MasukPara wanita menatap Erfan. "Apa benar begitu? Kamu punya bawahan petarung wanita?" tanya Serina tampak masih sedikit ragu. Erfan mengangguk menegaskan. "Iya, ada beberapa. Tapi cukup, kalau untuk mengawal kalian semua." "Tapi... bagusnya sih, kalian belajar beladiri, biar bisa melawan kalau ada yang macam-macam," lanjut Erfan. "Nah, itu lebih bagus!" Tante Yurike setuju dengan perkataan Erfan. "Kamu sangat pandai bertarung, kamu saja ajari kami," ucap Dewi. "Boleh. Nanti aku ajari kalian," Erfan langsung setuju. "Tante Yurike juga pandai bertarung, kalian juga bisa belajar dari dia juga," ucap Erfan dengan nada main-main, sambil menoleh ke Tante Yurike. "Bocah, kamu menambah lagi kesibukanku," tegur Tante Yurike ketus. Erfan terkekeh pelan. Para wanita itu menatap Tante Yurike dengan sorot mata berbinar. Jessy menghampiri Tante Yurike, lalu duduk di sisinya. Dia meletakkan tangannya di bahu Tante Yurike dan mulai memberikan pijatan. "Tante, ajari aku yah," bujuk Jessy. Wa
"Sayang, kamu boros banget sih. Mobil kayak gitu pasti mahal," ujar Bu Susan dengan nada tak berdaya. "Gak apa-apa, yang penting kalian suka, masalah uang gak masalah sama sekali," balas Erfan dengan nada santai. Bu Susan hanya bisa menghela nafas. Walau dia merasa enggan saat Erfan menghamburkan uang untuk membeli hal seperti itu, dia diam-diam senang karena Erfan selalu berusaha agar wanitanya bahagia. Sementara itu, Bu Dita merasa semakin iri. "Huh, andai saja aku wanitanya. Pasti aku pun dapat bagian," gumamnya di dalam hati. Karena rasa iri nya itu, dan juga dia telah memiliki perasaan kepada Erfan, rasa cinta kepada suaminya pun mulai memudar. === Di sisi lain, tampak Inka masuk ke ruangan yang tadi di jadikan tempat bercinta oleh Erfan dan Emily. Karena Emily tak kunjung keluar dari ruangan tersebut.Saat di melihat kondisi Emily, matanya membelalak. Emily belum membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa permainannya bersama Erfan tadi. Tubuhnya masih polos tanpa pak
Emily tak ingin membuang waktu, dia langsung saja bergoyang. Baru saja di goyang, Erfan sudah bisa merasakan rasa nikmat dari goyangan itu. "Emm... ahhh, goyanganmu... terasa nikmat, ahh..." ucap Erfan dengan nada penuh kenikmatan. "Ahhh... ahhh, Ini baru awal, Tuan Muda. Aku... aku akan mengeluarkan semua keterampilanku," balas Emily dengan nada genit, sambil terus meningkatkan keterampilan goyangannya. Benar saja, semakin lama, keterampilan goyangan wanita itu semakin lincah. Rasa yang di rasakan Erfan pun terasa semakin nikmat. Erfan berpikir, jika Emily di bandingkan dengan para wanitanya, Emily tak kalah sama sekali dalam keterampilan goyangannya ini. Bahkan, wajah dan bentuk tubuh, tak kalah dari beberapa wanita Erfan. === Di luar ruangan tempat Erfan dan Emily bercinta. Tampak Inka berdiri di sana, dengan wajah merah, dan mata sayu. "Ahhh... ahhh, terus... enak banget, ahh..." desah Erfan. "Tuan... batangmu sangat nikmat, ahh..." desah Emily. Suara-suara menggairahkan
Erfan bergerak cepat, merebahkan wanita itu di sofa, lalu menekannya. "Nona, kamu sangat cantik... tapi kenapa mau tidur dengan banyak pria? Apa kamu hyper, atau terpaksa?" tanya Erfan, sambil menggesekkan ujung batangnya di apem wanita itu. "Emmm... ahhh, aku... terpaksa! Tapi itu semua... demi uang," balas Emily terus terang. "Yang penting semua kebutuhan terpenuhi, aku rela melakukan apapun." Erfan mengangguk mengerti. Memang tak sedikit wanita seperti Emily, yang rela menjual tubuhnya demi uang. Bahkan, awalnya beberapa wanita Erfan pun begitu."Aku masukin, yah," ucap Erfan, sambil menekan masuk batangnya ke apem wanita itu."Ahhh..."Desahan panjang keluar dari mulut Emily, dan tubuhnya tampak menegang, ketika dia merasakan batang besar itu merasuk masuk ke dalam tubuhnya."Ahhh... Tuan Muda... batangmu... besar banget, ahh... terasa sesak di dalam milikku," ucap Emily dengan suara berat, tertahan."Wajar saja... milikmu belum pernah di masuki batang sebesar milikku. Jadi ma
Beberapa menit kemudian, pembelian 20 unit mobil Porsche telah selesai. "Tuan Muda, semuanya sudah selesai. Jadi kita bisa mulai," ucap Emily, sambil duduk di pangkuan Erfan. Tangannya di lingkarkan di leher Erfan, sikapnya itu tampak sangat menggoda. Erfan melirik Inka yang masih duduk di sampingnya. "Apa kamu mau menonton?" tanya Erfan dengan nada main-main. Inka bangkit berdiri, raut wajahnya sedikit cemberut. "Tuan Muda, jangan lupa! Kalau Tuan Muda ke Kota Hua, Tuan Muda harus mengabariku," ucap Inka dengan tegas. "Hey, ini seperti aku yang punya hutang kepadanya. Padahal dia lah yang punya hutang tubuh kepadaku," gumam Erfan di dalam hati dengan nada heran. Pada akhirnya, Erfan mengangguk kepalanya sebagian jawaban. Inka menyunggingkan senyuman menggoda, sambil mengangkat rok mini nya dengan jarinya ke atas. Sampai, Erfan bisa melihat jelas, CD renda ungu yang di kenakan wanita itu. Karena CD itu sangat tipis, Erfan bisa melihat samar-samar belahan apem serta bentuk ape
Beberapa saat kemudian, mereka tiba di dealer mobil. Erfan mengajak para wanita itu untuk masuk, namun mereka memilih tetap menunggu di dalam mobil, karena Bu Dita enggan ikut masuk. Pada akhirnya, Erfan masuk seorang diri ke dalam dealer tersebut. Sesampainya di dalam dealer, Erfan langsung disambut oleh dua sales wanita berpenampilan menarik. Namun, di antara mereka, dia tak melihat Sania ~ sales yang biasanya melayaninya. Kedua sales yang menghampiri Erfan tampak jelas sudah mengenalnya. "Selamat datang Tuan Muda, ada yang bisa kami bantu," ucap sales wanita berambut coklat. "Saya ingin membeli mobil Porsche 20 unit, apa dealer ini biasa menyediakannya?" tanya Erfan tanpa basa basi. Mendengar itu, kedua sales itu mematung sejenak. Tak lama, mereka kembali sadar. "Apa Tuan Muda serius? Ingin membeli mobil Porsche sebanyak itu?" tanya sales berambut hitam bergelombang. "Tentu saja saya serius," balas Erfan dengan nada santai. Kedua sales itu saling menatap, tampak kilatan p
Di dalam ruangan kantor, Erfan duduk di sofa, sementara ke 4 wanita itu duduk di sisinya. "Sayang, apa tugas Jessy dan Kau?" tanya Dewi. Karena mereka baru hari ini masuk ke perusahaan. "Emm...apa yah?" Erfan berpikir. Saat Erfan sedang berpikir, Anne berbicara. "Gimana, kalo Dewi sama Jess
Sampai di vila, Erfan kembali ke kamar Dewi. Di dalam kamar, terlihat Dewi yang sedang bersandar di sandaran kasur. "Gimana sayang? apa korbannya sangat parah?" tanya Dewi penasaran. "Korbannya sangat parah! entah hidup atau mati, tapi semua kesalahan ini ada di korban, dia sendiri yang ingin t
Setelah menunggu selama hampir 1 jam, wanita bernama Diva itu akhirnya datang. "Eh Yesi, kamu di sini juga," ucap wanita cantik bernama Diva, sambil berjalan ke arah sofa. Erfan menatap wanita itu, dengan tatapan kagum. Wanita bernama Diva itu buka hanya cantik, tapi tubuhnya pun sangat menggoda
Shara menatap Erfan lalu berkata."Sayang, aku ke Dosen Erika dulu yah! siapa tahu, dia mau berangkat pake mobil kita," Shara tidak menunggu jawaban Erfan, dia menarik Yesi lalu pergi ke arah Dosen Erika.Erfan menggelengkan kepalanya tanpa daya. Wanitanya itu sepertinya sangat antusias mencarikan







