Home / Romansa / Hello, Nanny! / 131. Rindu Tak Terbalas

Share

131. Rindu Tak Terbalas

last update publish date: 2026-04-23 11:11:50

Langkah Kalla baru menginjak lantai gedung Sagara Grup ketika mendapat pesan dari Cade bahwa Kael dilarikan ke IGD. Hatinya mencelos seketika. Dia mencoba menelepon Cade, tapi lelaki itu tidak mengangkatnya.

Sampai dirinya duduk di meja pelatihan, baru Cade memberinya kabar tentang keberadaan Kael. Perasaan tak tenang terus menggerogoti, pun ketika trainernya memasuki ruangan. Hari ini ada ujian bahasa. Kabar ini jelas memecah pikiran Kalla.

"Maaf, tidak bisa. Kalau kamu tidak ikut ujian hari
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (8)
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Ampppoooon hiks
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Haiyaaah 3 bab
goodnovel comment avatar
Poppy Miranda
Rasain Reyga ...siapa suruh ga terbuka sama Kalla
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   132. Mati

    “Kamu masih lama di sana?” “Uhm, Kak. Boleh saya izin satu hari ini? Panas Kael belum turun, mungkin efek lukanya juga.” “Oke. Kamu bisa kabari saya kalau mau pulang.” “Iya. Sekali lagi makasih.” Kalla menutup panggilan dari Wima. Dia menyimpan ponsel sebelum masuk ke kamar Kael. Anak itu sedang rewel, tidak mau makan ketika Kalla masuk. “Aku mau sama kakak aja!” seru Kael menutup mulutnya. Di depannya Reyga membuang napas kencang. “Tangan papa atau kakak sama aja kan? Kael ingat, dari kecil papa yang nyuapin kamu. Saat itu belum ada kakak. Semua baik-baik aja, kan?” “Tapi sekarang aku mau kakak!” Kalla terkejut ketika tangan kecil itu terangkat dan menepis kasar nampan yang Reyga pegang. Nampan itu tanpa bisa dicegah meluncur dan jatuh, menumpahkan semua isinya. “Kael!” seru Reyga tampak murka. Dia menarik napas panjang sambil memejamkan mata. Berusaha menahan emosinya yang mungkin sudah mencapai ubun-ubun. “Oke! Terserah kamu mau makan atau enggak, tapi papa minta to

  • Hello, Nanny!   131. Rindu Tak Terbalas

    Langkah Kalla baru menginjak lantai gedung Sagara Grup ketika mendapat pesan dari Cade bahwa Kael dilarikan ke IGD. Hatinya mencelos seketika. Dia mencoba menelepon Cade, tapi lelaki itu tidak mengangkatnya. Sampai dirinya duduk di meja pelatihan, baru Cade memberinya kabar tentang keberadaan Kael. Perasaan tak tenang terus menggerogoti, pun ketika trainernya memasuki ruangan. Hari ini ada ujian bahasa. Kabar ini jelas memecah pikiran Kalla. "Maaf, tidak bisa. Kalau kamu tidak ikut ujian hari ini. Kemungkinan keberangkatan kamu di-cancel. Ujian ini salah satu syarat perusahaan yang akan mempekerjakan kamu," ujar si Trainer saat Kalla meminta izin untuk ikut ujian susulan.Kalla menggigit jari dengan cemas. Kepalanya terus penuh soal Kael. Kebiasaan merawat anak itu membuat perasaannya tidak bisa lepas begitu saja. Meskipun dia berhasil tidak menemui anak itu seminggu lebih, tapi hatinya tetap tertaut. Kalla akan selalu menanyakan anak itu pada Moya. "Dia sekarang susah makan, Kal.

  • Hello, Nanny!   130. IGD

    Saat Kalla keluar kamar pagi-pagi, ibu sudah ada di meja makan. Nasi uduk telur bahkan sudah tersedia. Wanita itu tahu akan banyak pertanyaan yang diajukan sang ibu. Jadi sebisa mungkin dia sudah mempersiapkan diri.“Makan dulu sebelum berangkat,” ucap ibu sambil menuang teh hangat dari teko. Kalla menurut dan menarik kursi. Dia mengucapkan terima kasih ketika ibu meletakkan gelas ke depannya. “Nanti pulang jam berapa?” tanya ibu lembut. Mungkin untuk sekedar basa-basi. “Jam limaan.” Sampai Kalla berhasil menandaskan setengah isi piring, Ibu tidak bertanya apa-apa lagi. Padahal Kalla pikir wanita itu akan memberondongnya dengan berbagai pertanyaan. Bahkan sampai dia menyudahi kegiatan sarapan, ibu tetap bungkam. “Nanti langsung pulang ya. Bantu ibu pasang kancing.” Hanya itu yang ibu ucapkan ketika akhirnya Kalla pamit. Dia benar-benar tidak mengerti. Tapi Kalla bersyukur, setidaknya pagi ini tidak ada pembahasan yang membuat dadanya kembali sesak. *** “C’mon, Son. Papa harus m

  • Hello, Nanny!   129. He Hurt You?

    “Saya nggak nyangka seorang Wima Sagara punya waktu selonggar ini buat melakukan hal-hal nggak berguna sama saya.”Sudah pukul sembilan malam saat angin laut meniup helaian rambut Kalla yang tergerai. “Sesekali nggak masalah. Sekarang kan juga weekend,” sahut Wima menatap wanita itu dari samping. Hidung runcing Kalla terlihat jelas saat dilihat dari samping begini. Cantik. Tapi wanita itu memang cantik dilihat dari sisi mana pun. “Tapi beberapa jam lagi Senin.”Pria yang ternyata tidak pernah makan lele itu mendesah. Ah, mengingat itu membuat seulas senyum di bibir Kalla terukir. Di warung tenda tawa Kalla tak henti-hentinya mengudara. “Ini bisa dimakan? Bentuknya agak lain ya, nggak seperti ikan pada umumnya. Serius ini bisa dimakan?” Wima menanyakan itu seraya menjungkir-balik lele goreng di piringnya. Gimana Kalla nggak terpingkal-pingkal? Muka pria itu penasaran tapi juga ngeri secara bersamaan. “Cobain makanya. Jangan cuma dibolak balik,” ujar Kalla lalu mencocol daun kemang

  • Hello, Nanny!   128. Rage Room

    Ragu menyerbu ketika Wima menawarinya pulang. Kalla sadar wajahnya saat ini pasti kacau. Ibu akan bertanya ini itu kalau dia pulang dalam keadaan muka lecek. “Nggak mau pulang? Mau ke suatu tempat?” tanya Wima saat melihat keraguan di wajah wanita itu. Hidung Kalla masih agak memerah meskipun dia sudah mencuci mukanya. Ingin rasanya Kalla mengiyakan, tapi dari kemarin dirinya belum pulang. Ibu akan khawatir kalau dia telat pulang lagi. Dengan terpaksa wanita itu menggeleng pelan. “Ya udah, ayo, aku antar kamu pulang.” Wima berdiri dari kursinya. Namun Kalla masih juga terlihat ragu. Dia menoleh, mengamati kesibukan orang-orang di luar. “Tapi kamu kan lagi ngawasi orang-orang kerja.” “Semua sudah dihandle Rafly. Kebetulan ada arsitek dan kontraktornya. Saya cuma memastikan semua berjalan sesuai rencana. Selebihnya mereka yang akan mengawasi pembangunan.”“Oh.” Wima menghela napas panjang. Menatap wajah suram Kalla sejenak. Wanita itu kembali terlihat sedih. “Kamu yakin nggak ing

  • Hello, Nanny!   127. Hiburan Ringan

    Satu kotak tisu dengan isi 250 lembar nyaris habis. Tidak hanya cukup dengan makian, air mata pun ikut menyemarakan hari patah hati sedunia ini. Ya anggap saja begitu. Yang patah hati hari ini pasti bukan Kalla doang kan? Di belahan bumi sebelah pun pasti ada. “Brengsek, tolol, bedebah.” Kalla menyusut hidung dengan agak keras. Berharap ini tangisnya yang terakhir. Dia sudah capek satu jam lebih menangis tanpa henti. Beberapa pegawai kedai es krim yang dia singgahi pun bahkan terlihat prihatin dengan kondisinya. Ada yang terang-terangan bertanya, ada juga yang masa bodo. Tapi Kalla tidak peduli. Mereka tak kasat mata untuk saat ini. Dia cuma ingin menumpahkan emosinya dengan menangis dulu tanpa gangguan. Untung kondisi kedai es krim tidak terlalu ramai. Kalla menarik napas panjang dan membuangnya kasar. Dia lantas memesan satu ember es krim berukuran besar. Berharap hatinya bisa kembali adem. Dia benar-benar tidak menyangka, setelah bercinta hebat hubungannya malah kandas. Lal

  • Hello, Nanny!   76. Lebih Bisa Diandalkan

    Reyga mengibas-ngibaskan kepala saat pandangannya agak buyar. Kalla di depannya seperti terbelah jadi tiga. Efek alkohol, menguasai telak isi kepalanya. Pusingnya reda, tapi kepalanya melayang-layang. Di depannya Kalla menatap malas lelaki itu. Sesekali mendorong bahu lebar itu ketika Reyga akan ja

  • Hello, Nanny!   69. Rambut Baru

    Hal yang tidak Reyga sangka, tapi harus pasrah menerima adalah hukuman yang Kalla beri. Meski ada hati yang tidak rela, dia tidak bisa menolak. Matanya melirik horor peralatan yang Kalla siapkan. Setelah tiga tahun nyaman dengan model rambut semi panjangnya ini, dia terpaksa harus merelakan rambut

  • Hello, Nanny!   66. Nginep

    “Enak banget!” Kael mengacungkan dua jempolnya, dan mendapat senyum dari Kalla. Di sisi anak itu Reyga pun melakukan hal sama, tapi cuma dibalas lirikan singkat tanpa senyum dari Kalla. Akhirnya Kalla membuat dua porsi macaroni schotel. Porsi besar dan kecil. Sementara Cade memilih makan nasi uduk

  • Hello, Nanny!   65. Macaroni schotel

    Kael menggeliat, bergerak, saat merasakan ada pergerakan orang lain. Perlahan kelopak matanya terbuka. Meski pandangan masih buram, dia bisa tahu sosok di depannya itu Kalla. “Kakak?” Suara seraknya terdengar, anak itu terlihat tak sabar dan langsung bangun. “Kakak udah pulang?” tanya anak itu samb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status