Beranda / Urban / Hasrat sang Konsultan Idaman / Bab 4. Tulah Dan Perkenalan

Share

Bab 4. Tulah Dan Perkenalan

Penulis: BayS
last update Tanggal publikasi: 2024-11-02 20:33:34

Pertanyaan bernada sindiran dan juga senyum mengejek, nampak jelas di wajah para rekan OBnya itu.

“Aman..!” seru Bimo seraya tersenyum, untuk membuat keki para rekan OB yang pastinya berharap dia celaka bahkan dipecat itu.

“Kalau begitu, sekarang cepat kau bersihkan ruang toilet lalu pel lorong lantai 2 sekalian..!” seru Luki dengan nada kesal dan wajah tak senang.

“Lho? Bukankah tugas mengepel lantai 2 adalah tugas Paul, Kak Luki..?” ujar Bimo heran dan bernada protes.

“Ya, hari ini kau yang mengerjakannya Bimo! Karena aku dan Paul akan keluar untuk membeli perlengkapan logistik! Kerjakan saja, jangan banyak tanya!” seru Luki bertambah kesal.

“Banyak omong kau Bimo! Hihh..!” Blaakh! Paul ikut memaki marah, seraya menyepak betis Bimo. Karena dia merasa cemas tak jadi di ajak Luki keluar kantor, dan urung mendapatkan uang lebihan belanja.

“Aihh..!” seru kaget semua rekan OB di ruangan itu, saat mendengar kerasnya suara sepakkan kaki Paul membentur betis kaki Bimo.

Namun Bimo sendiri tak merasakan apapun, bahkan terasa di senggol pun tidak! Rupanya perisai ghaib dari kekuatan Mustika Delima Merah telah bekerja secara otomatis melindungi Bimo.

Bimo nampak tetap berdiri tenang di tempatnya, tanpa menunjukkan ekspresi kesakitan sedikitpun.

“Huhh..! Cepat gantikan tugasku dulu cemen..!” seru Paul sambil bertolak pinggang.

“Baiklah Paul,” ujar Bimo, seraya melangkah keluar dari ruangan itu.

Namun diam-diam Paul merasa heran. Karena kakinya tadi terasa bagai tersengat sedikit aliran listrik, saat sepakkannya membentur betis Bimo.

“Ayo Paul! Kita harus berangkat sepagi mungkin, supaya kita bisa mendapatkan semua logistik yang dibutuhkan,” ujar Luki.

“Siap..!” sahut Paul antusias. Dilupakannya kejadian aneh pada kakinya tadi. Namun tanpa disadarinya, sesungguhnya sesuatu tengah ‘berproses’ secara perlahan di kaki Paul!

***

Siang itu Bimo baru saja selesai dengan tugasnya merapihkan barang-barang dapur kantor. Saat didengarnya suara ribut-ribut di ruang OB, yang terletak di sebelah ruang dapur kantor itu.

“Arrhhks..!” raungan kesakitan Paul terdengar dari dalam ruang OB, di sertai suara-suara panik para rekan OB di dalamnya.

Bergegas Bimo keluar dari dapur menuju ke ruangan OB itu. Nampak sosok Paul tengah terbaring di sofa ruangan, dengan dikerumuni para rekan OB lainnya.

Terlihat jelas oleh Bimo, wajah para rekan OB di dalam ruangan yang menyiratkan keterkejutan, kepanikkan, serta kecemasan menatap Paul.

“Kau kenapa Paul..?!” seru Wanti panik dan cemas.

“K-ka.. Kakiku..! Arrghks..!” seru terbata Paul menahan rasa sakit di kakinya, lalu dia pun kembali berteriak kesakitan.

“Cepat buka sepatunya..! Sejak perjalanan pulang belanja logistik tadi, dia memang terus berteriak kesakitan..!” seru Luki memerintahkan.

Dino rekan Paul dan Luki segera membuka sepatu kanan Paul, yang sejak tadi memang memegangi bagian itu dengan tubuh bergetar kesakitan.

“Hahh..!!” seruan kaget serentak terdengar di ruangan OB itu, saat mereka melihat mata kaki kanan Paul yang membengkak kebiruan sebesar telur puyuh.

“Aaarrghks..!” raungan Paul pun semakin menjadi, disertai tubuhnya yang berkelojotan menahan rasa sakit.

Ya, kini Paul merasa kakinya seperti dijalari arus listrik yang panas menyengat, bagaikan ribuan semut api yang berlarian hingga ke lututnya. Sungguh perih, pedih, dan menyakitkan!

“Gila..! Cepat kita bawa dia ke klinik kantor..!” seru Luki bergetar ngeri.

Akhirnya dengan tergesa, para OB lelaki menggotong tubuh Paul menuju ke klinik kantor. Sementara Bimo hanya terpaku melihat kejadian itu, dia sendiri bingung kenapa Paul bisa sampai seperti itu. 

Paul diam-diam menatap ngeri pada Bimo, saat dia digotong melintasi dirinya. Paul seperti telah menduga, bahwa sakit yang di deritanya dikarenakan dirinya menyepak Bimo tadi pagi. Namun Paul berpikir lebih baik memendam rahasia itu, dan tak mengatakannya pada siapapun. 

Ya, tak ada satu pun dari para OB itu yang berpikir ataupun menyadari. Bahwa sakit yang di derita Paul itu, adalah karena tulah perbuatannya menyepak betis Bimo..! Kecuali Paul sendiri..! 

***

Senja itu Bimo pulang dari kantornya dalam kondisi lelah dan lesu.

Betapa tidak..?!

Karena menjelang pulang tadi dia dipanggil bagian logistik kantor, dan mendapat sangsi pemotongan gaji sebesar 600 ribu.

Tentu saja semua itu atas laporan dari Luki, yang memberitahu soal kejadian pecahnya beberapa piring mahal dari para staf kantor oleh Bimo.

Dan setibanya Bimo di kostnya, nampak Tante Rindy tengah duduk sendiri di teras rumahnya. Dan mau tak mau Bimo memang harus melewati teras itu, untuk menuju ke kamar kostnya.

Di tengah kebingungannya, akhirnya Bimo memutuskan untuk bicara saja dengan pemilik kostnya itu, soal kemungkinan dia akan menunggak sewa kost bulan depan.

“Permisi Tante Rindy, Bimo mau bicara dengan Tante,” ujar Bimo sopan.

“Silahkan saja Bimo. Tumben ini,” ujar Rindy tersenyum senang. Karena memang tujuan dia duduk di teras itu, adalah hendak melihat sosok Bimo yang pulang dari kantornya.

Ya, Rindy memang diam-diam mengagumi kegagahan dan kedewasaan sosok Bimo, anak kostnya itu. Sesungguhnya ada hasrat terpendam di dalam hati Rindy terhadap Bimo. Pemuda yang sungguh memiliki bibit unggul di matanya.

Akhirnya Bimo pun menceritakan kondisi keuangannya yang agak sulit, sehingga dia tak bisa membayar sewa kostnya untuk bulan depan.

“Tak apa Bimo. Tenang sajalah, aku mengerti kok dengan kondisimu. Tak perlu dipikirkan soal sewa kostmu itu Bimo. Tante akan merahasiakan hal ini dari teman-teman kost yang lain,” ucap Rindy, dengan senyum maklum. 

Ya, rata-rata penghuni kost miliknya memang pekerja yang berusia muda. Ada yang kerja di restoran, satpam, buruh pabrik, dan sebagainya. 

“T-terimakasih atas pengertian Tante. Bimo janji pasti akan membayarnya kalau keuangan Bimo sudah lega nanti,” ujar terbata Bimo serak.

Ya, Bimo sungguh tersentuh dengan pengertian dan kebaikkan ibu kost cantiknya yang satu itu.

Setahu Bimo, selama dia kost di situ. Tidak hanya satu dua pria mapan dan berkelas, yang nampaknya menaruh hati dan kerap mendatangi rumah Rindy.

Namun nampaknya semua pria itu ditolak oleh Rindy, yang memang adalah janda muda yang cantik itu. Entah dengan alasan apa.

Tinn.. Tinn..!

Terdengar suara klakson dari mobil sport berkelas, yang berhenti tepat di depan pagar kediaman Rindy. Sosok wanita cantik pun turun dari dalamnya.

“Sore Kak Rindy..!” seru seorang wanita cantik seraya tersenyum, seraya lambaikan tangannya dari depan pagar kediaman Rindy.

“Hei..! Lidya..! Masuk saja Lidya, pagarnya tak dikunci kok..!” seru riang Rindy.

“Lidya adalah sepupuku Bimo. Kau pasti belum pernah bertemu dengannya,” ujar Rindy, memberitahukan Bimo.

“Wah..! Apakah kedatanganku mengganggu pembicaraan kalian..?” ujar Lidya yang tiba di depan teras rumah, seraya ulaskan senyum manisnya pada Rindy dan Bimo.

‘Cantik sekali..! Selevel dengan Devi’, batin Bimo memuji Lidya.

Ya, Lidya memang jauh lebih muda dibanding Rindy, usianya saat itu baru 26 tahun. Wajahnya nampak cantik dan cerah, dengan lesung pipit samar yang kerap nampak.

Pakaian kerja eksklusif yang dikenakannya saat itu cukup mencetak lekuk tubuhnya, yang indah dan proporsional. Sungguh kecantikkan yang berkelas, dibalut dengan sifat ramah dan periang yang nampak nyata. Indah..! 

Namun jangan salah! Karena Lidya bukan hanya cantik jelita, dia adalah pewaris tunggal perusahaan ‘Winata Group’ milik ayahnya.

“Kenalkan Bimo. Dia adalah Lidya, adik sepupuku,” ujar Tante Rindy, memperkenalkan Lidya pada Bimo.

“Bimo Setiawan. Salam kenal Mbak Lidya,” ucap Bimo tersenyum hangat, seraya ulurkan tangannya.

“Lidya Mayesti. Lam kenal kembali Bimo,” sambut Lidya ramah. Namun...

“Ahh..!” sentak terkejut Bimo, saat tiba-tiba sebuah lintasan buruk tentang Lidya terbayang di benaknya.

“Hei..! K-kenapa Bimo..?!”...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
BayS
lanjut ka..makasih
goodnovel comment avatar
Umar Hussein
tiap episode baru, selalu ada kejutan baru
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Hasrat sang Konsultan Idaman   Bab 269. E N D

    Dua Tahun Kemudian Area wisata Kebun Teh Watu Mas yang berada di Casirua, puncak Gorbo cukup ramai di hari week end itu. Bimo tengah berjalan menyusuri area kebun teh dari atas jembatan kayu, sambil menggendong bayi mungilnya Sevia dengan cradle carrynya. Ya, usia Sevia belum lagi genap satu tahun, putri dari buah cintanya dan Devi. Sementara Bily, putra pertamanya dengan Lidya berusia hampir 2 tahun. Bily saat itu sedang bersama Lidya dan Devi, bermain di kolam renang yang ada di area wisata kebun teh Watu Mas itu. Bimo merasa lebih tertarik berjalan-jalan menghirup udara segar, melalui jalur jembatan kayu yang berada di atas area perkebunan teh Watu Mas itu. "Sevia senang kan jalan-jalan sama Ayah..? Mmhh," ucap lembut Bimo, seraya mencium gemas pipi montok putri kecilnya itu.Si kecil Sevia pun nampak tersenyum lebar dan ceria melihat ayahnya, seraya mainkan bibirnya dan keluarkan bahasa bayi. Hehe. Bimo berhenti sejenak di tepi jembatan kayu, seraya memandangi hamparan kebu

  • Hasrat sang Konsultan Idaman   Bab 268.

    Traagghk..!! Blasshp..!"Huaarghks..!" seruan lantang muntah darah Yoga membahana, saat keris Ki Naga Kelingnya patah dan lenyap seketika. Akibat bentrokkan keras dengan keris Ki Surya Kencana. Splaaghhks..! Kyaarrghks..! Blaashp..! Bersamaan dengan itu terdengar pula suara hantaman keras menggetarkan, saat sabetan ekor Naga Surya Kencana berhasil menghantam telak kepala Naga Keling. Slaph..! 'Keparat..! Awas kau Bimo..! Tunggu pembalasanku..!' bathin Yoga memaki murka seraya melesat cepat, berniat kabur dari gelanggang. Dan tentu saja semua itu tak lepas dari penglihatan cakra ajna Bimo, yang saat itu masih bersila dengan mata terpejam. Dia sungguh tak menyangka, jika Yoga akan memilih jalan pengecut seperti itu. Maka ... 'Naga..! Surya Kencana..! Kejar dan habisi..!' Seruan bathin Bimo sungguh mengelegar dan tak terbantahkan bagi sang Naga dan Ki Surya Kencana! Maka secepat kilat keris dan Naga itu langsung melesat bak garis cahaya mengejar sosok Yoga. Sementara Yoga sendiri

  • Hasrat sang Konsultan Idaman   Bab 267.

    Blaatzsk..! Kyaarrgghs..!! Muncul dan tergenggam tiba-tiba sebilah keris hitam berluk 13 di tangan Yoga. Hal yang dibarengi pekik menggeletar seekor Naga Hitam raksasa, yang guncangkan semesta di ketinggian.Sosok Naga Hitam dengan sepasang mata merah menyala itu pun langsung melingkar dan menaungi sosok Yoga. Dan malam di atas area padang rumput Cubideg pun semakin gelap dan pekat, tebarkan hawa panas..! Gregghk..! Gregghk..!! Bumi di sekitar area padang rumput pun berguncang dan bergetaran, seakan tengah menahan beban yang teramat berat di atasnya. Dahsyat..! 'Hmm..! Terpaksa..!' bathin Bimo, melihat kenekatan Yoga. "Ki Naga Surya Kencana..!" Bimo pun berseru lantang panggil keris pusakanya, yang merupakan gabungan dari Ki Naga Surya dan Ki Naga Kencana miliknya. Blaatzshk..! Kyaarrghks..! Kyaarrghks..! Tergenggam keris Ki Surya Kencana di tangan Bimo, dibarengi pekikkan dua sosok Naga berwarna Perak menyilaukan dan Emas cemerlang..! Kedua sosok Naga berlainan cahaya itu teru

  • Hasrat sang Konsultan Idaman   Bab 266.

    "Aku lawanmu Yoga..! Kalau kau bukan pengecut, ikuti aku..!" Splassh..! Bimo melesat bak kilat ke arah padang rumput luas Cubideg. Karena tentu saja Bimo tak ingin ada korban jiwa tak berdosa, akibat duelnya dengan Yoga. "Baik Bimo! Kuterima tantanganmu..! Dan markasmu ini akan kuhancur leburkan setelah kau mampus..!" Splash! Yoga berseru lantang penuh amarah, seraya langsung melesat mengejar Bimo. 'Hmm. Aku baru kerahkan sebagian powerku. Powernya ternyata masih berada dibawahku..!' bathin Yoga, setelah merasakan benturan pukulannya dengan Bimo barusan.Ya, Yoga mengira Bimo sudah kerahkan segenap powernya, untuk menahan pukulan Jari Petirnya tadi. Hal yang membuatnya sangat yakin menerima tantangan dari Bimo, dan akan bisa mengalahkannya! "Bos Bimo..! Menang dan kembalilah secepatnya..!" seru keras bergetar Denta penuh harap di bawah sana, saat melihat sosok Bimo muncul dan menantang Yoga. "Bos pasti menang..!" seru Parlan yakin, walau sebenarnya hatinya berdebar cemas. Ya, mer

  • Hasrat sang Konsultan Idaman   Bab 265.

    "Baik! Aku berangkat sekarang..!" seru tegas Yoga, di tengah rasa galaunya. Ya, bagaimana Yoga tak merasa galau dan jengkel, karena tak ada satupun kabar mengenai keadaan markas Gank Shadownya di Pulau Duyung..? Tak lama kemudian sebuah helikopter pun take of dari heliport kediaman Prayoga, membawa serta Yoga yang tengah dicekam rasa amarahnya. Tak sampai limabelas menit kemudian, helikopter yang membawa Yoga sudah mengapung di atas Pulau Duyung. 'Hmm. Kemana tabir perisai yang tadi menghalangi pandanganku..?! Aneh..!' bathin Yoga bingung tapi juga kesal. Namun kini Yoga dapat melihat tembus dengan jelas dengan mata bathinnya, dari atas helikopter yang membawanya itu. Dan siratan bayangan peristiwa yang terjadi di pulau Duyung pun mulai bermunculann di benak dan bathinnya. Seiring tatapan tajam Yoga menelusuri kondisi markasnya, dari dalam helikopter yang ditumpanginya. "Bajingan..! Bedebah kau Bimo..!" Byarsshk..! Meledak sudah kemarahan Yoga, powernya meledak bersamaan dengan

  • Hasrat sang Konsultan Idaman   Bab 264.

    "Bagus..! Rupanya memang harus aku sendiri yang menghadapi dan menghabisi Bimo keparat itu..!" desis tajam Yoga, seolah pada dirinya sendiri. Dan pada sore harinya, jet pribadi milik Prayoga pun kembali menuju ke Kajarta. 'Bimo kautunggulah pembalsanku..! Setelah aku berada dalam kondisi puncakku beberapa hari lagi. maka kehancuran markas Pijar Taruna adalah sebuah kepastian adanya..! Bedebah kau bangsat..!' bathin Yoga penuh amarah dan dendam berkobar. Ya, tanpa melihat kondisi markasnya di Pulau Duyung itu, Yoga seperti sudah bisa meraba, jika markas dan para anggota Gank Shadow telah terbantai di sana..! Karena pastinya, jika ada anggotanya yang selamat dari pulau itu. Maka anggota itu pasti akan menghubungi dan melaporkan kondisi markas dan para anggota Gank Shadow padanya..! *** Sore hari di teras villa Bimo. "Hayo silahkan diminum dan dicicipi sajiannya ya," ujar Bi Sum, istri Pak Adi yang biasa melayani Bimo dan Lidya di villa Gorbo itu. "Makasih Bi..!" ucap serentak De

  • Hasrat sang Konsultan Idaman   Bab 263.

    Splassh..! Sukma Yoga pun lepas dan langsung melesat lenyap, menembus dinding kamar hotel itu. 'Bedebah sialan..! Siapa yang lancang memagari pulau ini..?!' bathin Yoga marah bukan main, saat melihat tabir selimut kebiruan menghalangi pandangannya.Ya, Pulau Duyung bagaikan lenyap tertutup tabir P

  • Hasrat sang Konsultan Idaman   Bab 262.

    "Hhh..! Kalian ini orang muda, memang paling bisa mendesak kami yang sudah tua! Jika kalian sudah memutuskan demikian, maka kami juga tak bisa bicara apa-apa lagi.Toh kalian juga yang akan menjalani kehidupan itu nantinya," ujar Baskara seraya mengerling ke arah istrinya. Dan Rini pun akhirnya me

  • Hasrat sang Konsultan Idaman   Bab 261.

    "Ehh..?!" sentak kaget Rini, saat melihat sosok wanita yang tengah hamil di sebelah Devi. 'Bukankah itu Lidya, putri dari Bos Winata Grup..?' bathin Rini. Keheranan yang sama juga dirasakan oleh Baskara. Tentu saja dia masih mengenali sosok Lidya, karena dia dan istrinya juga hadir pada pesta pern

  • Hasrat sang Konsultan Idaman   Bab 260.

    'Hmm..! Sudah saatnya kuhancur leburkan markas ini..!' bathin Bimo murka. Karena memang sudah tak ada lagi lawan yang berarti baginya di markas itu. Seluruh anggota Gank Shadow yang tersisa pun terpaku gentar dan dilanda kebingungan. Karena keempat pimpinan mereka kini telah tewas..!Dan tak ada d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status