Home / Romansa / Hello, Husband! / 164. Sopan Santun

Share

164. Sopan Santun

last update publish date: 2026-09-28 13:15:04
Tanpa pendingin ruangan, kamar Jeevi sudah sejuk. Wima sengaja membuat paviliun itu nyaman dan tenang.

Tepat di taman yang menghadap teras kamar, ada pepohonan rindang yang cabang pohonnya membentuk payung. Sangat teduh. Di bawah pohon tersebut Wima meletakkan kursi bambu tanpa sandaran.

Hamparan rumput hijau yang selalu rapi seperti karpet yang membentang. Belum lagi tanaman-tanaman yang tumbuh dan sengaja dibuat sealami mungkin.

Saat siang menjelang sore, angin semilir berembus lembut. M
Yuli F. Riyadi

Dua bab sekaligus yaa... Aku masih on dealine 😔

| 22
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (10)
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
Alhamdulillah semingguan ini udah ujan. udah bisa napas agak legaan hehehehe
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Bunda 17 tahun saat lahirin Ratih. Jeevi sama Satya seumuran
goodnovel comment avatar
Mei
Willaaaaaa Jeeviiiiii…gue suka gaya loe, skakmat itu si nenek gayung
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Husband!   203. Amnesti

    “Kamu akrab ya sama Lucas.” Jeevi tertawa saat Jenan mengatakan itu. “Apa yang kayak tadi bisa disebut akrab?” Jenan mengangguk. Meski dibalut dengan keributan, justru itu yang membuat Jenan bisa menyimpulkan mereka dekat. “Aku jadi iri. Andai kita lebih awal bertemu. Mungkin aku bisa sedekat itu sama kamu seperti Lucas.” Menatap Jenan, Jeevi tersenyum kecil. “Kamu sama Lucas punya sifat berbeda. Keakraban kita pasti beda. Ibarat kata Lucas itu api, kamu airnya.” “Cara kami menyalurkan rasa sayang beda, begitu?” Jeevi mengangguk setuju, lantas menarik gelas dan meneguk isinya hingga tandas. Malam ini sudah cukup dia melarikan diri. Dia mengusap layar ponsel hingga membuat benda itu menyala. Masih belum ada balasan atau panggilan dari Wima. Pria itu mungkin benar-benar sedang butuh sendiri. Jeevi kembali menyimpan ponsel. “Aku mau pulang,” ujarnya turun dari stool. “Aku antar.” “Nggak perlu, Kak. Aku kan bawa mobil sendiri.” “Nanti aku suruh orang bawa mobil itu. Aku nggak

  • Hello, Husband!   202. Semenderita Apa?

    Pedro ada di balik meja bar saat Jeevi masuk. Pria itu melambaikan tangan tinggi-tinggi sambil mengelap meja. Jeevi dengan senyum ceria seperti biasa langsung menghampiri meja bar diikuti Jenan. “Lo sendirian aja? Om Luke mana?” tanya Jeevi melompat ke salah satu stool. “Bos ada di dalam kok,” sahut Pedro sambil melirik pria yang datang bersama Jeevi. “Dia … yang …uhm kalau nggak salah Jenan kan?” “Halo, kita bertemu lagi,” sapa Jenan kalem seraya duduk di salah satu stool. Telunjuk Pedro menuding Jeevi dan Jenan berganti. “Kalian doang? Lo nggak ajak laki lo, Jev?” “Nggak, dia lagi sibuk.” Sebisa mungkin Jeevi memasang wajah biasa. Dia memutar stool memperhatikan pengunjung yang datang di bar milik pamannya ini. Bel pesanan berbunyi dua catatan pesanan kembali masuk. “Rame, butuh tenaga bantuan nggak?” tanya Jeevi. “Eh, nggak usah. Lo kan tamu di sini. Bos marah ntar.”Tangan Jeevi menengadah. “Udah, sini minta apron satu.”“Tapi—” Pedro menatap ragu, ketika beralih menatap J

  • Hello, Husband!   201. Pembawa Sial

    “Sejak dia menikahi perempuan itu rumah ini sering kena masalah. Bunda bisa rasain sendiri kan? Bahkan dia lebih pilih tinggal bersama istrinya yang pelayan bar daripada sama kita di sini lagi.”Ratih terus menyerocos, menumpahkan kekesalannya di saat Wima sedang menahan diri untuk tidak meledak. “Sebelum perempuan itu datang, keluarga kita aman, jauh dari masalah. Coba sekarang semuanya hancur. Satu per satu akan hancur. Perempuan itu memang pembawa sial!”“Diam!” seru Wima dengan rahang merapat. “Bunda tahu, bahkan Satya pun enggan cepat menikahi Ruby gara-gara perempuan itu. Past perempuan itu yang—” “Aku bilang, diaaam!!!” Devana dan Ratih kontan terlonjak mendengar teriakan Wima. Seumur-umur, mereka tidak pernah melihat Wima memainkan nada tinggi. Meskipun marah, pria itu biasanya lebih bisa mengendalikan diri. Jadi, saat ini keduanya sangat terkejut dan tidak menyangka. Bukan hanya mereka, di balik dinding pun Jeevi mengelus dada lantaran kaget. Belum pernah dia melihat sua

  • Hello, Husband!   200. Fitnah

    “Jenan?” “Jangan pura-pura nggak kenal.”“Ya ampun, Kak Wima. Mau nuduh apa lagi sih?” “Rafli, Brina, bahkan Jeevi lihat kalian masuk butik.”Willa kontan terdiam. Keningnya berkerut samar. “Kalian buntutin aku?”Spontan saja Wima berdecih. Sudah ketahuan, masih ngelak. “Mereka tanpa sengaja melihat. Jadi, ada hubungan apa kalian?” Bibir Willa mencebik. Punggungnya disandarkan kasar ke sofa. Mukanya lantas tertekuk. “Nggak ada hubungan apa-apa. Kami cuma nggak sengaja ketemu. Terus dia minta rekomendasi butik terbaik di sini.” Terang saja alis tebal Wima menanjak seketika. Kelaguan banget si Jenan. Bukannya dia— si yang paling tau fashion saat Jeevi kebingungan memilih gaun? “Nggak usah dekat-dekat dia lagi.”“Lah kenapa?”“Kamu tau dia siapa?” Dengan tampang polos, Willa menggeleng. Punya Abang satu tapi overprotektif banget. Sampai sebesar ini belum juga dibolehin pacaran. “Dia kakaknya Jeevi.” “Malah bagus dong. Kamu jadi nggak perlu overthinking lagi. Kakaknya Kak Jeevi pas

  • Hello, Husband!   199. Itu Jenan sama .... ?!

    “Jenan ada di Indonesia?”“Iya. Kok lo tau?”“Kalau nggak salah gue kemarin liat dia di Pullman. Dia sama cewek seksi. Mungkin pacarnya.” Alis Jeevi menanjak mendengar ucapan Brina. Bola matanya bergerak kanan-kiri seolah tengah memikirkan. “Uhm, nggak mungkin pacar sih,” sahutnya ragu. “Kemarin kami sempat makan siang bareng, tapi dia nggak bahas masalah pacar.” “Cewek sewaan kali ya.” “Kayaknya Jenan bukan tipe kayak gitu deh.”“Eh, Nyonya. Jangan salah, penampilan itu sering nipu. Noh, asisten laki lo. Tampang boleh sok sok kalem, giliran digoyang kayak macan buka puasa.” Jeevi tergelak. Dia berani jamin di balik kemeja yang Brina pakai, pasti ada banyak bekas kokopan si Rafli.“Alah, lo juga nikmati kan?”Brina nyengir. “Ya iya sih. Cuma dia partner yang bisa ngimbangin fantasi gue.”“Gelo!”Brina terbahak, lalu merangkul bahu Jeevi. “Pokoknya kalau lo mau sesuatu yang beda. Lo tinggal tanya gue. Gue kasih tips dan trik biar lo bisa sampe big-O.”Menyingkirkan lengan Brina dar

  • Hello, Husband!   198. Pasal Satu

    Jeevi tersentak melihat wajah suaminya yang mengeras begitu Satya lenyap dari pandangan. Entah apa yang Satya bisikan pada Wima sebelum pergi. Yang jelas wajah Wima saat ini terlihat menyeramkan. Wanita yang mencepol rambutnya tinggi-tinggi itu menelan ludah. Wima nyaris tak pernah marah. Kalaupun pria itu marah, lebih pilih diam dan pergi. Namun sepertinya dia harus menghadapi realita. Mampus! Mata bulat wanita itu mengerjap saat Wima menatap tajam seraya mendekat. “Ngapain aja kamu tadi di atas sama dia?”Kaki Jeevi bergerak mundur seiring Wima yang bergerak makin maju. “Hah? Aku nggak ngapa-ngapain.” “Yakin?” Pertanyaan lelaki itu kok agak ngeselin ya. “Yakinlah! Emang kamu pikir aku ngapain?” Jeevi terkesiap saat punggungnya membentur dinding. Tidak ada lagi jalan keluar. Kedua tangan Wima lantas mengurungnya. “Kamu nggak pernah mau dengar ucapanku buat nggak dekat-dekat lagi sama Satya ya? Apa kamu nggak belajar dari semua kejadian?” “M-Mas aku uhm … kayaknya d-dia udah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status