ログインApem wanita itu masih sangat sempit, yang membuat Erfan perlu sedikit waktu untuk menerobosnya sampai ujung."Ahhh... Tuan, sangat sesak ahh..." ucap Mira dengan suara berat. Matanya terpejam, dia dengan fokus menikmati proses penyatuan itu."Milikmu... masih sangat sempit!" balas Erfan, sambil mendorong batangnya lebih keras lagi.Pada akhirnya, batang besar itu tertelan sepenuhnya di dalam apem sempit itu."Ahhh..." keduanya mendesah nikmat hampir bersamaan dan tubuh mereka tampak sedikit menegang."Ahhh... mentok sampai ujung, ini... aa-sangat nikmat!" ucap Mira."Remasan apemmu, sangat nikmat!" sahut Erfan.Selama beberapa detik, keduanya menikmati sensasi penyatuan itu terlebih dahulu. Kemudian, barulah Erfan memutuskan untuk bergerak.Erfan memaju mundurkan batang besarnya itu, dengan tempo yang tampak pelan. Namun, lama kelamaan pergerakan batangnya itu semakin cepat.Rasa yang teramat nikmat bisa di rasakan oleh Mira, yang membuat wanita itu terus menerus mengeluarkan desahan
Melihat Erfan yang tampak menikmati, Mira bermain lebih ganas lagi. Jilatan dan isapannya semakin liar di batang besar itu. "Ahh... kamu sudah sangat pandai, yah," ucap Erfan dengan nada nikmat bercampur puas. Mira menatap Erfan dengan tatapan panas, raut wajahnya tampak sangat nakal. Dia memulai permainan yang lebih liar. Batang besar itu di masukkan ke dalam mulutnya, lalu dia mengulumnya dengan ganas. "Ahhh... ahh... enak, terus!" Erfan semakin merasa nikmat, saat mendapatkan kuluman itu. Satu tangan Erfan menggenggam payudara Mira, lalu meremasnya dengan keras. Sementara tangan lainnya, meremas-remas rambut wanita itu.Cukup lama Mira mengulum batang itu, tapi belum juga bisa di taklukkan. Wanita itu mengubah cara mainnya. Dia melepaskan bra yang dia kenakan, lalu menjepit batang itu di antara payudaranya.Melihat itu, Erfan hanya menyunggingkan senyuman tipis."Tuan Muda, mau di mainkan sampai mencapai puncak, atau mau langsung di masukkan?" tanya Mira. "Mainkan dulu saja.
Setelah menunggu hampir satu jam, model wanita itu datang bersama kekasih Reza. Kedatangan mereka tentu saja menjadi kehebohan di cafe tersebut. Erfan menatap kedua wanita cantik yang sedang berjalan ke arahnya. Namun, fokusnya tertuju kepada model wanita itu. "Wanita yang satunya adalah wanitaku," ucap Reza memberi tahu. Erfan mengangguk mengerti. Ketika dua wanita itu sampai di hadapan Erfan, mereka langsung memperkenalkan diri. "Halo, Tuan Muda, saya Mira," ucap model wanita itu. Matanya menatap Erfan dengan sorot mata penuh kekaguman, dan ada terlintas sinar panas di pupil matanya. "Halo, Tuan Muda, saya Rika, kekasih Reza," ucap kekasih Reza dengan hangat dan sikapnya tampak sopan. Namun, jika di lihat dengan jelas, terlintas sebuah sinar kekaguman dan sinar panas di sorot matanya. "Saya Erfan. Silakan duduk!" balas Erfan. Kedua wanita itu pun duduk. Rika duduk di samping Reza, sementara
Malam semakin larut. Benar saja Erfan tak memiliki kesempatan, bermesraan dengan Bu Susan. Cika terus menempel dengan ibunya. Bahkan, Sita, putri Bu Dita ada di kamar itu, karena dia ingin tidur bersama Cika. Erfan semakin tak bisa melakukan apapun. Setiap kali dia menggoda Bu Susan dengan cara menggerayangi tubuhnya, Bu Susan akan menepisnya, karena dia takut kedua gadis itu melihatnya. Setelah Bu Susan, Cika, dan Sita, tertidur pulas, Erfan pergi dari kamar tersebut. Niatnya jelas, dia ingin mencari hiburan. Tempat yang ingin dia tuju adalah tempat para wanita penghibur yang pernah dia kunjungi dulu. Dia ingin mengajak bermain panas pemilik tempat itu yang bernama Maya. Erfan pergi ke tempat itu berjalan kaki. Namun di tengah perjalanan, dia malah bertemu dengan Reza."Tuan Muda," sapa Reza.Erfan menoleh ke arah pria itu."Eh Za, aku kira siapa," balas Erfan."Mau ke mana?" tanya Reza."Mau nyari wanita," balas Erfan dengan nada santai. Dia tak menyembunyikan niatnya."Wanit
Waktu berlalu begitu cepat, hingga tanpa terasa matahari telah tenggelam sepenuhnya di balik cakrawala. Lampu-lampu indah di sepanjang pesisir mulai menyala, memancarkan cahaya yang mengusir gelapnya malam. Pengunjung terus berdatangan, membuat kawasan wisata itu kian ramai, bahkan mulai terasa sesak. Erfan menggenggam tangan Bu Susan, berjalan santai menikmati suasana wisata yang ramai. Di depan mereka, Cika dan Sita melangkah lebih dulu. Tawa riang keduanya terdengar ringan, seolah larut dalam kesenangan malam itu. Sementara itu, Bu Dita berjalan di sisi lain Erfan. Sekilas, raut wajahnya menyiratkan rasa iri saat melihat kemesraan antara Erfan dan Bu Susan."Ayah, Ibu, ayo kita foto bersama," ajak Cika dengan ada riang.Erfan dan Bu Susan mengangguk setuju."Sini, aku yang fotokan!" Sita menawarkan.Cika memberikan ponselnya kepada Sita, lalu dia, Erfan, dan Bu Susan, mengambil pose gaya. Setela
Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya mobil Erfan memasuki kawasan Kota Hua. Mereka tiba pada sore hari, terlihat dari cahaya senja yang mulai menyinari kota tersebut. Erfan menepikan mobilnya di sebuah cafe untuk menunggu bus rombongan yang masih tertinggal jauh di belakang. Sambil menunggu, mereka pun memutuskan untuk bersantai sejenak di cafe tersebut. Setelah memesan makanan dan minum yang mereka mau, mereka pun mengobrol santai. "Jadi, tujuan pertama ke mana?" tanya Erfan. "Ke pantai yang pernah kita kunjungi dulu!" balas Bu Susan. "Jadi mau berkunjung ke wisata malam di sana?" tanya Erfan dengan nada santai. Bu Susan mengangguk, membenarkan. "Eh iya," Bu Susan teringat sesuatu. "Kamu kan berinvestasi di wisata malam itu kan?" Erfan mengangguk. "Iya, emangnya kenapa?" "Sekarang, tempat itu sudah lebih bagus!" ucap Bu Susan memberitahu. "Kalau begitu, bocah Reza itu sangat mampu," ujar Erfan dengan nada puas. Perlu di ingat, Reza itu adalah Tuan Mu
Tidak lama Erfan kembali, membawa beberapa tas belanja. Dia membagi rata tas belanjaan itu. Dewi tidak melihat belanjaan lainnya, dia hanya fokus mencari pesanannya. Setelah menemukannya, Dewi mengeluarkannya. Melihat barang di tangan Dewi, membuat Bu Evi membelalak. "Itu dalam? sangat seksi," u
Verona sudah tidak bisa melawan, dia pun tidak memberontak lagi. Dia hanya diam dengan tatapan kosong, jiwanya seperti menghilang dari tubuhnya.Pria bertubuh besar itu langsung melahap dada Verona dengan penuh hasrat, tangannya memainkan gua Verona dengan ganas."Ahh..." erangan keluar dari mulut
Di vila, terlihat semua wanita sedang duduk di sofa, dengan suasa sendu. Bagaimana pun kejadian ini, menjadi pukulan untuk Bi Ayu dan Bu Susan. Kedua wanita itu hanya diam, dengan ekspresi dingin, tidak ada ekspresi ceria seperti biasanya. Tidak lama, mobil Erfan masuk ke dalam vila. Erfan turun d
Tapi alam berkehendak lain, beberapa menit kemudian, Pak Jukri suami Bu Susan meninggal, tidak lama setelah itu, Ningsih juga meninggal.Akhirnya Erfan memutar balik mobil, tidak ada gunanya melanjutkan perjalanan ke rumah sakit.Di jalan pulang, Pak RW menelepon salah satu warga di kampung, member







