Share

197. Ninda

last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-26 12:43:17

Reyga meletakkan sebuket bunga mawar yang dirangkai dengan bunga baby breath di atas makam Dilla. Sudah sembilan tahun berlalu, tapi makam itu terawat dengan baik. Pun dengan keadaan makam di sekitarnya.

Biasanya tiap tahun Reyga akan membawa Kael untuk mengunjungi makam ibunya. Tepat di hari ulang tahun Dilla. Dan ultah Dilla masih satu bulan lagi.

“Sori, aku baru datang. Bukannya aku lupain kamu. Kamu tetep ibu Kael. Nggak akan mengubah apapun meskipun aku sudah menikah lagi. Maaf juga kare
Yuli F. Riyadi

Big thanks buat kakak-kakak yang support sampe detik ini. Bab ini aku dedikasikan buat kalian ❤️ Yang mungkin bosan atau apalah, nggak apa-apa. Sila melipir, tanpa meninggalkan jejak apapun yang nantinya bikin mood nulis aku ancur. Percayalah, bongkar pasang revisi outline itu sampe bikin aku gak bisa tidur. Hahahaha. It's okay. Untung aku lagi puasa, kata Upin-Ipin harus banyak sabar. Semoga rejeki di hari Arofah sampai ke kakak-kakak semuanya. Aamiin

| 11
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (5)
goodnovel comment avatar
Anies
aku selalu padamu pokoknya thor.. makasih banyak² ya thor..
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Aamiiiiin.... Iya nggak apa-apa, Kak. Semoga gak berbalik ke kata-katanya. Kita keep woles aja.
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Aamiiin kenceng
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Hello, Nanny!   197. Ninda

    Reyga meletakkan sebuket bunga mawar yang dirangkai dengan bunga baby breath di atas makam Dilla. Sudah sembilan tahun berlalu, tapi makam itu terawat dengan baik. Pun dengan keadaan makam di sekitarnya. Biasanya tiap tahun Reyga akan membawa Kael untuk mengunjungi makam ibunya. Tepat di hari ulang tahun Dilla. Dan ultah Dilla masih satu bulan lagi. “Sori, aku baru datang. Bukannya aku lupain kamu. Kamu tetep ibu Kael. Nggak akan mengubah apapun meskipun aku sudah menikah lagi. Maaf juga karena telat memberitahu ini. Tapi aku yakin kamu sudah memiliki tempat yang lebih baik di sana. Aku dan Kael sudah bahagia. Semoga di sana kamu juga ikut bahagia seperti kami.”Tepat setelah itu telinga Reyga mendengar suara langkah pelan seseorang di belakangnya, lalu memutar ke sisi makam lainnya. Mata Reyga secara otomatis mengikuti langkah kaki itu. Tatapnya melihat sepasang kaki perempuan mengenakan heels putih. Pandangan Reyga perlahan naik hingga matanya tepat tertuju pada wajah perempuan b

  • Hello, Nanny!   196. Halusinasi

    “Rey?” Menyadari suaminya tidak lagi berjalan di sisinya, Kalla menoleh. Dia melihat Reyga berdiri jauh di belakangnya dengan wajah pucat. Dengan cepat dia menghampiri lelaki itu. “Rey? Kamu baik-baik aja?” tanya Kalla tampak cemas melihat kondisi Reyga yang sudah seperti patung. Reyga terkesiap. Matanya mengerjap, lalu menatap Kalla. Sudut bibirnya dia naikkan, membentuk seulas senyum tipis. Lalu kepalanya menggeleng. “Nggak apa-apa. Ayo, kita pulang.” Reyga menarik tangan Kalla, berusaha tenang. Dia menarik napas panjang beberapa kali begitu sampai ke mobil. “Tangan kamu dingin seperti baru lihat hantu?” Secara refleks dia menoleh pada Kalla yang tengah sibuk memasang seatbelt. “Hantu?” Lelaki itu tertawa kaku. Konyol sekali. Ini pasti karena dirinya sedang menghadapi proyek besar pemerintah yang bikin kepalanya nyut-nyutan, makanya bisa berhalusinasi melihat dia. Sekali lagi Reyga menarik napas panjang sebelum menghidupkan mesin mobilnya. Semua akan baik-baik saja. Re

  • Hello, Nanny!   195. Undangan Reuni

    “Kayaknya kamu jadi idola baru para mahasiswa di sini,” sindir Reyga ketika Kalla sampai di depannya. “Eh?” Secara spontan tatap Kalla melirik ke sekitar. Tepat ketika pandangannya jatuh ke rombongan cowok mahasiswa, dia tersenyum lantaran mendapati mereka tengah memperhatikannya. Dan … “Sore, Bu…,” sapa mereka sopan sambil menundukkan kepala. Kalla agak gelagapan melihat tingkah mereka, tapi tak urung wanita itu membalas sapaan mereka. “Sore.” Dia lantas bergerak duduk di sisi Reyga, dan meringis seraya mengernyit. “Maksud kamu ini?” Dengan santai Reyga mengangguk sambil mengulum senyum. “Selama mereka masih sopan gibahin kamu aku bakal diem aja. Tapi kalau udah mengarah ke tindakan pelecehan, aku nggak akan tinggal diam.” Sambil menopang dagu, Kalla ikutan mengangguk. “Gimana hari pertama kamu mengajar?” tanya Reyga kemudian, tangannya meraih cangkir kopi dan menyeruputnya. “Cukup deg-degan. Berpuluh-puluh pasang mata menatapku di depan bikin aku hampir oleng.” “Ada yang

  • Hello, Nanny!   194. Dosen Baru

    “Mau aku antar?” tanya Reyga. Ini adalah hari pertama Kalla mengajar sebagai dosen pengganti di salah satu PTS, setelah serangkaian pendaftaran dan tes yang dia ikuti beberapa Minggu terakhir. “Nggak perlu. Kamu juga lagi sibuk.” Kalla memilih salah satu dasi, dan mengambilnya dengan senyum terulas. Dia menempelkan dasi itu ke dada Reyga untuk melihat kecocokan warna dengan kemeja yang lelaki itu pakai. “Cocok.”Dengan sigap, Reyga mengangkat tubuh Kalla, dan mendudukkannya ke meja supaya wanita itu bisa dengan mudah memasangkan dasi padanya. “Kalau gitu biar Kael berangkat bareng aku.”“Oke.” Kalla mulai fokus melingkarkan kain panjang itu ke kemeja suaminya. Menyimpulkan dengan tatapan serius dan hati-hati. Ekspresinya membuat Reyga terkekeh geli. “Emang sesulit itu?”“Hum, aku udah belajar sih. Harusnya berhasil.” Beberapa kali Kalla membuka simpul karena merasa tidak puas dengan hasilnya. Lalu ketika menemukan posisi yang pas dia tersenyum senang. Wanita itu menepuk bahu suaminy

  • Hello, Nanny!   193. Lebih Hot

    Hampir saja Reyga kalah jika dia tidak segera menahan istrinya agar segera berdiri. Tidak bisa. Dia tidak biasa pasrah. Meskipun rasanya luar biasa nikmat ketika dirinya dilingkupi bibir lembut itu, Reyga tidak rela jika permainan ini dengan cepat berakhir. Reyga membalik tubuh Kalla, menghadapkannya ke dinding. Menarik pinggul sang istri, dia melesakkan miliknya dari belakang. Kalla terkesiap merasakan dalamnya sentuhan Reyga. Desahannya kontan lolos bertubi-tubi ketika lelaki itu mulai menghujamnya tanpa ampun. Gerakannya yang kuat dan penuh tekanan itu membuat Kalla terus menjerit. Puas dengan posisi itu, Reyga membalik tubuh istrinya lagi. Kini mereka di posisi saling berhadapan. Dengan tak sabar Reyga meraup bibir basah Kalla, melumatnya dengan penuh gélora. Dari bibirnya ciuman itu turun ke leher. Di sana Reyga menggigit kuat-kuat hingga meninggalkan békas. Tidak cukup sampai di situ, tanpa peduli rintihan Kalla, pria itu kembali menggigit pundak serta bagian mulus kulit dadan

  • Hello, Nanny!   192. Check in

    Bukan hanya dirinya yang mendapat tekanan dari mama ternyata. Kalla menyimak bagaimana dulu Diyani menentang hubungan Ceci dengan Cade. Padahal Kalla pikir Ceci udah paling keren. Cantik, brilian, dan pebisnis andal. Namun ternyata itu belum cukup menarik hati mama mertuanya. “Mama itu susah-susah gampang. Tapi aku sih nggak peduli. Selama kami saling cinta, ya kami bakal tetep maju. Mau orang tua kami menentang, kami akan berjuang.” Tidak ada raut sedih. Justru Kalla melihat percaya diri luar biasa yang terpancar dari wanita itu. Bahkan melihat caranya menolak mama di acara window shopping saja tampak begitu berani. Aura perlawanannya begitu kuat. “Kamu wanita hebat. Kenapa mama bisa nggak setuju?” tanya Kalla agak bingung juga. Menurutnya Ceci itu sempurna. Wanita mata segaris itu tersenyum. “Jelas kan? Karena aku beda. Aku WNA, keturunan Tiongkok sementara mama dan papa keturunan jawa asli, dan juga usia aku dan Cade terpaut lumayan jauh. Terlebih mama pernah menganggap aku puny

  • Hello, Nanny!   47. Gila Cowok

    “Kenapa Lo nggak bilang kalau Papa Reyga secakep itu?!” Begitu Reyga pergi, Moya kehebohan. BerWow-Wow ria tidak ada hentinya sampai Kalla bosan mendengarnya. “Kan gue udah cerita kalau dia itu ganteng.”“Tapi gue nggak ekspek bakal seganteng ini. Bodynya, Kaaaal. Lengannya, Kaaaaal. Ya ampuuun.

  • Hello, Nanny!   46. Melamun

    Kalla cengar-cengir begitu keluar dari mobil. Di sisi kanan, Reyga juga ikut keluar. Sementara Kael memilih duduk tenang di atas car seat, tidak mau turun. Hampir pukul lima sore ketika mereka sampai di halaman rumah Kalla. “Besok mau berangkat sendiri atau dijemput Pak Sato?” tanya Reyga. Jejak

  • Hello, Nanny!   44. Yang Kamu Suka Siapa?

    Ibu sedang berkutat di depan mesin jahit ketika mendengar suara derum mobil memasuki halaman rumah. Kepala wanita paruh baya itu lantas terjulur ke jendela, melihat siapa yang datang. Itu adalah mobil keluaran Jerman yang ibu kenali karena beberapa kali bertandang. Dia segera meninggalkan pekerjaan

  • Hello, Nanny!   42. Kita Punya Pizza!

    “Pizzaaa!” seru Cade saat Reyga membuka pintu. Lelaki berkulit pucat itu mendorong pintu lebar dan masuk begitu saja. Meninggalkan helaan napas panjang kakaknya yang merasa bete maksimal karena aktivitasnya terganggu. “Gue juga beli Mac and Cheese kesukaan Kael. Mana dia, Kak?” cerocos Cade seraya

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status