Share

203. Resah

last update publish date: 2026-06-01 22:16:00

Mata Reyga terbuka pelan saat merasakan tidur istrinya gelisah. Ternyata wanita itu masih terjaga kendati malam sudah merangkak naik.

“Ada apa, Sayang? Kenapa kamu belum tidur, hm?” tanya Reyga lembut. Posisi tidurnya yang menyamping membuatnya bisa melihat Kalla yang bergerak gelisah. “Masih memikirkan soal Ninda?” tebak lelaki itu.

Kalla membuang napas kasar lantas beringsut menyamping, menghadap Reyga yang tidur berbantal lengan. Dia mengangguk dengan wajah cemas yang tidak bisa disembunyik
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (10)
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Maafin dakooooh kakkk wkwkwk
goodnovel comment avatar
Poppy Miranda
duhhh bacanya telat, pas pagi2 mana LG di KRL huuuuuhuuu
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Solusi yg iya iya hahahaha
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   215. Masak di Rumah Mertua

    “Nggak nyangka bujang tua seleranya anak SMA.” Ini sudah ke-sepuluh kali Reyga mengatakan itu, lantas tergelak. Dia benar-benar puas banget mengolok-olok Wima di depan Kalla. “Bisa diem nggak, Rey?” Kalla melirik kesal. Sejak keluar dari kedai dimsum itu, lelaki itu tidak berhenti menertawakan Wima. Padahal tidak ada yang lucu. Dugaannya tidak berdasar, mana mungkin Wima mengencani gadis yang masih sekolah? Kalla yakin gadis itu sudah legal secara usia untuk menikah. Lagi pula wajahnya jauh lebih menarik daripada…wanita yang tempo hari berkenalan dengan Kalla. Dan itu yang menjadi pertanyaan di hati Kalla, ke mana wanita itu? Apa yang terjadi? “Iya aku diem.” Reyga membuat gerakan mengunci mulut sambil terus mengendalikan kemudi. Ujung matanya melirik sang istri yang memasang tampang serius sambil memperhatikan jalan. “Ada apa?” tanya Reyga yang merasa bosan. “Kenapa muka kamu begitu sejak keluar dari kedai?” “Begitu gimana?” sahut Kalla makin serius memperhatikan jalanan malam

  • Hello, Nanny!   214. Kuliner Malam

    “Kamu tau nggak, Rey.” Kalla tersenyum menatap langit-langit kamar. “Aku kaget banget pas mama kamu menyambut hangat kedatanganku dan memberi restunya.” Lalu senyumnya berubah menipis. “Bahkan ketika dengan rendah hati mama sama papa datang ke rumah menemui ibu. Di situ aku makin yakin kalau mama benar-benar udah menerimaku sepenuhnya.” Reyga menarik wanita itu dalam rengkuhannya. Hatinya sudah ikut sakit padahal cerita itu belum berakhir. “Tapi ternyata, nggak semudah itu,” lanjut Kalla seraya menarik napas. Dia mendongak mencari mata suaminya, lantas tersenyum lagi. “Apa aku benar-benar nggak layak jadi istri kamu, Rey?” Reyga menggeleng pelan dan makin mengeratkan pelukan. Seperti ada batu besar yang menimpa dada ketika istrinya melempar pertanyaan itu. “Kamu sangat layak, Sayang,” sahut Reyga, menghirup dalam-dalam aroma rambut Kalla dan mengusapnya lembut. “Kalau memang kamu nggak mau datang ke sini lagi, aku juga nggak keberatan. Biar aku sama Kael aja yang berkunjung ke

  • Hello, Nanny!   213. Biarkan Mereka Bahagia

    “Ma, bisa jangan terlalu keras sama istri Reyga? Kalau kamu menyakiti Kalla, sama saja kamu menyakiti Reyga.” Reyhan menghela napas mendengar apa yang terjadi sore tadi di rumahnya. “Aku paham, Kalla bukan menantu yang kamu harapkan. Tapi kita udah memberi mereka restu, dan kamu setuju. Sekarang kalau kamu terus-terusan menekan Kalla, yang ada Reyga bahkan Kael bisa menjauh lagi dari kamu. Menurut papa, Kalla sudah cukup baik sebagai menantu.” Wajah cantik Diyani memberengut. Masih kesal dengan kejadian sore ini. Tidak ada yang memihak padanya. Semua menyalahkan dia. Padahal menurutnya Kalla yang salah. Tidak becus menjaga anak. “Terus aja kamu nyalahin aku. Nggak ada yang paham, di mata kalian aku ini musuh.”Reyhan menghela napas. Menghadapi istrinya susah-susah gampang. Ibarat menjaga gelas kaca, harus sangat berhati-hati baik tindakan maupun perkataan. Reyhan memegang pundak sang istri. “Nggak ada yang nyalahin kamu, Ma. Aku cuma minta kamu jangan terus menekan Kalla. Biar gi

  • Hello, Nanny!   212. Selalu Salah

    Kalla keluar dari taksi online dengan terburu-buru. Sudah telat satu jam dari jadwal yang diberikan ibu mertuanya mengenai kelas bunga hari ini. Bukannya meremehkan, tapi Kalla juga tidak bisa membiarkan kelasnya kosong. Tidak mungkin meminta izin lagi lantaran dirinya masih dalam masa percobaan sebagai dosen. Saat memasuki halaman belakang rumah keluarga Abimanyu, mama mertuanya dan ketiga iparnya sedang ngeteh cantik. Sementara di sebuah meja panjang dan lebar, para asisten rumah tangga sedang membereskan sisa-sisa kegiatan sore itu. Anak-anak tampak berlarian di halaman berumput hijau bersama para pengasuh. Hanya Kael yang berdiam diri di atas sofa bersama buku bacaan. “Maaf, Ma. Saya—” “Kelas ini mungkin nggak penting buat kamu. Tapi apa kamu tau mama udah lama pesan kelas ini karena jadwal mentornya sangat padat?” potong Diyani langsung. “Menantu mama lainnya juga punya kesibukan. Tapi mereka bisa menyempatkan waktu. Setidaknya mereka bisa menghargai usaha mama membooking men

  • Hello, Nanny!   211. Ancaman

    Napas Reyga sempat tercekat ketika menoleh ke arah pintu lobi dan mendapati seorang wanita dengan kacamata hitam melangkah masuk. Sudah beberapa kali bertemu dan sempat membuatnya emosi, tetap saja sekelebat kehadiran wanita itu kadang bisa bikin dia terkejut. Dari kejauhan Ninda benar-benar mirip Dilla. Dari mulai postur tubuh dan kontur wajah keduanya sama. Orang yang tidak mengenal Dilla dengan baik pasti akan menganggap mereka orang yang sama. Ninda melepas kacamata begitu posisinya dekat dengan Reyga. Seperti biasa wanita itu akan menunjukkan senyum angkuhnya. Mata Reyga menyipit waspada. Sekarang wanita itu sudah berani mendatangi kantornya. “Mau apa lo ke sini?” tanyanya tanpa basa-basi. “Mau ketemu pemilik Mandala,” sahut Ninda tersenyum miring. Sebenarnya dia masih kesal dengan perlakuan kasar pria ini tempo hari. Menyambangi kantor ini pun bukan karena kemauannya sendiri. “Lo pikir pemilik Mandala nggak punya kesibukan lain sampai mau nemuin lo?” “Aku rasa dia bisa mel

  • Hello, Nanny!   210. Menguras Tenaga

    Reyga menekan dua tangan Kalla ke dinding kamar mandi. Dari belakang wanita itu, bawah tubuhnya terus mendesak dan menghentak. Hentakan yang membuat desahan dan rintihan Kalla memenuhi ruang kamar mandi. "Sebentar lagi, Sayang," erang Reyga merasakan ujung tubuhnya makin menegang. Sesuatu siap dia tumpahkan. Reyga melepas tangan Kalla, dan sebagai ganti dia menarik pinggul wanita itu hingga posisi Kalla agak membungkuk. Dia kembali menekan, menghujamkan miliknya kian dalam demi mengejar kepuasan. Tangannya kembali merambat, melingkari dada sang istri. Gerakannya makin tak terkendali. Hingga tak berapa lama, dia mengeluarkan desahan panjang. Reyga menghentak kencang pinggulnya beberapa kali saat puncak kepuasaan yang berkumpul di ujung tubuhnya pecah, menyatu di dalam tubuh sang istri. Napasnya memburu, dadanya bergerak naik turun. Selama beberapa saat lelaki itu mengatur napas. Sebelum menarik tubuh Kalla agar menyandar di dadanya, tanpa melepas penyatuan. "Thanks, Sayang

  • Hello, Nanny!   69. Rambut Baru

    Hal yang tidak Reyga sangka, tapi harus pasrah menerima adalah hukuman yang Kalla beri. Meski ada hati yang tidak rela, dia tidak bisa menolak. Matanya melirik horor peralatan yang Kalla siapkan. Setelah tiga tahun nyaman dengan model rambut semi panjangnya ini, dia terpaksa harus merelakan rambut

  • Hello, Nanny!   65. Macaroni schotel

    Kael menggeliat, bergerak, saat merasakan ada pergerakan orang lain. Perlahan kelopak matanya terbuka. Meski pandangan masih buram, dia bisa tahu sosok di depannya itu Kalla. “Kakak?” Suara seraknya terdengar, anak itu terlihat tak sabar dan langsung bangun. “Kakak udah pulang?” tanya anak itu samb

  • Hello, Nanny!   64. Kakak-Adik

    “Terus, Kallanya mana?” tanya Cade sembari berjalan hendak masuk rumah. Namun dari belakang, Reyga menarik kerah kemejanya. “Lo mau ke mana?” “Astaga, apaan sih, Kak. Lepasin gue. Gue cuma mau ketemu ibu.” “Ibu lagi sibuk.” Dengan kencang Reyga menarik mundur adiknya, sampai lelaki itu nyaris te

  • Hello, Nanny!   60. Gatra dan Wima

    Beberapa saat Kalla membiarkan Gatra menekuri ponsel. Sementara dirinya dengan santai makan kue. Wajah songong lelaki itu perlahan berubah. Alisnya berkerut, selaras dengan bibirnya. Mimiknya kini benar-benar serius menatap ponsel. "Kalla, ini beneran suami kamu?" tanya Gatra setelah beberapa saa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status