LOGINHalo, Gaes. Yang belum mampir ke cover depan buat mengulas aku tunggu yaw. Cerita ini bergenre komedi-romance. Udah nyoba bikin dark romance ternyata aku gagal wkwk. Dahlah, balik lagi ke haluan.
Sejak terakhir obrolan tentang impian melanjutkan sekolah ke Jepang, Reyga belum mau bicara. Dalam hal ini Kalla mencoba mengalah, berusaha memulai lebih dulu. Tapi semua usahanya zonk. Reyga masih bungkam, dan tetap mengabaikan eksistensinya. Perang dingin itu ternyata dirasakan Kael. Anak itu mengamati dua orang dewasa yang membersamainya dengan pandangan polos. “Kakak berantem sama papa?” tanya Kael ketika sang papa lebih dulu pamit. Padahal biasanya mereka akan berangkat bersama. “Uhmm, enggak kok. Kita cuma lagi nggak mau banyak bicara,” sahut Kalla tersenyum kecut. Dia menggapai tas Kael dan membuang resahnya sejenak. “Ayo, waktunya kita let's go!” Jangankan Kael, Kalla pun merasa tak nyaman dengan situasi ini. Tidak ada yang bisa Kalla lakukan selain menunggu emosi Reyga reda. “Kael…,” panggil Kalla menatap pintu besi yang membawanya dan Kael turun ke lobi. “Ya?” “Kalau kakak mau sekolah lagi. Menurut kamu gimana?” Anak itu tercenung sesaat, sebelum mendongak, mena
“Kael baik-baik aja?” “Baik. Ada Cade di rumah mama.” Kalla yang sedang menikmati camilan menoleh. Menatap Reyga yang sedang berkutat dengan mesin kopi. “Waktu lagi nggak ada pengasuh, kalian gimana?” tanya Kalla lagi. Kepergiannya ke Jepang pasti akan berdampak lagi. Dan Kalla tidak bisa mengabaikan ini. Beneran hari ini dia memikirkannya. Bola mata Reyga bergulir ke atas, tampak berpikir. “Kael sekolah, lanjut day care. Sorenya kalau bukan aku, Cade yang jemput. Kalau dia lagi nggak mau day care, terpaksa kubawa ke kantor.” Mendengar itu Kalla tercenung. Agak menyesal. Sebelum ada nanny baru artinya Kael bakal diombang-ambing seperti itu.“Mau pake fresh milk atau oatmilk?” tanya Reyga. Dua gelas double shot espresso sudah ready. “Oatmilk.” “Dingin atau panas?”“Dingin.” Kalla melirik Reyga di balik bar. Gayanya sudah mirip barista beneran. Tanpa sadar sudut bibirnya mencuat. Spanish Latte dingin tidak lama Reyga sodorkan ke depan Kalla. Sementara dirinya lebih suka espress
Ini udah kembali ke setting setelah syukuran ya============%Hening. Sepanjang perjalanan pulang suasana terasa mencekam. Sejak keluar dari rumah besar keluarga Abimanyu tak sepatah katapun keluar. Baik dari Kalla ataupun Reyga. Kalla tahu, lelaki itu sedang marah padanya, perkara pernikahan yang dia tolak. Dan Kalla memilih diam untuk menghindari perdebatan. Kalau ada yang marah seharusnya dirinya. Tanpa aba-aba Reyga langsung minta izin ingin menikahinya dalam waktu dekat. Tidak ada persiapan, atau kode apapun. Andai dirinya tidak segera bertindak, malam ini akan menjadi malam panjang. Sebab Kalla tahu mamanya Reyga pasti tidak mau mengalah. Kalla juga tahu Reyga tidak melajukan mobil ke arah Lebak Bulus. Alih-alih ke selatan, dia lurus ke utara mengarah ke Sudirman. Namun Kalla tidak berkomentar. Pun ketika tiga puluh menit kemudian mobil terparkir di lantai basement apartemen. “Kamu nginap,” ucap Reyga singkat, lalu keluar mobil. Seperti tidak mau dibantah. Kalla menarik nap
SEBELUM ACARA SYUKURAN=========================Setting time : sebelum Reyga membawa Kalla ketemu ortunya. *****“Lo siap, Kal?” Moya melirik Kalla yang malah meringkuk di atas ranjang. Dia menggeleng melihat kelakuan sahabatnya itu. Hari ini pengumuman lolos tidaknya apply yang Kalla ajukan untuk magang sekaligus beasiswa ke Jepang. “Nggak usah takut gitu. Kak Wima pasti bantuin lo kan?” Kalla menggeleng cepat. “Dia bilang nggak ikut campur soal perekrutan ini. Lagi pula dia nggak tau kalau gue apply.”“Ya udah sini bareng-bareng liatnya.” “Lo aja. Gue masih trauma kena tolak.” Moya membuang napas. Lantas kembali menatap layar laptop dan membuka web perusahaan Sagara Group. Dia tidak langsung membuka button rekruitmen tapi malah membuka profil perusahaan investasi itu. “Dia ternyata bekerjasama dengan banyak perusahaan Jepang. Termasuk yang ada di Indonesia, pantas buka beasiswa ke sana,” ujar Moya. Kursor lantas bergerak ke arah galeri. Di sana banyak foto-foto event yang di
Sebuah tangan menyelip dari belakang membuat Kalla yang sedang mengambil cake tersentak. Hampir saja cake itu jatuh. Saat menoleh dia menemukan Rey yang tersenyum padanya. “Kamu suka hidangan syukurannya?” tanya lelaki itu. “Suka,” sahut Kalla datar lalu beranjak mengambil garpu kecil. “Mau aku ambilkan juga?” tanyanya sebelum pergi dari dessert booth. “Enggak. Aku udah kenyang. Kael memberiku banyak makanan. Aku temani kamu makan itu aja.” Reyga mengiringi langkah Kalla menuju sebuah kursi sembari sesekali membalas sapaan orang yang berpapasan dengannya. “Acaranya sampe jam berapa?” tanya Kalla sesat setelah dia duduk. “Mungkin setelah aku ngomong sesuatu di depan semua selesai.”Ya. Reyga bintang utama di syukuran ini. Kalla harus lebih bersabar sebentar lagi. “Nggak apa-apa, kan?” Kalla hanya mengangguk. Bertahan sebentar lagi sepertinya bukan masalah. Dia hanya perlu menghindari sumber keresahan hatinya. “Kamu tadi dari mana aja?” tanya Kalla, ingin memancing kejujuran le
Napas lega berembus pelan ketika Kalla berhasil keluar dari toilet dengan perut kosong. Sejak dirinya belum turun dari mobil, perutnya mendadak mules. Efek rasa gugup campur takut membuat bakteri di dalam usus bergejolak. Dia membuka pintu sambil mengusap perut. Kakinya melangkah ringan keluar, siap menghadapi kenyataan. Nggak siap-siap amat sih. Kalau boleh pilih, mending pulang daripada bergabung dengan pestanya orang kaya. Tidak ada tanjidor, atau ondel-ondel, mana seru. Langkah Kalla baru akan berbelok ke arah pesta ketika telinganya tanpa sengaja mendengar percakapan dua orang yang menyebut nama Reyga. Tidak bermaksud nguping, tapi Kalla memelankan ayunan kakinya. “Tapi Reyga ke sini sama pacarnya.” Kalla menelan ludah, dan total berhenti berjalan untuk mendengarkan saat dirinya ikut terseret dalam percakapan itu.“Kan baru pacar, Pa. Memangnya papa rela punya menantu perempuan biasa-biasa aja? Sementara Reyga, putra kebanggan kita itu adalah pria hebat.” “Aku nggak suka
Seperti dirinya ternyata Cecilia juga bosan di tempat ramai itu makanya memilih kabur dan mencari udara segar. Seperti permintaan Reyhan, Reyga pun membangun interaksi dengan wanita cantik itu. Papa benar, Cecilia sangat pintar. Kesan angkuh yang biasanya ada pada wanita hebat seperti dia tidak Rey
Cade menepuk dada Reyga dengan punggung tangan ketika dia melangkah masuk. “Lain kali lebih tahan diri lo, Kak. Kalau Kael lihat dia bisa baligh lebih cepat,” kelakar lelaki itu. “Berisik banget lo.” Cade membuang napas lantas berhenti melangkah. Dia menoleh. “Gue kesel sebenarnya. Tapi gue juga
Ciuman mereka berlarut-larut dengan posisi Kalla di atas Reyga. Ketika sebelah tangan Reyga mulai merayap pahanya pun wanita itu membiarkan. Matanya terus terpejam meningkahi tiap sentuhan yang lelaki itu berikan. “Kamu… “ Rambut Kalla terburai saat dari belakang tangan Reyga melepas ikat rambutn
“Kenapa kamu belum pulang?” “Kalau aku pulang, Kael sama siapa?”“Aku pikir Kiana ke sini.” Kalla menggeleng. Dia memperhatikan wajah Reyga yang tampak lelah. Sepertinya benar-benar ada masalah di perusahaan. “Cade bilang kamu dari Singapur.”’Sambil melonggarkan dasi, Reyga mengangguk. “Ada mas







