Beranda / Romansa / Hello, Nanny! / 217. Panen Stroberi

Share

217. Panen Stroberi

Penulis: Yuli F. Riyadi
last update Tanggal publikasi: 2026-06-09 17:28:01
Di bawah kucuran air shower ruang ganti, keduanya saling membenturkan dahi dan tertawa. Tetesan air dingin melewati tubuh keduanya yang masih saling menempel.

“Kamu gila, Rey,” ucap Kalla di tengah kekehannya.

“Tapi ini menantang kan?”

Sialnya yang lelaki itu bilang benar. Sensasi yang Kalla dapat ketika meraih puncak kepuasan juga lebih maksimal. Dari ujung kaki sampai kepala merasakan getaran dahsyat itu.

“Mau lagi enggak?” bisik Reyga, kembali menggoda. “Kita bisa lanjut di sini.”

Namun
Yuli F. Riyadi

Hayoloh, Mamer....kamu akan menyesal

| 16
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (7)
goodnovel comment avatar
Andi Sary Nova
kumohon pleaseee jgn biarkan kalla keguguran dan bisa Khan ade author buat si mertua dajjal itu menyesal seumur hidupnya karena tlah menyakiti kalla again Reyga untuk melakukan mmh kali ini tolong tegas setegasnya karena hanya kamu yg bisa melindungi kalla dari kebrutalan mak Lampir jgn bikin kecewa
goodnovel comment avatar
Vhana Zen laser
kapan sadarnya sih ini mertua..
goodnovel comment avatar
Ly🕊
jangan keguguran dulu yaaa, gimana nih Reyga tau Kalla di dorong mamanya.. Lanjutt tor
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Hello, Nanny!   S2.42. Pancake

    Rere melambaikan tangan pada seniornya yang sudah dijemput seseorang. Begitu mereka menjauh, kakinya melangkah ke bagian depan kafe yang masih ramai kendaraan bermotor. Dia berjalan menunduk sambil mengutak-atik ponsel hendak memesan ojek online. Dia baru akan menekan tombol pesan ketika suara sepeda motor terdengar di dekatnya. Gadis itu menoleh, dan menemukan sepeda motor yang tak asing baginya lagi. Spontan dia tersenyum lantaran tahu itu motor milik Kael.Pengendara motor tersebut membuka kaca helm. “Ayo, naik. Gue anter balik.” Tunggu! Senyum Rere raib, dan matanya menyipit. Dia mendekat. Memelotot pada sing pengendara motor, memperhatikan bentuk matanya. “Apaan sih Lo.” Spontan Rere menggeram. Motor, helm, dan jaket memang punya Kael. Namun pengendaranya bukan lelaki itu. “Nggak mau. Gue bisa balik sendiri,” ujar Rere judes. “Dih. Udah jauh-jauh gue jemput Lo malah pengin balik sendiri.” “Males gue balik sama Lo.”“Emang Lo ngarep balik sama siapa? Kael? Dia sibuk.”Rere

  • Hello, Nanny!   S2.41. Salah Waktu

    “Apa kamu nggak waras, Cade?! Kamu benar-benar menghancurkan ekspektasi Mama! Apa kamu mau ikutan gila seperti kakak-kakakmu?!”Cade menarik napas panjang. Dia sudah menduga akan mendapat murka sang mama saat memutuskan membawa Mella dan Rere ke rumah. Tapi dia tidak menyangka Mama melakukan ini bahkan sebelum bertemu dengan mereka. “Mereka layak untuk aku cintai, Ma.” “Layak kamu bilang?! Layak buat kamu kasih sedekah maksudnya?!”“Ma!” Diyani berdecih dengan lengan melipat dada. Kemarahannya memuncak saat tahu putra bungsunya membawa perempuan dan seorang anak. “Mama tahu persis orang seperti apa mereka. Lagian otak kamu di mana sih Cade? Bisa-bisanya berhubungan dengan janda beranak satu. Apa dunia ini kekurangan perawan sampai janda mau kamu pinang, heh?!”Dada Cade mengembang. Dia berusaha napas senormal mungkin. Meskipun hatinya begitu sakit, sang mama merendahkan kekasihnya. Siapa yang ingin menjadi janda? Tidak ada seorang wanita yang berharap takdir seperti itu. “Mama bel

  • Hello, Nanny!   S2.40. Om-om Mesum

    “Americano.”Suara itu menyentak lamunan Rere. Saat gadis itu mengangkat wajah, senyumnya pun terbit. “Om Cade, aku kira siapa.” “Emang kamu kira siapa?” Cade tersenyum, mengamati wajah cantik yang tampak muram itu. Semakin dewasa, Rere makin terlihat seperti ibunya. “Pelanggan lain dong. Oke, jadi …. Americano satu?” “Dua deh kalau kamu mau.” Rere terkekeh sambil mengetikkan pesanan Cade. “Kalau Om ke sini aku pasti dapat jatah traktiran. Makasih ya.”Cade mengangguk. Lalu matanya melirik seseorang yang datang menghampiri Rere. “Re, biar gue aja,” ujar salah satu teman kerja Rere. “Ntar pesanannya gue yang bikin, lo istirahat gih.”Meski bingung Rere hanya mengangguk. Orang itu seniornya. “Makasih, Kak.”“Mumpung kamu istirahat bisa temani Om ngobrol?” tanya Cade meraih cepat kesempatan itu. “Bisa, Om.” Di salah sudut kafe, yang sedikit jauh dari keramaian ruang utama, Cade dan Rere memilih tempat duduk. “Berkas-berkas pengajuan udah kamu submit kan?” tanya Cade, membicarakan

  • Hello, Nanny!   S2.39. Gadis Part Time

    “Luar Jawa dong. Bali misalnya.” “Bali terlalu banyak saingan.” “Justru itu, buat menang lo harus bisa bersaing.” “Gue kembangin yang di sini aja dulu. “Minimal Surabaya ada.” Cade membuang napas. Sebagai investor kadang dia diajak brainstorming ketika manajemen akan memperluas sayap bisnisnya. Seperti saat ini, Jonas, pemilik kafe dan juga temannya itu minta bertemu, tepatnya meeting kecil-kecilan membahas soal rencana membuka cabang baru. “Gue percaya Lo aja deh,” ujar Cade pasrah. Jonas buatnya kurang visioner. Kalau bukan teman, dia ogah menggelontorkan dana buat kafe itu. Di Jakarta kafe Jonas sudah menyebar di beberapa titik, dan semua berjalan bagus sejauh yang Cade lihat. Dan ada rencana mau memperluas ke kota-kota yang ada di Jabar. Seperti Bandung, Cirebon, Subang dan sekitarnya. Sementara Cade mengusulkan untuk membuka di luar Jawa, tapi sepertinya temannya itu belum berani ambil resiko. Cade mengeluarkan batang rokok dari bungkusnya, dan menjejalkannya ke sela bi

  • Hello, Nanny!   S2.38. Madu Dua

    Di halaman belakang samping rumah, dekat rumah nenek, Kael berhasil menemukan Rere. Gadis itu berdiri membelakanginya, menghadap rumah nenek yang sepi. Kael berencana menginap di rumah nenek, kalau Vianna benar-benar tidak bisa dibujuk pulang. “Re?” panggil Kael seraya berjalan mendekat. Namun tiba-tiba saja Rere berbalik, membuat Kael sontak berhenti melangkah. “Kamu yakin nggak pacaran sama dia?” todong Rere spontan. “Eh?” “Kamu bilang kalian nggak pacaran, tapi yang kalian lakukan—ish!” Rere kembali berbalik saat merasa ada yang salah dengan ucapan dan reaksinya. Dia memang kesal, tapi tidak punya hak buat kesal. Rere melihat semuanya. Saat mereka berpelukan. Saat Kael dengan sabar mendengar keluhan Vianna, dan saat Kael mengantar gadis itu ke kamarnya. “Vianna… dia lagi sakit. Dia butuh istirahat,” ucap Kael. Meski bukan fisiknya yang sakit. Tapi melihat gadis itu langsung pulas begitu kepalanya menyentuh bantal, Kael yakin Vianna memang butuh bed rest.“Di kamar kamu?”“T

  • Hello, Nanny!   S2.37. Tak Bersinar Lagi

    Mengurut pinggangnya yang sakit, Kael beranjak bangun. Dia ingin marah, tapi yang jadi sasaran malah kabur lebih dulu. Dan si pembawa berita kedatangan Vianna pun entah ngilang ke mana. “Kembaaaar!” seru Kael memanggil dua adiknya. Entah Kaia atau Lior. Suara mereka sama, jadi Kael meneriaki keduanya. Namun bukan si kembar yang muncul di ruang keluarga, melainkan Vianna. Gadis itu ternyata benar-benar datang. Hanya saja— “Kael!” Tubuh Kael agak terhuyung ke belakang ketika tiba-tiba Vianna memeluknya. Bukan pelukan bahagia karena bertemu Kael lagi setelah berminggu-minggu, tapi pelukan kesedihan. Karena sesaat setelah memeluk laki-laki itu, tangis Vianna pecah. Gadis itu bahkan meraung seolah tengah menahan luka yang begitu dalam. Kael yang tidak tahu apa-apa tertegun di tempat. “V-Vi—” Laki-laki itu kebingungan. Menghadapi dua adiknya yang menangis itu sudah biasa, tapi tidak dengan seorang perempuan yang menangis pilu seperti ini. Es krim atau permen cokelat kayaknya ngga

  • Hello, Nanny!   35. Jalani Saja Dulu

    Gaji kerja sebagai nanny memang besar. Tapi konsekuensinya ternyata jauh lebih besar. Seperti sekarang, Kalla mengumpat dalam hati saat lagi-lagi gampang terperdaya oleh makhluk duda satu anak ini. Dia yakin kali ini bukan hanya terbawa suasana. Reyga dengan jelas menciumnya, menarik wanita itu dal

  • Hello, Nanny!   34. Kram

    Entah sudah berapa jam Kalla tertidur, yang jelas ketika bangun hanya ada Kael. Itu pun anak itu tengah terlelap. Kalla menyeret langkah ke dapur ketika tenggorokannya terasa kering. Lalu ketika dia berhasil mengosongkan isi gelas, perhatiannya teralihkan. Dia mendengar kecipak air di area kolam re

  • Hello, Nanny!   33. Didiemin

    Mengenalkan diri sebagai Wima Sagara pria itu terlihat ramah dan baik. Tidak seperti cerita Reyga yang katanya orang itu menjengkelkan dan sulit dihadapi. Pria itu juga mengucapkan terima kasih pada Kalla atas pertolongan semalam. Untuk hal ini Kalla mengerjap bingung. Pertolongan apa? Tapi beber

  • Hello, Nanny!   24. Lo Pernah Cipokan Nggak?

    Lembut dan kenyal. Ini bukan kali pertama Kalla merasakan ciuman. Hanya sudah lama tidak merasakan lagi setelah tiga tahun menjomblo. Tapi tetap saja bikin dadanya ingin meledak. Bibirnya dan bibir Reyga saling menempel, bahkan lelaki itu melumatnya di saat dia masih membeku saking syoknya.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status