ログイン“Gi, mau ke mana?”
Hagia yang sudah berdiri sambil merapikan map di tangannya menoleh sekilas. Sinta bersandar di sandaran kursinya, memutar badan setengah menghadap Hagia dengan ekspresi penasaran yang tidak ditutup-tutupi. “Mau nganterin berkas proyek Cilandak ke Pak Megantara, Sin.” Alis Sinta langsung terangkat tinggi. “Widih, baru juga pertama kerja, udah main terabas saja. Hati-hati, Gi.” Hagia mengernyit. “Hati-hati kenapa?” Sinta menyeringai, mencondongkan tubuh sedikit. “Takutnya lo langsung digigit nanti,” kekehnya. Hagia mendengus pelan, memutar mata. “Sembarangan lo, ah!” Namun langkahnya tidak berhenti. Map berkas ia pegang sedikit lebih erat dari seharusnya. Entah karena kesal dengan ucapan Sinta, atau karena sesuatu yang lain, sesuatu yang sejak tadi terus mengganjal di dadanya. Lorong menuju ruang kepala arsitek itu tidak terlalu panjang. Tapi pagi itu terasa… berbeda. Beberapa pasang mata sempat melirik ke arahnya. Ada yang sekadar lewat, ada yang jelas-jelas memperhatikan. Mungkin karena ia dipanggil langsung di hari pertama atasan baru datang. Atau mungkin… karena gosip yang mulai beredar. Hagia tidak peduli. Ia berhenti tepat di depan pintu. Napasnya ia atur sekali. Dua kali. Lalu tangannya mengetuk pintu. “Masuk.” Suara itu terdengar dari dalam, tenang, datar, terlalu familiar. Hagia langsung membuka pintu tanpa ragu. Dan detik itu juga semua yang sejak tadi ia tahan, pecah. “Mas!” Suaranya langsung memenuhi ruangan, tidak keras berlebihan, tapi cukup untuk menunjukkan emosi yang tidak lagi ia sembunyikan. “Bisa nggak kamu jelasin semua ini?” Pintu tertutup di belakangnya. Megantara yang tadi berdiri di dekat meja, perlahan menoleh. Wajahnya tetap tenang, seperti yang Hagia lihat sejak pagi tadi. Tapi matanya tidak sepenuhnya netral. Ada sesuatu di sana. Tipis, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia sudah menduga ini akan terjadi. “Duduk dulu,” ucapnya pelan. “Nggak usah,” potong Hagia cepat. Ia melangkah mendekat, map berkas masih di tangannya, tapi jelas bukan itu yang jadi fokus. “Kamu pikir ini bisa dianggap biasa aja?” lanjutnya. “Tiba-tiba muncul di kantor aku, jadi atasan aku, tanpa bilang apa-apa sebelumnya?” Megantara menarik napas pelan. Ia tidak langsung menjawab. Hagia menggeleng kecil, setengah tidak percaya. “Kita itu bukan orang asing, Mas.” Panggilan itu terdengar lebih tajam dari biasanya. “Kalau kamu pindah kerja, itu bukan hal kecil. Apalagi sampai jadi head architect di sini.” Megantara akhirnya bergerak, melangkah pelan mendekat. Jarak di antara mereka kini hanya terpisah meja. “Aku tahu,” katanya. “Tahu?” ulang Hagia. “Kalau tahu, kenapa nggak bilang?” Nada suaranya naik sedikit, bukan karena marah sepenuhnya, lebih ke campuran kecewa dan bingung yang belum terurai. Megantara menatapnya lurus. Tidak menghindar. “Aku mau bilang.” “Kapan?” potong Hagia lagi. “Pas aku udah datang ke sini sebagai atasan aku, dan aku sebagai bawahan kamu?” Sunyi sejenak. Megantara tidak membalas dengan emosi yang sama. Justru itu yang membuat suasana terasa semakin berat. “Aku baru dapat keputusan final tiga hari lalu,” ucapnya tenang. Hagia langsung menjawab, cepat. “Tiga hari itu cukup buat ngabarin aku.” Megantara mengangguk kecil. “Iya.” Jawaban itu membuat Hagia terdiam sepersekian detik. Lagi-lagi tidak ada pembelaan. Tidak ada alasan panjang. Hanya pengakuan yang terlalu sederhana. “Terus kenapa nggak ngabarin?” tanyanya lagi, kali ini lebih pelan. Lebih… jujur. Megantara menghela napas pelan, menurunkan pandangannya sejenak sebelum kembali menatap Hagia. “Aku nggak mau ngomong ini lewat chat atau telepon.” Hagia mengernyit. “Kenapa?” “Karena ini bukan hal kecil.” Jawaban itu menggantung. Beberapa detik, mereka hanya saling menatap. Lalu Megantara melanjutkan, suaranya lebih rendah. “Aku mau jelasin langsung ke kamu.” Hagia terdiam. Emosinya masih ada, jelas. Tapi ada sesuatu dalam cara Megantara bicara yang membuatnya tidak bisa langsung memotong lagi. “Dan aku nggak nyangka kalau kamu bakalan semarah ini,” tambah Megantara. Hagia menghembuskan napas pelan, mengalihkan pandangan sejenak ke arah jendela sebelum kembali menatapnya. Namun kali ini, Hagia tidak langsung meledak. Ia menatap lelaki di depannya itu lebih lama. Wajah yang sangat ia kenal. Cara berdiri yang sama. Cara menahan emosi yang sama. Dan entah kenapa itu justru membuat dadanya terasa semakin sesak. “Kamu tahu kalau ini bakal ribet kan, Mas?” ucap Hagia akhirnya. Megantara tidak langsung menjawab. “Aku kerja di sini,” lanjut Hagia. “Kamu atasan aku. Orang-orang bakal ngomongin kita.” “Aku tahu.” “Dan aku nggak mau…” Hagia berhenti sejenak, memilih kata, “… Ranu kena dampaknya.” Nama itu membuat suasana berubah. Megantara menatapnya lebih dalam. “Aku juga nggak mau,” jawabnya tegas. Hagia menelan pelan. “Makanya aku butuh tahu,” lanjutnya. “Kamu ini sebenarnya mau apa?” Pertanyaan itu jatuh di antara mereka. Bukan hanya tentang pekerjaan. Bukan hanya tentang keputusan pindah. Tapi… lebih dari itu. Megantara terdiam beberapa detik. Cukup lama untuk membuat detak jantung Hagia terasa lebih keras di telinganya sendiri. Lalu akhirnya, “Aku mau lebih dekat sama Ranu,” katanya. Sederhana. Tapi cukup untuk membuat Hagia membeku sesaat. Hagia menatapnya tanpa berkedip. Dan untuk pertama kalinya sejak masuk ke ruangan itu amarahnya tidak hilang. Tapi… mulai bercampur dengan sesuatu yang lain. Sesuatu yang jauh lebih sulit untuk ia hadapi. “Mas alasan kamu tuh nggak masuk akal. Emang gimana biasanya, sih? Selama dua tahun ini kan kamu juga jauh sama Ranu. Dan semua baik-baik saja. Kenapa sih, kamu sampai nekat begini, hm? Mama tahu soal kamu pindah ke sini? Dan setuju?” Nada suara Hagia terdengar lebih tajam sekarang. Bukan sekadar mempertanyakan, tapi menahan sesuatu yang lebih dalam. Megantara menatapnya tanpa menghindar. Rahangnya sedikit mengeras, tapi suaranya tetap dijaga rendah. “Aku udah jelasin ke Mama kalau aku mau dekat dengan Ranu. Ini soal hidup aku, Nadi. Aku yang paling berhak memutuskan semuanya.” Panggilan itu—Nadi—membuat sesuatu di dalam diri Hagia bergetar pelan. Sudah lama ia tidak mendengarnya diucapkan seperti itu. Namun emosi yang sedang naik membuatnya tidak sempat tenggelam terlalu jauh. “Mas, tahu nggak keputusan kamu tuh bisa aja nyakitin Mama tahu nggak?” lanjutnya cepat. “Mama yang minta kamu pindah ke Singapura. Jadi—” “Menurut kamu Mama jauh lebih butuh aku ketimbang Ranu, begitu?” Kalimat itu memotong. Dan membuat Hagia seketika bungkam. Bibirnya terbuka, tapi tidak ada kata yang keluar. Megantara tidak meninggikan suara. Justru karena itu, setiap katanya terasa lebih dalam. “Alasan aku pindah ke Jakarta sederhana, Nadi,” lanjutnya. “Aku cuma nggak mau Ranu kehilangan peran seorang ayah.” Sunyi menyelimuti ruangan. “Aku tahu selama ini aku yang mencukupi kebutuhan kalian secara materi,” sambungnya, kali ini sedikit lebih pelan. “Tapi itu saja nggak cukup.” Hagia menunduk sedikit. Napasnya terasa berat. “Kita sudah sepakat buat ngebesarin Ranu sama-sama, ingat?” Kalimat itu seperti menarik sesuatu dari masa lalu, sebuah janji yang dulu mereka ucapkan dengan keyakinan penuh, tanpa tahu akan berakhir seperti sekarang. Hagia masih bungkam. Ingatan itu datang begitu saja. Tentang malam panjang di rumah sakit. Tentang keputusan yang diambil berdua. Tentang Ranu yang menjadi alasan mereka bertahan… bahkan saat hubungan mereka tidak lagi utuh. Namun tetap ada satu hal yang mengganjal. Hagia mengangkat wajahnya kembali. “Tapi, Mas…” suaranya kali ini lebih rendah, tapi tetap tegas. “Kenapa harus di sini? Emang nggak ada kerjaan lain yang bisa kamu ambil, hm?” Megantara menatapnya sejenak, lalu menjawab tanpa ragu. “Rupa Rancang Nusantara juga salah satu aset yang aku punya. Kali aja kamu lupa.” Ia berhenti sebentar, memberi jeda yang tipis tapi terasa. “Ada namaku di sini.” Hagia mendecak pelan, jelas tidak suka dengan jawaban itu. “Terserah kamu deh, Mas,” katanya akhirnya, menghela napas. “Tapi ingat satu hal…” Tatapannya mengunci Megantara. Kali ini benar-benar serius. “Aku nggak mau orang-orang tahu kalau kamu adalah mantan suami aku!” Megantara tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Hagia, cukup lama. Seolah menimbang sesuatu. Lalu akhirnya, ia mengangguk pelan. “Itu juga yang aku mau.” Hagia sedikit tertegun. “Apa?” “Aku juga nggak mau orang kantor tahu.” Megantara menarik napas pelan, lalu bersandar sedikit ke kursinya. “Aku nggak mau posisi kamu jadi sulit,” katanya. “Orang-orang bisa mikir kamu dapat perlakuan khusus.” Hagia terdiam. “Dan aku juga nggak mau…” Megantara berhenti sejenak, memilih kata, “… nama kamu dibawa-bawa ke arah yang nggak perlu.” Nada suaranya tetap datar, tapi ada sesuatu yang terasa jelas di sana, seperti perlindungan. Hagia menatapnya lebih lama. Emosinya belum hilang. Kesalnya masih ada. Tapi di saat yang sama… ada bagian kecil dalam dirinya yang mengerti. Yang tahu Megantara tidak asal mengambil keputusan ini. Yang tahu semua ini memang tentang Ranu. Dan mungkin… sedikit tentang mereka. “Bagus kalau kepikiran sampai sejauh itu,” ujar Hagia akhirnya. “Jadi kita profesional di kantor,” jawab Megantara. “Di luar itu… kita tetap seperti biasa. Untuk Ranu.” Hagia menghela napas panjang. Hanya menggumam pelan. Sebelum kemudian berbalik dan meninggalkan ruangan Megantara.Entah sudah berapa lama Hagia berdiam diri di depan wastafel. Kedua telapak tangannya bertumpu pada permukaan marmer dingin, sementara kepalanya tertunduk lemah.Perlahan ia mengangkat wajahnya. Tatapannya bertemu dengan pantulan dirinya sendiri di cermin.Wajahnya terlihat jauh lebih pucat daripada biasanya. Bahkan bibirnya kehilangan warna. Ia memutar keran, membasuh wajahnya dengan air dingin beberapa kali. Berharap rasa pening yang sejak tadi mengganggunya bisa sedikit mereda. Namun yang datang justru rasa mual.Hagia buru-buru memejamkan mata. Satu tangannya refleks menekan pelan ulu hati. Napasnya diatur perlahan hingga rasa bergolak di perutnya sedikit demi sedikit mereda.“Aku nggak mungkin hamil, kan?”Ia kembali menatap bayangannya di cermin. Kata-kata Raga kembali terngiang di kepalanya.“Kamu nggak hamil kan, Mbak?”Hagia menggeleng pelan. Berusaha mengusir pikiran itu.“Nggak mungkin…” Ia menggeleng pelan. Namun, alih-alih merasa tenang, dadanya justru semakin dipenuhi ke
“Nadi!”Mendengar suara itu, Hagia seketika menoleh cepat. Kemudian ia tertegun. “Mas? Kamu kok di sini?”Hagia bangkit dari duduknya. Menatap bingung lelaki yang baru saja tiba di hadapannya. “Raga bilang kamu lagi nggak enak badan. Kamu sakit?”Megantara menatap cemas Hagia. Namun alih-alih menjawab pertanyaan perempuan itu, ia langsung mengulurkan tangan. Telapak tangannya menyentuh lembut kening Hagia.Beberapa detik ia terdiam. “Kamu nggak demam. Tapi wajah kamu pucat.” Ia mengernyit. “Kenapa? Ada yang lagi kamu pikirin?”Hagia menggeleng pelan. “Mas, aku nggak apa-apa. Kenapa kamu ke sini, sih? Ranu mana?”Megantara mengembuskan napas pelan. “Pas Raga telepon tadi, aku langsung minta Mbak Vanessa jemput Ranu. Aku khawatir sama kamu.”Mendengar itu, sudut bibir Hagia perlahan terangkat. Ia menggenggam balik tangan Megantara yang masih berada di pipinya.“Aku nggak apa-apa kok, Mas. Raga tuh berlebihan.”Megantara menggeleng pelan. “Nggak. Kamu memang kelihatan capek banget.” Tat
“Operasinya berjalan dengan lancar. Untuk saat ini Pak Auriga masih berada dalam pengaruh obat bius. Sebentar lagi beliau akan dipindahkan ke ruang rawat untuk menjalani masa pemulihan.”Penjelasan singkat dari Dokter Trenggana seketika mengangkat beban yang sejak tadi menghimpit dada mereka.Hagia menutup kedua matanya sesaat. Tanpa sadar, embusan napas lega keluar dari bibirnya. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya luruh di wajahnya.“Alhamdulillah...”Djiwa yang berdiri di sampingnya ikut mengusap sudut matanya. “Terima kasih banyak, Dokter.”Hagia mengangguk berkali-kali. “Terima kasih, Dokter Trenggana.”Dokter itu membalas dengan senyum hangat. “Sekarang biarkan Pak Auriga beristirahat dulu. Nanti setelah efek obat bius mulai berkurang, keluarga sudah boleh menemui beliau.”“Baik, Dok.”Setelah berpamitan, Dokter Trenggana beserta tim medis berjalan meninggalkan lorong ruang operasi.Suasana lorong kembali hening. Hagia masih berdiri mematung. Kepalanya yang tadinya teras
“You okay?”Pertanyaan itu meluncur pelan dari bibir Megantara. Sejak tadi lelaki itu beberapa kali mencuri pandang ke arah Hagia.Wajah perempuan itu terlihat lebih pucat dari biasanya. Sorot matanya pun tampak kosong, seolah pikirannya sedang berada di tempat lain.“Sayang...” Megantara meraih pelan tangan Hagia yang berada di atas meja. “Kepikiran Papa, ya?”Hagia tak langsung menjawab. Ia lebih dulu menoleh ke arah playground yang berada tak jauh dari restoran. Di sana, Ranu masih asyik bermain perosotan bersama anak-anak lain.Baru setelahnya, ia mengembuskan napas panjang.“Kayaknya aku lagi mood swing banget, deh, Mas.” Hagia menggigit bibirnya. “Udah mau jadwal mens.”Megantara mengangguk pelan. “Oke. Terus sekarang kenapa? Ada yang bikin kamu kepikiran?”Hagia menggigit pelan bibir bawahnya. “Mas...”“Hm?”“Hari ini aku kayaknya berlebihan banget sama Ranu.”Megantara mengernyit. “Kenapa sama Ranu? Hasil evaluasi di sekolah bagus kan, kata kamu?”“Iya.” Hagia mengangguk pelan
Suasana sekolah pagi itu cukup ramai. Beberapa orang tua tampak berjalan keluar masuk ruang kelas, sementara yang lain masih duduk bersama wali kelas untuk mendengarkan evaluasi perkembangan anak-anak mereka.Pun begitu dengan Hagia yang kini tengah duduk berhadapan dengan Bu Mia, wali kelas Ranu. “Selamat pagi, Bu Hagia. Terima kasih ya sudah menyempatkan hadir hari ini.”“Selamat pagi, Bu Mia.”Guru itu tersenyum hangat. “Baik, kita mulai bahas tentang perkembangan Ranu selama satu tahun terakhir, ya.” Bu Mia mulai membolak-balikkan buku catatannya. “Sejauh ini perkembangan Ranu sangat baik. Dia aktif, cepat beradaptasi, dan rasa ingin tahunya tinggi. Hanya saja memang masih perlu sedikit dibimbing untuk lebih sabar menunggu giliran dan mengontrol emosinya.”Hagia mengangguk sambil tersenyum. “Iya, Bu. Di rumah juga kami masih terus belajar soal itu.”“Tapi untuk yang lain-lain, semuanya baik kok, Bu. Dan juga,” lanjut wali kelas, “karena ini sudah pembagian rapor sekaligus evaluas
“Ranu udah tidur, Mas?”Suara Hagia memecah keheningan apartemen. Megantara yang baru saja keluar dari kamar Ranu setelah memastikan putra mereka benar-benar terlelap, lantas menoleh ke arah dapur. Lampu dapur masih menyala. Hagia berdiri di depan wastafel, kedua tangannya sibuk mencuci piring bekas makan malam tadi. “Iya.” Lelaki itu mengayunkan langkah menuju dapur. “Baru aja tidur setelah dia cerita banyak hal.”Hagia terkekeh kecil. “Energinya nggak habis-habis kayaknya, ya? Dia selalu antusias sama hal-hal baru.”Megantara hanya tertawa kecil. Lalu tanpa menanggapi ucapan Hagia, kedua lengannya langsung melingkar di pinggang perempuan itu.“Mas!” Hagia berjengit kaget hingga spons di tangannya nyaris terjatuh. “Ya ampun! Kamu nggak lihat aku lagi ngapain?”Perempuan itu mendengus pelan. Namun alih-alih menyingkir, Megantara justru semakin mempererat dekapannya.“Mas, lepasin nggak! Aku lagi nyuci piring ini.”Sementara lelaki itu tidak menjawab. Dagunya ia sandarkan di bahu Hag
“Jangan telat ya, Gan. Gue udah jalan ini. Lo tahu sendiri kalau gue nggak suka ngaret.”Megantara menghela napas pendek. Lelaki itu baru saja selesai mengancingkan kemejanya. “Iya. Aku udah siap, Mbak.” Ia melirik ke samping. “Tapi, Mbak, aku ngajak Ranu nggak apa-apa, kan?”“Nggak apa-apa. Gue ju
Megantara mengembuskan napas pelan. Tatapannya terpaku di depan sana, memperhatikan Hagia yang tengah berdiri di dekat layar presentasi sambil menjelaskan detail proyek yang sedang mereka kerjakan untuk Astu Group.Perempuan itu mengenakan kemeja putih dengan rambut yang disanggul sederhana. Tangan
Hagia menahan napasnya saat jemari Megantara mulai membuka kancing kemejanya satu per satu.Gerakannya lambat. Namun justru itu yang membuat jantung Hagia semakin kacau.“Mas…”Suara perempuan itu terdengar melemah.Megantara mengangkat satu tangan, ibu jarinya menyentuh pelan bibir Hagia seolah me
Mobil yang mereka kendarai akhirnya tiba di hotel.Lampu-lampu lobby masih menyala terang, memantul di kaca besar bagian depan bangunan. Suasana sudah jauh lebih sepi dibanding saat mereka berangkat tadi.Megantara menghentikan laju mobilnya tepat di depan lobi lalu menoleh ke samping. Hagia menol







