LOGIN
Pagi itu dimulai seperti biasa—tergesa, penuh daftar kecil yang harus dicentang sebelum waktu benar-benar habis.
Hagia baru saja selesai menyiapkan bekal untuk Ranu, putranya yang berusia lima tahun. Tangan kirinya masih memegang kotak makan berisi nasi, ayam goreng, dan sayur tumis sederhana, sementara tangan kanannya merapikan botol minum kecil berwarna biru kesukaan Ranu. “Mbak, tolong Ranu jangan dibolehin jajan es nanti, ya. Semalam dia udah mulai batuk soalnya,” kata Hagia pada Mbak Asri yang berdiri di dekat pintu, sudah siap dengan tas kecil milik Ranu di bahunya. “Iya, Mbak Hagia. Nanti saya awasi anaknya.” Hagia mengangguk pelan, lalu melangkah menghampiri Ranu yang tengah duduk di kursi makan. Anak itu terlihat fokus menyuap nasi, pipinya sedikit mengembung setiap kali mengunyah. “Ranu,” panggilnya lembut. Anak itu menoleh, mata bulatnya menatap polos. “Iya, Ma?” “Dengar kata Mama, kan? Kalau sampai nanti Ranu batuk-batuk kayak semalam, bakalan Mama suruh tidur di sofa. Mau?” Ranu langsung menggeleng cepat. “Nggak mau.” “Jadi?” “Iya, Ma. Nggak jajan es. Maaf.” Nada suaranya lirih, membuat dada Hagia menghangat sekaligus sedikit perih. Ia mengusap rambut anak itu pelan. “Pinter.” Setelahnya, Ranu kembali menikmati sarapannya. Sesekali ia bercerita tentang temannya di sekolah, tentang mainan baru, tentang hal-hal kecil yang bagi anak seusianya terasa besar dan menyenangkan. Hagia mendengarkan sambil sesekali tersenyum, meski pikirannya diam-diam sudah berlari ke kantor, ke deadline, ke meeting, ke segala hal yang menunggunya di sana. Tak lama, mereka berangkat. Hagia mengantar Ranu sampai ke depan rumah, memastikan tasnya sudah lengkap, sepatu terpasang dengan benar, dan wajahnya bersih dari sisa nasi. Ranu menggenggam tangan Mbak Asri, tapi sebelum benar-benar pergi, anak itu menoleh. “Mama nanti jemput?” Hagia terdiam sepersekian detik. “Kalau Mama nggak lembur, Mama jemput. Kalau nggak, Mbak Asri yang jemput, ya.” Ranu mengangguk, meski terlihat sedikit kecewa. “Iya, Ma.” Hagia membungkuk, mencium keningnya. “Hati-hati di sekolah.” “Bye, Mama!” “Bye, sayang.” Ia berdiri di sana sampai punggung kecil itu benar-benar menghilang di ujung jalan. Baru setelah itu ia menarik napas panjang, seolah baru mengizinkan dirinya kembali menjadi seseorang selain ibu, seorang karyawan, seorang arsitek, seseorang yang harus kuat dengan caranya sendiri. Perjalanan ke kantor pagi itu tidak jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Jalanan Jakarta sudah padat meski matahari belum terlalu tinggi. Klakson bersahutan, motor menyelip di antara mobil, dan Hagia hanya bisa menggenggam setir dengan sabar. Pikirannya melompat-lompat. Tentang Ranu. Tentang pekerjaan. Tentang tagihan yang harus dibayar minggu ini. Dan entah kenapa tentang masa lalu yang selalu ia coba simpan rapat-rapat. Ia menggeleng pelan, seolah menolak pikirannya sendiri. Tidak pagi ini. Gedung Rupa Rancang Nusantara berdiri megah seperti biasa dengan kaca tinggi yang memantulkan langit Jakarta yang sedikit berawan. Hagia melangkah masuk dengan langkah cepat, menyapa beberapa rekan kerja yang ia lewati. “Pagi, Hagia.” “Pagi.” Namun langkahnya tiba-tiba terhenti. Ada bisik-bisik kecil di sudut ruangan. Beberapa orang berkumpul lebih dekat dari biasanya. Nada suara mereka lebih pelan, tapi penuh antusias. Hagia mengernyit. “Ada apa?” tanyanya pada Sinta, rekan satu timnya, yang tampak tidak bisa menyembunyikan ekspresi penasaran. “Lo belum dengar kabar, Gi?” Sinta mendekat, suaranya diturunkan. “Hari ini atasan baru kita datang.” Hagia mengangkat alis. “Secepat itu? Bukannya minggu depan?” “Katanya dimajuin. Dan…” Sinta berhenti sejenak, matanya berbinar, “orangnya katanya gila sih track record-nya. Dari luar negeri, pernah pegang proyek besar.” Hagia mengangguk pelan, mencoba terlihat biasa saja. “Ya bagus, berarti kita bakal belajar banyak.” “Katanya juga… orangnya tegas banget. Dan termasuk salah satu pemegang saham kantor kita,” katanya lagi. “Semua atasan juga gitu, Sin.” “Iya sih, tapi ini beda katanya.” Hagia hanya tersenyum tipis. Ia tidak terlalu tertarik pada gosip kantor. Selama pekerjaannya jelas dan tidak mengganggu waktunya dengan Ranu, itu sudah cukup. Ia meletakkan tasnya di meja, menyalakan laptop, mencoba fokus pada pekerjaannya. Namun suasana kantor yang sedikit lebih tegang dari biasanya membuatnya sulit benar-benar tenggelam. Beberapa menit kemudian, suara dari arah ruang rapat terdengar. “Semua tim, tolong berkumpul sebentar.” Itu suara Kafka Birawa, project manager di Rupa Rancang Nusantara. Sinta langsung berdiri. “Ayo, ayo. Ini pasti dia.” Hagia menghela napas pelan, lalu ikut berdiri. Langkahnya tenang, tapi entah kenapa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Mereka berkumpul di ruang utama. Beberapa orang berdiri, beberapa lainnya duduk. Semua menatap ke arah pintu, menunggu. Dan kemudian pintu itu terbuka. Seseorang lelaki melangkah masuk. Postur tubuhnya terlihat tinggi, tegap. Jas yang membungkus tubuhnya terlihat rapi. Auranya terlihat… tidak asing. Hagia menoleh ke arah pintu, detik itu juga dunia Hagia seperti berhenti. Namanya belum disebut, tapi hatinya sudah lebih dulu tahu. Lelaki itu melangkah masuk dengan tenang, matanya menyapu ruangan dengan profesional. Dan ketika pandangan itu sampai pada Hagia semuanya runtuh dalam diam. “Perkenalkan…” Suara Kafka memecah keheningan, “ini adalah Head Architect baru kita… Bapak Megantara Adiwangsa. Beliau juga adalah salah satu pemegang saham terbesar di Rupa Rancang Nusantara.” Nama itu menggema. Hagia tidak bergerak, napasnya tercekat. Ia sama sekali tidak bereaksi. Pandangannya hanya menatap Megantara Adiwangsa yang tak lain adalah mantan suaminya. Lelaki yang pernah menjadi rumah… sekaligus alasan ia harus belajar hidup sendiri. Dan sekarang, lelaki itu berdiri di depan semua orang sebagai atasannya. Tatapan mereka bertemu. Singkat. Tajam. Sarat akan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Namun hanya dalam satu detik, Megantara menarik kembali semua emosinya. Wajahnya kembali datar, profesional, seolah tidak ada sejarah apa pun di antara mereka. “Selamat pagi,” ucapnya tenang. “Perkenalkan saya… Megantara Adiwangsa, head architect baru di sini. Semoga dengan kehadiran saya di sini bisa berkontribusi positif untuk Rupa Rancang Nusantara. Setelah perkenalan singkat itu, suasana kantor perlahan kembali seperti semula. Kursi-kursi yang tadi terisi penuh mulai kosong, langkah kaki berderap kembali ke arah meja masing-masing, dan suara keyboard yang saling bersahutan kembali mendominasi ruangan. Seolah tidak terjadi apa-apa. Seolah kemunculan Megantara Adiwangsa bukan sesuatu yang cukup besar untuk menggeser keseimbangan seseorang. Tapi bagi Hagia jelas tidak sesederhana itu. Perempuan itu duduk di kursinya, menatap layar laptop yang menyala tanpa benar-benar melihat isinya. Kursor berkedip pelan di sudut dokumen, seperti menunggu sesuatu yang tidak kunjung datang. Pikirannya berisik. Bukan karena marah. Bukan juga karena kaget semata. Lebih ke… bingung. Hubungannya dengan Megantara baik-baik saja. Tidak canggung, tidak bermusuhan. Mereka bahkan masih sering bertemu demi Ranu—mengantar, menjemput, sesekali makan bersama. Tidak ada pertengkaran, tidak ada jarak yang dibuat-buat. Tapi ini hal besar dan Megantara tidak mengatakan apa-apa pada Hagia. Hagia menghela napas pelan, lalu meraih ponselnya yang tergeletak di samping laptop. Jemarinya bergerak cepat, nyaris tanpa berpikir. — [Hagia Nadi Chandrakanta] Mas, kamu ngapain, sih? Kamu bercanda, kan? Sumpah, nggak lucu. — Masih tidak ada tanda-tanda pesan dibaca. Hagia menggigit bibir bawahnya pelan. — [Hagia Nadi Chandrakanta] Kamu sekarang jadi head architect di sini? Mas? Kenapa kamu nggak bilang apa-apa sama aku? — Ia menatap layar ponselnya, menunggu. Satu menit. Dua menit. Tiga menit dan tidak ada balasan. Hagia menjatuhkan ponselnya pelan ke meja. Pandangannya kosong beberapa saat, sebelum akhirnya ia menyandarkan punggung ke kursi. Megantara bukan tipe orang yang menghindar. Kalau memang ada sesuatu, biasanya lelaki itu akan menjelaskan dengan singkat, jelas, tanpa bertele-tele. Lalu kenapa sekarang diam? Apakah lelaki itu sedang sibuk? Atau… memang sengaja tidak membalas? “Gi?” Suara Sinta kembali menarik lamunannya. Hagia menoleh, sedikit terlambat. “Hm?” “Lo kenapa, sih? Sikap lo pagi ini aneh banget tahu, nggak.” Hagia menggeleng pelan. “Nggak apa-apa, kok.” “Jangan bilang lo kepikiran sama Pak Megan, ya?” “Dih, ngapain? Walaupun ya…, sempat kaget, sih. Mungkin kita perlu adaptasi aja nggak, sih.” Sinta terkekeh kecil, lalu kembali ke mejanya. “Belum lewat sehari kali, Gi. Udah ah, nggak usah mikir yang nggak-nggak!” Hagia hanya mengangguk tipis. Matanya tanpa sadar melirik ke arah ruang kerja di ujung ruangan. Dinding kaca dengan tirai yang setengah tertutup memperlihatkan siluet seseorang di dalamnya. Hagia mengalihkan pandangan cepat. Dadanya terasa sedikit tidak nyaman oleh perasaan yang terasa sulit untuk dijabarkannya. Hagia menghela napas panjang. Berusaha untuk memfokuskan diri pada pekerjaannya. Bersamaan dengan ponsel di atas meja bergetar pelan. Hagia refleks meraihnya. Harapannya naik sepersekian detik, lalu turun lagi. Bukan balasan dari Megantara. Hanya notifikasi email. Ia menghela napas pelan, menahan rasa kesal yang sebenarnya tidak terlalu ia pahami arahnya ke mana. Baru saja ia hendak meletakkan kembali ponselnya, layar itu kembali menyala. Kali ini nama itu muncul. ‘Papanya Ranu’ Hagia langsung membuka pesan itu. Singkat, seperti biasanya. — [Papanya Ranu] Ke ruangan saya sekarang. — Hagia menatap kalimat itu cukup lama. Tidak ada penjelasan. Tidak ada sapaan. Tidak ada balasan dari semua pertanyaannya tadi. ***Hagia masih duduk di meja kerjanya, tubuhnya sedikit condong ke depan, mata fokus menelusuri layar laptop yang sejak tadi tidak pernah benar-benar ia tinggalkan.Beberapa berkas terbuka di sekitarnya. Mulai dari print out desain bangunan, daftar material, hingga jadwal meeting dengan kepala mandor yang sudah dicoret-coret dengan catatan tambahan.Ujung penanya bergerak pelan, memberi tanda di beberapa bagian.Struktur fasad perlu disesuaikan.Material untuk area outdoor harus dipertimbangkan ulang.Jadwal meeting minggu depan terlalu padat.Ia bekerja cepat, tapi tetap teliti. Berusaha menenggelamkan dirinya sepenuhnya dalam pekerjaan. Seolah itu cukup untuk mengalihkan pikirannya dari hal lain yang sejak siang tadi tidak benar-benar pergi.Sesekali, tanpa sadar, ia berhenti.Bukan karena tidak tahu harus melanjutkan apa, tapi karena pikirannya melayang pada apa yang terjadi hari ini.Keberadaan Megantara membuat semua tatanan hidupnya mulai terusik. Selama ini Hagia merasa nyaman saa
Megantara duduk di ujung meja panjang di sebuah meeting room. Ruangan itu dipenuhi cahaya dari jendela besar di samping, memantulkan bayangan orang-orang yang duduk mengelilingi meja dengan laptop dan berkas masing-masing.Perhatiannya tertuju lurus ke depan.Arsenio berdiri di dekat layar proyektor, menjelaskan dengan cukup percaya diri tentang konsep pembangunan restoran baru di Jakarta. Slide demi slide berganti, menampilkan desain fasad, layout ruang, hingga konsep pencahayaan yang diusung.“Konsep utamanya industrial modern dengan sentuhan lokal, Pak,” jelas Arsenio, menunjuk salah satu gambar. “Kita main di material exposed, tapi tetap hangat lewat lighting dan elemen kayu.”Megantara tidak menyela.Ia duduk tegak, satu tangan memegang pulpen, sesekali mencatat sesuatu di atas kertas di depannya. Tatapannya fokus, berpindah dari layar ke Arsenio, lalu ke detail gambar yang ditampilkan.Sesekali ia mengangguk kecil.Sesekali mengernyit.“Di bagian outdoor, kita rencanakan semi-op
“Gi, mau ke mana?”Hagia yang sudah berdiri sambil merapikan map di tangannya menoleh sekilas. Sinta bersandar di sandaran kursinya, memutar badan setengah menghadap Hagia dengan ekspresi penasaran yang tidak ditutup-tutupi.“Mau nganterin berkas proyek Cilandak ke Pak Megantara, Sin.”Alis Sinta langsung terangkat tinggi. “Widih, baru juga pertama kerja, udah main terabas saja. Hati-hati, Gi.”Hagia mengernyit. “Hati-hati kenapa?”Sinta menyeringai, mencondongkan tubuh sedikit. “Takutnya lo langsung digigit nanti,” kekehnya.Hagia mendengus pelan, memutar mata. “Sembarangan lo, ah!”Namun langkahnya tidak berhenti. Map berkas ia pegang sedikit lebih erat dari seharusnya. Entah karena kesal dengan ucapan Sinta, atau karena sesuatu yang lain, sesuatu yang sejak tadi terus mengganjal di dadanya.Lorong menuju ruang kepala arsitek itu tidak terlalu panjang. Tapi pagi itu terasa… berbeda.Beberapa pasang mata sempat melirik ke arahnya. Ada yang sekadar lewat, ada yang jelas-jelas memperha
Megantara baru saja duduk di kursi kerjanya. Ruangan itu masih terasa asing, meski desainnya sederhana—meja kerja berbahan kayu gelap, rak buku yang belum sepenuhnya terisi, dan jendela lebar yang menghadap langsung ke hiruk-pikuk Jakarta.Ia menyandarkan punggungnya, menarik napas panjang.Baru beberapa jam yang lalu dan rasanya sudah seperti seharian penuh.Pintu ruangan itu tertutup, tapi tidak benar-benar memberi ketenangan. Suara samar aktivitas di luar masih terdengar, seperti suara langkah kaki, percakapan singkat, dan sesekali tawa kecil.Namun di dalam ruangan ini, suasananya berbeda. Lebih… personal.Kafka berdiri tidak jauh dari meja, menyandarkan tubuhnya santai dengan tangan bersedekap. Tatapannya tertuju pada Megantara, seolah sejak tadi sudah menahan sesuatu untuk dikatakan.“Lo yakin mau melanjutkan semua ini, Gan?”Megantara tidak langsung menjawab. Ia membuka kancing jasnya, lalu sedikit merapikan posisi duduk.Kafka menghela napas pendek, lalu melanjutkan, nada suar
Pagi itu dimulai seperti biasa—tergesa, penuh daftar kecil yang harus dicentang sebelum waktu benar-benar habis.Hagia baru saja selesai menyiapkan bekal untuk Ranu, putranya yang berusia lima tahun. Tangan kirinya masih memegang kotak makan berisi nasi, ayam goreng, dan sayur tumis sederhana, sementara tangan kanannya merapikan botol minum kecil berwarna biru kesukaan Ranu.“Mbak, tolong Ranu jangan dibolehin jajan es nanti, ya. Semalam dia udah mulai batuk soalnya,” kata Hagia pada Mbak Asri yang berdiri di dekat pintu, sudah siap dengan tas kecil milik Ranu di bahunya.“Iya, Mbak Hagia. Nanti saya awasi anaknya.”Hagia mengangguk pelan, lalu melangkah menghampiri Ranu yang tengah duduk di kursi makan. Anak itu terlihat fokus menyuap nasi, pipinya sedikit mengembung setiap kali mengunyah.“Ranu,” panggilnya lembut.Anak itu menoleh, mata bulatnya menatap polos. “Iya, Ma?”“Dengar kata Mama, kan? Kalau sampai nanti Ranu batuk-batuk kayak semalam, bakalan Mama suruh tidur di sofa. Mau







