LOGIN"Bocah! Kamu makin ngaco aja! Aku gak mungkin lakukan hal seperti itu," bentak Nyonya Kartika sambil memelototi Erfan."Bu, banyak wanitaku yang bisa bersamaku gara-gara mereka kesepian! Aku takut saja ibu seperti itu," ucap Erfan."Nggak, gak akan!" balas Nyonya Kartika.Erfan kembali menatap payudara besar ibunya, dan wajah cantik dan mulusnya itu. "Ibuku ini masih sangat menawan! Bahkan pria muda juga pasti masih banyak yang tergoda. Jadi aku takut saja, ibuku di rebut pria lain."Mendengar perkataan putranya itu, entah mengapa Nyonya Kartika merasakan rasa senang di hatinya. Namun, wanita itu tetap terlihat acuh, tanpa ada perubahan sedikitpun di ekspresinya."Bu, aku mau tidur sama ibu, boleh kan?" Tanya Erfan dengan nada sedikit manja."Eh, masa mau tidur sama ibu, nggak boleh ah," Nyonya Kartika buru-buru menolak."Ayo lah, bu. Mumpung gak ada pria tua itu, aku pengen tidur sama ibu cantik ku ini," rayu Erfan dengan ekspresi memelas.Melihat ekspresi putranya itu, akhirnya Nyon
Erfan menatap semua wanitanya. "Aku gak akan lama di sini, besok siang aku kembali ke ibu kota. Kalian jaga diri baik-baik di sini, tunggu aku pulang! Sebaiknya, kalian jangan terlalu sering keluar dari vila," ucap Erfan. Para wanita itu mengangguk paham. "Sayang, kamu hati-hati! Yang paling penting ke selamatan kamu," ucap Serina dengan ekspresi sedih. "Iya sayang! Jangan sampai kamu kenapa-napa! Aku gak mau jadi janda lagi," sahut Dewi. Erfan tersenyum. "Tenang saja! Aku ini kuat banget. Gak mudah di tindas orang lain," ucap Erfan. "Saudari tenang saja, pria nakal kita ini memang sangat kuat! Aku pun bukan lawannya," ucap Jessy menegaskan. Dia berkata seperti itu agar para wanita itu tidak terlalu mengkhawatirkan Erfan. "Kalian cukup doakan saja aku!" ucap Erfan. "Itu pasti," balas semua wanita. Obrolan mereka beralih ke masalah Viona. Pada akhirnya, Erfan menceritakan semua tentang Viona kepada para wanita itu. Mendengar kisah penderitaan Viona, para wanita itu tak kuasa m
"Sayang... sayang... kalian gak kenapa-napa?" tanya Erfan. Para wanita itu melangkah menghampiri Erfan, lalu mereka semua berkerumun di sekeliling Erfan. "Sayang, tadi aku takut banget!" keluh Dewi. "Kita semua hampir mati tadi," keluh Serina. "Bukan cuma mau di bunuh, kita semua mau di cicipi para pembunuh itu!" keluh Anne. Satu persatu wanita itu melontarkan keluhannya. Mendengar semua keluhan itu, hati Erfan diliputi oleh amarah yang membara. Namun dia menahan amarahnya itu, karena percuma dia tidak bisa melampiaskannya sekarang. Erfan merentangkan tangannya, mengelus lembut setiap kepala para wanita itu. "Maafkan aku. Aku agak lalai, aku kira mereka gak akan mengirim banyak orang! Kalau aku tahu dari awal, ini gak akan terjadi," ucap Erfan. "Kamu gak salah kok!" ucap para wanita sambil menggelengkan kepalanya. "Sayang, kamu harus berterima kasih sama Jessy! Kalau gak ada dia, mungkin kami semua sudah hancur," ucap Serina. "Jessy? Maksudnya?" Erfan kebingungan. "Duduk du
"Mereka itu, bawahan Erfan?" tanya Serina. "Iya. Sebelum Erfan pergi, dia menyuruh beberapa bawahannya menjaga di sekitar sini," balas Nyonya Kartika. "Ternyata, pria nakal itu gak meninggalkan kami tanpa penjagaan," ucap Erlina. "Dia gak akan gegabah meninggalkan wanitanya. Apalagi situasi sedang panas seperti ini," ucap Nyonya Kartika. "Masalah seperti ini harus cepat di selesaikan, kalau tidak akan sangat bahaya. Kalau bertarung secara langsung gak masalah, takutnya mereka memakai trik," ucap Jessy. "Kamu benar!" Nyonya Kartika setuju. Para wanita itu sudah kehilangan rasa kantuk mereka. Pada akhirnya mereka terus mengobrol di ruang tamu. Bahkan, mereka menyiapkan camilan dan minuman untuk menemani obrolan mereka.====Sebuah mobil Pagani Zonda berwarna hitam ~ melesat masuk ke area Kota Zau."Huh, akhirnya sampai!" ucap pria yang mengendarai mobil tersebut. Pria itu tentu saja Erfan. Setelah berdiskusi dengan para petinggi negara tadi siang, dia langsung pergi membawa Viona
"Identitas? Identitas apa?" tanya Tante Yurike. "Sebenarnya, beberapa tahu lalu aku adalah seorang pembunuh top dunia. Julukanku, mawar berdarah," ucap Jessy. Mendengar kata "pembunuh" semua wanita tersentak kaget. Tante Yurike dan Nyonya Kartika lah yang paling kaget, karena mereka tahu jelas apa itu "pembunuh top dunia." "Ja-jadi... kamu itu... mawar berdarah... yang selama ini... me-menduduki peringkat nomor 1 pembunuh top?" ujar Tante Yurike dengan nada terbata-bata. "Iya, itu memang aku," balas Jessy. Nyonya Kartika menghela nafas panjang, berusah menenangkan hatinya yang kacau. "Jessy, kamu kenapa bisa berakhir di sini?" tanya Nyonya Kartika. "Aku sudah muak membunuh. Aku mau menghabiskan sisa hidupku seperti wanita biasa. Punya suami, punya anak, membangun keluarga kecil yang bahagia. Jadi aku memutuskan untuk bersembunyi di kota ini. Setelah aku ketemu mantan suamiku itu, akhirnya aku berakhir di kampung ini," balas Jessy. Semua wanita mengangguk paham. Setela
"Aku mau yang paling cantik!" ucap salah satu pria sambil menunjuk Dewi. "Tiga wanita muda itu bagus juga," ucap pria yang masih agak muda, sambil menunjuk Diva, Tesa, dan Frisa. "Yurike buat aku. Aku juga mau yang itu!" ucap pria bertubuh agak besar sambil menunjuk Susan dan Sandra. "Jangan biarkan mereka bunuh diri!" ucap pria tua. Para wanita Erfan semakin ketakutan, mereka gak takut mati, api mereka gak mau sebelum mati di tiduri para pria itu. Saat para pria sedang sibuk memilih, tiba-tiba salah satu pria Erfan berkata. "Aku menyerah! Aku bakal jadi wanita kalian, kalian jangan bunuh aku yah." Mata semua wanita Erfan tertuju ke wanita itu. "Jessy... apa maksudmu!" teriak Dewi dengan nada penuh amarah. "Kak Jessy... kamu mau khianati Erfan! Aku gak nyangka kamu seperti itu!" teriak Shara. Jessy diam, tak menjawab perkataan para wanita itu. Ekspresinya tampak senang, tak beriak sama sekali. "Gak ada pilihan lain," ucap Jessy di dalam hatinya. "Jessy... kau sungguh men
Tiba-tiba di luar, terdengar Sirene mobil polisi. Beberapa polisi langsung menyerbu masuk ke dalam rumah Wandi yang semakin membuat ketakutan Lusi.Para warga kampung tersebut, berdatangan, termasuk keluarga Lusi, karena mereka di beri tahu oleh warga, ada polisi yang mencari Wandi. "Sialan, lepas
Mereka pun melakukan pemanasan terlebih dahulu, sebelum pertempuran di mulai. "Sayang, milikmu ini membuat ku candu," ucap Anne sambil bermain dengan senjata Erfan. "Em. enak sayang," Erfan menikmati permainan Anne. Setelah dirasa penasaran cukup, dan Erfan juga, sudah membuat Anne mencapai pu
"Sayang, malam ini aku tidur sama kamu yah!" ucap Yesi, karena malam ini gilirannya.Erfan tersenyum, lalu menarik gadis cantik dan seksi itu ke pangkuannya."Malam ini giliranmu kan?" goda Erfan."Iya. Kau sudah menahannya, kamu harus membuatku puas!" balas Yesi dengan tegas."Tentu saja, aku akan
Seorang wanita dewasa cantik berpenampilan anggun, berjalan menghampiri Erfan. Senyuman indah terlukis di bibir merah wanita itu. Senyumannya itu membuat siapa saja yang melihatnya pasti sulit untuk melupakannya. "Tuan Muda! saya Rita, manajer PT Coleri," ucap wanita cantik itu dengan sopan. "Ha







