MasukDi dalam ruang kerja pribadi kantor direksi proyek yang megah, suasana terasa begitu mencekam.Suara barang pecah belah terdengar nyaring ketika Stella memukul meja kacanya dengan telapak tangan, menghempaskan cangkir porselen hingga hancur berkeping-keping di atas marmer.Wajah cantiknya yang biasa dipenuhi keangkuhan kini memerah padam akibat amarah yang membakar dada.Napasnya memburu, matanya membelalak menatap pintu ruang kerja yang telah tertutup rapat sejak keberangkatan Edgar beberapa jam lalu."Sialan! Pria tidak tahu diri!" maki Stella histeris, sembari menyapu beberapa dokumen rapat di mejanya hingga berserakan di lantai.Stella tidak bisa menerima kenyataan ini. Selama bertahun-tahun dia mengejar Edgar Anderson, menahan kepalanya tetap tegak di hadapan pria sedingin es itu, dan berusaha keras menjadi wanita yang pantas berdiri di samping sang penguasa Anderson Group.Namun hari ini, Edgar justru membawanya, seorang wanita tak dikenal dengan pakaian formal sederhana yang di
Edgar menatap Stella sejenak, lalu mengalihkan pandangannya pada Selina yang berdiri kaku di sampingnya.Dengan raut wajah yang tetap sulit ditebak, Edgar merogoh saku jasnya dan mengeluarkan kunci kartu suite room hotel tempat mereka menginap."Selina, bawa kuncinya dan pergilah ke hotel lebih dulu," perintah Edgar tenang, mengulurkan kartu itu pada Selina."Rapikan barang-barang kita dan istirahatlah. Aku ada urusan pekerjaan yang harus diselesaikan bersama Stella di sini."Selina menatap kartu di tangan Edgar selama dua detik yang terasa begitu panjang.Ada desakan samar di dadanya yang ingin menolak, sebuah suara tak kasatmata yang ingin meminta agar dia tetap tinggal.Namun, menyadari posisinya secara resmi yang hanyalah seorang asisten pribadi dan secara rahasia hanyalah wanita yang terikat skandal dengannya, Selina menelan kekecewaan itu bulat-bulat.Selina menerima kartu kunci tersebut, dan mengangguk pelan tanpa menatap mata Edgar. "Baik, Tuan Edgar. Saya permisi dulu."Sebel
Mobil sedan hitam mewah milik Edgar akhirnya berhenti di pelataran luas sebuah area pembangunan proyek komersial skala besar yang terletak di pinggir kota.Begitu pintu mobil dibuka, deru mesin alat berat dan aroma khas semen serta debu konstruksi langsung menyambut mereka.Edgar melangkah keluar lebih dulu, disikuti oleh Selina yang tampil anggun namun profesional dengan kemeja putih dan rok pensil tebal.Seorang pria paruh baya mengenakan rompi keselamatan dan helm proyek berwarna kuning, sang supervisor utama, dengan tergesa-gesa berlari kecil menghampiri mereka.Wajah supervisor itu tampak penuh dengan rasa hormat dan keseganan yang teramat dalam begitu matanya menangkap sosok Edgar."Selamat siang, Tuan Edgar! Selamat datang di lokasi proyek," sapa supervisor itu seraya membungkukkan badannya cukup dalam dengan sikap yang sangat sopan.Edgar menyambut uluran tangan pria itu dengan ketegasan yang berwibawa, lalu tanpa membuang waktu langsung masuk ke inti kedatangan mereka."Selam
Selina menahan napas sejenak mendengar pertanyaan dari pria itu.Dadanya naik turun saat pandangan mata elang Edgar mengunci seluruh fokusnya.Dia tengah berusaha menguasai diri dari rasa malu yang masih membakar pipinya, lalu menggelengkan kepalanya dengan pelan."Memangnya ide seperti apa yang kau maksud, Edgar?" bisik Selina lirih, mencoba terdengar netral meski tangannya di samping tubuh sudah meremas pinggiran roknya.Edgar menyandarkan tubuhnya di tepi meja kerja, melipat kedua tangannya di dada seraya menatap Selina dengan sisa senyuman miring yang menggoda."Anggap saja kita sedang liburan. Dan selama dua hari di sana, coba pikirkan apa saja yang mungkin akan terjadi antara kau dan aku saat malam tiba."Perkataan bernada provokatif itu membuat pipi Selina makin memanas hingga merah padam.Sensasi hangat menjalar liar di sepanjang lehernya, teringat kembali betapa brutal dan liarnya sentuhan pria itu setiap kali mereka berduaan di tempat tertutup."Edgar, tolong... bisakah kau
"Kemas pakaianmu untuk dua hari ke depan," ucap Edgar setelah mereka tiba di ruang kerja."Siang ini kita akan pergi ke lokasi proyek luar kota. Ada inspeksi lapangan yang harus kuselesaikan, dan kau wajib ikut bersamaku sebagai asisten pribadi."Selina mengangguk pelan, mencatat instruksi itu di benaknya.Namun sebelum sempat menanyakan detail proyek tersebut, tiga ketukan pelan terdengar di pintu ruang kerja.Edgar memberikan izin masuk, dan sosok Kevin melangkah masuk dengan raut wajah serius dan sigap."Tuan Edgar," panggil Kevin seraya membungkuk hormat."Saya ingin menyampaikan laporan intelijen mengenai keberadaan dan kegiatan Tuan Rafael semalam setelah dia keluar dari rumah ini."Edgar menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kebesarannya, menyilangkan kaki, lalu memberikan isyarat agar Kevin melanjutkan laporannya.Selina yang berdiri tak jauh dari meja kerja ikut memasang telinga dengan seksama."Setelah mengendarai mobilnya secara ugal-ugalan, Tuan Rafael mendatangi se
Pagi harinya di kediaman utama Theodore, suasana di ruang makan lantai bawah terasa teramat kaku dan mencekam.Selina duduk di salah satu kursi, sibuk mengoleskan mentega ke atas rotinya dengan jemari yang sedikit gemetar.Pagi ini, Selina menghabiskan waktu hampir setengah jam di kamar mandi hanya untuk memoleskan concealer dan foundation tebal di leher, tulang selangka, serta bagian atas dadanya.Tanda kemerahan dan keunguan yang pekat akibat permainan brutal Edgar di atas meja kerja semalam begitu jelas membekas.Mengenakan blouse berkerah tinggi masih membuat rasa paniknya tak kunjung surut. Setiap kali gerakan lehernya terasa kaku, ketakutan akan ketahuan menyergap pikirannya.Di sudut meja yang lain, Thomas sibuk membaca koran bisnis dengan kening berkerut tebal.Rafael belum juga menampakkan batang hidungnya, kemungkinan besar masih terkapar akibat mabuk berat dan insiden pingsan di koridor semalam.Sementara itu, Luna—ibu Rafael duduk di kepala meja dengan gaun mewahnya, menat
“Sudah satu bulan kita menikah, tapi kau tidak pernah mau menyentuhku, Rafael.”Selina akhirnya menyuarakan apa yang selama ini selalu dia pendam. Kalimat itu lolos bersama remasan kuat pada jemarinya sendiri. Sebulan penuh dia terjebak dalam keheningan yang menyiksa, mengubur pertanyaan yang terus
Selina menggelengkan kepalanya dengan cepat, mencoba menciptakan penolakan di antara deru napas mereka yang saling berkejaran. Jantungnya bertalu begitu keras hingga dia yakin Edgar bisa mendengarnya dengan jelas. Jarak yang terlampau kikis ini membuat akal sehatnya perlahan menguap, digantikan ol
Jam dinding besar di koridor menunjukkan pukul dua dini hari ketika Selina terbangun dengan tenggorokan yang terasa sangat kering dan mencekik.Selina melangkah masuk ke dapur, berniat mengambil segelas air dingin dari dispenser. Namun, baru saja kakinya menginjak lantai marmer dapur, sebuah suara
Pintu kamar tidur dibanting dengan keras hingga menimbulkan gema yang memekakkan telinga. Rafael Theodore melonggarkan dasinya dengan sentakan kasar, lalu berbalik menatap Selina yang masih berdiri mematung di dekat pintu dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya.Atmosfer di dalam kamar







