เข้าสู่ระบบ"Tekanan darah dan kondisi janin Nyonya Selina sangat sempurna," ujar dokter spesialis kandungan seraya mengoleskan gel ke perut Selina. "Mari kita lihat perkembangan organ dalamnya melalui monitor."Selina merebahkan tubuhnya di atas ranjang periksa dengan wajah berbinar bahagia menatap layar ultrasonografi.Di samping ranjang, Edgar berdiri siaga seraya menggenggam erat jemari lentik Selina tanpa melepaskannya sedikit pun."Lihat itu, Edgar... detak jantungnya terdengar sangat jelas dan kuat," bisik Selina seraya menunjuk titik kecil yang berdenyut di layar monitor. "Dia tumbuh sangat sehat di dalam sini.""Dia anak yang sangat kuat seperti Mamanya," sahut Edgar dengan suara bariton hangat seraya mengecup punggung tangan Selina. "Terima kasih sudah merawatnya dengan sangat baik."Kegembiraan atas makin stabilnya kondisi kehamilan Selina membawa mereka pada jadwal pemeriksaan rutin di rumah sakit swasta eksklusif milik Anderson Group.Edgar memosisikan keamanan pada tingkat tertinggi
"Tuan Edgar, berkas proposal dari Thomas Theodore sudah tiba di meja direksi anak perusahaan," lapor Edward seraya menyerahkan dokumen. "Apakah kita harus langsung menolaknya?"Edgar menatap sampul berkas proposal tersebut dengan senyum tipis yang sarat akan dominasi dingin. "Jangan ditolak dulu, Edward. Instruksikan direksi untuk berpura-pura sangat tertarik pada proyek ini.""Apakah Anda sengaja ingin memberi dia rasa percaya diri palsu, Tuan?" tanya Edward seraya mencatat perintah tersebut di dalam catatannya."Biarkan pria bodoh itu melangkah lebih jauh hingga masuk ke dalam jerat hukum yang dia buat sendiri," pangkas Edgar dingin seraya mengetuk jemarinya di atas meja. "Beri dia ruang untuk merasa menang."Namun, Thomas sama sekali tidak menyadari bahwa seluruh pergerakannya telah berada di bawah pengawasan ketat tim intelijen Anderson Group sejak awal. Edgar telah memprediksi langkah nekat Thomas yang terdesak kebangkrutan.Direksi anak perusahaan Anderson Group lantas menghubun
"Kita harus melakukan pertaruhan terakhir ini sekarang juga!" seru Thomas seraya membanting berkas proposal ke atas meja kantor rahasianya. "Ini satu-satunya cara menyelamatkan kita dari kebangkrutan!"Asisten kepercayaannya menatap dokumen tersebut dengan raut wajah cemas dan bergetar hebat. "Tapi Tuan Thomas, proyek investasi infrastruktur ini sama sekali tidak memiliki aset nyata atau izin resmi!""Tutup mulutmu dan dengarkan instruksiku!" bentak Thomas dengan mata merah berapi-api dipenuhi keputusasaan. "Proyek bodong ini dirancang khusus untuk memancing dan menjebak anak perusahaan Anderson Group!""Bagaimana jika pihak Edgar Anderson mencium kejanggalan pada berkas ini, Tuan?" tanya asisten itu seraya memegang pena yang gemetar. "Tim analisis risiko mereka sangat jeli dan ketat.""Mereka tidak akan curiga jika dokumen ini memiliki legalitas hukum yang tampak sempurna," pangkas Thomas seraya menarik sebuah kotak kayu kecil dari dalam laci mejanya.Di sisi lain, Thomas Theodore ya
"Edgar, coba rasakan ini cepat!" panggil Selina dengan nada suara yang bergetar menahan keharuan mendalam. "Gunakan telapak tanganmu!"Edgar yang sedang membaca laporan keuangan di meja kerja segera meletakkan berkasnya dan melangkah cepat mendekati sofa.Pria itu menatap Selina dengan kening berkerut cemas melihat perubahan raut wajah wanita di hadapannya."Ada apa, Selina?!" tanya Edgar tegang seraya berlutut di samping sofa. "Apakah perutmu melilit atau terasa sakit lagi?!""Bukan sakit, Edgar, sama sekali bukan," sahut Selina seraya tersenyum manis dengan binar mata yang memancarkan kehangatan seorang ibu. "Kemarilah dan dekatkan tanganmu ke perutku."Memasuki usia kehamilan bulan kelima di trimester kedua ini, kondisi fisik Selina makin stabil dan menunjukkan binar kehangatan yang amat memikat.Perut Selina yang kian membuncit manis kini menjadi pusat perhatian baru dan kebahagiaan utama di dalam penthouse."Rilekslah, jangan menegang seperti itu," bisik Selina lembut seraya mera
"Edgar, ada sesuatu yang harus kukatakan padamu tentang sore tadi," bisik Selina seraya duduk perlahan di sofa ruang tengah penthouse."Aku tidak ingin ada rahasia di antara kita."Edgar meletakkan cangkir kopinya di atas meja kaca, lalu memutar tubuhnya menatap Selina dengan pandangan mata tajam.Suasana keremangan ruang tengah mendadak diliputi ketegangan emosional yang amat pekat."Ada apa, Selina?" tanya Edgar dengan suara bariton yang berat dan tenang. "Apakah ada hal penting yang terjadi saat aku di kantor?"Selina menghela napas panjang, mencoba menetralkan rasa bersalah yang dihantuinya karena telah menemui Anthony tanpa izin Edgar sebelumnya."Sore tadi aku pergi menemui Anthony Theodore secara diam-diam di sebuah kedai teh privat."Mendengar pengakuan jujur tersebut, raut wajah Edgar seketika membeku total oleh kilatan posesif yang amat dingin.Mata elangnya menyalang menatap Selina, memancarkan aura dominasi yang menuntut penjelasan mutlak."Kau menemui pria tua itu tanpa m
"Tolong pikirkan kembali keputusanmu, Selina!" panggil Anthony dengan suara bergetar seraya menatap Selina yang hendak berbalik. "Aku memohon atas nama sisa kehormatan keluarga tua ini!" Selina menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu ruangan privat kedai teh tersebut. Dia membalikkan badan perlahan, menatap Anthony yang berdiri lemas dengan pendar mata sayu dan penuh harapan. "Tolong kasihanilah kami, Selina..." bisik Anthony memelas seraya melangkah pincang mendekati meja. "Hanya kau yang bisa menyelamatkan nama Theodore dari kepunahan total!" Meskipun menyaksikan kejatuhan dan keputusasaan seorang patriark tua seperti Anthony memicu rasa iba secara manusiawi di dalam dadanya, Selina tetap berdiri teguh pada prinsip hidupnya. Dia menatap lurus mata Anthony yang sayu dengan tatapan dingin, tenang, dan amat bermartabat. "Rasa iba saya tidak akan pernah mengubah kenyataan pahit yang telah keluarga Anda ciptakan, Tuan Anthony," tegas Selina dengan suara datar yang sarat akan
Selina menggelengkan kepalanya dengan cepat, mencoba menciptakan penolakan di antara deru napas mereka yang saling berkejaran. Jantungnya bertalu begitu keras hingga dia yakin Edgar bisa mendengarnya dengan jelas. Jarak yang terlampau kikis ini membuat akal sehatnya perlahan menguap, digantikan ol
Selina buru-buru bangkit berdiri dan mengabaikan rasa perih yang menjalar di pergelangan kakinya. Dia lalu melemparkan kain handuk di tangannya ke atas lantai dengan gerakan panik, dan memalingkan wajahnya sejauh mungkin hingga menyentuh bahunya sendiri.“M-maaf! Aku benar-benar tidak sengaja, Pama
“Pergi ke kamar paling ujung di sayap barat. Ambil semua pakaian kotor di sana dan cuci sampai bersih!” perintah Luna tanpa memandang wajah lelah menantunya.Selina mengerutkan keningnya sembari menahan rasa perih yang menjalar dari telapak kakinya karena terlalu banyak pekerjaan yang dia kerjakan
“Sudah satu bulan kita menikah, tapi kau tidak pernah mau menyentuhku, Rafael.”Selina akhirnya menyuarakan apa yang selama ini selalu dia pendam. Kalimat itu lolos bersama remasan kuat pada jemarinya sendiri. Sebulan penuh dia terjebak dalam keheningan yang menyiksa, mengubur pertanyaan yang terus







