MasukJawab ye Bang.... Hwaaa udah 160 bab. Makasih ya yg udah ramein sampe sejauh ini... Lope lope
“Ada yang jemput kita?” tanya Kalla begitu mendarat di Bandara Raja Haji Fisabilillah Tanjung Pinang“Hu-um, dari tim langsung.” Dan benar, Kalla tampak kebingungan karena yang menjemput mereka adalah tim dari Nikoi. “Bukannya kita mau ke Pulau Cempedak, kenapa yang datang dari tim Pulau Nikoi?” bisik Kalla. Dari badan mobil pribadi sampai komplimen di dalamnya tertulis brand Nikoi Island, alih-alih Cempedak Island. Reyga terkekeh seraya mengayunkan tangan Kalla. “Nikoi dan Cempedak satu manajemen. Pemiliknya sama.”Barulah Kalla mengangguk sambil ber oh-oh ria. Sepanjang jalan menuju private port dia mengedarkan pandang. Infrastrukturnya sudah lumayan bagus. Jalanannya mulus meskipun kanan-kiri masih dipenuhi pohon dan semak.Hanya memakan waktu sekitar 30 menit perjalanan, akhirnya mereka tiba di private port di daerah Kawal. Mereka transit sebentar di tempat khusus milik Pulau Nikoi dan Cempedak sebelum menuju speedboat yang sudah menunggu mereka. “Rey, ini beneran kita berdua d
“Kamu terlalu keras nggak sih, Rey, sama mama?”“Biasa aja.” Sikap tak acuh lelaki itu membuat Kalla menghela napas. “Kamu masih marah sama mama?” “Nggak. Cuma…kalau mama udah bertingkah berlebihan, aku males. Seperti yang nggak pernah berbuat salah aja,” sahut Reyga, sambil membelokkan kemudi memasuki area kampung rumah ibu. SUV hitam miliknya berjalan lambat saat berada di wilayah perkampungan. “Tiap orang kan pernah berbuat salah.” “Iya, tapi nggak seketerlaluan mama.”“Ada kok yang lebih keterlaluan.” Karena tidak ingin mendebat istrinya, Reyga memilih diam sampai ban hitam kendaraannya menginjak halaman rumah ibu. “Sebaiknya kita istirahat cepat supaya besok nggak telat.”Kalla melepas seatbelt dan keluar lebih dulu. “Aku belum masukin baju kita ke koper.” “Oke, biar aku aja.” Saat memasuki rumah, ibu tampak sedang duduk di depan TV sambil memasang kancing baju jahitannya. “Kebiasaan deh. Ini kan udah malam, masih ngerjain itu aja,” protes Kalla mendekat. Dia bahkan meng
Musim panas di Jepang tidak sepanas musim kemarau di Indonesia. Kalla tidak terlalu membekali Kael dengan pakaian aneh-aneh. Nyaris yang dibawa hanya pakaian sehari-hari itu pun hanya sedikit karena Kiana melarangnya membawa banyak pakaian. “Di sana banyak baju, kalau kurang tinggal beli. Kamu nggak perlu khawatir.”Kadang Kalla lupa dirinya sudah masuk ke keluarga yang gaya hidupnya jauh berbeda dengan dirinya. Jika dia harus senantiasa berhemat demi masa depan, orang-orang seperti mereka tidak memusingkan esok akan jadi apa. “Ingat apa kata mama, Kael?” tanya Kalla saat mengantar putranya ke bandara. Mereka berkumpul di lounge seraya menunggu jet pribadi milik Raven siap lepas landas. Kiana terlihat sibuk dengan anak-anak dan dua pengasuhnya. Sementara Reyga tengah berdiskusi dengan Raven. “Iya.”“Semangat dong kamu kan mau liburan. Jepang itu keren loh.”“Keren kalau ada Mama juga.”Kalla menatap putranya selama beberapa saat. Sebenarnya dia juga berat membiarkan Kael pergi libu
Kafe yang berada di sekitar kampus itu tidak terlalu luas. Beberapa mahasiswa, Kalla tahu bekerja paruh waktu di sana. Dengar-dengar pemilik kafe itu juga alumni kampus ini, yang sengaja membuka kafe supaya bisa membantu mahasiswa yang ingin mencari part time. Kalla memesan kopi butterscotch dan Wima kopi hitam tanpa gula. Heran sekali, kenapa kebanyakan laki-laki suka minum kopi tanpa gula sih? “Pantesan hidup kamu gitu-gitu aja. Selera ngopinya jadul banget,” cibir Kalla. “Heh, apa ada yang salah dari kopi hitam? Asal kamu tau ya, ini tuh tahta tertinggi pecinta kopi .” Wima tak terima, dan melirik kopi yang Kalla pesan. “Kalau yang kamu minum itu, bukan kopi namanya. Tapi cairan susu dan gula.”“Jangan ngejek kopiku ya, ini tuh bisa bikin mood meningkat seharian.” Kalla tak mau kalah. “Kopi item gitu. Surem!”Dengan gemas Wima menyentil dahi Kalla. Membuat wanita itu terpekik seraya mengusap dahinya. Pria itu tersenyum. Hal-hal seperti ini yang kadang dia rindukan dari wanita it
Tangan Kalla meremas kain bantal, sesekali kepalanya menoleh ke belakang, menyaksikan bagaimana Reyga memacu dirinya. Cepat dan penuh penekanan di setiap hujaman. Entah kenapa obrolan tentang liburan malah berakhir dirinya yang kini kena bantai di atas ranjang. “This is the real honeymoon, Baby,” bisik Reyga sembari menarik tubuh sang istri agar menempel padanya. Sementara pinggulnya terus bergerak dengan ritme cepat, sesekali melambat. “Jadi, kita nggak perlu ke mana-mana?” sahut Kalla sebelum melempar kepalanya ke belakang, bersandar pada bahu Reyga lantaran pria itu meremas dadanya, sekaligus menggesekkan jarinya di area bawah sana. “Jadi dong. Di sana kamu bisa lebih puas, Sayang.” Tiga stimulasi yang Reyga berikan sekaligus membuatnya tak mampu bertahan. Kalla melenguh, sekujur tubuhnya menegang, dalam dekapan Reyga dia menuntaskan hasratnya. “Lemes aku, Rey,” keluh wanita itu, ambruk dalam posisi tengkurap. Di atasnya, Reyga terus menciumi punggungnya. “Aku belum ap
“Kenapa kamu mau membujuk dia?” “Siapa tahu saja ini pertemuan terakhir mereka.” Reyga menghela napas panjang sambil terus mengawasi Ninda dan Kael dari kejauhan. Kael menolak menemui wanita itu. Namun berkat bujukan Kalla, anak itu mau menemuinya. “Mama mengawasi kamu dari sini, Nak.” Kata-kata itu yang membuat Kael akhirnya mengangguk. Di dekat pohon ketapang yang berdiri kokoh di depan gedung pengadilan, Kael menemui Ninda. Anak itu terlihat diam saja saat Ninda memeluknya, bahkan saat wajahnya disentuh Kael tidak menolak. Sesuatu yang sangat jarang terjadi karena Kael bukan jenis anak yang mudah disentuh. Jika dia sampai membiarkan orang lain menyentuhnya, artinya dia merasa nyaman dan suka dengan orang tersebut. “Kayaknya kecemasan kita nggak beralasan,” ucap Kalla ketika melihat Kael duduk tenang, tampak tengah mendengar Ninda berbicara. Entah apa yang sedang wanita itu ceritakan. “Mungkin dia benar-benar sayang sama Kael.” “Mungkin.” Reyga mengedikkan bahu. “Dia tahu
Kalla terbangun ketika bunyi ponsel terdengar nyaring. Mulutnya berdecak kesal, tapi matanya masih merapat. Tangannya terjulur, mencari-cari benda yang memekakkan telinga. Kalau tidak ingat benda pipih itu harganya jutaan, mungkin Kalla sudah melemparnya ke tong sampah karena sudah sukses membangunk
Suasana meeting terasa mencekam. Meski suhu ruangan disetel paling rendah, tapi tak mencegah bulir-bulir peluh meluncur dari para perwakilan departemen yang mengikuti rapat. Pasalnya dari awal datang penghuni paling ujung meja rapat mengeluarkan aura tidak menyenangkan. Satu per satu tiap pimpinan
Pukul tujuh malam Kalla menutup buku cerita. Hanya beberapa menit membaca, Kael langsung tertidur. Efek tidak tidur siang, anak itu kelelahan dan cepat mengantuk. Begitu Kiana pulang, Kael merengek minta makan. Satu jam kemudian sudah mengajak Kalla baca cerita. Perlahan Kalla keluar dari kamar. K
"Itu... Kakak Cantik kamu kan, Kael?" Kael mengangguk semangat lantas menarik tangan Kiana untuk mendekati Kalla yang masih berdiri di tempatnya. "Kakak! Mama Ki pulang dong!" lapor Kael semangat sambil memamerkan wanita yang seharusnya jadi tantenya itu. Kalla mengangguk seraya tersenyum. "Iya,







