Masuk"Edgar, ada sesuatu yang harus kukatakan padamu tentang sore tadi," bisik Selina seraya duduk perlahan di sofa ruang tengah penthouse."Aku tidak ingin ada rahasia di antara kita."Edgar meletakkan cangkir kopinya di atas meja kaca, lalu memutar tubuhnya menatap Selina dengan pandangan mata tajam.Suasana keremangan ruang tengah mendadak diliputi ketegangan emosional yang amat pekat."Ada apa, Selina?" tanya Edgar dengan suara bariton yang berat dan tenang. "Apakah ada hal penting yang terjadi saat aku di kantor?"Selina menghela napas panjang, mencoba menetralkan rasa bersalah yang dihantuinya karena telah menemui Anthony tanpa izin Edgar sebelumnya."Sore tadi aku pergi menemui Anthony Theodore secara diam-diam di sebuah kedai teh privat."Mendengar pengakuan jujur tersebut, raut wajah Edgar seketika membeku total oleh kilatan posesif yang amat dingin.Mata elangnya menyalang menatap Selina, memancarkan aura dominasi yang menuntut penjelasan mutlak."Kau menemui pria tua itu tanpa m
"Jawab aku sekarang, Selina!" bentak Luna seraya mengguncang bahu Selina tanpa belas kasihan. "Kau mau menurut atau nama ibumu yang kubuat busuk?!"Pintu unit penthouse mendadak terbuka lebar hingga membentur dinding dengan dentuman keras.Edgar melangkah masuk dengan langkah lebar, memancarkan aura membunuh yang teramat pekat."Tarik tanganmu dari tubuh istriku sebelum kupatahkan setiap jari tanganmu itu, Luna!" ancam Edgar dengan suara bariton yang teramat dingin dan menggelegar.Luna seketika membeku, menarik tangannya dengan napas tersengal saat melihat Edgar berdiri mematung beberapa meter di hadapannya.Raut wajah pria itu sangat kelam dengan tatapan mata elang yang mampu meremukkan mental siapa pun."Edgar..." bisik Selina lirih seraya memegangi perutnya yang tegang, tubuhnya gemetar hebat akibat kejutan emosional.Edgar melangkah maju mendahului Luna, langsung merengkuh pinggang Selina dan menarik wanita itu ke dalam dekapannya yang hangat dan kokoh."Kau tidak apa-apa, Selina
"Tuan Besar Anthony Theodore ingin menemui Anda secara pribadi, Nyonya Selina," ujar perantara paruh baya seraya membungkuk hormat."Beliau menunggu di sebuah kedai teh privat yang netral."Selina menatap surat undangan berstempel stempel pribadi Anthony di atas meja kerja apartemennya.Kejutan berdesir pelan di dadanya saat mengetahui patriark tua keluarga Theodore itu turun tangan langsung."Apakah Tuan Edgar mengetahui tentang undangan pertemuan ini?" tanya kepala pengawal pribadi yang berdiri siaga di samping Selina."Kami tidak bisa membiarkan Anda pergi tanpa pengawalan ketat.""Jangan beri tahu Edgar terlebih dahulu, ini urusanku," balas Selina seraya menyanggul rambutnya dengan anggun."Siapkan tim pengawalan rahasia untuk memantau dari kejauhan."Sore harinya, Selina melangkah masuk ke dalam ruang privat sebuah kedai teh tradisional yang amat tenang dan terisolasi.Di sudut ruangan, Anthony Theodore duduk mematung menatap cangkir teh yang telah dingin."Terima kasih kau sudah
"Beri aku satu botol wiski lagi!" bentak Rafael seraya melempar beberapa lembar uang lusuh ke atas meja bar yang remang-remang. "Cepat tuangkan sekarang!"Pelayan bar menatap Rafael dengan raut jijik melihat pakaian pria itu yang kusut dan berbau alkohol menyengat."Ini botol kelima Anda malam ini, Tuan. Kartu kredit Anda juga sudah ditolak oleh mesin EDC.""Tutup mulutmu dan ambil saja uang tunai itu!" jerit Rafael seraya meneguk sisa minuman di gelasnya hingga kandas. "Aku ini Rafael Theodore, penerus tunggal Theodore Group!""Theodore Group sudah bangkrut dan nama Anda sudah hancur di mana-mana, Tuan," cetus seorang pengunjung bar di sebelahnya seraya terkekeh meremehkan."Sebaiknya Anda pulang sebelum pingsan di lantai."Rafael membanting gelas kaset ke atas meja hingga pecah berkeping-keping. "Berani-beraninya kau menghinaku, penakut!"Kehancuran total yang melanda keluarga Theodore telah melumat habis sisa-sisa kesadaran mental Rafael.Pria yang dulu selalu tampil klimis dan som
"Surat penetapan eksekusi sita ini sudah ditandatangani oleh Ketua Pengadilan Negeri, Tuan Thomas," ujar juru sita pengadilan seraya menunjukkan berkas berkop resmi."Kami diberi kewenangan untuk menyegel seluruh properti ini."Thomas berdiri mematung di lobi gedung perkantoran utamanya, menyaksikan belasan petugas berseragam menempelkan stiker penyitaan di dinding kaca.Wajah pria paruh baya itu pucat pasi dengan napas yang memburu ketakutan."Tunggu dulu! Beri aku waktu tiga hari untuk melunasi cicilan itu!" jerit Thomas dengan suara serak seraya mencengkeram lengan juru sita."Aku baru saja mendapatkan suntikan dana segar dari investor luar!""Tenggat waktu batas toleransi dari perbankan sudah melampaui batas akhir sejak kemarin sore, Tuan," sahut perwakilan konsorsium bank yang berdiri di samping petugas. "Seluruh rekening dan aset komersial Anda resmi dibekukan mulai hari ini.""Anda tidak bisa melarang kami memasuki gedung kami sendiri!" jerit Luna histeris yang baru saja tiba d
"Sidang lanjutan perkara perceraian dan hak asuh Penggugat Selina resmi dibuka," ucap Ketua Majelis Hakim seraya mengetuk palunya. "Agenda hari ini adalah penyerahan hasil bukti medis independen dari pihak Penggugat."Atas izin majelis hakim, Edward berdiri dari kursinya seraya membawa map tebal berstempel resmi laboratorium forensik nasional.Wajah Haris dan Rafael di meja Tergugat seketika menegang menatap langkah penuh percaya diri dari pengacara tersebut."Yang Mulia, kami menyerahkan berkas resmi tes DNA pra-lahir yang diproses secara independen," ujar Edward tegas di depan meja hakim. "Pemeriksaan ini dilakukan di bawah pengawasan hukum ketat dan diawasi oleh tiga ahli forensik independen."Hakim Ketua menerima berkas tebal itu, lalu membukanya dengan cermat di hadapan dua hakim anggota lainnya. Suasana di dalam ruang sidang mendadak hening total, menanti pembacaan hasil tes biologis yang menjadi penentu takdir tersebut."Berdasarkan hasil analisis kromosom dan pencocokan sampel
Pintu kamar tidur dibanting dengan keras hingga menimbulkan gema yang memekakkan telinga. Rafael Theodore melonggarkan dasinya dengan sentakan kasar, lalu berbalik menatap Selina yang masih berdiri mematung di dekat pintu dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya.Atmosfer di dalam kamar
Selina melangkah pelan mengekor di belakang Luna dengan langkahnya yang pincang akibat luka lebam yang belum sembuh sepenuhnya.Benar saja, begitu mereka menginjakkan kaki di ruangan luas itu, pemandangan di depannya membuat nyali Selina menciut.Di sana sudah ada Rafael yang duduk santai sambil me
Selina buru-buru bangkit berdiri dan mengabaikan rasa perih yang menjalar di pergelangan kakinya. Dia lalu melemparkan kain handuk di tangannya ke atas lantai dengan gerakan panik, dan memalingkan wajahnya sejauh mungkin hingga menyentuh bahunya sendiri.“M-maaf! Aku benar-benar tidak sengaja, Pama
“Pergi ke kamar paling ujung di sayap barat. Ambil semua pakaian kotor di sana dan cuci sampai bersih!” perintah Luna tanpa memandang wajah lelah menantunya.Selina mengerutkan keningnya sembari menahan rasa perih yang menjalar dari telapak kakinya karena terlalu banyak pekerjaan yang dia kerjakan







