ANMELDENSama kek Kalla, nulis ini aku badmood parah. Meskipun udah didopping Spanish latte, tetep aja mood belum membaik. Huuuuuh 😓
“Ganesha! Iya, saya ingat? Tunangannya itu CEO Ganesha Group!” Tas yang Kalla bawa terlepas begitu saja dari tangannya. Tubuhnya mendadak lunglai, tak bertenaga. Matanya yang berkaca-kaca mengikuti pergerakan wanita oriental itu memasuki restoran. Aneh sekali. Seharusnya ini sudah tidak mempengaruhinya kan? Demi Tuhan, sudah lima tahun berlalu. Hidup terus berjalan. Banyak yang berubah. Tapi kenapa masih saja ada sesuatu yang mencubit perasaannya mendengar hal itu? “Nona, Anda baik-baik saja?” tanya staf itu bingung seraya menyerahkan tas milik Kalla yang tadi sempat jatuh. Wanita 28 tahun itu terkesiap, lantas menggeleng. “Oh, makasih,” katanya sembari menerima tasnya kembali. “Maaf ya, sepertinya saya salah tempat.” “Oh, baik, Nona. Tidak apa-apa.”Kalla segera pergi dari restoran itu. Tidak mau melihat sesuatu yang mungkin bisa menambah kacau perasaannya yang sudah lama tenang. Alih-alih menelepon Wima untuk menanyakan lebih pasti tempat dinner meeting berada, Kalla melepas he
5 TAHUN KEMUDIAN ==================Meja kerja berukuran 120x80 Senti dengan kelir cokelat itu penuh dengan berkas. Laptop terbuka di salah satu sudutnya. Belum lagi kertas-kertas tak penting lainnya yang belum sempat dibereskan.Bagaimana sempat membereskan kalau satu masalah kelar muncul masalah lain? Kalla mengerang frustrasi mendengar ponselnya bergetar di tengah konsentrasinya memelototi layar laptop dan dokumen. “Halo,” sapanya malas dengan mata tak lepas dari monitor. Jarinya juga masih mengetik di atas kibor. “Kamu nggak lupa ntar malam kan?”Suara Wima. Refleks Kalla membuang napas. Perintah lelaki itu sudah dia tulis di memo mana mungkin dia lupa?!“Kenapa nggak kamu aja sih, Kak? Kerjaanku lagi banyak nih. Aku mau lembur,” keluhnya, masih berusaha agar urusan menemui klien penting bukan dia yang handle.“Nggak baik sering lembur. Kalau kamu sakit aku juga yang kena omel ibu.” “Biarin aja kamu kena omel. Emang tiap hari kerjaanmu cuma nyiksa aku kok.”Di ujung telepon le
“You’re sure?” “Definitely yeah.” Reyga tersenyum kecil, sementara perempuan yang duduk bersebrangan dengannya masih belum terlihat puas. Bibir merahnya mencebik. “That's a pity.” Perempuan itu mendesah. Di saat yang sama pintu ganda ruangan diketuk, lalu tak lama sosok Cade muncul. Mata wanita itu sontak melebar. “Who’s he?” Cade mendekat, melempar senyum manis sebelum menyapa tamu Reyga. Agak bingung juga karena sang kakak menyuruhnya cepat datang ke ruangannya. Reyga berdiri, mengancing jas, lalu memperkenalkan adiknya. “Ceci, he’s Cade, my younger brother.” “Oh.” Wanita cantik bermata sipit itu lantas berdiri, melempar senyum pada Cade dan mengulurkan tangan. “Hello, I’m Cecilia Wu, just call me Ceci. Nice to meet you.” Meskipun ragu Cade tetap membalas uluran tangan wanita dengan riasan berani itu. Dia bisa menaksir usia perempuan itu kalau tidak seumuran dengan Reyga berarti di atasnya. Aura dewasa menggeloranya sangat terpancar. Dan Cade menyukai itu. “Jadi, apa y
Saat berhasil masuk kelas Kael langsung duduk, mengambil kubik di tas dan mengutak-utak benda kubus itu dalam diam. Dia ingin marah, tapi kakak cantik tidak suka dia marah. Yang bisa Kael lakukan hanya diam. Sudah lama kakak cantik tidak menemuinya, itu yang membuat Kael kecewa dan marah. Papa juga jarang tertawa dan makin sibuk. Nanny baru Kael juga tidak suka. Masakannya tidak enak. Sebenarnya Kael kangen sama kakak cantik, tapi dia tahu kakak datang untuk pergi lagi. Kael mengabaikan anak-anak lain yang bersusulan masuk dan membuat kegaduhan. Dia hanya menghela napas ketika pesawat kertas mengenai kepalanya dan mendarat tepat di atas mejanya. “Kael! Pesawatku!” teriak salah seorang teman. Namun Kael cuma melirik kertas origami itu tanpa berniat mengembalikan. ‘Kalau mau ambil saja sendiri. Siapa suruh lemparnya nggak bener’ itu kira-kira yang ada di pikiran anak 4 tahun itu. Miss Atika masuk kemudian bersama Miss Rosa. Sementara Miss Atika menghampiri Kael, Miss Rosa menertibk
“Kael dan Reyga gimana?” Kalla yang sedang fokus mengepak pakaian menoleh. Tatapnya melihat ibu mendekat, lalu perlahan duduk di sisi tempat tidur. “Hubungan kalian benar-benar nggak bisa diperbaiki?” tanya ibu lagi. Sejak tahu Kalla putus dengan Reyga, ibu tidak terlalu kepo. Bahkan tidak menanyakan kenapa putus. Dia percaya ada alasan masuk akal yang membuat hubungan mereka tidak bisa lanjut. Dia cuma bisa mendukung meskipun dalam hati sedih juga. Ibu sudah mulai dekat dengan Kael. Sudah menganggap seperti cucunya sendiri. Dan sejak mereka putus, praktis wanita paruh baya itu tidak bisa melihat bocah ganteng itu lagi. Kalla tersenyum getir dan menggeleng. Lalu melanjutkan melipat pakaian. “Kamu nggak pamitan juga ke mereka?” “Aku nanti ke sekolah Kael.” “Reyga gimana?” Netra Kalla menatap baju yang sudah dia rapikan. Juga beberapa keperluannya selama di sana nanti. Lusa dia dan teman-temannya akan diberangkatkan ke Negeri Sakura. “Lebih baik nggak ketemu lagi, Bu.” Tarikan
Hening. Hening sesaat melanda ketika Kalla meluapkan emosinya. Hidung wanita itu memerah, bahkan sewajah-wajahnya. Rasa nyeri di dadanya kembali mengusik. Dia sambar kertas tisu banyak-banyak untuk menyeka hidung. “Ini salahku yang terlalu cepat menilai dan ambil keputusan. Padahal Cade udah ngasih aku peringatan gimana brengseknya kamu.” Kalla tertawa tanpa suara. Menatap sekilas pria di depannya yang memasang wajah nelangsa. “Bener ternyata. Pria seperti kamu nggak akan pernah cukup hidup sama satu wanita.” Reyga memejamkan mata. Dia tahu rasa kecewa Kalla besar, tapi yang lebih menyedihkan dia sudah kehilangan kepercayaan orang yang dia cintai. Bagaimana? Bagaimana cara Reyga mengembalikan semuanya seperti awal? “Aku memang salah. Di matamu mungkin juga sudah buruk,” ucap Reyga menunduk. Meskipun tahu tidak ada gunanya lagi bicara. “Tapi cinta dan sayangku ke kamu tulus dan serius. Aku beneran ingin settle down di kamu. Demi Tuhan, aku nggak pernah ingin menduakan atau mempermai
Ciuman mereka berlarut-larut dengan posisi Kalla di atas Reyga. Ketika sebelah tangan Reyga mulai merayap pahanya pun wanita itu membiarkan. Matanya terus terpejam meningkahi tiap sentuhan yang lelaki itu berikan. “Kamu… “ Rambut Kalla terburai saat dari belakang tangan Reyga melepas ikat rambutn
“Saya beneran nggak nyangka kalau Willa ternyata adik Kak Wima.” “Muka kami nggak mirip ya, Kak?” “Senyum kalian mirip sih. Mata kalian juga sama warnanya, cakep.” Willa di depan Kalla mengulum senyum. Ujung matanya melirik sang kakak yang terus melengkungkan bibir sejak bertemu tanpa sengaja den
Kalla mondar-mandir di depan Moya. Dia stres memikirkan tentang keinginan Reyga yang ingin mengenalkan dirinya pada keluarga lelaki itu. Kepalanya pusing tujuh keliling, apalagi ketika Reyga malah ngambek gara-gara dia kekeh menolak untuk datang ke rumah orang tua lelaki itu. “Dilamar nggak mau, di
Reyga terkejut ketika membuka mata dan menemukan dirinya berada di kamar apartemen. Dia bangun cepat, tapi meringis ketika merasakan sakit mendera kepalanya dengan sangat. Sesuatu yang harus dia pastikan membuatnya terpaksa meninggalkan ranjang tidur. Dia mencari analgesik untuk meredakan sakit ke







