LOGINSuasana sekolah pagi itu cukup ramai. Beberapa orang tua tampak berjalan keluar masuk ruang kelas, sementara yang lain masih duduk bersama wali kelas untuk mendengarkan evaluasi perkembangan anak-anak mereka.Pun begitu dengan Hagia yang kini tengah duduk berhadapan dengan Bu Mia, wali kelas Ranu. “Selamat pagi, Bu Hagia. Terima kasih ya sudah menyempatkan hadir hari ini.”“Selamat pagi, Bu Mia.”Guru itu tersenyum hangat. “Baik, kita mulai bahas tentang perkembangan Ranu selama satu tahun terakhir, ya.” Bu Mia mulai membolak-balikkan buku catatannya. “Sejauh ini perkembangan Ranu sangat baik. Dia aktif, cepat beradaptasi, dan rasa ingin tahunya tinggi. Hanya saja memang masih perlu sedikit dibimbing untuk lebih sabar menunggu giliran dan mengontrol emosinya.”Hagia mengangguk sambil tersenyum. “Iya, Bu. Di rumah juga kami masih terus belajar soal itu.”“Tapi untuk yang lain-lain, semuanya baik kok, Bu. Dan juga,” lanjut wali kelas, “karena ini sudah pembagian rapor sekaligus evaluas
“Ranu udah tidur, Mas?”Suara Hagia memecah keheningan apartemen. Megantara yang baru saja keluar dari kamar Ranu setelah memastikan putra mereka benar-benar terlelap, lantas menoleh ke arah dapur. Lampu dapur masih menyala. Hagia berdiri di depan wastafel, kedua tangannya sibuk mencuci piring bekas makan malam tadi. “Iya.” Lelaki itu mengayunkan langkah menuju dapur. “Baru aja tidur setelah dia cerita banyak hal.”Hagia terkekeh kecil. “Energinya nggak habis-habis kayaknya, ya? Dia selalu antusias sama hal-hal baru.”Megantara hanya tertawa kecil. Lalu tanpa menanggapi ucapan Hagia, kedua lengannya langsung melingkar di pinggang perempuan itu.“Mas!” Hagia berjengit kaget hingga spons di tangannya nyaris terjatuh. “Ya ampun! Kamu nggak lihat aku lagi ngapain?”Perempuan itu mendengus pelan. Namun alih-alih menyingkir, Megantara justru semakin mempererat dekapannya.“Mas, lepasin nggak! Aku lagi nyuci piring ini.”Sementara lelaki itu tidak menjawab. Dagunya ia sandarkan di bahu Hag
“Aku pulang ya, Ma.”Hagia dan Djiwa sudah berdiri di depan ruang rawat Auriga. Tatapan perempuan itu sempat menoleh ke arah Auriga yang sedang tertidur karena pengaruh obat.“Maaf aku nggak bisa nemenin Mama di sini.” Ia mengembuskan napas pelan. “Soalnya besok Ranu ada kegiatan di sekolah. Aku harus siapin semua keperluannya malam ini.”Djiwa mengangguk pelan. Raut wajahnya tampak jauh lebih tenang dibandingkan beberapa hari lalu.“Nggak apa-apa, Sayang. Kamu juga nggak bisa ninggalin Ranu lama-lama.” Djiwa mengulas senyuman kecil. “Kamu nggak usah khawatirin Papa, ya. Ada Mama di sini, kalau ada apa-apa nanti Mama bakalan ngabarin kamu.”Hagia mengangguk. “Bener ya, Ma. Besok aku usahakan ke sini sebelum Papa masuk ruang operasi.”“Iya.” Djiwa mengusap pelan pipi putrinya. “Hati-hati di jalan. Kabarin juga kalau udah sampai rumah.”“Iya, Ma.”Hagia melirik sekali lagi ke arah Auriga. Lelaki itu masih terlelap dengan selang infus yang terpasang di tangannya.Dadanya terasa sesak.Ay
“Kantor aman, kan?”Suasana Espresso Coffee siang itu tidak terlalu ramai. Megantara dan Kafka memilih duduk di sudut ruangan, jauh dari lalu lalang pengunjung dan keramaian. Di atas meja hanya ada dua cangkir kopi yang masih mengepulkan uap tipis. Megantara menyandarkan tubuhnya ke belakang, lalu menatap Kafka. Sementara Kafka yang baru saja menyesap kopinya langsung mengembuskan napas panjang.Lelaki itu meletakkan cangkirnya cukup keras di atas meja. “Aman apanya?” Ia mendecak pelan. “Emosi ya emosi, ya, Gan,” gerutu Kafka. “Cuma masalahnya sekarang gue yang harus muter otak tahu, nggak. Proyek-proyek yang udah jalan harus tetap jalan. Klien tetap harus dilayani. Tim juga harus tetap kerja.” Kafka mengusap wajahnya kasar. “Mana hampir semuanya lo yang handle. Begitu lo cabut... gue langsung diwarisin setumpuk masalah.”Megantara tersenyum penuh rasa bersalah. “Sorry.”“Sorry doang?” Kafka mendecak tak terima. “Belum lagi… anak-anak kantor masih ribut soal hubungan kalian. I mean,
“MBAAAAK!”Suara Arsenio menggema begitu pintu apartemen baru saja terbuka. Suara Arsenio menggema begitu pintu apartemen baru saja terbuka. Hagia yang masih memegang kain lap seketika tertegun.Belum sempat ia bereaksi, Arsenio sudah berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan terbuka lebar. Di belakangnya menyusul Risa, Kaluna, dan Sinta yang sama-sama membawa beberapa kantong belanja berisi camilan dan minuman. “Kalian kok bisa naik, sih?”“Bisa, dong. Kan gue sama satpam sini bestie-an,” kelakar Arsenio.Hagia terkekeh. Pandangannya tertuju pada Risa, Kaluna, dan Sinta. Kemudian memeluk mereka satu per satu. “Ya ampun, kalian baru balik ngantor?”“Iya. Sekalian pengen ngecek,” ujar Risa sambil menyeringai jahil, “mantan bos sama mantan rekan kerja kita masih hidup apa nggak.”Hagia tak kuasa menahan tawanya. “Ya ampun...”“Kangen sama Mbak Hagia...”Hagia hanya menggeleng geli. Sudut bibirnya terus terangkat. Sudah lama rasanya ia tidak tertawa selepas ini.“Ayo, masuk dulu.” Ha
“Mama benar-benar berterima kasih, Mas.” Suara Djiwa terdengar begitu hangat.Perempuan itu menoleh ke arah Megantara yang kini duduk di kursi ruang tunggu, tepatnya di depan ruang rawat Auriga. “Karena kamu mau mengantar anak Mama ke sini. Dia pasti panik sekali waktu dengar kabar Papanya dirawat.”Megantara mengulas senyuman kecil. “Nggak perlu berterima kasih, Ma. Sudah seharusnya aku menemani dia.”Tatapan Megantara sempat beralih ke pintu ruang perawatan yang masih tertutup rapat. Di dalam sana, Hagia dan Auriga tengah berbincang dari hati ke hati. Ia tahu ada banyak hal yang selama dua tahun terakhir belum pernah mereka selesaikan. Dan Megantara memilih memberi mereka ruang. Sementara itu, ia dan Djiwa menunggu di ruang tunggu. Suasana koridor rumah sakit terasa tenang. Beberapa perawat terlihat berlalu-lalang membawa berkas, sesekali terdengar suara roda brankar yang melintas dari kejauhan.“Mas Megan gimana kabarnya? Ranu sama siapa sekarang?” tanya Djiwa. Megantara menol
Entah bagaimana akhirnya malam itu Hagia, Megantara, dan Ranu benar-benar tertidur di dalam satu ranjang yang sama.Ranu berada di tengah, seperti yang ia mau.Bocah itu meringkuk nyaman sambil memeluk Megantara erat-erat dalam tidurnya. Salah satu kaki kecilnya bahkan menimpa paha lelaki itu tanpa
Mobil yang mereka kendarai akhirnya tiba di hotel.Lampu-lampu lobby masih menyala terang, memantul di kaca besar bagian depan bangunan. Suasana sudah jauh lebih sepi dibanding saat mereka berangkat tadi.Megantara menghentikan laju mobilnya tepat di depan lobi lalu menoleh ke samping. Hagia menol
Mobil yang mereka tumpangi akhirnya memasuki area Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta siang itu.Lalu lintas di depan terminal cukup padat. Deretan mobil bergantian menurunkan penumpang, suara troli beradu dengan lantai, dan pengumuman dari pengeras suara terdengar samar di antara riuh siang hari.Be
“Baik,” ucapnya akhirnya, suaranya terdengar lebih datar dari biasanya. “Sebelum kita lanjut, saya ingin tahu dulu alasan Pak Daren memilih Hagia untuk memegang proyek ini. Padahal di tim kami masih banyak arsitek lain yang pengalamannya jauh lebih matang.” Kalimat itu membuat Hagia spontan menoleh







