Compartilhar

211. Ancaman

last update Data de publicação: 2026-06-05 22:28:59

Napas Reyga sempat tercekat ketika menoleh ke arah pintu lobi dan mendapati seorang wanita dengan kacamata hitam melangkah masuk. Sudah beberapa kali bertemu dan sempat membuatnya emosi, tetap saja sekelebat kehadiran wanita itu kadang bisa bikin dia terkejut.

Dari kejauhan Ninda benar-benar mirip Dilla. Dari mulai postur tubuh dan kontur wajah keduanya sama. Orang yang tidak mengenal Dilla dengan baik pasti akan menganggap mereka orang yang sama.

Ninda melepas kacamata begitu posisinya dekat
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado
Comentários (4)
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Berlindung di bawah ketek John die
goodnovel comment avatar
Sharira Nalanda
ya bener itu nindaa manusia receh masak berani ngancam reyga secara status sosial aja jauh di atasnya . yg dilla aja udh jd ibunya kael masih aja di pandang sebelah mata sm keluarga kael, ini berani2 nya main ancam aja, ga ada minder2 nya sih
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Soalnya tante jadi-jadian
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Hello, Nanny!   213. Biarkan Mereka Bahagia

    “Ma, bisa jangan terlalu keras sama istri Reyga? Kalau kamu menyakiti Kalla, sama saja kamu menyakiti Reyga.” Reyhan menghela napas mendengar apa yang terjadi sore tadi di rumahnya. “Aku paham, Kalla bukan menantu yang kamu harapkan. Tapi kita udah memberi mereka restu, dan kamu setuju. Sekarang kalau kamu terus-terusan menekan Kalla, yang ada Reyga bahkan Kael bisa menjauh lagi dari kamu. Menurut papa, Kalla sudah cukup baik sebagai menantu.” Wajah cantik Diyani memberengut. Masih kesal dengan kejadian sore ini. Tidak ada yang memihak padanya. Semua menyalahkan dia. Padahal menurutnya Kalla yang salah. Tidak becus menjaga anak. “Terus aja kamu nyalahin aku. Nggak ada yang paham, di mata kalian aku ini musuh.”Reyhan menghela napas. Menghadapi istrinya susah-susah gampang. Ibarat menjaga gelas kaca, harus sangat berhati-hati baik tindakan maupun perkataan. Reyhan memegang pundak sang istri. “Nggak ada yang nyalahin kamu, Ma. Aku cuma minta kamu jangan terus menekan Kalla. Biar gi

  • Hello, Nanny!   212. Selalu Salah

    Kalla keluar dari taksi online dengan terburu-buru. Sudah telat satu jam dari jadwal yang diberikan ibu mertuanya mengenai kelas bunga hari ini. Bukannya meremehkan, tapi Kalla juga tidak bisa membiarkan kelasnya kosong. Tidak mungkin meminta izin lagi lantaran dirinya masih dalam masa percobaan sebagai dosen. Saat memasuki halaman belakang rumah keluarga Abimanyu, mama mertuanya dan ketiga iparnya sedang ngeteh cantik. Sementara di sebuah meja panjang dan lebar, para asisten rumah tangga sedang membereskan sisa-sisa kegiatan sore itu. Anak-anak tampak berlarian di halaman berumput hijau bersama para pengasuh. Hanya Kael yang berdiam diri di atas sofa bersama buku bacaan. “Maaf, Ma. Saya—”“Kelas ini mungkin nggak penting buat kamu. Tapi apa kamu tau mama udah lama pesan kelas ini karena jadwal mentornya sangat padat?” potong Diyani langsung. “Menantu mama lainnya juga punya kesibukan. Tapi mereka bisa menyempatkan waktu. Setidaknya mereka bisa menghargai usaha mama membooking mento

  • Hello, Nanny!   211. Ancaman

    Napas Reyga sempat tercekat ketika menoleh ke arah pintu lobi dan mendapati seorang wanita dengan kacamata hitam melangkah masuk. Sudah beberapa kali bertemu dan sempat membuatnya emosi, tetap saja sekelebat kehadiran wanita itu kadang bisa bikin dia terkejut. Dari kejauhan Ninda benar-benar mirip Dilla. Dari mulai postur tubuh dan kontur wajah keduanya sama. Orang yang tidak mengenal Dilla dengan baik pasti akan menganggap mereka orang yang sama. Ninda melepas kacamata begitu posisinya dekat dengan Reyga. Seperti biasa wanita itu akan menunjukkan senyum angkuhnya. Mata Reyga menyipit waspada. Sekarang wanita itu sudah berani mendatangi kantornya. “Mau apa lo ke sini?” tanyanya tanpa basa-basi. “Mau ketemu pemilik Mandala,” sahut Ninda tersenyum miring. Sebenarnya dia masih kesal dengan perlakuan kasar pria ini tempo hari. Menyambangi kantor ini pun bukan karena kemauannya sendiri. “Lo pikir pemilik Mandala nggak punya kesibukan lain sampai mau nemuin lo?” “Aku rasa dia bisa mel

  • Hello, Nanny!   210. Menguras Tenaga

    Reyga menekan dua tangan Kalla ke dinding kamar mandi. Dari belakang wanita itu, bawah tubuhnya terus mendesak dan menghentak. Hentakan yang membuat desahan dan rintihan Kalla memenuhi ruang kamar mandi. "Sebentar lagi, Sayang," erang Reyga merasakan ujung tubuhnya makin menegang. Sesuatu siap dia tumpahkan. Reyga melepas tangan Kalla, dan sebagai ganti dia menarik pinggul wanita itu hingga posisi Kalla agak membungkuk. Dia kembali menekan, menghujamkan miliknya kian dalam demi mengejar kepuasan. Tangannya kembali merambat, melingkari dada sang istri. Gerakannya makin tak terkendali. Hingga tak berapa lama, dia mengeluarkan desahan panjang. Reyga menghentak kencang pinggulnya beberapa kali saat puncak kepuasaan yang berkumpul di ujung tubuhnya pecah, menyatu di dalam tubuh sang istri. Napasnya memburu, dadanya bergerak naik turun. Selama beberapa saat lelaki itu mengatur napas. Sebelum menarik tubuh Kalla agar menyandar di dadanya, tanpa melepas penyatuan. "Thanks, Sayang," uc

  • Hello, Nanny!   209. Gosok Punggung

    “Kamu yakin, Kael?” Kalla sangat tahu betapa dari kecil Kael sangat menyukai kegiatan merangkai bricks. Hanya demi menjaga perasaannya, anak itu rela mengembalikan mainan kesukaannya itu. Kael mengangguk seraya tersenyum. Semua bricks sudah dimasukkan ke dalam dus. “Kita kembalikan ke alamat tokonya aja, Ma.” Tangan Kalla terulur menggapai rambut tebal anak sembilan tahun itu. “Iya, nanti kita kembalikan.” “Apa yang dikembalikan?” Suara Reyga mengalihkan keduanya. Pria itu masuk rumah dalam keadaan yang agak berantakan. Dasi yang pagi tadi Kalla pilihkan sudah tidak tergantung di kerah kemejanya. Dua kancing bagian atas kemeja pun sudah terbuka. Dan bagian lengannya sudah tergulung hingga siku. Yang paling membuat Kalla risih, adalah rambut lelaki itu. Sejak menikah, Reyga belum mau memangkasnya lagi. “Ada paket dari Tante Ninda, isinya bricks, Pa,” jawab Kael selagi papanya berjalan mendekat. “Aku mau balikin itu.” Trik apalagi ini? Reyga membuang napas lelah. Lalu beranjak

  • Hello, Nanny!   208. Tawaran

    Hari belum habis tapi kepala Reyga sudah mengepulkan asap hitam. Rahangnya mengetat, dan pangkal alisnya terus berkerut. Dadanya ingin meledak. Dan mulutnya gatal ingin ngunyah orang. Santi sampai tidak berani menoleh melihat awan kelabu di wajah sang bos. Terlalu ngeri. Dia membiarkan Reyga langsung memasuki ruangannya tanpa bertanya hasil dari pertemuan lelaki itu dengan John Hasibuan. Dari mukanya saja sepertinya ada hal buruk. Santi melonjak ketika mendengar gebrakan meja yang lumayan keras dari dalam ruang si bos. Dia mengelus dada seketika. “Santi!”“Ya, Pak!” Sekretaris itu kontan berdiri, dan melesat menuju ruangan Reyga. “Pesankan saya Americano, triple shot!” “Hah?” “Sekarang, Santi!” “Ba-baik, Pak.” Americano satu shot saja pahitnya nauzubillah, lah si bos minta triple shot. Pria itu benar-benar punya masalah besar. Di ruangannya Reyga membuang napas kasar beberapa kali. Dia memukul-mukul dadanya yang penuh emosi. “Brengsek, beraninya remehin gue. Dia pikir siap

  • Hello, Nanny!   44. Yang Kamu Suka Siapa?

    Ibu sedang berkutat di depan mesin jahit ketika mendengar suara derum mobil memasuki halaman rumah. Kepala wanita paruh baya itu lantas terjulur ke jendela, melihat siapa yang datang. Itu adalah mobil keluaran Jerman yang ibu kenali karena beberapa kali bertandang. Dia segera meninggalkan pekerjaan

  • Hello, Nanny!   42. Kita Punya Pizza!

    “Pizzaaa!” seru Cade saat Reyga membuka pintu. Lelaki berkulit pucat itu mendorong pintu lebar dan masuk begitu saja. Meninggalkan helaan napas panjang kakaknya yang merasa bete maksimal karena aktivitasnya terganggu. “Gue juga beli Mac and Cheese kesukaan Kael. Mana dia, Kak?” cerocos Cade seraya

  • Hello, Nanny!   41. Bermesraan?

    Sabtu full di unit pun sekarang sudah cukup bagi Reyga. Banyak kegiatan bermanfaat yang sudah Kalla susun untuk putranya. The real me time bareng keluarga mungkin seperti ini. Empat tahun lamanya kehangatan seperti keluarga lain tidak pernah Reyga rasakan. Dia membesarkan Kael sendiri dengan bantu

  • Hello, Nanny!   40. OVT

    “Serius Lo?” Kalla melotot dan mengacungkan telunjuk di depan bibirnya. “Jangan berisik!”geramnya lirih. Kalau ibu dengar bisa amsyong.“Ini sih namanya momong anaknya bonus bapaknya!” seru Moya lebih bisa mengendalikan dirinya. Cengiran Kalla membuat Moya ingin muntah. “Ngapain aja Lo di Bali sela

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status