Home / Rumah Tangga / Hello, Mantan! / 78. Meeting Outing

Share

78. Meeting Outing

Author: IKYURA
last update publish date: 2026-06-04 14:54:50

“Tiba-tiba banget lo dijadiin panitia outing kantor, Mbak?” Suara Arsenio nyaris terdengar seperti bisikan. “Pak Megan lagi mode galak apa gimana, sih?”

Hagia yang berjalan di sampingnya hanya mengedikkan bahu. “Nggak tahu. Gue juga heran padahal kan panitia outing-nya udah lumayan banyak per divisi.”

Arsenio mengangguk mantap. “Makanya gue curiga.”

“Curiga apa?”

“Jangan-jangan Pak Megan ada rasa sama lo, Mbak.”

Hagia mendecak sembari memutar matanya. Walaupun ia sudah bisa menebak bahwa semua
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Tika Mokodompit
BOLEEEEHHHH MAS.... BOLEH BANGEEEETTTTT. AYOOOKK BAWA AKUUUU MASSSS
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
boleh mas...BOLEH BANGEEETTT yaa Allah kapan dikau ngucapin ijab Qabul itu mas Megan... gak sabar next updatenya kakak syng :* keluarin semua bab kak. siap membaca huhuhu. makasih banyak updatenya kakak syng ;*
goodnovel comment avatar
Farah Fa
g sabar nunggu episode berikutnya thorr
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Mantan!   79. Kangen, Ya?

    “Belum balik?”Suara Kafka menarik perhatian Megantara yang sejak tadi fokus menatap layar monitornya.Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, lelaki itu melangkah masuk sambil membawa segelas kopi di tangannya. Kebiasaan yang sudah selalu lelaki itu lakukan selama bekerja bertahun-tahun bersama Megantara. Dan satu-satunya orang di kantor yang bisa melakukannya tanpa mendapat teguran.“Gue lagi ngecek desain finalisasi dari Astu Group.”Kafka langsung mengernyit. “Kerja samanya masih jalan? Bukannya lo bilang masih lo pertimbangkan?”Megantara menyandarkan tubuhnya ke kursi. Pandangan yang semula tertuju pada monitor kini beralih sepenuhnya ke arah sahabatnya.“Masih.”Kafka menarik kursi di depan meja kerja Megantara lalu duduk. “Perasaan waktu itu lo udah hampir mutusin buat cabut dari proyek itu.”“Memang.”“Terus?”Megantara mengembuskan napas pendek. “Dari pihak Astu Group akhirnya minta maaf secara resmi ke perusahaan.”Kafka terdiam. Mengingat bagaimana keruhnya situasi beberapa

  • Hello, Mantan!   78. Meeting Outing

    “Tiba-tiba banget lo dijadiin panitia outing kantor, Mbak?” Suara Arsenio nyaris terdengar seperti bisikan. “Pak Megan lagi mode galak apa gimana, sih?”Hagia yang berjalan di sampingnya hanya mengedikkan bahu. “Nggak tahu. Gue juga heran padahal kan panitia outing-nya udah lumayan banyak per divisi.”Arsenio mengangguk mantap. “Makanya gue curiga.”“Curiga apa?”“Jangan-jangan Pak Megan ada rasa sama lo, Mbak.”Hagia mendecak sembari memutar matanya. Walaupun ia sudah bisa menebak bahwa semua ini adalah ulah Megantara. Hanya saja Hagia tidak habis pikir jika lelaki itu akan melibatkannya sejauh ini. “Nggak usah ngaco deh, Sen. Apaan, coba?”“Lho, ya mana tahu, kan? Kalaupun iya, ya nggak apa-apa. Toh kalian berdua sama-sama single juga. Iya, kan? Gue tadi sempat papasan sama ceweknya Pak Megan di lobi. Mukanya keruh banget kayak air comberan. Fixed, sih, habis ditolak mentah-mentah sama Pak Megan.”“Bukan urusan kita Sen. Udah ah, jangan ngomongin dia. Bisa berabe nanti kalau sampai

  • Hello, Mantan!   77. Hagia VS Elvira

    “Sumpah, gue kenyang banget hari ini. Kita perlu kopi dan semacamnya nggak, sih?”Suara Arsenio membuyarkan lamunan Hagia. Perempuan itu mengerjap beberapa kali, seolah baru saja kembali dari tempat yang jauh.Mereka baru selesai makan siang di warteg langganan dekat kantor dan kini sedang berjalan kembali menuju gedung Rupa Rancang Nusantara.Namun pikiran Hagia sama sekali tidak berada di sana. Pikirannya masih terjebak pada kejadian tadi.Tepatnya saat Hagia dan Megantara sedang berduaan di ruangan lelaki itu. Saat mereka berciuman dan saat Elvira tiba-tiba membuka pintu tanpa peringatan.Hagia mengembuskan napas. Entah apa reaksi Elvira saat setelah Hagia meninggalkan ruangan tadi. Dan justru hal itu membuatnya semakin kepikiran. “Gi, mikirin apa, sih?” Kali ini suara Risa terdengar tepat di sampingnya.Hagia menoleh. “Nggak ada, Ris. Kenapa, sih?”“Nggak ada, tapi sikap lo dari tadi tuh aneh banget tahu, nggak. Dari tadi Arsenio tuh ngajakin mampir beli kopi.”“Tahu tuh, Mbak. C

  • Hello, Mantan!   76. Rencana Outing

    “Jadi... siapa yang kirim kopi buat kamu?”Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Megantara. Hagia yang baru masuk ke ruangan lelaki itu menghentikan langkahnya. Di tangannya ada beberapa berkas yang harus ditandatangani Megantara.“Hah?” Hagia meletakkan berkas tersebut di atas meja. “Aku nggak tahu, Mas. Aku pikir dari kamu.”Megantara menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Kenapa dari aku?”“Karena nggak banyak yang tahu kesukaan aku.” Hagia mengangkat bahu pelan. “Bahkan anak-anak kantor juga nggak terlalu tahu. Jadi aku—”Kalimatnya terputus. Karena tiba-tiba Megantara meraih pergelangan tangannya. Sebelum Hagia sempat bereaksi, lelaki itu menariknya mendekat. Dan dalam sekejap, Hagia sudah jatuh di pangkuan lelaki itu. “Mas!” Wajah Hagia seketika panik. Ia buru-buru melirik ke sekeliling ruangan. “Kamu tuh, ya!”Megantara justru terlihat santai. Seolah apa yang baru dilakukannya adalah hal paling wajar di dunia.“Kenapa?”“Ini kantor!”“Aku tahu.”“Kalau ada yang masuk gimana

  • Hello, Mantan!   75. Pemuja Rahasia

    “Mas!”Pintu mobil baru saja tertutup ketika Hagia menjatuhkan tubuhnya ke kursi penumpang. Napasnya masih sedikit terengah akibat berjalan cepat dari halte.“Aku nggak tahu kalau banyak driver TransJakarta pada mogok kerja. Katanya pada demo hari ini. Aku bingung, dan orang pertama yang aku pikirkan cuma kamu.”Megantara yang duduk di kursi kemudi menoleh sekilas. Lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. “Mulai besok kamu berangkat bareng aku aja.”Hagia langsung menoleh cepat. Kemudian menggeleng. “Nggak bisa dong, Mas.”“Nggak bisa kenapa, Nadi?” Megantara mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan pelan. Pandangannya fokus ke depan. “Kita satu apartemen dan kita juga sekantor. Masalahnya di mana, coba?”“Masalahnya banyak.” Hagia mendecak pelan. “Anak kantor bakal tahu kalau kita mantanan dan—”Megantara mengedikkan bahu. “Terus?”“Terus... ya nanti mereka ngomong macam-macam, Mas. Situasi di kantor bakalan kacau, apalagi kalau sampai mereka tahu kamu tuh mantan suamik

  • Hello, Mantan!   74. Meyakinkan Hagia

    Mereka tiba di Ruang Kaldu, restoran ramen langganan yang dulu hampir selalu menjadi tujuan mereka setiap kali ingin menghabiskan waktu bersama.Tempat itu tidak banyak berubah.Interior kayunya masih sama. Aroma kaldu yang gurih masih menyambut begitu mereka melangkah masuk. Bahkan beberapa dekorasi di sudut ruangan masih berada di tempat yang sama seperti bertahun-tahun lalu.Sejenak, Hagia merasa seperti ditarik kembali ke masa lalu. Ke masa ketika mereka masih menjadi sepasang kekasih yang sering menghabiskan akhir pekan di tempat ini. “Mas, kamu yakin Ranu nggak nyariin aku?” tanya Hagia begitu mereka duduk. Megantara yang sedang menuangkan air ke dalam gelas hanya mengedikkan bahu. “Nggak, kok. Aku cuma bilang ke dia kalau aku mau jemput kamu. Dan dia kasih izin.”“Bisaan banget cari alasannya, ya. Awas aja kalau sampai dia nangis nanti.”“Nggak apa-apa. Kenapa, sih? Kamu kayak nggak suka banget aku ajak ke sini,” jawab Megantara dengan nada dibuat-buat kesal.“Nggak gitu…” Ha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status