Inicio / Romansa / Hello, Nanny! / 196. Halusinasi

Compartir

196. Halusinasi

last update Fecha de publicación: 2026-05-26 08:01:31
“Rey?”

Menyadari suaminya tidak lagi berjalan di sisinya, Kalla menoleh. Dia melihat Reyga berdiri jauh di belakangnya dengan wajah pucat. Dengan cepat dia menghampiri lelaki itu.

“Rey? Kamu baik-baik aja?” tanya Kalla tampak cemas melihat kondisi Reyga yang sudah seperti patung.

Reyga terkesiap. Matanya mengerjap, lalu menatap Kalla. Sudut bibirnya dia naikkan, membentuk seulas senyum tipis. Lalu kepalanya menggeleng.

“Nggak apa-apa. Ayo, kita pulang.” Reyga menarik tangan Kalla, berusah
Yuli F. Riyadi

Hari ini aku mo pulang kampung jadi update cepet. Kalo ada waktu diusahakan up lagi, tapi kalo enggak berarti cuma sekali upnya. Hehehe

| 6
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado
Comentarios (13)
goodnovel comment avatar
Dinaningtyas Apriy
ahhh syukurlah back to reality udah kek gitu ujungnya Rey tetep menang banyak wkwkwk fii amanillah next lebih menarik gimana value Kalla "menaklukkan" mamer sampe speechless mlongo terkewer2 Ama kalla
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
My little bolu ketaan wkwkwk
goodnovel comment avatar
NeaNeo
sama" kak..MBG mas bahlil ganteng apa yg mana ini..xixixixi
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Hello, Nanny!   197. Ninda

    Reyga meletakkan sebuket bunga mawar yang dirangkai dengan bunga baby breath di atas makam Dilla. Sudah sembilan tahun berlalu, tapi makam itu terawat dengan baik. Pun dengan keadaan makam di sekitarnya. Biasanya tiap tahun Reyga akan membawa Kael untuk mengunjungi makam ibunya. Tepat di hari ulang tahun Dilla. Dan ultah Dilla masih satu bulan lagi. “Sori, aku baru datang. Bukannya aku lupain kamu. Kamu tetep ibu Kael. Nggak akan mengubah apapun meskipun aku sudah menikah lagi. Maaf juga karena telat memberitahu ini. Tapi aku yakin kamu sudah memiliki tempat yang lebih baik di sana. Aku dan Kael sudah bahagia. Semoga di sana kamu juga ikut bahagia seperti kami.”Tepat setelah itu telinga Reyga mendengar suara langkah pelan seseorang di belakangnya, lalu memutar ke sisi makam lainnya. Mata Reyga secara otomatis mengikuti langkah kaki itu. Tatapnya melihat sepasang kaki perempuan mengenakan heels putih. Pandangan Reyga perlahan naik hingga matanya tepat tertuju pada wajah perempuan b

  • Hello, Nanny!   196. Halusinasi

    “Rey?” Menyadari suaminya tidak lagi berjalan di sisinya, Kalla menoleh. Dia melihat Reyga berdiri jauh di belakangnya dengan wajah pucat. Dengan cepat dia menghampiri lelaki itu. “Rey? Kamu baik-baik aja?” tanya Kalla tampak cemas melihat kondisi Reyga yang sudah seperti patung. Reyga terkesiap. Matanya mengerjap, lalu menatap Kalla. Sudut bibirnya dia naikkan, membentuk seulas senyum tipis. Lalu kepalanya menggeleng. “Nggak apa-apa. Ayo, kita pulang.” Reyga menarik tangan Kalla, berusaha tenang. Dia menarik napas panjang beberapa kali begitu sampai ke mobil. “Tangan kamu dingin seperti baru lihat hantu?” Secara refleks dia menoleh pada Kalla yang tengah sibuk memasang seatbelt. “Hantu?” Lelaki itu tertawa kaku. Konyol sekali. Ini pasti karena dirinya sedang menghadapi proyek besar pemerintah yang bikin kepalanya nyut-nyutan, makanya bisa berhalusinasi melihat dia. Sekali lagi Reyga menarik napas panjang sebelum menghidupkan mesin mobilnya. Semua akan baik-baik saja. Re

  • Hello, Nanny!   195. Undangan Reuni

    “Kayaknya kamu jadi idola baru para mahasiswa di sini,” sindir Reyga ketika Kalla sampai di depannya. “Eh?” Secara spontan tatap Kalla melirik ke sekitar. Tepat ketika pandangannya jatuh ke rombongan cowok mahasiswa, dia tersenyum lantaran mendapati mereka tengah memperhatikannya. Dan … “Sore, Bu…,” sapa mereka sopan sambil menundukkan kepala. Kalla agak gelagapan melihat tingkah mereka, tapi tak urung wanita itu membalas sapaan mereka. “Sore.” Dia lantas bergerak duduk di sisi Reyga, dan meringis seraya mengernyit. “Maksud kamu ini?” Dengan santai Reyga mengangguk sambil mengulum senyum. “Selama mereka masih sopan gibahin kamu aku bakal diem aja. Tapi kalau udah mengarah ke tindakan pelecehan, aku nggak akan tinggal diam.” Sambil menopang dagu, Kalla ikutan mengangguk. “Gimana hari pertama kamu mengajar?” tanya Reyga kemudian, tangannya meraih cangkir kopi dan menyeruputnya. “Cukup deg-degan. Berpuluh-puluh pasang mata menatapku di depan bikin aku hampir oleng.” “Ada yang

  • Hello, Nanny!   194. Dosen Baru

    “Mau aku antar?” tanya Reyga. Ini adalah hari pertama Kalla mengajar sebagai dosen pengganti di salah satu PTS, setelah serangkaian pendaftaran dan tes yang dia ikuti beberapa Minggu terakhir. “Nggak perlu. Kamu juga lagi sibuk.” Kalla memilih salah satu dasi, dan mengambilnya dengan senyum terulas. Dia menempelkan dasi itu ke dada Reyga untuk melihat kecocokan warna dengan kemeja yang lelaki itu pakai. “Cocok.”Dengan sigap, Reyga mengangkat tubuh Kalla, dan mendudukkannya ke meja supaya wanita itu bisa dengan mudah memasangkan dasi padanya. “Kalau gitu biar Kael berangkat bareng aku.”“Oke.” Kalla mulai fokus melingkarkan kain panjang itu ke kemeja suaminya. Menyimpulkan dengan tatapan serius dan hati-hati. Ekspresinya membuat Reyga terkekeh geli. “Emang sesulit itu?”“Hum, aku udah belajar sih. Harusnya berhasil.” Beberapa kali Kalla membuka simpul karena merasa tidak puas dengan hasilnya. Lalu ketika menemukan posisi yang pas dia tersenyum senang. Wanita itu menepuk bahu suaminy

  • Hello, Nanny!   193. Lebih Hot

    Hampir saja Reyga kalah jika dia tidak segera menahan istrinya agar segera berdiri. Tidak bisa. Dia tidak biasa pasrah. Meskipun rasanya luar biasa nikmat ketika dirinya dilingkupi bibir lembut itu, Reyga tidak rela jika permainan ini dengan cepat berakhir. Reyga membalik tubuh Kalla, menghadapkannya ke dinding. Menarik pinggul sang istri, dia melesakkan miliknya dari belakang. Kalla terkesiap merasakan dalamnya sentuhan Reyga. Desahannya kontan lolos bertubi-tubi ketika lelaki itu mulai menghujamnya tanpa ampun. Gerakannya yang kuat dan penuh tekanan itu membuat Kalla terus menjerit. Puas dengan posisi itu, Reyga membalik tubuh istrinya lagi. Kini mereka di posisi saling berhadapan. Dengan tak sabar Reyga meraup bibir basah Kalla, melumatnya dengan penuh gélora. Dari bibirnya ciuman itu turun ke leher. Di sana Reyga menggigit kuat-kuat hingga meninggalkan békas. Tidak cukup sampai di situ, tanpa peduli rintihan Kalla, pria itu kembali menggigit pundak serta bagian mulus kulit dadan

  • Hello, Nanny!   192. Check in

    Bukan hanya dirinya yang mendapat tekanan dari mama ternyata. Kalla menyimak bagaimana dulu Diyani menentang hubungan Ceci dengan Cade. Padahal Kalla pikir Ceci udah paling keren. Cantik, brilian, dan pebisnis andal. Namun ternyata itu belum cukup menarik hati mama mertuanya. “Mama itu susah-susah gampang. Tapi aku sih nggak peduli. Selama kami saling cinta, ya kami bakal tetep maju. Mau orang tua kami menentang, kami akan berjuang.” Tidak ada raut sedih. Justru Kalla melihat percaya diri luar biasa yang terpancar dari wanita itu. Bahkan melihat caranya menolak mama di acara window shopping saja tampak begitu berani. Aura perlawanannya begitu kuat. “Kamu wanita hebat. Kenapa mama bisa nggak setuju?” tanya Kalla agak bingung juga. Menurutnya Ceci itu sempurna. Wanita mata segaris itu tersenyum. “Jelas kan? Karena aku beda. Aku WNA, keturunan Tiongkok sementara mama dan papa keturunan jawa asli, dan juga usia aku dan Cade terpaut lumayan jauh. Terlebih mama pernah menganggap aku puny

  • Hello, Nanny!   17. Tamu Pagi

    Bagaimana Reyga sepagi ini bisa sampai di rumah Kalla? Kapan dia balik dari Kamboja?Sialnya, penampilan wanita itu saat ini sudah seperti reog. Kesadaran Kalla kontan pulih sepenuhnya. Dia menatap ibu dan Reyga berganti. "Kamu baru bangun?" tanya Reyga menatap Kalla dari ujung kaki hingga rambut.

  • Hello, Nanny!   16. Rumah Kakak

    “Saya transfer langsung 2 juta sekarang. Tapi tolong temani Kael malam ini.” Kalla menghela napas panjang. Sudah hampir pukul lima, tapi batang hidung Reyga belum juga nongol. Pria itu sempat mengatakan akan segera pulang begitu sampai bandara dan tidak menginap di Kamboja. Namun menjelang senja p

  • Hello, Nanny!   14. Bertemu Musuh

    Kalla baru saja sampai ke apartemen setelah sebelumnya mengantar Kael ke sekolah. Suasana sepi kembali menyerbunya. Selalu seperti ini. Hanya melepas Kael ke sekolah tapi sudah rindu celotehan anak itu. Kakinya bergerak menuju kamar Kael. Saat melihat kamar sudah rapi senyumnya terukir. Sejauh ini

  • Hello, Nanny!   13. Resiko Orang Cantik

    "Terima kasih, Kal." Ucapan terima kasih yang diucapkan dengan gurat lelah membuat Kalla cuma bisa mengangguk. Sudah empat hari ini Reyga memintanya menjaga Kael sampai lewat senja lantaran pria itu sedang sibuk-sibuknya di kantor. Bahkan sekarang jauh lebih malam. Dengar-dengar ada proyek baru, en

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status