Home / Rumah Tangga / Hello, Mantan! / 78. Meeting Outing

Share

78. Meeting Outing

Author: IKYURA
last update publish date: 2026-06-04 14:54:50

“Tiba-tiba banget lo dijadiin panitia outing kantor, Mbak?” Suara Arsenio nyaris terdengar seperti bisikan. “Pak Megan lagi mode galak apa gimana, sih?”

Hagia yang berjalan di sampingnya hanya mengedikkan bahu. “Nggak tahu. Gue juga heran padahal kan panitia outing-nya udah lumayan banyak per divisi.”

Arsenio mengangguk mantap. “Makanya gue curiga.”

“Curiga apa?”

“Jangan-jangan Pak Megan ada rasa sama lo, Mbak.”

Hagia mendecak sembari memutar matanya. Walaupun ia sudah bisa menebak bahwa semua
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Tika Mokodompit
BOLEEEEHHHH MAS.... BOLEH BANGEEEETTTTT. AYOOOKK BAWA AKUUUU MASSSS
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
boleh mas...BOLEH BANGEEETTT yaa Allah kapan dikau ngucapin ijab Qabul itu mas Megan... gak sabar next updatenya kakak syng :* keluarin semua bab kak. siap membaca huhuhu. makasih banyak updatenya kakak syng ;*
goodnovel comment avatar
Farah Fa
g sabar nunggu episode berikutnya thorr
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Mantan!   119. Hamil?

    “Kita pulang, ya?”Suara Megantara terdengar lembut. Ia sudah berdiri di hadapan Hagia setelah menjenguk ibunya. Satu tangannya masih menggenggam tangan perempuan itu.“Kamu udah janji setelah aku menemui Mama, kita bakalan pulang.”Sudut bibir Hagia perlahan tertarik ke atas. Namun alih-alih menanggapi ucapan Megantara, perempuan itu justru bertanya, “Mama gimana keadaannya, Mas?”Megantara langsung mengernyit. “Kenapa malah mengalihkan topik pembicaraan, sih?”Hagia terkekeh pelan. “Aku kan, cuma nanya. Nggak boleh?”“Boleh.” Megantara menghela napas pendek. “Tapi kamu nggak jawab pertanyaanku.”Megantara menatap Hagia lekat. “Jawab pertanyaan aku dulu. Gimana kondisi Mama?”Megantara mengembuskan napas panjang. “Mama cuma kecapekan aja, Sayang. Dokter bilang kondisinya sudah cukup stabil. Tapi beliau memang diharuskan untuk banyak istirahat.”Hagia mengangguk pelan. “Mama pasti banyak pikiran juga, Mas.” Ia mendongak, menatap Megantara lekat. “Mama memang keras, tapi aku tahu kalau

  • Hello, Mantan!   118. Berdebat

    Entah sudah berapa lama Hagia berdiam diri di depan wastafel. Kedua telapak tangannya bertumpu pada permukaan marmer dingin, sementara kepalanya tertunduk lemah.Perlahan ia mengangkat wajahnya. Tatapannya bertemu dengan pantulan dirinya sendiri di cermin.Wajahnya terlihat jauh lebih pucat daripada biasanya. Bahkan bibirnya kehilangan warna. Ia memutar keran, membasuh wajahnya dengan air dingin beberapa kali. Berharap rasa pening yang sejak tadi mengganggunya bisa sedikit mereda. Namun yang datang justru rasa mual.Hagia buru-buru memejamkan mata. Satu tangannya refleks menekan pelan ulu hati. Napasnya diatur perlahan hingga rasa bergolak di perutnya sedikit demi sedikit mereda.“Aku nggak mungkin hamil, kan?”Ia kembali menatap bayangannya di cermin. Kata-kata Raga kembali terngiang di kepalanya.“Kamu nggak hamil kan, Mbak?”Hagia menggeleng pelan. Berusaha mengusir pikiran itu.“Nggak mungkin…” Ia menggeleng pelan. Namun, alih-alih merasa tenang, dadanya justru semakin dipenuhi ke

  • Hello, Mantan!   117. Permintaan Hagia

    “Nadi!”Mendengar suara itu, Hagia seketika menoleh cepat. Kemudian ia tertegun. “Mas? Kamu kok di sini?”Hagia bangkit dari duduknya. Menatap bingung lelaki yang baru saja tiba di hadapannya. “Raga bilang kamu lagi nggak enak badan. Kamu sakit?”Megantara menatap cemas Hagia. Namun alih-alih menjawab pertanyaan perempuan itu, ia langsung mengulurkan tangan. Telapak tangannya menyentuh lembut kening Hagia.Beberapa detik ia terdiam. “Kamu nggak demam. Tapi wajah kamu pucat.” Ia mengernyit. “Kenapa? Ada yang lagi kamu pikirin?”Hagia menggeleng pelan. “Mas, aku nggak apa-apa. Kenapa kamu ke sini, sih? Ranu mana?”Megantara mengembuskan napas pelan. “Pas Raga telepon tadi, aku langsung minta Mbak Vanessa jemput Ranu. Aku khawatir sama kamu.”Mendengar itu, sudut bibir Hagia perlahan terangkat. Ia menggenggam balik tangan Megantara yang masih berada di pipinya.“Aku nggak apa-apa kok, Mas. Raga tuh berlebihan.”Megantara menggeleng pelan. “Nggak. Kamu memang kelihatan capek banget.” Tat

  • Hello, Mantan!   116. Kelelahan

    “Operasinya berjalan dengan lancar. Untuk saat ini Pak Auriga masih berada dalam pengaruh obat bius. Sebentar lagi beliau akan dipindahkan ke ruang rawat untuk menjalani masa pemulihan.”Penjelasan singkat dari Dokter Trenggana seketika mengangkat beban yang sejak tadi menghimpit dada mereka.Hagia menutup kedua matanya sesaat. Tanpa sadar, embusan napas lega keluar dari bibirnya. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya luruh di wajahnya.“Alhamdulillah...”Djiwa yang berdiri di sampingnya ikut mengusap sudut matanya. “Terima kasih banyak, Dokter.”Hagia mengangguk berkali-kali. “Terima kasih, Dokter Trenggana.”Dokter itu membalas dengan senyum hangat. “Sekarang biarkan Pak Auriga beristirahat dulu. Nanti setelah efek obat bius mulai berkurang, keluarga sudah boleh menemui beliau.”“Baik, Dok.”Setelah berpamitan, Dokter Trenggana beserta tim medis berjalan meninggalkan lorong ruang operasi.Suasana lorong kembali hening. Hagia masih berdiri mematung. Kepalanya yang tadinya teras

  • Hello, Mantan!   115. Kabar Buruk

    “You okay?”Pertanyaan itu meluncur pelan dari bibir Megantara. Sejak tadi lelaki itu beberapa kali mencuri pandang ke arah Hagia.Wajah perempuan itu terlihat lebih pucat dari biasanya. Sorot matanya pun tampak kosong, seolah pikirannya sedang berada di tempat lain.“Sayang...” Megantara meraih pelan tangan Hagia yang berada di atas meja. “Kepikiran Papa, ya?”Hagia tak langsung menjawab. Ia lebih dulu menoleh ke arah playground yang berada tak jauh dari restoran. Di sana, Ranu masih asyik bermain perosotan bersama anak-anak lain.Baru setelahnya, ia mengembuskan napas panjang.“Kayaknya aku lagi mood swing banget, deh, Mas.” Hagia menggigit bibirnya. “Udah mau jadwal mens.”Megantara mengangguk pelan. “Oke. Terus sekarang kenapa? Ada yang bikin kamu kepikiran?”Hagia menggigit pelan bibir bawahnya. “Mas...”“Hm?”“Hari ini aku kayaknya berlebihan banget sama Ranu.”Megantara mengernyit. “Kenapa sama Ranu? Hasil evaluasi di sekolah bagus kan, kata kamu?”“Iya.” Hagia mengangguk pelan

  • Hello, Mantan!   114. Ketakutan Hagia

    Suasana sekolah pagi itu cukup ramai. Beberapa orang tua tampak berjalan keluar masuk ruang kelas, sementara yang lain masih duduk bersama wali kelas untuk mendengarkan evaluasi perkembangan anak-anak mereka.Pun begitu dengan Hagia yang kini tengah duduk berhadapan dengan Bu Mia, wali kelas Ranu. “Selamat pagi, Bu Hagia. Terima kasih ya sudah menyempatkan hadir hari ini.”“Selamat pagi, Bu Mia.”Guru itu tersenyum hangat. “Baik, kita mulai bahas tentang perkembangan Ranu selama satu tahun terakhir, ya.” Bu Mia mulai membolak-balikkan buku catatannya. “Sejauh ini perkembangan Ranu sangat baik. Dia aktif, cepat beradaptasi, dan rasa ingin tahunya tinggi. Hanya saja memang masih perlu sedikit dibimbing untuk lebih sabar menunggu giliran dan mengontrol emosinya.”Hagia mengangguk sambil tersenyum. “Iya, Bu. Di rumah juga kami masih terus belajar soal itu.”“Tapi untuk yang lain-lain, semuanya baik kok, Bu. Dan juga,” lanjut wali kelas, “karena ini sudah pembagian rapor sekaligus evaluas

  • Hello, Mantan!   68. Ajakan Vanessa

    “Jangan telat ya, Gan. Gue udah jalan ini. Lo tahu sendiri kalau gue nggak suka ngaret.”Megantara menghela napas pendek. Lelaki itu baru saja selesai mengancingkan kemejanya. “Iya. Aku udah siap, Mbak.” Ia melirik ke samping. “Tapi, Mbak, aku ngajak Ranu nggak apa-apa, kan?”“Nggak apa-apa. Gue ju

  • Hello, Mantan!   66. Gusarnya Megantara

    Megantara mengembuskan napas pelan. Tatapannya terpaku di depan sana, memperhatikan Hagia yang tengah berdiri di dekat layar presentasi sambil menjelaskan detail proyek yang sedang mereka kerjakan untuk Astu Group.Perempuan itu mengenakan kemeja putih dengan rambut yang disanggul sederhana. Tangan

  • Hello, Mantan!   2. Megantara Adiwangsa

    Megantara baru saja duduk di kursi kerjanya. Ruangan itu masih terasa asing, meski desainnya sederhana—meja kerja berbahan kayu gelap, rak buku yang belum sepenuhnya terisi, dan jendela lebar yang menghadap langsung ke hiruk-pikuk Jakarta.Ia menyandarkan punggungnya, menarik napas panjang.Baru be

  • Hello, Mantan!   1. Hagia Nadi Chandrakanta

    Pagi itu dimulai seperti biasa—tergesa, penuh daftar kecil yang harus dicentang sebelum waktu benar-benar habis.Hagia baru saja selesai menyiapkan bekal untuk Ranu, putranya yang berusia lima tahun. Tangan kirinya masih memegang kotak makan berisi nasi, ayam goreng, dan sayur tumis sederhana, seme

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status