Home / Rumah Tangga / Hello, Mantan! / 2. Megantara Adiwangsa

Share

2. Megantara Adiwangsa

Author: IKYURA
last update publish date: 2026-04-10 13:16:14

Megantara baru saja duduk di kursi kerjanya. Ruangan itu masih terasa asing, meski desainnya sederhana—meja kerja berbahan kayu gelap, rak buku yang belum sepenuhnya terisi, dan jendela lebar yang menghadap langsung ke hiruk-pikuk Jakarta.

Ia menyandarkan punggungnya, menarik napas panjang.

Baru beberapa jam yang lalu dan rasanya sudah seperti seharian penuh.

Pintu ruangan itu tertutup, tapi tidak benar-benar memberi ketenangan. Suara samar aktivitas di luar masih terdengar, seperti suara langkah kaki, percakapan singkat, dan sesekali tawa kecil.

Namun di dalam ruangan ini, suasananya berbeda. Lebih… personal.

Kafka berdiri tidak jauh dari meja, menyandarkan tubuhnya santai dengan tangan bersedekap. Tatapannya tertuju pada Megantara, seolah sejak tadi sudah menahan sesuatu untuk dikatakan.

“Lo yakin mau melanjutkan semua ini, Gan?”

Megantara tidak langsung menjawab. Ia membuka kancing jasnya, lalu sedikit merapikan posisi duduk.

Kafka menghela napas pendek, lalu melanjutkan, nada suaranya setengah serius, setengah tidak percaya. “Sumpah, lo nekat banget, sih. Lo ninggalin perusahaan segede itu… cuma demi perusahaan sekecil ini.”

Kata sekecil itu menggantung sebentar di udara. Bukan merendahkan lebih ke… mempertanyakan.

Megantara mengangkat wajah. Tatapannya langsung mengunci pada Kafka. Tenang, tapi tegas. Ia tahu persis arah pembicaraan ini akan ke mana. Dan ia juga tahu Kafka tidak akan berhenti sebelum mendapat jawaban jujur.

“Gue nggak punya pilihan, Ka,” ucapnya akhirnya.

Nada suaranya rendah, tapi tidak goyah.

Kafka mengernyit. “Nggak punya pilihan? Sejak kapan lo jadi orang yang kepepet, Gan?”

Megantara tersenyum tipis, hampir tidak terlihat. “Sejak ada Ranu.”

Nama itu membuat Kafka terdiam sepersekian detik.

Megantara melanjutkan, kali ini lebih pelan. “Gue nggak bisa ninggalin Hagia sendirian ngurusin Ranu.”

Kafka menatapnya beberapa detik lebih lama, seolah menimbang kata-kata itu. Lalu, sudut bibirnya terangkat, senyum miring yang khas.

“Halah,” ia mendecih ringan, “bilang aja kalau masih cinta sama mantan.”

Megantara tidak langsung membantah. Dan itu… sudah jadi jawaban.

Lelaki itu mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Lalu lintas di bawah sana tampak kecil dari ketinggian, kendaraan bergerak seperti aliran yang tidak pernah benar-benar berhenti.

“Perasaan itu nggak pernah benar-benar hilang, Ka,” katanya akhirnya, pelan. “Cuma… bentuknya yang berubah.” Megantara menarik napas, lalu kembali menatap temannya. “Sekarang bukan soal gue sama dia lagi.”

“Terus?”

“Ada Ranu, yang menjadi tanggung jawab kami berdua.”

Jawaban itu sederhana. Tapi cukup untuk menjelaskan banyak hal.

Kafka mengangguk pelan, meski ekspresinya masih belum sepenuhnya puas. “Oke. Gue ngerti soal anak. Tapi tetep aja, Gan… lo bisa bantu tanpa harus pindah ke sini. Lo punya resources, punya posisi—”

“Dan jarak,” potong Megantara.

Nada suaranya masih tenang, tapi kali ini lebih tegas.

Kafka diam.

“Lo tahu sendiri kerjaan gue dulu kayak apa,” lanjut Megantara. “Meeting luar negeri, proyek berbulan-bulan, pulang nggak tentu. Gue bahkan sering nggak ada waktu buat sekadar nelepon.”

Ia berhenti sejenak, rahangnya sedikit mengeras.

“Dan gue udah pernah gagal di situ.”

Kafka menghela napas pelan, menyandarkan punggungnya ke dinding. “Oke,” gumamnya. “Jadi ini… cara lo buat benerin semuanya?”

Megantara menggeleng pelan.

“Bukan buat benerin.”

“Terus?”

“Buat nggak ngulang kesalahan yang sama.”

Sunyi kembali mengisi ruangan. Kafka menatap Megantara lebih lama, kali ini tanpa candaan. Ada sesuatu di wajahnya, semacam pengertian yang akhirnya sampai.

Namun tentu saja, itu tidak menghentikannya untuk kembali menyenggol.

“Jadi…” Kafka mengangkat bahu ringan, “kalian mau… backstreet?”

Megantara menoleh, menatapnya datar. “Itu lebih baik.”

Kafka terkekeh kecil. “Serius lo?”

Megantara mengangguk sekali. “Gue nggak mau orang-orang mikir yang nggak-nggak tentang Hagia.”

Nama itu disebut dengan hati-hati. Seperti sesuatu yang dijaga.

“Dan juga,” lanjutnya, “Hagia pasti nggak akan setuju kalau orang-orang tahu soal hubungan kami.”

Kafka menghembuskan napas panjang, lalu mengangguk pelan. “Oke.”

Satu kata. Tapi cukup sebagai tanda bahwa ia mengerti atau setidaknya, memilih untuk tidak memperdebatkan lagi.

Namun beberapa detik kemudian, Kafka kembali bicara, kali ini lebih pelan. “Lo udah bilang ke dia?”

Megantara terdiam. Pertanyaan sederhana itu… justru yang paling sulit dijawab.

Ia mengalihkan pandangan, menatap meja di depannya. Ujung jarinya mengetuk pelan permukaan kayu, ritme kecil yang tidak ia sadari. “Belum,” jawabnya akhirnya.

Kafka mengangkat alis. “Serius?”

Megantara mengangguk. “Gue rencananya mau ngomong langsung. Walaupun, ya… dia pasti ngamuk setelah ini.”

“Jelaslah, Monyet.” Kafka menghela napas, setengah tertawa. “Lo malah muncul tiba-tiba sebagai bosnya. Siapa coba yang nggak ngamuk?”

Megantara menutup mata sejenak, lalu membuka lagi. “Makanya. Palingan bentar lagi ngamuknya. Gue udah hafal banget gimana dia.”

Kafka menggeleng, tidak habis pikir. “Gila sih lo.”

Megantara tidak membalas. Hanya tersenyum tipis, senyum yang lebih banyak mengandung lelah daripada lucu. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap kosong ke depan.

“Well, malah gitu lo lanjutin, deh. Berkas-berkas proyek yang lagi kita handle udah ada di meja lo semuanya. Termasuk orang-orang yang bertanggung jawab di situ. Lo bisa pelajari dulu.”

“Oke, Ka. Thanks.”

Pintu ruangan itu sudah tertutup dan kini hanya menyisakan Megantara seorang diri dengan pikirannya.

Untuk sesaat, Megantara hanya duduk diam, menatap berkas di atas mejanya tanpa benar-benar berniat membukanya. Ujung jarinya menyentuh permukaan kertas itu, tapi tidak bergerak lebih jauh.

Ia menghembuskan napas pelan. Tepat saat ia hendak membuka berkas tersebut, layar ponselnya menyala.

Nama itu muncul.

‘Mamanya Ranu’

Refleks, Megantara langsung meraih ponselnya. Tatapannya turun, membaca deretan pesan yang masuk.

_

[Mamanya Ranu]

“Mas, kamu ngapain, sih?”

“Kamu bercanda, kan?”

“Sumpah, nggak lucu.”

“Kamu sekarang jadi head architect di sini?”

“Mas?”

“Kenapa kamu nggak bilang apa-apa sama aku?”

_

Sudut bibir Megantara perlahan tertarik ke atas. Bukan karena lucu. Lebih ke… familiar.

Nada itu—campuran kesal dan bingung—tidak pernah benar-benar berubah sejak dulu.

Ia bahkan bisa membayangkan ekspresi Hagia saat mengetik semua itu. Alis sedikit berkerut, bibir mengerucut tipis, mata fokus ke layar tapi pikirannya ke mana-mana.

Megantara menggeleng kecil. Tanpa berpikir lama, ia mengetik balasan.

_

[Megantara Adiwangsa]

Ke ruangan saya sekarang

_

Pesan itu terkirim. Belum sampai satu menit, layar kembali menyala. Kemudian Megantara membuka pesan masuk itu.

_

[Mamanya Ranu]

Telepon aku sekarang. Suruh aku bawa berkas kerjaan. Aku ke ruangan kamu sekarang juga!

Kali ini, senyumnya sedikit lebih jelas. Masih sama. Selalu langsung ke inti.

Megantara menggeser ibu jarinya, menekan line telepon untuk memanggil. Nada sambung terdengar sekali dan lalu langsung terangkat.

“Halo? Dengan Hagia ada yang bisa dibantu?”

Suara itu terdengar di telinganya, membuat sudut bibir Megantara terangkat, melengkungkan sebuah senyuman. 

Lelaki itu bersandar di kursinya, nada suaranya otomatis berubah lebih rendah, lebih tenang.

“Halo, Mas!”

“Iya.”

“Kenapa kamu baru balas, sih?” Ada nada protes di sana, tapi tidak tajam. Lebih ke… kebiasaan.

“Lagi ngobrol sama Kafka tadi,” jawab Megantara singkat.

Hagia terdiam sepersekian detik, lalu menghela napas. “Kebiasaan banget!”

Megantara melirik sekilas ke arah pintu ruangannya, memastikan tidak ada yang mendekat. “Bawakan berkas proyek Cilandak ke sini.”

“Iya.” Ada jeda singkat di ujung sana. “… serius mau bahas kerjaan sekalian ini?” tanya Hagia, nadanya berubah sedikit lebih pelan.

Megantara tersenyum tipis, meski Hagia tidak bisa melihatnya. “Biar kelihatan profesional.”

Hening sebentar.

Lalu, “Kamu tuh ya…” gumam Hagia pelan, nyaris seperti menggerutu, tapi ada nada yang… lebih ringan dari sebelumnya.

Megantara bisa membayangkan ia sedang menggelengkan kepala.

“Ya udah. Aku ke sana sekarang.”

“Hmm.”

Panggilan itu terputus.

Megantara menurunkan gagang teleponnya perlahan, kemudian menggeser duduknya agar mengarah ke jendela.

Beberapa detik, ia hanya diam. Lalu ia berdiri, merapikan sedikit posisi berkas di mejanya—meski sebenarnya tidak ada yang perlu dirapikan.

Langkah kaki di luar terdengar samar. Dan entah kenapa, detak jantungnya sedikit berubah ritme.

Bukan gugup. Bukan juga canggung. Lebih ke… sadar. Bahwa pertemuan ini—meskipun dibungkus alasan pekerjaan—tidak akan pernah benar-benar sesederhana itu.

Beberapa saat kemudian, terdengar ketukan di pintu.

Megantara menolehkan wajah. “Masuk.”

Pintu terbuka. Dan di sana Hagia berdiri, dengan map berkas di tangannya, ekspresi yang berusaha tenang tapi matanya jelas menyimpan banyak pertanyaan.

Sama seperti dulu. Dan seperti yang Megantara tahu percakapan ini tidak akan berhenti hanya di urusan kerja.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
prima
aseeeeekkk..... CLBK - Cinta Lama Belum Kelar ditambah romansa boss sama bawahan kombinasi memabukkan .........
goodnovel comment avatar
Tika Mokodompit
Kirain mereka hubungan Mantan yang beneran jadi dingin dan tanpa kabar. ternyata mereka Co-parenting yaa... jadi tetap lucu aja liatnya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Mantan!   143. Selamanya, Sampai Maut Memisahkan

    ”Saya terima nikah dan kawinnya Hagia Nadi Chandrakanta binti Auriga Chandrakanta dengan maskawin dan seperangkat alat sholat tunai!”“Bagaimana saksi?”“SAH!”Suara gema para saksi terdengar hampir bersamaan. Hagia yang duduk tepat di samping Megantara seketika menutup mulutnya. Isak lirih lolos begitu saja dari bibirnya. Air mata yang sejak tadi ditahannya, kini akhirnya jatuh juga. Beberapa tamu undangan tampak terharu menyaksikan momen sakral tersebut. Djiwa bahkan tampak sibuk menyeka sudut matanya, sementaraAuriga hanya mengembuskan napas panjang dengan senyum yang tak mampu disembunyikan. Hari itu akhirnya tiba.Setelah semua yang mereka lalui, setelah perpisahan panjang, kesalahpahaman, luka, kehilangan, hingga sebuah kecelakaan yang nyaris merenggut Hagia dari hidup mereka. Hari ini, Hagia dan Megantara kembali menjadi pasangan suami istri. Pernikahan itu digelar sederhana di halaman belakang rumah mereka. Tidak ada dekorasi mewah atau pesta besar-besaran. Hanya ada lampu

  • Hello, Mantan!   142. Deep Talk

    “Kenapa?”Hagia yang sejak tadi memperhatikan sekeliling rumah seketika menoleh ke arah Megantara. Rupanya sejak tadi lelaki itu memperhatikannya.Perempuan itu terkekeh pelan. “Mas, aku masih nggak nyangka aja kalau kamu bakalan mewujudkan rumah impian aku.”Setelah menyelesaikan makan malam, keduanya memutuskan untuk bersantai di ruang keluarga ditemani secangkir teh hangat. Dari tempat mereka duduk, kolam renang terlihat jelas melalui pintu kaca yang sengaja dibuka lebar. Riak airnya bergerak tenang, memantulkan cahaya lampu-lampu taman yang menyala di sekelilingnya.Hagia mengedarkan pandangan sekali lagi. “Kayak... desain rumah ini udah lama aku simpan. Entah sekarang aku taruh di mana,” katanya. “Tapi ternyata kamu masih ingat.”Megantara menggenggam tangan Hagia. “Kan aku udah bilang kalau aku sama sekali nggak bakalan lupa sama apa pun yang ada hubungannya sama kamu.”Hagia sudah hampir memprotesnya, namun Megantara sudah lebih dulu bersuara. “Dan kamu tahu...” Megantara terd

  • Hello, Mantan!   141. Pelajaran Untuk Moreno

    “Saya sudah pernah mengatakan ini ke Nadi.” Megantara mengepalkan kedua tangannya erat. Tatapannya yang tajam masih memaku Moreno yang kini duduk di balik dinding kaca di hadapannya. “Siapa pun yang berani menyentuhnya, saya nggak akan membiarkan hidupnya tenang.”Ada beberapa luka lebam yang masih terlihat jelas di wajah Moreno. Setelah keluar dari rumah sakit, lelaki itu akhirnya ditempatkan di tahanan sembari menunggu proses hukum berjalan.Moreno tertegun selama beberapa saat. Sebelum menyadari apa yang baru saja dikatakan Megantara.“Jadi… ini perbuatan Bapak?”Megantara tak langsung menjawab. Namun keterdiaman lelaki itu sudah memberikan jawaban pada Moreno.Tatapan Moreno turun ke arah kaki kanannya yang kini sudah tidak ada. Wajahnya mulai merah padam, namun Megantara tetap tidak memedulikannya.“Bapak yang nyuruh orang di dalam sana untuk nyiksa saya, kan?” Napas Moreno mulai memburu. “Bapak nggak lihat kalau saya sudah kehilangan kaki kanan saya? Hah?”Megantara mendecih pel

  • Hello, Mantan!   140. Kangen Ranu

    “Lagi mikirin apa?”Pertanyaan itu meluncur dari bibir Megantara. Setelah hampir satu bulan menjalani perawatan di rumah sakit, akhirnya Hagia diperbolehkan untuk pulang.Hagia yang sejak tadi menatap keluar jendela menolehkan wajah. “Nggak ada, Mas.”Megantara meraih tangan Hagia. Jemarinya bertaut dengan jemari perempuan itu, sementara pandangannya sesekali melirik ke samping sebelum kembali fokus pada jalan di hadapannya.“Kasih tahu apa yang lagi kamu pikirin.”Hagia tersenyum kecil. Seolah tahu maksud dari kalimat Megantara. “Ingat, aku bukan dukun yang bisa tahu segala hal yang ada di pikiran kamu kalau kamu nggak bilang apa-apa sama aku.”Hagia terkekeh pelan. “Iya, Mas. Aku cuma… kangen sama Ranu.” Ia kembali menatap ke luar jendela. “Udah hampir satu bulan ini aku nggak ketemu sama dia, kan?”Megantara mengusap punggung tangan Hagia dengan ibu jarinya. “Bentar lagi kita bakalan ketemu sama Ranu.” Ia tersenyum kecil. “Sabar, ya.”Hagia menoleh.“Ranu juga kangen sama kamu, ka

  • Hello, Mantan!   139. Tempat Berpulang

    “Mas... maaf...”Suara Hagia nyaris tertelan di kerongkongannya. Matanya terlihat berkaca-kaca, menatap Megantara yang berdiri di hadapannya dengan wajah yang sama kacau.“Maaf, Mas...”“Hei, Sayang.” Megantara segera melangkah menghampiri Hagia. Tangannya langsung merengkuh tubuh perempuan itu, lalu memeluknya ke dalam dekapan. “Jangan nangis...”Namun alih-alih mendengarkan perkataan Megantara, pertahanan Hagia justru runtuh. Isak tangisnya pecah. Kedua tangannya perlahan mencengkram bagian belakang kemeja lusuh Megantara, seolah hanya lelaki itu satu-satunya tempat yang bisa membuatnya merasa aman saat ini.“Aku udah jahat sama kamu, Mas.” Hagia terisak di dada Megantara. “Maaf... aku udah bentak kamu tadi.”Megantara semakin mempererat dekapannya. Satu tangannya mengusap punggung Hagia perlahan, membiarkan perempuan itu menenggelamkan wajahnya di dadanya untuk menuntaskan tangis yang sejak tadi ia tahan.“Kamu nggak pernah jahat, Sayang.” Megantara mengecup pelan puncak kepala Hag

  • Hello, Mantan!   138. Bujukan Djiwa

    “Mas Megan...”Suara Djiwa yang baru saja tiba membuat Megantara yang tengah duduk di depan ruang rawat Hagia langsung menoleh cepat.Perempuan itu melangkah menghampirinya dengan raut wajah penuh kecemasan.“Ma...”“Gimana keadaan Hagia, Mas? Dia udah sadar?”Megantara mengangguk-angguk pelan. “Dia udah bangun, Ma. Dia—” Kalimatnya terhenti. Megantara menelan ludahnya dengan susah payah. Matanya kembali tertuju pada pintu ruang rawat. “Dia nggak mau ditemenin.”Djiwa duduk tepat di sebelah Megantara. Membiarkan calon menantunya melanjutkan kalimatnya meskipun suaranya terdengar bergetar.“Dia kayaknya masih belum bisa menerima kenyataan kalau dia kehilangan bayinya, Ma.” Megantara menarik napas panjang, tetapi napas itu justru terdengar berat. “Dia nggak mau aku temenin. Dia nggak mau aku di sana.”Djiwa langsung mengusap lengan Megantara dengan lembut. “Mas, kamu yang tenang, ya?”Megantara menundukkan wajah. “Tapi aku nggak tahu harus ngapain, Ma.” Suara lelaki itu terdengar benar

  • Hello, Mantan!   34. Rasa Penasaran Megantara

    “Siapa tadi?”Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Megantara. Nadanya terdengar datar. Bahkan nyaris terdengar biasa.Namun tatapannya masih tertahan ke arah ruang meeting di ujung koridor, ke arah pintu yang baru saja tertutup setelah Hagia mengantar lelaki itu masuk.Kafka yang tadi sud

  • Hello, Mantan!   8. Jemputan Megantara

    Pagi itu dapur kecil di unitnya dipenuhi aroma hangat dari roti yang baru dipanggang dan telur yang sedang ia olah di atas wajan. Gerakan Hagia terlihat cekatan, hampir tanpa berpikir, tangan kirinya memegang spatula, tangan kanannya sesekali meraih bumbu atau memeriksa bekal yang sudah ia siapkan

  • Hello, Mantan!   7. Paniknya Hagia

    “Gue serius, Gi. Kasih tahu gue kalau mantan suami lo itu nyakitin lo.”Nada suara Carmen terdengar lebih dalam dari biasanya. Tidak ada selipan candaan. Tidak ada nada menggoda. Hanya kekhawatiran yang jujur, yang bahkan tidak ia tutupi.Hagia menghela napas pendek. “Iya.”Jawaban itu sederhana. N

  • Hello, Mantan!   6. Sahabat Hagia

    Hagia masih sibuk menekuri pekerjaannya meskipun waktu sudah beranjak malam. Cahaya dari layar laptop menjadi satu-satunya sumber terang di mejanya, memantul di matanya yang sejak tadi tidak benar-benar beristirahat.Di tangannya, beberapa lembar kerangka desain terbuka. Garis-garis bangunan yang t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status