MasukOn my son Theo’s birthday, my husband Dashiell brought home his first love, Sabrina. My son was forgotten, I was ignored, and my mother-in-law treated me like a servant. Dashiell, instead of comforting me, declared that because Sabrina was dying of cancer, he would fake a divorce and marry her to fulfill her dying wish. I could no longer endure it—I decided to turn the “fake divorce” into a real one. Dashiell thought he had everything under control, but he underestimated me…
Lihat lebih banyak“Bapak! Bangun, Pak!”
Murni masih memeluk tubuh Raharjo yang kini telah terbujur kaku. Beberapa kali ia menggoyangkan tubuh bapaknya, berharap agar laki-laki yang begitu ia cintai dapat membuka kedua matanya kembali. “Bu, ini ndak mungkin. Bapak belum meninggal kan, Bu?” tanya Murni yang kemudian beralih memeluk sang ibu yang juga duduk di samping jenazah suaminya. Memang sulit untuk dipercaya, tak ada angin tak ada hujan, Raharjo meninggal begitu saja. Dia yang lebih dikenal sebagai Juragan Harjo sama sekali tak sakit. Bahkan, pagi harinya Juragan Harjo masih mampu pergi menagih utang dari para warga yang kerap kali meminjam uang padanya. Raharjo merupakan seorang tuan tanah yang sangat disegani. Luasnya area lahan yang dia miliki, serta kekayaan yang mungkin tak akan habis untuk tujuh turunan membuatnya begitu berkuasa di desa itu, Desa Juwono namanya. “Murni … ikhlaskan bapakmu, Nduk,” ucap Lasmi seraya mengusap punggung putrinya itu dengan lembut. “Tapi, Bu. Murni ndak sempat berpamitan sama Bapak.” Murni kembali terisak di dalam pelukan sang ibu. Beberapa hari yang lalu memang Raharjo sempat menghubungi Murni dan memintanya untuk pulang. Juragan Harjo adalah satu-satunya orang yang memiliki telepon rumah di desa itu. Dengan kekayaan yang ia miliki, Juragan Harjo memang sengaja menyekolahkan Murni di kota. Dia tidak ingin jika Murni menjadi seperti warga desa lainnya yang tidak berpendidikan tinggi. Murni, yang pada saat itu tengah berharap dengan tugas yang menumpuk, tentu saja tidak dapat pulang ke desa begitu saja. Ia harus mencari waktu yang tepat untuk meminta izin dari universitas. Namun, inilah yang saat ini ia temui. Sang ayah sudah terbaring, terbujur kaku dan menjadi mayat tepat di hadapannya. Bendera kuning menyambutnya tatkala ia memasuki pekarangan rumahnya sore itu. “Biarkan bapakmu tenang, Nduk. Jangan tangisi lagi.” Lasmi melonggarkan pelukan dan mengusap pipi Murni yang masih dibanjiri dengan air mata. “Aji, ajak mbakmu ini masuk ke dalam,” titah Lasmi pada Aji–anak keduanya yang masih berusia 17 tahun. “Iya, Bu,” jawab Aji singkat. “Ayo, Mbak,” ajak Aji lembut. “Ndak mau! Mbak mau di sini, mau nemenin Bapak!” Murni berteriak, menolak ajakan Aji untuk masuk ke dalam. “Murni!” seru Lasmi yang terlihat tidak ingin dibantah. Semua orang yang ikut hadir, segera menoleh setelah mendengar suara Lasmi yang menggema di seluruh ruangan. Suasana di rumah Juragan Harjo semakin hening. Para pelayat yang datang hanya bisa menunduk, tak berani berkata apa-apa. Murni sendiri terhenyak saat sang ibu membentaknya. Seumur-umur, baru kali ini Lasmi bersuara tinggi padanya. Di sudut ruangan, Aji berdiri memandangi kakaknya. Di usianya yang baru menginjak 17 tahun, ia merasa beban berat tiba-tiba menimpa pundaknya. Kepergian bapaknya begitu mendadak, dan meskipun ia bukan putra sulung, Aji tahu ia harus mulai bersiap menjadi laki-laki dewasa di keluarganya. “Mbok Tum, tolong bawa Murni ke kamarnya,” ucap Lasmi pelan kepada salah satu pelayan yang sudah begitu lama tinggal bersama keluarganya. Mbok Tumini yang sejak tadi duduk di dekat pintu pun mengangguk paham. “Cah ayu, ayo Nduk, istirahat dulu. Biar bapakmu didoakan yang baik-baik oleh yang lain,” ucap Mbok Tumini. Dengan suara bergetar, ia mencoba mengajak Murni untuk bangkit. Murni masih bergeming. Matanya yang sembab tertuju pada wajah pucat bapaknya. Dalam benaknya, ia teringat berbagai kenangan bersama Raharjo—bapaknya yang selama ini menjadi tumpuan hidup keluarga. Sebuah rasa sesal terus menghantui benaknya. Seandainya ia sempat pulang lebih cepat, mungkin ia masih bisa bercengkerama dengan bapaknya. Dan …. Seketika itu juga terbesit dalam ingatan Murni saat almarhum bapaknya mengatakan, “cepat pulang, Nduk. Ada yang ingin Bapak sampaikan.” Degh! Perasaannya menjadi bergemuruh. Apa itu? Apa yang ingin disampaikan? Murni kembali menangis saat kembali menyadari jika semua sudah terlambat sekarang. “Maafkan Murni, Pak,” ucapnya dalam hati. “Ndak, Mbok. Murni mau di sini. Bapak ndak boleh ditinggalin sendirian.” Air mata kembali jatuh membasahi pipinya yang semakin pucat. "Bu Lasmi, almarhum sudah siap dibawa ke kubur," ucap seorang laki-laki paruh baya yang bernama Kasnan. "Baiklah, Pak. Bawa saja!" jawab Lasmi singkat. "Astaghfirullah, Bapak kenapa pergi secepat ini." Murni mencoba untuk mengumpulkan tenaga yang tadi sempat terkuras untuk menangis. Akhirnya, dengan mencoba melapangkan dada atas apa yang terjadi, Murni pun ikut mengiring jenazah almarhum sang ayah ke peristirahatan terakhirnya. Awalnya, semua masih berjalan normal dan baik-baik saja, tapi tidak setelah mayat mulai diangkat. Saat keranda keluar rumah, suasana yang semula khusyuk mulai berubah. Tiba-tiba, para pengangkat keranda merasakan sesuatu yang aneh. "Berat sekali, Pak!" seru Kasnan. Tampak keringat mulai membasahi wajahnya. Kasnan, yang berada di bagian depan, segera memanggil beberapa pria lain untuk membantu. Delapan orang kini berkumpul, berusaha keras mengangkat keranda Juragan Harjo, namun tetap saja keranda itu terasa semakin berat. Bahkan, delapan orang pun tampaknya tidak cukup. "Kenapa jadi begini? Biasanya keranda tidak seberat ini," gumam Paimin yang mulai merasakan keanehan. Lasmi, Murni dan Aji yang mengikuti di belakang, juga merasakan perubahan suasana. Murni menoleh ke arah ibunya, wajahnya memancarkan kekhawatiran. Lasmi menahan napas, tatapan matanya kosong, seolah ia merasakan sesuatu yang tak terkatakan. Tiba-tiba, angin kencang datang, menggulung dedaunan dan membuat suasana semakin tegang. Suara gemerisik angin yang berhembus di antara pepohonan terdengar seperti bisikan-bisikan gaib yang mencekam. Langit mendung mulai menutupi sinar matahari yang memang tengah menuju peraduannya. Setiap langkah menuju pemakaman terasa semakin berat, seolah ada tangan tak terlihat yang menarik keranda ke arah yang berlawanan. "Ya Allah, apa ini?" desis salah satu pemanggul keranda yang mulai pucat. Mereka berusaha tetap melangkah, namun angin yang terus berhembus makin kencang seolah menolak keberadaan jenazah Raharjo di dunia ini. Tanpa diduga, terdengar suara retakan keras. Kayu penyangga keranda mulai patah. Kasnan yang berada di depan terpeleset, dan dalam sekejap keranda terjatuh ke tanah dengan suara yang cukup keras. Orang-orang berteriak kaget. Jenazah Raharjo yang terbungkus kain kafan—pocong—tergelinding keluar dari keranda, tubuhnya berputar-putar di tanah basah, membuat semua orang yang menyaksikan terpaku dalam ketakutan. "Pocongnya jatuh!" teriak salah seorang warga dengan suara bergetar. Ketakutan segera menyelimuti para pelayat. Murni langsung berlari menuju jenazah bapaknya. "Bapak! Ya Allah, jangan tinggalkan Bapak begini!" tangisnya pecah, tubuhnya bergetar hebat. Tapi ketika tangannya hampir menyentuh kain kafan itu, sesuatu yang tak terduga terjadi. Kain kafan yang membungkus tubuh Raharjo bergerak perlahan, seolah ada sesuatu yang hidup di dalamnya. Semua orang yang menyaksikan mundur dengan cepat, ketakutan menjalar di antara mereka. "Astaghfirullah, apa ini?!" pekik Murni. - Bersambung -Evangeline's POVSix Months LaterSpring arrived with an explosion of cherry blossoms and warm sunshine. I stood in the doorway of Theo's new bedroom in our apartment, our own place, finally, after months of staying with Jennifer, watching him arrange his cars on the new shelves Ethan had helped install last weekend."Mama, look! They all fit perfectly!" Theo beamed at his organized collection."They do, sweetheart. Dr. Taylor did a great job measuring.""Can he come over for dinner again tonight?"I smiled. "He's coming over later, yes. But remember, we're having lunch with Dad first.""I know. Dad's bringing Grandma." Theo's expression turned cautious. "Do you think she'll be nice this time?""I think she'll try her best. And if she's not, we'll talk about it after, okay?"Marguerite had been making efforts over the past few months. Real efforts, not just empty promises. She'd attended Theo's therapy sessions, learned about autism from actual experts instead of making assumptions, a
Evangeline's POVSaturday arrived faster than I expected. I'd spent the week settling into a routine with Theo—physical therapy appointments, playtime at home, short walks around the neighborhood. He was improving daily, his energy returning along with his bright curiosity about everything.Jennifer had insisted on watching Theo for the evening, despite my protests."You deserve this," she'd said firmly. "A night out, away from hospitals and therapy sessions and all the stress you've been carrying. Let yourself have something good."Now, standing in front of the mirror in Jennifer's guest room, I felt nervous in a way I hadn't experienced in years. The dress I'd chosen was simple but elegant, deep blue that brought out my eyes. Not too formal, not too casual."You look beautiful," Jennifer said from the doorway. "Ethan's not going to know what hit him.""I feel ridiculous. I'm too old for first-date jitters.""You're thirty-two, not ninety. And you're allowed to feel excited about thi
Evangeline's POVThe day Theo was discharged from the hospital felt surreal. After two months of sterile rooms and beeping monitors, walking out into the sunlight with my son holding my hand seemed almost too good to be true."Ready to go home, sweetheart?" I squeezed his hand gently.Theo nodded, clutching his favorite toy car in his other hand. "Will all my other cars be there?""Every single one. I made sure they're all waiting for you in your room."Ethan appeared with the discharge paperwork and a wheelchair hospital policy required. "All set. Theo, your chariot awaits.""I can walk," Theo protested."Hospital rules, buddy. But once we get outside, you can walk all you want." Ethan helped him into the wheelchair with practiced ease.As we made our way through the hospital corridors, nurses and staff stopped to say goodbye. Theo had become something of a favorite during his stay, and many had followed his recovery closely."You take care of yourself, Theo," one nurse said, rufflin
Dashiell's POVI sat in the hospital cafeteria, staring at a cup of coffee I hadn't touched. Through the window, I could see the entrance where Ethan had just walked out with Evangeline, the two of them talking easily as they headed toward the parking lot.She was smiling at something he'd said. That genuine, unguarded smile I'd seen so rarely during our marriage.Lawrence slid into the seat across from me. "You look like hell.""Thanks.""I mean it. When's the last time you slept?" He gestured at my coffee. "Or ate actual food instead of mainlining caffeine?""I'm fine.""You're not fine. You're sitting here torturing yourself watching your ex-wife fall for another man." Lawrence leaned back. "Why are you doing this to yourself?""Theo's my son. I want to be here for him.""Bull. You've been here every day, sometimes twice a day, even when Theo's asleep. You're not here just for him." Lawrence's gaze was knowing. "You're here hoping to run into her."I didn't deny it."Dashiell." Law






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasanLebih banyak