Share

Bab 53

Author: Ipak Munthe
last update publish date: 2026-10-19 21:17:13

Indah pun melangkah dengan pasti.

"Indah," panggil seseorang.

Indah pun menghentikan langkah kakinya, kemudian ia menoleh.

"Tante," katanya.

"Indah," Arini berjalan cepat lalu memeluk keponakannya itu dengan sangat erat, "Tante selama ini berusaha untuk mencari kamu, telepon kamu, kenapa tidak bisa dihubungi?" tanya Arini sambil menatap wajah Indah.

Dulu Indah punya Nenek, tapi setelah Neneknya meninggal hanya ada Arini. Tantenya yang peduli padanya, sebenarnya ada banyak keluarga tap
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 92

    Di luar kamar Mita sudah memegang gagang pintu, tetapi ada tangan yang menghentikannya. Lalu ia pun menoleh. "Kak Ria?" Mita mungkin masih belum percaya bahwa sahabat Kakaknya ada di depan matanya. Kemudian ia pun menghempas tangan Rio, lalu menoleh ke samping, meminta seseorang yang ikut bersamanya segera pergi. "Tunggu!" Rio menghentikan langkah pria itu. Mita meneguk saliva susah payah, "pergi!" perintahnya cepat. Tapi saat pria itu akan melangkah lagi Rio mengambil sesuatu yang dibawa pria itu dan melihatnya. Ular. Meski tidak terlalu besar tapi tetap saja itu adalah hewan yang membahayakan. Ketika itu pria asing itu langsung melahirkan diri. Mita bingung harus bagaimana. Pergi. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk sekarang ini. Tapi Rio sudah meraih tangannya kemudian menariknya. "Kak Rio, kamu mau apa? Jangan kurang ajar!" Tapi Rio tidak peduli, ia pun membawa Mita masuk ke dalam kamarnya. Tak lupa mengunci pintu. "Kak Rio, jangan macam-macam! Kalau ak

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 91

    "Aku, permisi," Maya segera berlari menuju pintu keluar lalu pergi secepatnya. Sedangkan Ara masih berdiri ditempatnya dengan leher terasa dicekik, ia ingin ikut pergi tapi kemana? Semua kamar di vila sudah penuh, kecuali tidur di ruang tamu. Itu tidak mungkin, tali ingin menahan Maya di kamar lebih tidak mungkin. "Santai saja, lakukan yang mau kamu lakukan," kata Adrian. Hah? Bagaimana mungkin Adrian bisa bicara demikian? Ini sungguh sangat tidak mungkinkan? "I-iya," Ara mengangguk cepat lalu ia masuk ke dalam toilet, ia bisa duduk disana sambil bermain ponsel menunggu Adrian pergi. *** "Mas, kamu kok disini?" tanya Indah. Duar. Suara petir kembali menggelegar, membuatnya membeku. Adrian kembali memeluknya erat, seolah menenangkan Indah. 'Indah, kamu nggak usah lebay. Ini cuma petir, memangnya kenapa?' batinnya. "Mas, kamu pergi sana. Kenapa kesini," protes Indah. "Kenapa? Aku kangen sama kamu, aku ini suamimu. Aku sekarang mikir jika pernikahan ini nggak

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 90

    "Bos, Anda mau pergi sekarang?" tanya Robby ketika melihat Adrian sudah mengambil ponselnya. Adrian pun menatap Robby dengan sinis, "Besok!" Robby pun menundukkan wajahnya karena takut pada Adrian, 'Cuaca tidak bisa ditentukan oleh cerahnya matahari,' batinnya. Adrian melirik jam tangannya. "Masih ada waktu." "Kalau begitu, kenapa sudah siap-siap?" "Aku mau memastikan tempatnya aman." Robby mengerutkan kening. "Tempat apa, Bos?" Adrian menatapnya datar. "Bawah pohon jeruk." Oh." Robby mengangguk pelan. Ternyata bosnya benar-benar sudah tidak bisa diselamatkan. "Jangan sampai ada yang melihat," pesan Adrian. "Siap, Bos." Adrian pun keluar dari kamar dengan langkah penuh percaya diri. Sementara itu, Robby hanya bisa menggelengkan kepala. "Benar-benar puber terlambat." *** Adrian sudah berada di belakang vila. Sesuai pesannya, ia menunggu di bawah pohon jeruk yang tumbuh tidak jauh dari bangunan utama. Sesekali ia melirik jam tangannya. Sudah hampir s

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 89

    Adrian terus melangkah di lorong panjang itu, tujuannya sekarang tentu saja Indah. Tapi kemudian ia pun menghentikan langkah kakinya dan menoleh pada Robby. "Ada sesuatu, Bos?" tanya Robby was-was. "Buat dia lenyap dari industri hiburan!" perintahnya. "Hah?" Robby terkejut mendengarnya, masalah benar-benar semakin besar sekarang. Adrian kemudian kembali melanjutkan langkah kakinya dan Robby segera mengejarnya karena sudah tertinggal cukup jauh. "Bos, kalau itu terjadi bagaimana dengan film ini. Bagaimana dengan Ibu Indah?" tanyanya dengan suara nyaris berisik, bahkan matanya mengedar karena takut ada yang mendengar. Adrian pun menghentikan langkah kakinya. Robby juga tentunya ikut menghentikan langkah kakinya, tapi tentunya ada perasaan waspada sekarang. Apa yang akan terjadi padanya sekarang, 'Bu Indah, tolong...' batinnya menjerit. "Kalau begitu lupakan!" Adrian pun kembali melanjutkan langkah kakinya. Namun, Robby merasa lebih lega paling tidak ia tidak terkena

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 88

    Syuting hari akhirnya selesai menjelang sore. Satu per satu kru mulai membereskan peralatan, sementara para pemain berkumpul untuk membicarakan jadwal syuting berikutnya. Indah masih sibuk memeriksa hasil rekaman bersama Ara. Sesekali ia tersenyum puas melihat beberapa adegan yang berhasil direkam dengan baik. "Sepertinya hari ini cukup memuaskan," ujar Ara. Indah mengangguk. "Iya. Besok kita harus lebih siap lagi. Ada beberapa adegan yang perlu diperbaiki." "Bu Sutradara sudah mulai cerewet rupanya." Indah tertawa kecil. "Daripada hasilnya berantakan." Ara terkekeh sebelum akhirnya berpamitan untuk mengurus beberapa keperluan kru. Indah kembali menunduk, merapikan lembaran naskah yang berserakan di atas meja. Namun, ketika ia mengangkat kepala, seseorang sudah berdiri tidak jauh darinya. . "Belum selesai juga?" Indah mengenali suara itu. Lagi, si pria ini lagi. Indah harus bersikap tenang "Sebentar lagi." Adrian melirik tumpukan kertas di hadapannya. "Kamu t

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 87

    Indah berdiri di dekat meja monitor sambil memeriksa beberapa lembar naskah yang akan digunakan hari ini. "Ra, jadi Rio bisa acting, ya?" tanya Indah bingung. "Setelah aku tanya-tanya ternyata dia ini punya keinginan menjadi artis, dan kemarin tim coba lihat actingnya dan ternyata lumayan," jelas Ara. "O," Indah pun mengangguk paham. "Semoga film ini sukses, artinya kamu udah naik satu tangga dan ini bisa jadi awal kesuksesan," kata Ara memberikan semangat. Indah pun mengangguk pelan, tapi tiba-tiba bayangan Adrian langsung melintas di kepalanya. Senyum pria itu, cara bicara, cara memeluk, menatapnya. Entah mengapa Indah merasa ada kenangan yang tak bisa dijelaskan, ada rasa terlindungi dan rasa aman yang tak terungkapkan. 'Rasa apa ini? Aku nggak boleh suka sama dia, dia punya istri sah. Aku tidak seharusnya menghancurkan pernikahan orang lain, aku cuma simpanan dan kapanpun harus siap untuk dibuang,' batinnya. Menepikan semua perasaan yang membuatnya mulai merasa sec

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status