ホーム / Romansa / Hello, Husband! / 194. Tertangkap Dua Kali, Kamu Mati

共有

194. Tertangkap Dua Kali, Kamu Mati

last update 公開日: 2026-10-12 12:37:06
Bukan di gedung kantornya. Rafli meminta Wima datang di salah satu suite sebuah hotel di kawasan utama Jakarta.

Di sana bukan cuma Rafli, ada Rani yang sekarang sudah menjadi tawanan keduanya. Yak, sejak wanita itu tertangkap, Rafli belum membebaskannya.

Wanita itu duduk dengan kepala menunduk saat Wima datang memasuki suite. Sementara Rafli menaikkan sebelah alis melihat penampilan kasual bosnya yang tumben-tumbenan hari ini tidak mengenakan setelan jas.

Wima mengambil tempat duduk di sofa p
Yuli F. Riyadi

Yang sama Rani siapa kira-kira? Mungkinkah ....

| 11
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (20)
goodnovel comment avatar
ClayFideLaa
hiss ini pasti jenan.
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Wkwkwk lucu kkakakk
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
wkwkwkwk gak ada tampang teh Hendi ke Aussie ahahahaha
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Hello, Husband!   195. Cowok Ganteng

    Bel yang menandakan selesainya kelas akhirnya berbunyi. Membuat nyaris semua penghuni kelas menarik napas lega. Otak yang sejak dua jam bergelut dengan materi bejibun tentang Hukum Kekayaan Intelektual terasa mendapat angin segar.Belakangan banyak oknum yang melanggar soal HKI ini. Padahal tiap karya yang ditelurkan dalam bentuk nyata oleh seseorang sudah otomatis memiliki hak cipta sendiri tanpa perlu didaftarkan. “Mo langsung balik?” tanya Winny seraya membereskan modul dan beberapa bukunya. Gina yang sudah siap cabut, menatap cindo itu dengan mata berbinar. “Ngebakso dulu aja yuk. Yang pedes krimi gitu.” “Ide bagus!” Winny melirik Jeevi yang sedang memasukkan buku ke tas. “Lo ikut kan, Jeev?” Tentu saja Jeevi ingin ikut nongkrong bersama teman-temannya seperti dulu saat pulang kuliah. Tapi kondisi wanita itu sekarang beda. Dia bukan remaja lajang yang bebas. Dia wanita bersuami. “Kayaknya nggak deh. Gue langsung balik aja. Takutnya laki gue udah pulang duluan.”“Hm, yang udah

  • Hello, Husband!   194. Tertangkap Dua Kali, Kamu Mati

    Bukan di gedung kantornya. Rafli meminta Wima datang di salah satu suite sebuah hotel di kawasan utama Jakarta. Di sana bukan cuma Rafli, ada Rani yang sekarang sudah menjadi tawanan keduanya. Yak, sejak wanita itu tertangkap, Rafli belum membebaskannya. Wanita itu duduk dengan kepala menunduk saat Wima datang memasuki suite. Sementara Rafli menaikkan sebelah alis melihat penampilan kasual bosnya yang tumben-tumbenan hari ini tidak mengenakan setelan jas. Wima mengambil tempat duduk di sofa paling panjang. Berseberangan dengan Rani. “Kamu tahu alasan Nyonya Ratih ingin menggugurkan kandungan Nona Jeevi?” tanya Rafli, sedikit mendorong bahu Rani dengan ujung stylus pen yang dia jepit di antara kedua jarinya. Wanita itu tersentak, tapi kembali menunduk. “Itu, Pak. Uhm, itu karena Nyonya Devana yang—”Mendengar bundanya disebut mata Wima kontan memelotot. “Karena Nyonya Devana menolak tanda tangan. Apa sih itu?” Rani menggaruk kepala seraya berpikir. “Uhm gabungan perusahaan—ah buka

  • Hello, Husband!   193. Satu Frekuensi

    “Mas!” Jeevi menggaet tangan Wima. “Jangan sampai dia yang nyamperin kita. Perutnya udah gede. Ayo, kita yang ke sana aja.”“Tapi—”Belum sempat protes, Jeevi sudah menarik tangan Wima, menyeretnya mendekati Kalla. Kontras dengan Wima yang bengong, wanita itu malah tersenyum lebar. “Halo,” sapa Jeevi, matanya berbinar terang, nyaris sama dengan binar di mata Kalla. “Halo,” sambut Kalla senang. “Kamu … istri Kak Wima yang kuliah di sini ya?” tanya wanita itu antusias. “Iya.” Jeevi mengulurkan tangan. “Kenalin, saya Jeevi. Saya Mahasiswa Ilmu Hukum semester 4.” Menyambut tangan Jeevi, Kalla tersenyum senang. “Aku Kalla. Aku mantan karyawan Kak Wima dulu. Tapi sekarang ngajar di sini.” “Wah, jadi Bu Kalla dosen ya?”“Eh, jangan panggil bu dong. Ya meskipun bentar lagi aku jadi ibu.” Kalla terkekeh, lantas menatap Wima. “Istri kamu cantik, Kak.”Wima mengerjap, tapi kemudian tersenyum. “Apa kabar, Kalla?” tanya Wima, pandangannya tertuju pada perut besar wanita itu. “Aku baik banget,

  • Hello, Husband!   192. Dia itu ... Suami Gue

    Wima menghela napas sembari melipat lengan di dada. Dari tempatnya berdiri, dia mengawasi istrinya yang sedang bicara dengan dosennya yang sok kecakepan itu. Sesekali mereka tertawa bersama. “Dosen killer apanya? Itu mah dosen yang suka tebar pesona,” gumam Wima berdecih. Merasa muak melihat itu. Dia mengurai dua lengannya dan bergerak menghampiri mereka. Tanpa permisi, tanpa babibu dia merangkul bahu Jeevi. “Sayang, masih ada kelas lagi kan?” Jeevi terkesiap seketika. Tubuhnya menegang merasakan lengan besar yang sudah tersampir di bahunya. Bukan hanya Jeevi, di depan wanita itu Ibram pun tampak terkejut dengan mata melebar. “Mas!” seru Jeevi yang langsung menyingkirkan lengan suaminya itu dengan risih. Bukannya apa. Ini masih di area kampus, Gusti! Bukan hanya Pak Ibram, tapi masih banyak mahasiswa lain yang berkeliaran juga. Alis tebal Ibram menyatu. Raut wajahnya sudah seperti ingin menerkam orang. “Anda penyusup di kelas pagi saya kan?” tanya pria itu. “Tolong, jaga sikap A

  • Hello, Husband!   191. Kelas

    “Pak, Anda di mana?” Senyum Wima seketika luntur saat mendapat telepon dari Rafli. Karena jika asisten pribadi itu menelepon pasti berurusan dengan pekerjaan. “Di kampus Jeevi. Kenapa?” “Rani bagaimana? Apa kita langsung serahkan ke pihak berwajib?” Wima menarik napas panjang. Ujung matanya melirik Jeevi yang sedang berdiskusi dengan temannya di selasar kampus. “Tiga puluh menit lagi saya ke sana.” “Baik, Pak.” Pandangan Wima kembali terlempar ke arah Jeevi. Dan senyumnya sontak terbit. Istrinya itu terlihat serius. Entah apa yang mereka diskusikan. Namun beberapa saat berlalu senyum Wima yang terkembang tiba-tiba surut ketika melihat seorang pria menghampiri Jeevi dan teman-temannya. Matanya kontan menyipit tajam. Wima tahu pria itu lantaran beberapa jam lalu dia mengikuti kelasnya. Yak! Dia tidak pernah melakukan hal sekonyol ini sebelumnya, ikut kelas Jeevi demi tahu bagaimana si dosen yang bernama Ibram itu. Jika Willa atau Rafli dengar, mereka pasti terbahak. Tan

  • Hello, Husband!   190. Obat Mujarab

    “Sebentar, jadi Satya itu sepupu kamu sekaligus keponakan kamu?” Netra bulat Jeevi makin membulat setelah mendengar cerita suaminya dari A sampai Z. Dan kepalanya mendadak pusing hanya karena memikirkan itu. “Ya, begitu.” Ternyata memang tidak sederhana. Jeevi bisa memahami perasaan Ratih. Dirinya juga pernah mengalami hal sama. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Antara Satya dan ayah biologisnya sama saja. Pemaksa. “Apa Satya tahu soal ini?” “Sepertinya nggak.”“Nggak heran, Mbak Ratih ingin Satya menguasai perusahaan.”“Bukan Mbak Ratih aku rasa. Tapi Hendi. Pria serakah itu yang mempengaruhi Mbak Ratih. Pria tak tahu diri itu ingin memanfaatkan Satya dan juga Mbak Ratih karena merasa berjasa.” Wima menarik napas panjang, lantas mengecup kepala Jeevi. “Kepalaku pusing.”Mendengar itu Jeevi langsung beranjak bangun. “Kamu istirahat aja, Mas. Aku aja yang cuma dengar pusing apalagi kamu.”Wima ikut bangun. “Besok kamu berangkat pagi atau siang?” Sambil menggelung rambut, Jeevi me

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status