MasukMalam semakin larut. Benar saja Erfan tak memiliki kesempatan, bermesraan dengan Bu Susan. Cika terus menempel dengan ibunya. Bahkan, Sita, putri Bu Dita ada di kamar itu, karena dia ingin tidur bersama Cika. Erfan semakin tak bisa melakukan apapun. Setiap kali dia menggoda Bu Susan dengan cara menggerayangi tubuhnya, Bu Susan akan menepisnya, karena dia takut kedua gadis itu melihatnya. Setelah Bu Susan, Cika, dan Sita, tertidur pulas, Erfan pergi dari kamar tersebut. Niatnya jelas, dia ingin mencari hiburan. Tempat yang ingin dia tuju adalah tempat para wanita penghibur yang pernah dia kunjungi dulu. Dia ingin mengajak bermain panas pemilik tempat itu yang bernama Maya. Erfan pergi ke tempat itu berjalan kaki. Namun di tengah perjalanan, dia malah bertemu dengan Reza."Tuan Muda," sapa Reza.Erfan menoleh ke arah pria itu."Eh Za, aku kira siapa," balas Erfan."Mau ke mana?" tanya Reza."Mau nyari wanita," balas Erfan dengan nada santai. Dia tak menyembunyikan niatnya."Wanit
Waktu berlalu begitu cepat, hingga tanpa terasa matahari telah tenggelam sepenuhnya di balik cakrawala. Lampu-lampu indah di sepanjang pesisir mulai menyala, memancarkan cahaya yang mengusir gelapnya malam. Pengunjung terus berdatangan, membuat kawasan wisata itu kian ramai, bahkan mulai terasa sesak. Erfan menggenggam tangan Bu Susan, berjalan santai menikmati suasana wisata yang ramai. Di depan mereka, Cika dan Sita melangkah lebih dulu. Tawa riang keduanya terdengar ringan, seolah larut dalam kesenangan malam itu. Sementara itu, Bu Dita berjalan di sisi lain Erfan. Sekilas, raut wajahnya menyiratkan rasa iri saat melihat kemesraan antara Erfan dan Bu Susan."Ayah, Ibu, ayo kita foto bersama," ajak Cika dengan ada riang.Erfan dan Bu Susan mengangguk setuju."Sini, aku yang fotokan!" Sita menawarkan.Cika memberikan ponselnya kepada Sita, lalu dia, Erfan, dan Bu Susan, mengambil pose gaya. Setela
Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya mobil Erfan memasuki kawasan Kota Hua. Mereka tiba pada sore hari, terlihat dari cahaya senja yang mulai menyinari kota tersebut. Erfan menepikan mobilnya di sebuah cafe untuk menunggu bus rombongan yang masih tertinggal jauh di belakang. Sambil menunggu, mereka pun memutuskan untuk bersantai sejenak di cafe tersebut. Setelah memesan makanan dan minum yang mereka mau, mereka pun mengobrol santai. "Jadi, tujuan pertama ke mana?" tanya Erfan. "Ke pantai yang pernah kita kunjungi dulu!" balas Bu Susan. "Jadi mau berkunjung ke wisata malam di sana?" tanya Erfan dengan nada santai. Bu Susan mengangguk, membenarkan. "Eh iya," Bu Susan teringat sesuatu. "Kamu kan berinvestasi di wisata malam itu kan?" Erfan mengangguk. "Iya, emangnya kenapa?" "Sekarang, tempat itu sudah lebih bagus!" ucap Bu Susan memberitahu. "Kalau begitu, bocah Reza itu sangat mampu," ujar Erfan dengan nada puas. Perlu di ingat, Reza itu adalah Tuan Mu
Beberapa saat kemudian, seorang guru mengumumkan bahwa sudah waktunya untuk berangkat. Erfan dan para wanita itu pun masuk ke dalam mobil. Tak lama setelah bus lebih dulu melaju keluar, Erfan segera menyalakan mesin dan mengemudikan mobilnya mengikuti dari belakang.Setelah perjalanan memasuki area kota, Erfan menghentikan mobilnya di minimarket."Ayo beli makanan dulu!" ucap Erfan."Silakan Tuan Muda, kita udah bekal makanan dari rumah!" ucap Bu Dita, nadanya sedikit canggung."Ayo, beli lagi... jangan khawatir, aku yang bayar!" tegas Erfan sambil melirik Bu Dita."Ayo, jangan sungkan!" tambah Bu Susan.Pada akhirnya, Bu Dita dan Sita putrinya itu, ikut berbelanja makanan di minimarket.Saat berbelanja, Bu Dita dan Sita sempat ragu memilih makanan. Namun, berkat dorongan Erfan, mereka akhirnya tak sungkan lagi, meski tetap menahan diri agar tidak berlebihan.Setelah selesai berbelanja, mereka melanjut
Erfan dan Kak Gisel akhirnya kembali ke vila. Perjalanan yang mereka tempuh terasa singkat, hingga tak lama kemudian, keduanya tiba di vila. Para wanita yang ada di vila, dengan hangat menyambut kedatangan mereka. "Gimana Kak, apa sudah dapat lahan yang Kakak inginkan?" tanya Serina kepada Kak Gisel. "Sudah," balas Kak Gisel sambil tersenyum lembut, lalu dia menunjuk kepada Erfan. "Pria ini yang memilihkannya." "Kalau gitu, syukurlah," ucap Serina. Erfan duduk, lalu merebahkan kepalanya di pangkuan Serina. "Eh iya. Apa Tante Yurike sama Dewi, jadi pergi nyari tempat tinggal ~ untuk pegawai?" tanya Erfan. "Gak jadi. Dewi menyuruh karyawan perusahaan. Soalnya kebetulan karyawan perusahaan ada yang tinggal di dekat lokasi," balas Calista. "Terus, sekarang mereka di mana?" tanya Erfan. "Dewi di perusahaan, kalau Tante Yurike ada di kamarnya!" balas Calista. Erfan mengangguk mengerti. Tak lama kemudian, Kak Gisel pamit ~ pergi ke kamar. Erfan menatap punggung Kak Gisel yang m
Setelah bermesraan selama beberapa saat, mereka memutuskan untuk pulang. Di perjalanan, mereka mampir ke lokasi air terjun dan gua, karena Kak Gisel ingin melihat lokasi lain yang nanti akan di jadikan tempat wisata. Kak Gisel sangat takjub, ketika melihat keunikan dan keindahan pemandangan di sana. "Kalau seindah ini, pasti gak akan kalah populer sama pantai yang tadi," ucap Kak Gisel. Erfan memeluk pinggang wanita itu, lalu dia berbisik pelan. "Kakak ipar, gimana... kalau kita mandi di sini." "Mandi? emang gak akan ada orang yang datang?" tanya Kak Gisel dengan nada ragu. "Gak akan, tenang saja!" balas Erfan, memastikan. "Ya sudah, ayo!" Akhirnya Kak Gisel setuju. Dia langsung saja menanggalkan pakaiannya di hadapan Erfan. Tak ada sedikitpun asa malu, setelah apa yang terjadi di antara dirinya dan Erfan. Erfan dengan cepat menanggalkan pakaiannya juga. Setelah pakaian mereka terlepas
Sampai di vila. Erfan menggendong Nayla masuk ke dalam vila. "Ibu..." sapa Nayla, sambil melambai-lambai kepada para wanita. "Putri ibu pulang! sini, ibu mau gendong putri ibu," Dewi buru-buru mengambil Nayla dari gendongan Erfan. Erfan meletakkan 1 plastik besar jajanan Nayla di meja. "S
Setelah terdiam beberapa menit, Erfan menatap wanita itu dengan tatapan nakalnya. "Kamu masih kuat? Mau lanjut?" tanya Erfan, sambil menyeringai nakal. Bu Jessy menggelengkan kepalanya. "Sudah cukup. Tolong sisakan sedikit tenaga untukku, untuk pergi dari sini," balas Bu Jessy, sambil berekspres
Erfan kembali ke sisi Shara. Shara langsung melingkarkan tangannya di leher Erfan dengan tingkah manja."Sayang, kamu sangat hebat," ucap Shara, dengan nada ceria, penuh kekaguman.Erfan tersenyum, lalu mengecup kening wanita itu.Selanjutnya adalah acara pembagian hadiah, untuk pemenang lomba modi
Mobil Lamborghini melesat di jalanan kota, dengan suara raungan mesin yang menggelegar."Sayang, seru banget yah, naik mobil kayak gini," ucap Shara, dengan antusias."Kalo menyetirnya sendiri lebih seru loh," balas Erfan, sambil tersenyum."Kalo gitu nanti ajarin aku yah!" pinta Shara, ekspresinya







