Home / Romansa / Hello, Nanny! / 129. He Hurt You?

Share

129. He Hurt You?

last update publish date: 2026-04-22 14:51:08

“Saya nggak nyangka seorang Wima Sagara punya waktu selonggar ini buat melakukan hal-hal nggak berguna sama saya.”

Sudah pukul sembilan malam saat angin laut meniup helaian rambut Kalla yang tergerai.

“Sesekali nggak masalah. Sekarang kan juga weekend,” sahut Wima menatap wanita itu dari samping. Hidung runcing Kalla terlihat jelas saat dilihat dari samping begini. Cantik. Tapi wanita itu memang cantik dilihat dari sisi mana pun.

“Tapi beberapa jam lagi Senin.”

Pria yang ternyata tidak pernah
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   131. Rindu Tak Terbalas

    Langkah Kalla baru menginjak lantai gedung Sagara Grup ketika mendapat pesan dari Cade bahwa Kael dilarikan ke IGD. Hatinya mencelos seketika. Dia mencoba menelepon Cade, tapi lelaki itu tidak mengangkatnya. Sampai dirinya duduk di meja pelatihan, baru Cade memberinya kabar tentang keberadaan Kael. Perasaan tak tenang terus menggerogoti, pun ketika trainernya memasuki ruangan. Hari ini ada ujian bahasa. Kabar ini jelas memecah pikiran Kalla. "Maaf, tidak bisa. Kalau kamu tidak ikut ujian hari ini. Kemungkinan keberangkatan kamu di-cancel. Ujian ini salah satu syarat perusahaan yang akan mempekerjakan kamu," ujar si Trainer saat Kalla meminta izin untuk ikut ujian susulan.Kalla menggigit jari dengan cemas. Kepalanya terus penuh soal Kael. Kebiasaan merawat anak itu membuat perasaannya tidak bisa lepas begitu saja. Meskipun dia berhasil tidak menemui anak itu seminggu lebih, tapi hatinya tetap tertaut. Kalla akan selalu menanyakan anak itu pada Moya. "Dia sekarang susah makan, Kal.

  • Hello, Nanny!   130. IGD

    Saat Kalla keluar kamar pagi-pagi, ibu sudah ada di meja makan. Nasi uduk telur bahkan sudah tersedia. Wanita itu tahu akan banyak pertanyaan yang diajukan sang ibu. Jadi sebisa mungkin dia sudah mempersiapkan diri.“Makan dulu sebelum berangkat,” ucap ibu sambil menuang teh hangat dari teko. Kalla menurut dan menarik kursi. Dia mengucapkan terima kasih ketika ibu meletakkan gelas ke depannya. “Nanti pulang jam berapa?” tanya ibu lembut. Mungkin untuk sekedar basa-basi. “Jam limaan.” Sampai Kalla berhasil menandaskan setengah isi piring, Ibu tidak bertanya apa-apa lagi. Padahal Kalla pikir wanita itu akan memberondongnya dengan berbagai pertanyaan. Bahkan sampai dia menyudahi kegiatan sarapan, ibu tetap bungkam. “Nanti langsung pulang ya. Bantu ibu pasang kancing.” Hanya itu yang ibu ucapkan ketika akhirnya Kalla pamit. Dia benar-benar tidak mengerti. Tapi Kalla bersyukur, setidaknya pagi ini tidak ada pembahasan yang membuat dadanya kembali sesak. *** “C’mon, Son. Papa harus m

  • Hello, Nanny!   129. He Hurt You?

    “Saya nggak nyangka seorang Wima Sagara punya waktu selonggar ini buat melakukan hal-hal nggak berguna sama saya.”Sudah pukul sembilan malam saat angin laut meniup helaian rambut Kalla yang tergerai. “Sesekali nggak masalah. Sekarang kan juga weekend,” sahut Wima menatap wanita itu dari samping. Hidung runcing Kalla terlihat jelas saat dilihat dari samping begini. Cantik. Tapi wanita itu memang cantik dilihat dari sisi mana pun. “Tapi beberapa jam lagi Senin.”Pria yang ternyata tidak pernah makan lele itu mendesah. Ah, mengingat itu membuat seulas senyum di bibir Kalla terukir. Di warung tenda tawa Kalla tak henti-hentinya mengudara. “Ini bisa dimakan? Bentuknya agak lain ya, nggak seperti ikan pada umumnya. Serius ini bisa dimakan?” Wima menanyakan itu seraya menjungkir-balik lele goreng di piringnya. Gimana Kalla nggak terpingkal-pingkal? Muka pria itu penasaran tapi juga ngeri secara bersamaan. “Cobain makanya. Jangan cuma dibolak balik,” ujar Kalla lalu mencocol daun kemang

  • Hello, Nanny!   128. Rage Room

    Ragu menyerbu ketika Wima menawarinya pulang. Kalla sadar wajahnya saat ini pasti kacau. Ibu akan bertanya ini itu kalau dia pulang dalam keadaan muka lecek. “Nggak mau pulang? Mau ke suatu tempat?” tanya Wima saat melihat keraguan di wajah wanita itu. Hidung Kalla masih agak memerah meskipun dia sudah mencuci mukanya. Ingin rasanya Kalla mengiyakan, tapi dari kemarin dirinya belum pulang. Ibu akan khawatir kalau dia telat pulang lagi. Dengan terpaksa wanita itu menggeleng pelan. “Ya udah, ayo, aku antar kamu pulang.” Wima berdiri dari kursinya. Namun Kalla masih juga terlihat ragu. Dia menoleh, mengamati kesibukan orang-orang di luar. “Tapi kamu kan lagi ngawasi orang-orang kerja.” “Semua sudah dihandle Rafly. Kebetulan ada arsitek dan kontraktornya. Saya cuma memastikan semua berjalan sesuai rencana. Selebihnya mereka yang akan mengawasi pembangunan.”“Oh.” Wima menghela napas panjang. Menatap wajah suram Kalla sejenak. Wanita itu kembali terlihat sedih. “Kamu yakin nggak ing

  • Hello, Nanny!   127. Hiburan Ringan

    Satu kotak tisu dengan isi 250 lembar nyaris habis. Tidak hanya cukup dengan makian, air mata pun ikut menyemarakan hari patah hati sedunia ini. Ya anggap saja begitu. Yang patah hati hari ini pasti bukan Kalla doang kan? Di belahan bumi sebelah pun pasti ada. “Brengsek, tolol, bedebah.” Kalla menyusut hidung dengan agak keras. Berharap ini tangisnya yang terakhir. Dia sudah capek satu jam lebih menangis tanpa henti. Beberapa pegawai kedai es krim yang dia singgahi pun bahkan terlihat prihatin dengan kondisinya. Ada yang terang-terangan bertanya, ada juga yang masa bodo. Tapi Kalla tidak peduli. Mereka tak kasat mata untuk saat ini. Dia cuma ingin menumpahkan emosinya dengan menangis dulu tanpa gangguan. Untung kondisi kedai es krim tidak terlalu ramai. Kalla menarik napas panjang dan membuangnya kasar. Dia lantas memesan satu ember es krim berukuran besar. Berharap hatinya bisa kembali adem. Dia benar-benar tidak menyangka, setelah bercinta hebat hubungannya malah kandas. Lal

  • Hello, Nanny!   126. We're Done

    Ada banyak. Tidak hanya satu foto. Tapi isinya adalah orang sama. Reyga dan wanita cantik yang sepertinya bukan dari Indonesia. Tangan Kalla gemetar memegang salah satunya. Sebuah foto dengan latar belakang pantai. Reyga mengenakan celana pendek dan kemeja pantai tengah bersedekap tangan, lalu di sisinya wanita itu mengenakan bikini, tangannya menyampir di bahu Reyga, dan tangan lain memegangi papan selancar. Keduanya tampak tertawa lebar, Foto lain di sebuah kelab. Keduanya tengah tertawa juga seakan begitu menikmati momen kebersamaan itu sambil menjepit gelas wine. Lalu foto mereka di pasar seni, bermain paralayang, snorkeling, dan lain-lain.Hanya saja semua gambar tersebut seperti diambil secara candid. Mereka seperti tidak sadar kamera. Namun tetap saja tidak mengubah apapun kalau kenyataannya Reyga berjalan dengan wanita lain di belakang Kalla. Tetap membuat hati Kalla berdenyut nyeri. Dadanya yang sudah sesak karena ucapan tajam Diyani, kian sesak melihat semua itu. Kalla mer

  • Hello, Nanny!   62. Bricks

    Melipir ke Reyga dan Kael dulu yak. ===============Kael duduk menunduk di kursi panjang sambil mengayunkan kakinya yang menyilang. Bibirnya mencebik, mukanya tertekuk. Acara pekan seni sudah selesai setengah jam lalu. Lukisan Kael bahkan mendapat juara, tapi wajah gembiranya hanya bertahan sesaat

  • Hello, Nanny!   61. Traktir Bakso

    Kalla kembali duduk sendiri setelah Wima pamit sebentar untuk menemani para koleganya. Namun sebelum masuk, lelaki itu berpesan pada Kalla agar tetap menunggunya. Dia berjanji akan mengantar Kalla pulang ke rumahnya. Gatra sendiri lebih memilih menemani tamu-tamu penting itu. Cari muka biar mendapa

  • Hello, Nanny!   60. Gatra dan Wima

    Beberapa saat Kalla membiarkan Gatra menekuri ponsel. Sementara dirinya dengan santai makan kue. Wajah songong lelaki itu perlahan berubah. Alisnya berkerut, selaras dengan bibirnya. Mimiknya kini benar-benar serius menatap ponsel. "Kalla, ini beneran suami kamu?" tanya Gatra setelah beberapa saa

  • Hello, Nanny!   58. Masa Lalu

    Kalla terbangun ketika bunyi ponsel terdengar nyaring. Mulutnya berdecak kesal, tapi matanya masih merapat. Tangannya terjulur, mencari-cari benda yang memekakkan telinga. Kalau tidak ingat benda pipih itu harganya jutaan, mungkin Kalla sudah melemparnya ke tong sampah karena sudah sukses membangunk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status