesi konseling karena ketegangan pasca kasus penculikan dan penyerangan fisik oleh kelompok sekte terorganisir. Semua itu tersimpan dalam dokumen, dan kini tampak lebih relevan dari sebelumnya.

Greg mendesah panjang. Lalu menutup map dan meraih cangkir kopinya. Isinya sudah dingin akibat didiamkan terlalu lama.

Dia akan menyusun ulang tim jika perlu. Akan tetapi, belum sekarang.

Saat dia sedang menekuri formasi baru yang akan dibuatnya, telepon meja berdering tajam. Mengusik keheningan pagi seperti alarm tanda bahaya.

Greg menjawab cepat. "Evans."

"Greg, ini Rachel," tutur suara di seberang sana. Nada suara Rachel terdengar lebih berat dari biasanya. “Ethan sedang mengurus Barry. James tidak bisa dihubungi. Jadi, aku meneleponmu.”

“Ada apa?”

“Kita dapat kasus baru. Korbannya seorang penulis. Meninggal kurang lebih tiga jam lalu. Lokasi di Mayfair. Namanya Clarissa Maynard.”

Greg menegakkan punggungnya. “Penulis?”

"Masih muda. Tiga puluh tahun. Ditemukan mati pagi ini oleh tetangga sebelah rumahnya. Lehernya..." Rachel terdiam sesaat, seolah harus memastikan dia tidak terdengar berlebihan.

“Lehernya ditusuk dengan besi tombol huruf dari mesin tik tua. Mesin ketik itu ada di atas kepalanya.”

Greg menyipitkan mata. “Mesin ketik? Bukan benda umum di tahun 2012.”

“Justru itu. Sepertinya pelaku sengaja mencari perhatian.”

Greg terdiam. Waktu seolah berhenti sejenak. Bunyi detik jam menjadi lebih lambat.

"Kurasa kau harus ke TKP. Polisi lokal sudah memasang garis kuning. Tetapi kurasa... ini... ini bukan pembunuhan biasa," lanjut Rachel gugup.

Greg berdiri lalu meraih mantelnya. “Aku berangkat sekarang.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (6)
goodnovel comment avatar
Tiara renata
jangan bilang pelakunya yang tadi tabrakan sama Greg?
goodnovel comment avatar
Naira
Wow, jangan bilang cewe tadi pelakunya?
goodnovel comment avatar
Utopia
jadi penasaran siapa pelakunya, tadi sempet nebak tapi keknya engga sesuai tebakan dah
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • UNWRITTEN OBSESSION (Hasrat Terlarang Sang Detektif)   42. Kegilaan di Ladbroke Grove

    Tara membereskan meja kerjanya dengan sedikit tergesa-gesa. Kepalanya terasa penuh, bising oleh suara-suara yang bertentangan. Ada suara Greg yang penuh dominasi, suara Isaac yang penuh harap, suara Elaine yang penuh tuntutan, dan suara bisik-bisik rekan kerjanya yang penuh racun. Jam di ponsel menunjukkan pukul lima sore. Langit London sudah menyerah pada kegelapan yang datang lebih awal, diiringi gerimis yang seakan enggan berhenti sejak pagi. Lampu-lampu di perpustakaan mulai dipadamkan satu per satu, menandakan berakhirnya jam operasional bagi publik. Dia tahu Greg masih ada di luar. Pria itu tidak mungkin pergi. Greg adalah jenis pria yang jika sudah menancapkan taringnya, tidak akan melepaskan gigitan sampai dagingnya terkoyak. Namun, Tara sudah memutuskan. Dia tidak akan menjadi boneka yang patuh. Jika Greg ingin bermain peran sebagai pemburu dan pelindung, Tara akan menjadi umpan yang sulit ditangkap. Wanita itu menyampirkan tas di bahu, merapatkan cardigan putih panjangny

  • UNWRITTEN OBSESSION (Hasrat Terlarang Sang Detektif)   41. Serigala di Kandang Anjing

    Sementara itu, tiga jam lalu di lantai teratas New Scotland Yard, Bill masih duduk di sofa yang sama sambil menatap kosong cangkir kopinya yang juga sudah kosong. Seakan semua jawaban atas apa yang terjadi hari ini sudah menguap dari sana.Henry juga masih duduk di kursi kebesarannya. Pria itu seperti orang yang baru saja selamat dari serangan jantung, tetapi berharap untuk mati saja. Wajahnya yang biasanya memerah, kini sewarna kertas laporan di atas mejanya. Kertas-kertas bukti transfer dana ilegal, catatan penggelapan kasus, dan stempel 'Insufficient Evidence' pada kasus kekerasan seksual atas Tara Elizabeth Bradley yang sengaja dia kubur enam tahun lalu. Semuanya kini teronggok di depannya, menatapnya balik dan menuntut pertanggungjawaban. Pria itu dengan cepat membalik foto-foto hasil visum Tara agar tak makin menambah rasa berdosanya."Kau..." Henry mendesis ke arah Bill. Suaranya serak, goyah, kehilangan wibawa yang selama puluhan tahun dia bangun di atas fondasi kebohongan. M

  • UNWRITTEN OBSESSION (Hasrat Terlarang Sang Detektif)   40. Obyek Skandal

    Greg masih berdiri mematung di tempatnya. Matanya yang tajam bak elang pengintai masih mengunci punggung wanita yang baru saja melakukan tindakan pengkhianatan paling halus tetapi paling menyakitkan di depannya.Gaun merah hati itu seharusnya dilarang berada di ruang publik. Apalagi di tempat yang hampir sakral seperti di perpustakaan ini.Gaun itu serta cardigan putih yang membungkus tubuh Tara ibarat darah segar yang mengalir di atas hamparan salju. Kontras, mengejutkan, dan berbahaya. Greg membayangkan bagaimana kain itu terasa di bawah telapak tangannya, dan mengapa Tara dengan sengaja memilihnya pagi ini.Dia menyatakan perang. Buntut dari Greg meninggalkannya dengan kata-kata kasar di apartemen tempo hari.Namun, yang membuat darah Greg mendidih hingga ke ubun-ubun bukan semata-mata karena pakaian yang mengekspos tubuh yang ingin dia kuasai sendirian. Kemarahannya dipicu oleh bagaimana Tara berbicara pada Isaac Irving.Dia melihatnya. Dia mendengar setiap intonasi yang Tara maink

  • UNWRITTEN OBSESSION (Hasrat Terlarang Sang Detektif)   39. Gaun Merah dan Aturan Main

    Hari menjelang pukul dua siang. Di ruangannya, Tara menyisir rambutnya, menariknya ke atas, dan mengikatnya tinggi-tinggi hingga mengekspos garis lehernya yang jenjang. Bukan sekadar merapikan diri. Melainkan sebuah tindakan yang dia harap bisa memberikan rasa kendali.Dalam hitungan menit, dia harus sudah ada di ruangan kepala perpustakaan. Wanita itu menyambar buku catatan dan pulpennya, lalu bangkit dari duduknya dan beranjak ke pintu. Menuju lorong-lorong rak tinggi yang menyerupai labirin kayu ek tua.Bau debu dari buku-buku tua yang biasanya mampu meredakan badai di dalam dirinya. Namun hari ini, aroma itu gagal. Setiap inci tubuhnya yang dibungkus dress merah hati yang menantang dan cardigan putih yang menyamarkannya, masih terasa panas. Memori akan sentuhan Greg masih menempel di kulitnya.Saat melewati rak psikologi, tangannya terulur, menyisir punggung buku yang berbaris di sana. Dia kerap mencuri waktu di sini, mencari perlindungan dalam teori-teori tentang trauma dan ikatan

  • UNWRITTEN OBSESSION (Hasrat Terlarang Sang Detektif)   38. Distraksi yang Mematikan

    Pagi itu, Notting Hill tidak lagi beraroma mawar, rempah-rempah, dan tembakau mahal. Tara terbangun dengan napas yang terasa berat, seperti menghirup debu dari buku tua yang sudah lama tak tersentuh. Dia membuka mata dan menyadari kamarnya telah bertransformasi menjadi ruang aseptis yang dingin. Petugas kebersihan kemarin telah menjalankan tugas mereka dengan ketelitian anggota tim forensik. Aroma laut buatan yang asin dan tajam mengepung ruang tengahnya. Sementara itu, dari balik pintu kamar mandi, sisa-sisa klorin menguap seperti gas air mata. Sebuah upacara penghapusan yang sempurna. Tak ada lagi helai rambut hitam di bantal, tak ada lagi sisa jejak sepatu boots di lantai parket, dan yang paling menyakitkan, tak ada lagi aroma maskulin yang sempat menjajah indranya. Greg Evans telah lenyap. Tara telah mengusir jejak pria itu dari dinding dan lantai apartemennya. Meskipun begitu, Tara tahu, dia gagal mengeluarkan sang detektif dari labirin dalam kepalanya. Tara merasa ha

  • UNWRITTEN OBSESSION (Hasrat Terlarang Sang Detektif)   37. Kemenangan yang Pahit

    Sidang di ruangan Henry Cavendish pagi itu berakhir dengan senyap. Pintu ruangan tertutup dengan dentuman yang lebih berat dari biasanya di belakang Greg. Meninggalkan ketegangan yang beku di lantai teratas New Scotland Yard. Henry masih terpaku di kursinya. Lembaran kertas di tangannya kini tampak seperti pisau cukur yang siap menyayat nadinya sendiri. Martabat yang dia bangun selama puluhan tahun, arogansi yang dia pamerkan di depan cerutu mahalnya, menguap begitu saja. Pria itu tampak menua sepuluh tahun dalam hitungan detik. Napasnya pendek, dan keringat dingin mulai membasahi kerah kemeja seragamnya. Bill, yang biasanya memiliki komentar untuk segala hal, hanya bisa menatap nanar ke arah meja. Dia tidak melihat isi amplop itu. Akan tetapi, dia melihat kehancuran di wajah atasannya. Masih lekat di pelupuk matanya saat Greg yang berjalan menjauh. Ada perasaan asing yang menyelimuti. Seolah-olah pria yang baru saja keluar dari ruangan itu bukanlah anak muda yang dia kena

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status