Share

Bab 89

last update publish date: 2026-07-28 02:48:00

Di dalam ruang kerja pribadi kantor direksi proyek yang megah, suasana terasa begitu mencekam.

Suara barang pecah belah terdengar nyaring ketika Stella memukul meja kacanya dengan telapak tangan, menghempaskan cangkir porselen hingga hancur berkeping-keping di atas marmer.

Wajah cantiknya yang biasa dipenuhi keangkuhan kini memerah padam akibat amarah yang membakar dada.

Napasnya memburu, matanya membelalak menatap pintu ruang kerja yang telah tertutup rapat sejak keberangkatan Edgar beberapa j
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
𝑰𝒄𝒉𝒂 𝑸𝒂𝒛𝒂
Nggak usah obses Stella. Edgar sudah ada pawang nya.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 168

    Pintu besi tempa mansi utama terbuka perlahan saat sedan mewah Edgar memasuki pelataran.Di dalam kabin, Edgar menghela napas panjang, menatap sebentar pantulan dirinya di kaca spion tengah.Raut kaku dan beban intrik korporasi di wajahnya berusaha ia singkirkan rapat-rapat sebelum jemarinya mendorong pintu mobil.Langkah kaki Edgar bergema stabil di atas pualam lorong depan. Begitu memasuki area ruang keluarga utama, aroma vanila dan kayu cendana yang menenangkan seketika menyapa indra penciumannya.Di atas sofa empuk berbalut kain beledu, Selina tampak sedang duduk santai seraya membaca majalah desain interior.Ia mengenakan gaun tidur longgar berwarna merah muda lembut.Wajah cantiknya yang merona alami dipenuhi ketenangan, dan begitu mendengar derap langkah sepatu suaminya, Selina mendongak dengan senyuman hangat yang mekar sempurna."Kau sudah pulang, Edgar?" sapa Selina manis, gerakan tubuhnya hendak bergeser untuk berdiri."Jangan bangun, Sayang," potong Edgar cepat.Langkah ka

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 167

    Sisa aura panas bekas benturan kata-kata tajam di ruang kerja presiden direktur masih membubung tebal di udara.Tunjuk jari Edgar yang membunuh masih mengambang sejenak di depan wajah Samuel, sebelum akhirnya pria penguasa bursa saham itu menarik kembali tangannya secara perlahan.Edgar menghela napas panjang melalui hidungnya, mengalirkan oksigen dingin untuk meredakan gejolak emosi di dalam dadanya.Dengan ketenangan eksekutif yang kembali terkendali penuh, ia memutarkan tubuh, meraih dasi sutranya yang sempat agak miring, lalu merapikan simpulnya secara presisi di depan cermin dinding pualam."Keterampilanmu dalam memprovokasi orang memang belum berkurang sedikit pun, Samuel," ucap Edgar dengan suara bariton rendah yang kembali tenang, membelakangi asistennya.Samuel terkekeh pelan, melangkah mundur dua tapak lalu menyandarkan pinggulnya ke tepi meja kerja."Aku tidak memprovokasi, Edgar. Aku cuma menjalankan tugasku sebagai satu-satunya orang di perusahaan ini yang berani menepuk

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 166

    Brak!Edgar menghempaskan berkas tipis berisi foto dan rekam jejak Olivia Vance ke atas meja kaca mewahnya hingga terdengar dentum keras yang menggema di seluruh sudut ruangan.Pria itu berdiri tegap, membelakangi meja kerja seraya melepas kancing jas hitamnya dengan gerakan kasar. Ujung matanya membeku tajam menatap pemandangan pencakar langit dari balik dinding kaca tebal."Rombak total struktur pendanaan proyek kawasan selatan sekarang juga," perintah Edgar dengan intonasi bariton yang menusuk dingin."Ganti seluruh konsorsium investor Eropa dengan dana internal Anderson Group. Alokasikan likuiditas cadangan kita sebesar delapan triliun rupiah sore ini. Aku tidak sudi nama perusahaan kita terkoneksi satu milimeter pun dengan entitas milik Olivia Vance."Samuel yang berdiri santai di seberang meja tidak bergerak sedikit pun.Alih-alih buru-buru menyambar laptopnya untuk mengeksekusi perintah, asisten pribadi itu justru memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan mewahnya.

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 165

    Perjalanan kembali dari rumah sakit berlangsung dalam keheningan yang amat menenangkan.Edgar membimbing Selina melangkah masuk ke dalam mansi utama dengan tingkat kehati-hatian yang masih sama protektifnya.Usai memastikan istrinya merebahkan diri di atas ranjang kamar tidur utama, berselimut sutra hangat dengan bantal penopang yang baru saja tiba dari Italia, Edgar mendaratkan kecupan lembut di kening Selina hingga wanita itu terlelap dalam tidur siang yang nyenyak.Namun, kedamaian di mansi itu tidak bertahan lama.Saat Edgar melangkah turun menelusuri tangga pualam, ponsel khusus berkode enkripsi tinggi di saku jasnya bergetar hebat secara berkali-kali.Edgar merogoh benda tersebut, menatap layar yang menampilkan nama Samuel disertai tanda bahaya berwarna merah."Bicaralah," perintah Edgar dingin seraya melangkah menuju ruang kerjanya di lantai bawah."Edgar, kau harus segera ke kantor sekarang," suara Samuel di seberang telepon terdengar begitu rapat, tanpa ada nada celetukan jen

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 164

    Mobil sedan mewah keluaran Eropa milik Edgar membelah jalanan utama kota dengan kecepatan yang teramat stabil.Mengabaikan keberadaan sopir pribadinya, Edgar memilih untuk memegang kemudi sendiri.Pria penguasa bursa saham itu mengemudikan kendaraannya dengan tingkat kehati-hati yang konyol, menjaga jarak minimal sepuluh meter dari mobil di depannya dan berbelok dengan kelembutan yang luar biasa seolah-olah membawa porselen yang paling ringkih di dunia."Edgar, kita ini sedang naik mobil sedan berkategori keselamatan tertinggi, bukan sedang mendorong kereta bayi di atas kerikil," celetuk Selina seraya menahan tawa dari kursi penumpang depan."Jalanan kota penuh dengan pengemudi tak bertanggung jawab, Selina," sahut Edgar kaku tanpa mengalihkan pandangannya dari kaca depan.Kedua tangannya mencengkeram kemudi di posisi jam sembilan dan tiga secara presisi. "Satu guncangan keras bisa memicu kontraksi dini."Selina hanya menggelengkan kepala dengan senyum mengembang, memilih menikmati pe

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 163

    Sinar matahari pagi menembus celah tirai sutra kamar tidur utama, membiaskan pendar keemasan di atas ranjang berukuran king-size.Edgar menggeliat pelan, kelopak matanya berkedip berat saat kesadarannya perlahan terkumpul.Tubuhnya terasa agak pegal, efek dari percumbuan intens dan posisi terlentang dalam kungkungan dominan Selina semalam. Napasnya masih menghela panjang, menyisakan sisa-sisa rasa lelah yang wajar.Namun, saat lengan kekarnya terulur untuk merengkuh tubuh istrinya, area di sampingnya sudah kosong dan dingin.Edgar seketika terbelalak kaget. Kepanikan refleks menyambar benaknya. Ia melompat duduk di tepi ranjang. "Selina?!""Kenapa berteriak pagi-pagi begitu, Edgar?"Suara renyah nan jernih itu terdengar dari arah sofa santai di dekat jendela. Edgar menoleh cepat dan seketika membeku.Di sana, Selina duduk bersilang kaki dengan anggun dalam balutan gaun katun longgar berwarna biru muda.Wajah cantiknya tampak begitu segar, merona alami, dan dipenuhi pendar energi gembi

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 3: Ada yang Membelanya

    Selina buru-buru bangkit berdiri dan mengabaikan rasa perih yang menjalar di pergelangan kakinya. Dia lalu melemparkan kain handuk di tangannya ke atas lantai dengan gerakan panik, dan memalingkan wajahnya sejauh mungkin hingga menyentuh bahunya sendiri.“M-maaf! Aku benar-benar tidak sengaja, Pama

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 5: Sudah Kehilangan Akal Sehatnya!

    Pintu kamar tidur dibanting dengan keras hingga menimbulkan gema yang memekakkan telinga. Rafael Theodore melonggarkan dasinya dengan sentakan kasar, lalu berbalik menatap Selina yang masih berdiri mematung di dekat pintu dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya.Atmosfer di dalam kamar

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 4: Tuduhan yang Keji

    Selina melangkah pelan mengekor di belakang Luna dengan langkahnya yang pincang akibat luka lebam yang belum sembuh sepenuhnya.Benar saja, begitu mereka menginjakkan kaki di ruangan luas itu, pemandangan di depannya membuat nyali Selina menciut.Di sana sudah ada Rafael yang duduk santai sambil me

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 2: Pertemuan yang Mengejutkan

    “Pergi ke kamar paling ujung di sayap barat. Ambil semua pakaian kotor di sana dan cuci sampai bersih!” perintah Luna tanpa memandang wajah lelah menantunya.Selina mengerutkan keningnya sembari menahan rasa perih yang menjalar dari telapak kakinya karena terlalu banyak pekerjaan yang dia kerjakan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status