Share

1. Insting yang Jarang Meleset

Author: Nina Milanova
last update Last Updated: 2025-11-11 16:00:37

"Oh, sial!" pekik Greg saat tubuhnya bertabrakan dengan tubuh seseorang.

Refleks, pria itu berhenti dan merunduk. Bukan karena sakit. Jujur saja... rasanya tidak seberapa. Fokusnya tertuju pada mantel wol kelabu kesayangannya. Mantel mahal yang baru diambilnya dari binatu dua malam lalu.

Akibat tabrakan itu, tutup gelas kertas yang dipegangnya terlepas. Kopi hangat di dalamnya muncrat keluar, membasahi telapak tangan Greg. Cairan hitamnya juga merembes dan meninggalkan jejak di serat kain pada bagian ujung lengan dan dada.

Greg menarik napas dalam, menahan diri agar tidak mengumpat lagi. Tangannya menyentuh noda basah di dada kirinya.

Bagi Greg, noda itu bukan sekadar gangguan yang tertinggal di pakaian yang bisa dibersihkan. Melainkan pelanggaran pada citra dirinya sebagai sosok yang profesional dan kredibel di sepanjang karirnya.

Namun, Greg memilih tidak berkonfrontasi. Dia bukanlah jenis pria yang menyukai keributan di ruang publik. Itu hanya akan memperparah keadaan.

Perhatiannya beralih pada jam tangan analognya. Pukul 06. 47. Greg memutuskan untuk meneruskan perjalanan menuju tempat mobilnya terparkir. Ada hal lebih penting yang sudah menunggunya di kantor. Ditepiskannya urusan kopi tumpah dan noda di mantel. Akan tetapi, belum sempat melangkah, pandangannya malah tertambat pada sosok yang tadi menabraknya.

Wanita itu tengah berjongkok di trotoar. Di antara lalu lalang pejalan kaki di depan stasiun kereta api bawah tanah Holloway Road. Di bawah gerimis tipis yang berjatuhan dari langit London yang kelabu di Rabu pagi itu.

Wanita tadi mengenakan jaket velvet biru tua dengan penutup kepala. Dari sela penutup kepala itu rambut ikal pirang platinum terurai. Menjuntai seperti tirai menutupi sisi wajah.

Jemari lentik dengan kuku terpotong rapi miliknya begitu cekatan mengumpulkan kertas berserakan. Sedikit tergesa. Berlomba dengan angin yang bertiup lebih kencang, menerbangkan kertas-kertasnya ke segala arah.

Wanita itu berdiri mengejar lembaran-lembaran itu. Saat dia berlari, penutup kepala dari jaketnya terjatuh ke punggung. Belahan rok sebatas mata kakinya memperlihatkan sebagian betisnya yang tanpa cela ketika dia melangkah.

Menyaksikan itu, kekesalan Greg memudar. Berganti rasa ingin tahu yang dingin di sela insting yang merayap.

Gerakannya terlalu terburu-buru. Terlalu panik. Bukan karena insiden itu sendiri. Melainkan karena terlalu peduli pada kertas-kertas yang berhamburan. Agaknya, kertas-kertas itu begitu penting, begitu berharga baginya.

Sebuah medan magnet tak terlihat, bukan sekadar daya tarik, melainkan firasat, memanggil Greg untuk membantunya. Pria itu pun langsung meletakkan gelasnya ke sisi trotoar.

Ayunan sepatu orang lain melontarkan gelas kertas yang malang itu. Isinya bercipratan mengenai ujung celana beberapa pejalan kaki. Sebelum akhirnya mendarat jauh dari Greg.

Sedangkan Greg, pemiliknya, sudah melupakannya. Pria itu terlalu sibuk memungut lembaran-lembaran yang sebagian sudah kotor dan basah terkena genangan air.

"Maaf," tuturnya dengan suaranya yang dalam. Disodorkannya beberapa lembar yang berhasil dia kumpulkan. Matanya sempat menyapu barisan kata di hamparan kertas putih tadi. “Hanya naskah fiksi,” pikirnya.

Wanita itu menoleh. Menatap langsung ke arah Greg. Jarak mereka begitu dekat. Saat itulah, Greg melihat wajahnya lebih jelas.

Masih muda, berusia pertengahan dua puluhan. Kulitnya yang seputih porselen polos tanpa riasan. Sejumput rambutnya menempel dan melambai melintasi wajah oleh tiupan angin yang menghantarkan aroma mawar berpadu oud ke penciuman Greg. Dari celah kaus putihnya sedikit rendah, sebuah liontin berbentuk huruf T menggantung dari kalung emas yang melingkar di lehernya.

Bibirnya berwarna merah muda, penuh, dan melengkung sempurna. Namun, matanya… mata almond dengan iris hijau zamrud itu… melebar, dipenuhi ketegangan yang membuat saraf Greg berdenyut. Mata itu bercerita lebih dulu tentang banyak hal yang tampaknya berusaha dikubur dalam-dalam.

Selama sekian detik, mereka saling bertukar pandang dalam diam. Sebelum akhirnya wanita itu menerima kertas-kertas yang Greg sodorkan. "Tidak apa-apa," ucapnya, lalu menyelipkan rambut ke belakang telinga.

Greg mendengar jelas suaranya. Lembut, tipis, berdesau, mengalun. Jenis suara yang mampu menghidupkan imajinasi seorang pria. Desiran yang sudah lama tak dia rasakan pun kembali mengelus jantungnya.

Akan tetapi, Greg tidak terdistraksi begitu saja. Matanya yang terbiasa mengamati tiap isyarat dan perubahan kecil bergerak cepat. Dia menangkap getaran halus pada jemari wanita itu. Juga napas yang teredam terlalu lama.

Caranya terus memindai trotoar, keengganan mendalam untuk terlibat dalam interaksi ini, memantik naluri yang selalu Greg bawa saat sedang bertugas.

"Kau tidak apa-apa?" Greg bertanya tanpa mengalihkan pandangannya, menahan perhatian wanita itu lebih lama.

Wanita dengan hoodie biru tua itu pun mengulangi jawabannya. "Tidak apa-apa."

Ekspresinya tak menutupi perasaan jengah karena merasa diteliti. Dipeluknya tumpukan kertas tadi, lalu dengan terburu-buru mengakhiri percakapan mereka. "Terima kasih."

Tanpa permisi, dia berlalu. Bahkan tanpa meminta maaf telah menumpahkan kopi Greg.

Sementara itu, Greg, berdiri mematung, menatap punggungnya yang semakin jauh memasuki stasiun dan menghilang di kerumunan. Bukan karena ingin menuntut permintaan maaf, melainkan karena sedang berusaha memahami getaran yang datang dan saling bertabrakan dalam dirinya. Antara logika yang teratur dengan hasrat yang bergerak liar.

Saat hendak melanjutkan perjalanannya, mata Greg tertuju pada selembar kertas yang melambai-lambai di atas trotoar. Rupanya, ada selembar kertas milik wanita tadi tertinggal.

Greg memungutnya. Lembar itu sedikit basah dan robek di ujungnya. Juga bernoda kopi. Namun, tulisan di atasnya masih bisa dibaca.

The Silent Slasher

Oleh: Violet Crow

Tulisan itu dicetak tebal dan ditempatkan di tengah halaman. Sekilas seperti sebuah judul naskah fiksi acak. Lalu, nama itu... nama yang anehnya... tidak terasa asing.

Sesuatu berdetak dalam naluri Greg. Bukan sekadar naluri yang membuatnya bertahan dalam pekerjaannya, melainkan naluri yang mengendus ancaman dan potensi bahaya sebelum orang lain menyadarinya.

Naluri yang lebih gelap.

Lebih pribadi.

Greg melipat pelan kertas itu. Kemudian, menyimpannya ke dalam saku mantel. Bukan sebagai bukti forensik. Melainkan sebagai memorabilia.

"Aku akan berurusan denganmu suatu hari nanti," bisik Greg. Lebih menyerupai tekad.

Saat mengatakan itu, Greg tahu...

Itu bukan sekadar firasat kosong.

Itu insting.

Dan, insting Detektif Gregory Alistair Evans jarang meleset.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (13)
goodnovel comment avatar
Eva
Seneng banget sama deskripsi pertemuan mereka. Penjabaran dari sudut pandang Greg ini sangat khas detektif sekali. Terpukau, sekaligus penuh pengamatan. Cakep banget sekali lagi tulisannya
goodnovel comment avatar
Diar Kunti
siapakah si perempuan misterius itu,, pertm kali ktm sdh mulai deg²an y
goodnovel comment avatar
kadik_
demen bgt sm yg obsesi beginian, pasti susah dilepas
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • UNWRITTEN OBSESSION (Hasrat Terlarang Sang Detektif)   57. Eksekusi di Marrow Lane

    Di seberang gedung Marrow Lane Residence, di balik bayangan pohon maple yang basah, sebuah senapan runduk dengan peredam suara terpasang diam menunggu. Larasnya mengintip dari celah tirai apartemen kosong di lantai empat, menyasar tepat ke unit 304. Unit yang selama ini Tara huni. Sabtu pukul 22.13 itu sebagian besar warga London memilih meringkuk di bawah selimut. Bukan tanpa alasan. Hujan kembali melanda. Bukan sekadar gerimis tipis, melainkan hujan deras dengan intensitas agresif. Seolah-olah alam semesta berkonspirasi bersama sang eksekutor untuk menunaikan tugasnya. Jalanan di antara kedua bangunan itu sepi. Tidak ada seorangpun melintas. Di dalam apartemen, lampu-lampu masih menyala. Dua siluet terlihat jelas dari balik tirai. Satu siluet pria, tinggi dan tegap di belakang sebuah kursi. Di depannya, siluet wanita, lebih mungil, dengan rambut panjang tergerai, duduk menghadap meja. Jari penembak itu bergerak pelan menarik pelatuk. Napasnya tertahan. Matanya menyipit mena

  • UNWRITTEN OBSESSION (Hasrat Terlarang Sang Detektif)   56. Mahar yang Menyesakkan Dada

    Greg tidak langsung membalas kemarahan Tara dengan kata-kata. Dia berjalan memutari meja, berlutut di depan kursi Tara, dan perlahan menarik tangan wanita itu dari wajahnya yang basah. "Lihat aku, Sayang," pintanya lembut. Tara mendongak. Matanya merah dan bengkak. "Kau tidak mengerti, Greg. Aku tidak punya apa-apa tanpa pekerjaan itu." Greg memberikan senyum tipis yang sulit diartikan. Dia merogoh saku celananya. Dari dalamnya, pria itu mengeluarkan sebuah benda kecil yang dapat digenggam dan tersembunyi di telapak tangan. Benda itu terbungkus sarung kulit berwarna hitam. Terdapat ornamen metal berwarna silver di atasnya. Sesosok wanita dengan tubuh membungkuk ke depan, sementara kedua tangan terantang ke belakang. Kain di pundaknya berkibar menyerupai sayap. Spirit of Ecstasy. Bersama benda itu, Greg juga menyerahkan sebuah dokumen lisensi kepemilikan. "Kau punya dirimu sendiri. Itu lebih dari cukup," hibur Greg sembari meletakkan kunci dan lisensi itu di telapak tangan

  • UNWRITTEN OBSESSION (Hasrat Terlarang Sang Detektif)   55. Safehouse di Knightsbridge?

    Awan tebal menggantung rendah saat sebuah sedan mewah membelah kemacetan. Sedan itu bukan sekadar kendaraan. Itu adalah simbol status tertinggi. Bukan hanya pilihan para pesohor, tetapi juga para bangsawan dan keluarga kerajaan. Kendaraan itu melaju tenang menuju salah satu kawasan paling bergengsi di dunia. Knightsbridge. Di kursi penumpang, Tara Bradley, yang kini secara resmi menyandang nama Tara Evans dalam catatan sipil, meremas tali tasnya. Matanya menatap keluar jendela. Terpaku pada deretan butik mewah dan fasad bangunan klasik yang memancarkan kekayaan yang tak tersentuh. "Kita akan ke mana?" tanya Tara lirih. Suaranya masih terdengar rapuh setelah konfrontasi melelahkan dengan Javier di apartemennya. Greg meliriknya sekilas. Tangan kirinya kokoh memegang kemudi. Sementara tangan kanannya meraih jemari Tara, menggenggamnya erat. "Ke rumah kita. Sebuah penthouse di Knightsbridge. Anggap saja ini safehouse yang sudah kupersiapkan khusus untukmu. Kau tidak bisa kembali ke

  • UNWRITTEN OBSESSION (Hasrat Terlarang Sang Detektif)   54. Labirin Tanpa Jejak

    Javier tidak langsung meninggalkan gedung Marrow Lane Residence. Amarah dan kecurigaan yang membakar dadanya tidak mengizinkannya pergi begitu saja. Alih-alih menuju tempat parkir, Javier memutar arah menuju lantai dasar, ke sebuah pintu kayu kusam bertuliskan Estate Manager. Tanpa mengetuk, Javier menerobos masuk. Suasana di dalam ruangan itu pengap, dipenuhi tumpukan berkas dan aroma kopi instan yang sudah dingin. Seorang petugas paruh baya dengan seragam yang tampak kebesaran tersentak dari kursinya. "Aku butuh rekaman CCTV seminggu terakhir. Sekarang juga!" tuntut Javier sambil menghantamkan kartu identitas organisasinya ke atas meja. Petugas itu mengerjap, tampak bingung sekaligus ketakutan. “Tuan, maaf, tapi..." "Tidak ada tapi. Ini menyangkut keselamatan klienku. Berikan aksesnya atau aku akan membawa polisi ke sini dengan surat perintah," gertak Javier. Petugas itu menghela napas pasrah, lalu memutar salah satu monitor di hadapan Javier. Layar itu gelap gulita. Hanya

  • UNWRITTEN OBSESSION (Hasrat Terlarang Sang Detektif)   53. Sangkar yang Kupilih

    Pintu terbuka lebar. Udara dingin dan aroma hujan pagi hari menyergap masuk. Tara hampir menjatuhkan cangkirnya saat mendapati sosok yang muncul di baliknya. “Javier Castillo,” sapa Greg tanpa intonasi. Matanya menatap dingin sosok pria seusia dirinya yang berdiri di depan pintu. Psikolog Javier Castillo adalah terapis Tara. Orang yang sudah lama Tara hindari. Dia juga pernah bekerjasama dengan Greg saat menangani korban kekerasan domestik bertahun lalu. Pria itu berwajah lembut. Meninggalkan kesan aristokrat yang dibingkai rambut coklat ikal sebatas leher. Pagi itu, Javier mengenakan mantel musim dingin coklat susu yang bernoda jejak hujan. Warna yang selaras dengan celana dan vest-nya. Kontras dengan kekelaman Greg dibalut pakaian serba hitam, Javier terlihat semringah dan hangat. Meskipun demikian, tetap saja Greg mengenali gestur defensif saat bersitatap dengannya. Javier tersenyum sarkastik ketika menyambut jabatan tangan Greg yang mengancam. “Wah, Detektif Evans. Pagi-p

  • UNWRITTEN OBSESSION (Hasrat Terlarang Sang Detektif)   52. Emas Hitam Bermata Jernih

    Tirai linen yang menjuntai di jendela menjadi penghalang dari dunia luar. Bahkan di bawah cahaya pagi keperakan yang mulai mengintip, udara di kamar itu masih terasa padat. Bau keringat dan sisa Chardonnay membaur dengan gairah yang belum sepenuhnya reda. Napas mereka menderu, saling beradu, dengan ritme yang mulai melambat. Menit berikutnya, Greg terhempas di samping Tara, bersimbah peluh dan jantung bergemuruh seperti derap sepatu lars di lorong sunyi. Mereka saling berdiam diri selama beberapa saat. Memandangi langit-langit tinggi yang seakan menatap balik. Tara menarik selimut. Menutupi tubuh hingga ke dadanya yang masih naik turun oleh napas tersengal. Greg mengambil celananya dari lantai dan memakainya. Pria itu kemudian kembali berbaring memiringkan tubuh menghadap ke arah Tara, bertopang pada siku, memperlihatkan otot-otot di pundak dan lengannya. Caranya menelisik ke dalam manik zamrud Tara masih diliputi intensitas yang sama seperti semalam. Dia mengulurkan tangan,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status