LOGINKael dan Kalla sama-sama kangen dong.
Langkah Kalla baru menginjak lantai gedung Sagara Grup ketika mendapat pesan dari Cade bahwa Kael dilarikan ke IGD. Hatinya mencelos seketika. Dia mencoba menelepon Cade, tapi lelaki itu tidak mengangkatnya. Sampai dirinya duduk di meja pelatihan, baru Cade memberinya kabar tentang keberadaan Kael. Perasaan tak tenang terus menggerogoti, pun ketika trainernya memasuki ruangan. Hari ini ada ujian bahasa. Kabar ini jelas memecah pikiran Kalla. "Maaf, tidak bisa. Kalau kamu tidak ikut ujian hari ini. Kemungkinan keberangkatan kamu di-cancel. Ujian ini salah satu syarat perusahaan yang akan mempekerjakan kamu," ujar si Trainer saat Kalla meminta izin untuk ikut ujian susulan.Kalla menggigit jari dengan cemas. Kepalanya terus penuh soal Kael. Kebiasaan merawat anak itu membuat perasaannya tidak bisa lepas begitu saja. Meskipun dia berhasil tidak menemui anak itu seminggu lebih, tapi hatinya tetap tertaut. Kalla akan selalu menanyakan anak itu pada Moya. "Dia sekarang susah makan, Kal.
Saat Kalla keluar kamar pagi-pagi, ibu sudah ada di meja makan. Nasi uduk telur bahkan sudah tersedia. Wanita itu tahu akan banyak pertanyaan yang diajukan sang ibu. Jadi sebisa mungkin dia sudah mempersiapkan diri.“Makan dulu sebelum berangkat,” ucap ibu sambil menuang teh hangat dari teko. Kalla menurut dan menarik kursi. Dia mengucapkan terima kasih ketika ibu meletakkan gelas ke depannya. “Nanti pulang jam berapa?” tanya ibu lembut. Mungkin untuk sekedar basa-basi. “Jam limaan.” Sampai Kalla berhasil menandaskan setengah isi piring, Ibu tidak bertanya apa-apa lagi. Padahal Kalla pikir wanita itu akan memberondongnya dengan berbagai pertanyaan. Bahkan sampai dia menyudahi kegiatan sarapan, ibu tetap bungkam. “Nanti langsung pulang ya. Bantu ibu pasang kancing.” Hanya itu yang ibu ucapkan ketika akhirnya Kalla pamit. Dia benar-benar tidak mengerti. Tapi Kalla bersyukur, setidaknya pagi ini tidak ada pembahasan yang membuat dadanya kembali sesak. *** “C’mon, Son. Papa harus m
“Saya nggak nyangka seorang Wima Sagara punya waktu selonggar ini buat melakukan hal-hal nggak berguna sama saya.”Sudah pukul sembilan malam saat angin laut meniup helaian rambut Kalla yang tergerai. “Sesekali nggak masalah. Sekarang kan juga weekend,” sahut Wima menatap wanita itu dari samping. Hidung runcing Kalla terlihat jelas saat dilihat dari samping begini. Cantik. Tapi wanita itu memang cantik dilihat dari sisi mana pun. “Tapi beberapa jam lagi Senin.”Pria yang ternyata tidak pernah makan lele itu mendesah. Ah, mengingat itu membuat seulas senyum di bibir Kalla terukir. Di warung tenda tawa Kalla tak henti-hentinya mengudara. “Ini bisa dimakan? Bentuknya agak lain ya, nggak seperti ikan pada umumnya. Serius ini bisa dimakan?” Wima menanyakan itu seraya menjungkir-balik lele goreng di piringnya. Gimana Kalla nggak terpingkal-pingkal? Muka pria itu penasaran tapi juga ngeri secara bersamaan. “Cobain makanya. Jangan cuma dibolak balik,” ujar Kalla lalu mencocol daun kemang
Ragu menyerbu ketika Wima menawarinya pulang. Kalla sadar wajahnya saat ini pasti kacau. Ibu akan bertanya ini itu kalau dia pulang dalam keadaan muka lecek. “Nggak mau pulang? Mau ke suatu tempat?” tanya Wima saat melihat keraguan di wajah wanita itu. Hidung Kalla masih agak memerah meskipun dia sudah mencuci mukanya. Ingin rasanya Kalla mengiyakan, tapi dari kemarin dirinya belum pulang. Ibu akan khawatir kalau dia telat pulang lagi. Dengan terpaksa wanita itu menggeleng pelan. “Ya udah, ayo, aku antar kamu pulang.” Wima berdiri dari kursinya. Namun Kalla masih juga terlihat ragu. Dia menoleh, mengamati kesibukan orang-orang di luar. “Tapi kamu kan lagi ngawasi orang-orang kerja.” “Semua sudah dihandle Rafly. Kebetulan ada arsitek dan kontraktornya. Saya cuma memastikan semua berjalan sesuai rencana. Selebihnya mereka yang akan mengawasi pembangunan.”“Oh.” Wima menghela napas panjang. Menatap wajah suram Kalla sejenak. Wanita itu kembali terlihat sedih. “Kamu yakin nggak ing
Satu kotak tisu dengan isi 250 lembar nyaris habis. Tidak hanya cukup dengan makian, air mata pun ikut menyemarakan hari patah hati sedunia ini. Ya anggap saja begitu. Yang patah hati hari ini pasti bukan Kalla doang kan? Di belahan bumi sebelah pun pasti ada. “Brengsek, tolol, bedebah.” Kalla menyusut hidung dengan agak keras. Berharap ini tangisnya yang terakhir. Dia sudah capek satu jam lebih menangis tanpa henti. Beberapa pegawai kedai es krim yang dia singgahi pun bahkan terlihat prihatin dengan kondisinya. Ada yang terang-terangan bertanya, ada juga yang masa bodo. Tapi Kalla tidak peduli. Mereka tak kasat mata untuk saat ini. Dia cuma ingin menumpahkan emosinya dengan menangis dulu tanpa gangguan. Untung kondisi kedai es krim tidak terlalu ramai. Kalla menarik napas panjang dan membuangnya kasar. Dia lantas memesan satu ember es krim berukuran besar. Berharap hatinya bisa kembali adem. Dia benar-benar tidak menyangka, setelah bercinta hebat hubungannya malah kandas. Lal
Ada banyak. Tidak hanya satu foto. Tapi isinya adalah orang sama. Reyga dan wanita cantik yang sepertinya bukan dari Indonesia. Tangan Kalla gemetar memegang salah satunya. Sebuah foto dengan latar belakang pantai. Reyga mengenakan celana pendek dan kemeja pantai tengah bersedekap tangan, lalu di sisinya wanita itu mengenakan bikini, tangannya menyampir di bahu Reyga, dan tangan lain memegangi papan selancar. Keduanya tampak tertawa lebar, Foto lain di sebuah kelab. Keduanya tengah tertawa juga seakan begitu menikmati momen kebersamaan itu sambil menjepit gelas wine. Lalu foto mereka di pasar seni, bermain paralayang, snorkeling, dan lain-lain.Hanya saja semua gambar tersebut seperti diambil secara candid. Mereka seperti tidak sadar kamera. Namun tetap saja tidak mengubah apapun kalau kenyataannya Reyga berjalan dengan wanita lain di belakang Kalla. Tetap membuat hati Kalla berdenyut nyeri. Dadanya yang sudah sesak karena ucapan tajam Diyani, kian sesak melihat semua itu. Kalla mer
Kalla cengar-cengir begitu keluar dari mobil. Di sisi kanan, Reyga juga ikut keluar. Sementara Kael memilih duduk tenang di atas car seat, tidak mau turun. Hampir pukul lima sore ketika mereka sampai di halaman rumah Kalla. “Besok mau berangkat sendiri atau dijemput Pak Sato?” tanya Reyga. Jejak
Ibu sedang berkutat di depan mesin jahit ketika mendengar suara derum mobil memasuki halaman rumah. Kepala wanita paruh baya itu lantas terjulur ke jendela, melihat siapa yang datang. Itu adalah mobil keluaran Jerman yang ibu kenali karena beberapa kali bertandang. Dia segera meninggalkan pekerjaan
Ada rasa lega menyelimuti ketika akhirnya Kalla bisa meninggalkan apartemen Reyga. Meskipun dia berat karena harus meninggalkan Kael. Besok juga dirinya libur. Tapi Cade benar, dia juga butuh istirahat. “Mau mampir ke suatu tempat?” tanya Cade menawarkan. “Mumpung kita masih di Senayan nih. Nonton
“Pizzaaa!” seru Cade saat Reyga membuka pintu. Lelaki berkulit pucat itu mendorong pintu lebar dan masuk begitu saja. Meninggalkan helaan napas panjang kakaknya yang merasa bete maksimal karena aktivitasnya terganggu. “Gue juga beli Mac and Cheese kesukaan Kael. Mana dia, Kak?” cerocos Cade seraya







