LOGINHalo, Gaes. Yang belum mampir ke cover depan buat mengulas aku tunggu yaw. Cerita ini bergenre komedi-romance. Udah nyoba bikin dark romance ternyata aku gagal wkwk. Dahlah, balik lagi ke haluan.
“Ma, bisa jangan terlalu keras sama istri Reyga? Kalau kamu menyakiti Kalla, sama saja kamu menyakiti Reyga.” Reyhan menghela napas mendengar apa yang terjadi sore tadi di rumahnya. “Aku paham, Kalla bukan menantu yang kamu harapkan. Tapi kita udah memberi mereka restu, dan kamu setuju. Sekarang kalau kamu terus-terusan menekan Kalla, yang ada Reyga bahkan Kael bisa menjauh lagi dari kamu. Menurut papa, Kalla sudah cukup baik sebagai menantu.” Wajah cantik Diyani memberengut. Masih kesal dengan kejadian sore ini. Tidak ada yang memihak padanya. Semua menyalahkan dia. Padahal menurutnya Kalla yang salah. Tidak becus menjaga anak. “Terus aja kamu nyalahin aku. Nggak ada yang paham, di mata kalian aku ini musuh.”Reyhan menghela napas. Menghadapi istrinya susah-susah gampang. Ibarat menjaga gelas kaca, harus sangat berhati-hati baik tindakan maupun perkataan. Reyhan memegang pundak sang istri. “Nggak ada yang nyalahin kamu, Ma. Aku cuma minta kamu jangan terus menekan Kalla. Biar gi
Kalla keluar dari taksi online dengan terburu-buru. Sudah telat satu jam dari jadwal yang diberikan ibu mertuanya mengenai kelas bunga hari ini. Bukannya meremehkan, tapi Kalla juga tidak bisa membiarkan kelasnya kosong. Tidak mungkin meminta izin lagi lantaran dirinya masih dalam masa percobaan sebagai dosen. Saat memasuki halaman belakang rumah keluarga Abimanyu, mama mertuanya dan ketiga iparnya sedang ngeteh cantik. Sementara di sebuah meja panjang dan lebar, para asisten rumah tangga sedang membereskan sisa-sisa kegiatan sore itu. Anak-anak tampak berlarian di halaman berumput hijau bersama para pengasuh. Hanya Kael yang berdiam diri di atas sofa bersama buku bacaan. “Maaf, Ma. Saya—”“Kelas ini mungkin nggak penting buat kamu. Tapi apa kamu tau mama udah lama pesan kelas ini karena jadwal mentornya sangat padat?” potong Diyani langsung. “Menantu mama lainnya juga punya kesibukan. Tapi mereka bisa menyempatkan waktu. Setidaknya mereka bisa menghargai usaha mama membooking mento
Napas Reyga sempat tercekat ketika menoleh ke arah pintu lobi dan mendapati seorang wanita dengan kacamata hitam melangkah masuk. Sudah beberapa kali bertemu dan sempat membuatnya emosi, tetap saja sekelebat kehadiran wanita itu kadang bisa bikin dia terkejut. Dari kejauhan Ninda benar-benar mirip Dilla. Dari mulai postur tubuh dan kontur wajah keduanya sama. Orang yang tidak mengenal Dilla dengan baik pasti akan menganggap mereka orang yang sama. Ninda melepas kacamata begitu posisinya dekat dengan Reyga. Seperti biasa wanita itu akan menunjukkan senyum angkuhnya. Mata Reyga menyipit waspada. Sekarang wanita itu sudah berani mendatangi kantornya. “Mau apa lo ke sini?” tanyanya tanpa basa-basi. “Mau ketemu pemilik Mandala,” sahut Ninda tersenyum miring. Sebenarnya dia masih kesal dengan perlakuan kasar pria ini tempo hari. Menyambangi kantor ini pun bukan karena kemauannya sendiri. “Lo pikir pemilik Mandala nggak punya kesibukan lain sampai mau nemuin lo?” “Aku rasa dia bisa mel
Reyga menekan dua tangan Kalla ke dinding kamar mandi. Dari belakang wanita itu, bawah tubuhnya terus mendesak dan menghentak. Hentakan yang membuat desahan dan rintihan Kalla memenuhi ruang kamar mandi. "Sebentar lagi, Sayang," erang Reyga merasakan ujung tubuhnya makin menegang. Sesuatu siap dia tumpahkan. Reyga melepas tangan Kalla, dan sebagai ganti dia menarik pinggul wanita itu hingga posisi Kalla agak membungkuk. Dia kembali menekan, menghujamkan miliknya kian dalam demi mengejar kepuasan. Tangannya kembali merambat, melingkari dada sang istri. Gerakannya makin tak terkendali. Hingga tak berapa lama, dia mengeluarkan desahan panjang. Reyga menghentak kencang pinggulnya beberapa kali saat puncak kepuasaan yang berkumpul di ujung tubuhnya pecah, menyatu di dalam tubuh sang istri. Napasnya memburu, dadanya bergerak naik turun. Selama beberapa saat lelaki itu mengatur napas. Sebelum menarik tubuh Kalla agar menyandar di dadanya, tanpa melepas penyatuan. "Thanks, Sayang," uc
“Kamu yakin, Kael?” Kalla sangat tahu betapa dari kecil Kael sangat menyukai kegiatan merangkai bricks. Hanya demi menjaga perasaannya, anak itu rela mengembalikan mainan kesukaannya itu. Kael mengangguk seraya tersenyum. Semua bricks sudah dimasukkan ke dalam dus. “Kita kembalikan ke alamat tokonya aja, Ma.” Tangan Kalla terulur menggapai rambut tebal anak sembilan tahun itu. “Iya, nanti kita kembalikan.” “Apa yang dikembalikan?” Suara Reyga mengalihkan keduanya. Pria itu masuk rumah dalam keadaan yang agak berantakan. Dasi yang pagi tadi Kalla pilihkan sudah tidak tergantung di kerah kemejanya. Dua kancing bagian atas kemeja pun sudah terbuka. Dan bagian lengannya sudah tergulung hingga siku. Yang paling membuat Kalla risih, adalah rambut lelaki itu. Sejak menikah, Reyga belum mau memangkasnya lagi. “Ada paket dari Tante Ninda, isinya bricks, Pa,” jawab Kael selagi papanya berjalan mendekat. “Aku mau balikin itu.” Trik apalagi ini? Reyga membuang napas lelah. Lalu beranjak
Hari belum habis tapi kepala Reyga sudah mengepulkan asap hitam. Rahangnya mengetat, dan pangkal alisnya terus berkerut. Dadanya ingin meledak. Dan mulutnya gatal ingin ngunyah orang. Santi sampai tidak berani menoleh melihat awan kelabu di wajah sang bos. Terlalu ngeri. Dia membiarkan Reyga langsung memasuki ruangannya tanpa bertanya hasil dari pertemuan lelaki itu dengan John Hasibuan. Dari mukanya saja sepertinya ada hal buruk. Santi melonjak ketika mendengar gebrakan meja yang lumayan keras dari dalam ruang si bos. Dia mengelus dada seketika. “Santi!”“Ya, Pak!” Sekretaris itu kontan berdiri, dan melesat menuju ruangan Reyga. “Pesankan saya Americano, triple shot!” “Hah?” “Sekarang, Santi!” “Ba-baik, Pak.” Americano satu shot saja pahitnya nauzubillah, lah si bos minta triple shot. Pria itu benar-benar punya masalah besar. Di ruangannya Reyga membuang napas kasar beberapa kali. Dia memukul-mukul dadanya yang penuh emosi. “Brengsek, beraninya remehin gue. Dia pikir siap
“Saya transfer langsung 2 juta sekarang. Tapi tolong temani Kael malam ini.” Kalla menghela napas panjang. Sudah hampir pukul lima, tapi batang hidung Reyga belum juga nongol. Pria itu sempat mengatakan akan segera pulang begitu sampai bandara dan tidak menginap di Kamboja. Namun menjelang senja p
Kalla baru saja sampai ke apartemen setelah sebelumnya mengantar Kael ke sekolah. Suasana sepi kembali menyerbunya. Selalu seperti ini. Hanya melepas Kael ke sekolah tapi sudah rindu celotehan anak itu. Kakinya bergerak menuju kamar Kael. Saat melihat kamar sudah rapi senyumnya terukir. Sejauh ini
"Terima kasih, Kal." Ucapan terima kasih yang diucapkan dengan gurat lelah membuat Kalla cuma bisa mengangguk. Sudah empat hari ini Reyga memintanya menjaga Kael sampai lewat senja lantaran pria itu sedang sibuk-sibuknya di kantor. Bahkan sekarang jauh lebih malam. Dengar-dengar ada proyek baru, en
Sebenarnya Reyga ingin memecat Kalla sejak kejadian seminggu lalu di apartemen. Mana ada majikan kalah ribut sama bawahan? Harga dirinya sedikit terusik dengan tingkah tengil pengasuh Kael itu. Tapi melihat betapa Kael sangat akrab dengan wanita itu, Reyga mengurungkan niatnya. Terlebih ada perubah







