Beranda / Romansa / Hello, Husband! / 175. Ini Salahku, Nek.

Share

175. Ini Salahku, Nek.

Penulis: Yuli F. Riyadi
last update Tanggal publikasi: 2026-10-03 17:42:19

“O-om Wima…”

Bola mata Wima melirik ke arah kanan mendengar panggilan itu. Tampak Satya mendekat padanya. Sepertinya lelaki itu memang sengaja menunggu.

“Ada apa?” tanya Wima dingin, nyaris tanpa ekspresi.

Wajah Satya terlihat ragu, mulutnya yang hendak terbuka menutup lagi.

“Kamu di sini karena nenek panggil?” tanya Wima. Saat Satya menggeleng, pria itu menghela napas. “Terus kenapa masih di sini? Pekerjaanmu di kantor terlalu longgar, hm?”

“Aku belum bisa ninggalin mama, Om. Dari semalam
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (4)
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Ho-oh, sebelum sama ayah Wima
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Hwaaaa beraat
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
pantes bunda anti Ama perempuan bar. ternyata bapaknya si Ratih slengki dulunye Ama wanita bar keknya ya..hmmm
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Hello, Husband!   182. Pelet Kamu Berhasil

    “Mas! Kamu telat! Ini udah jam berapa?!” Seruan Jeevi tidak membuat Wima serta-merta bangun. Pria itu menggeliat dan malah menarik Jeevi ke pelukannya lagi. “Mas, bangun ih!” seru Jeevi lagi seraya menepuk lengan kokoh Wima. “Aku off, Sayang,” sahut Wima dengan nada suara malas ciri khas orang yang masih belum kenyang tidur. Bahkan kelopak matanya masih begitu lengket. Semalam nyaris pukul tiga dini hari keduanya baru terlelap lantaran kelelahan. Dan sekarang….Jeevi celingukan melihat keadaan kamarnya yang terang benderang. Cahaya yang menyengat menandakan matahari sudah sangat tinggi. “Tidur lagi aja.” Wima menyentak perut Jeevi, hingga wanita itu merebah kembali. “Ini udah siang, Mas. Perutku juga lapar.” Mendengar itu Wima mengangkat sedikit kepala. Matanya memicing menghalau sinar matahari yang menembus dinding kaca kamarnya. Menekan tombol di nakas, tirai tinggi secara otomatis bergerak menutupi dinding kaca. “Udah beres. Yuk, tidur lagi.” Jeevi mendesah. Mau ditutup ti

  • Hello, Husband!   181. As You Wish, Baby

    Jeevi tahu ini hanya permulaan. Ketika telapak tangan Wina mulai menyentuh pahanya. Mengusap naik turun dengan gerakan ringan tapi menggoda. Jeevi yang cukup sensitif langsung merinding. Wima terkekeh ketika merasakan pori-pori kulit lengan Jeevi bereaksi cepat. “Apa yang lucu?” tanya Jeevi mengerutkan kening.“Nggak apa-apa,” sahut Wima tersenyum. Tangannya mendorong dua kaki Jeevi membentuk huruf W, sementara wajahnya bergerak turun. Menyingkap kain rok Jeevi dengan mulutnya sehingga short pants milik Jeevi terpampang, mencetak jelas bentuk bawah perut yang menggoda. “Ke-kenapa lampunya nggak dimatiin?” tanya Jeevi mulai terbata. Dia menahan napas saat merasakan endusan hidung Wima di area sensitif itu. “Kalau lampu dimatikan, aku nggak bisa lihat kamu yang indah tanpa busana dong.”“Beneran mesum.”“Ibadah, Sayang,” koreksi Wima, kembali mengendus permukaan short Jeevi. Tubuh Jeevi kembali menggelinjang. Dua tangannya bergerak ke atas, meremas kain bantal dengan mata terpejam.

  • Hello, Husband!   180. Cinta dan Sayang Banget sama Mas Wima

    Alih-alih menyalakan mobil dan melaju, Wima malah terkekeh di balik kemudi. Membuat Jeevi di sampingnya kebingungan. “Mas, kamu mabok?” tanya Jeevi menatap suaminya heran. “Kalau mabok biar aku yang nyetir,” lanjutnya lagi. Setahu Jeevi pria itu tidak minum alkohol. Hanya long black coffee.“Nggak, Sayang. Aku lagi ingat waktu pertama kita ketemu. Jadi ketawa sendiri,” sahut Wima, menatap lembut istrinya yang masih memasang wajah bingung. “Kamu nggak inget?”“Uhm, inget kok. Waktu kamu mabok kan? Mana mungkin aku nggak inget pas dapat f*e gede.” Jeevi ikut terkekeh.Saat ini keduanya masih berada di parkiran. Berdiam diri di mobil, Wima malah mengajak nostalgia. “Waktu itu aku pikir kamu masih sekolah. Kaget juga waktu kamu pamerin SIM,” ujar Wima terkekeh. “Udah suudzon aja kalo itu SIM pasti dapat dari nembak.”“Emang ngeselin. Mentang-mentang badanku kecil, gitu kan?!”“Ya itu kan fakta, Sayang. Muka kamu juga support banget buat jadi anak SMA.” Jeevi hanya tersenyum lalu menggel

  • Hello, Husband!   179. Tidak Sesederhana itu

    “Lo yakin kalian nggak ada masalah?”Bukan sesuatu yang baru bagi Lucas melihat Jeevi bernyanyi. Salah satu cara wanita itu mendapat uang tambahan juga dari saweran orang yang request lagu di bar miliknya. Kalau hatinya lagi bagus, Jeevi bakal bawain lagu ceria, secerah matahari pagi. Tapi kalau hatinya lagi gegana, biasanya dia bakal nyanyi lagu melow. Persis seperti sekarang. Polanya sama. Itu yang Lucas perhatikan. Jadi, wajar jika saat ini dirinya menanyakan kondisi pasangan suami istri yang tumben-tumbenan menyambangi barnya lagi. “Hidup memang penuh masalah kan?” sahut Wima sembari menyesap minumannya sedikit. “Nggak, nggak. Gue tau Jeevi banget. Kalau dia nyanyi lagu begini artinya dia lagi punya masalah. Dulu kalau Mbak Iren drop, atau kehilangan benda berharganya, biasanya semangat kerja Jeevi kacau. Kadang dia bakal terus berdiri di balik mikrofon, nyanyi sampai bosan. Untung suaranya bagus. Jadi pelanggan gue nggak kabur.” Lucas menarik napas setelah bicara panjang. “Lo

  • Hello, Husband!   178. Bar Lucas

    Segalanya terasa canggung. Tidak ada ramah tamah lagi setelah makan malam ketika semua keluarga berkumpul. Ratih masih belum mau keluar dari paviliun barat. Bunda dan dua adik Wima juga tampak masih banyak diam.Tiap kali makan bersama, hanya ada keheningan. Hanya suara sendok dan garpu yang beradu. Begitu seterusnya hingga beberapa hari. Kegiatan teh sore pun hanya Jeevi yang datang. Jika nenek memang sudah jarang keluar dari kamar karena kondisi kesehatan, tapi bunda, sepertinya hanya ingin menghindari pertemuan dengan Jeevi. “Maaf, Non Jeevi, Nyonya sedang tidak ingin diganggu siapapun.”Itu ucapan asisten rumah tangga yang mengurus keperluan bunda. Sore ini Jeevi sengaja membuatkan camilan yang terbuat dari ubi kesukaan Bunda.“Biar ini nanti saya sampaikan,” ucap asisten itu lagi saat menerima camilan itu dari Jeevi. Ini bukan pertama kalinya Jeevi mendatangi ruang pribadi bunda. Dan hasilnya selalu sama. Ibu mertuanya itu belum mau menemuinya. “Kamu nggak perlu melakukan itu

  • Hello, Husband!   177. Dingin dan Datar

    Baru kali ini Jeevi melihat suaminya tidak berani menatap tepat di mata. Pria itu hanya memainkan tangannya sejak keduanya pindah ke sebuah gazebo yang ada di taman. Suara gemericik air yang mengalir dari sungai buatan khusus habitat ikan menjadi latar belakang musik yang cukup menenangkan. Siang yang tidak terlalu terik ditambah pohon rindang di sekitarnya membuat hawa terasa adem dan sejuk. Salah satu hal yang Jeevi sukai dari kediaman keluarga suaminya adalah lingkungannya yang asri. “Mas…?” “Apapun yang terjadi, kamu harus ingat satu hal, Jeevi. Aku, suami kamu akan selalu ada bersama kamu.”Kalimat yang malah makin menambah gelisah perasaan Jeevi. Namun sebisa mungkin wanita itu menutup gundahnya di depan Wima. Ibu jari Wima terus mengusap punggung tangan Jeevi. Kalau sedang tidak dalam mode serius, Jeevi pasti mengira suaminya itu sedang memberi sinyal malam jumatan. “Bunda tahu hubungan kamu sama Satya dulu. Juga tahu kamu pernah bekerja di bar.” Wima menarik napas panja

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status