Home / Romansa / Hello, Nanny! / 47. Gila Cowok

Share

47. Gila Cowok

last update publish date: 2026-03-13 11:27:23

“Kenapa Lo nggak bilang kalau Papa Reyga secakep itu?!”

Begitu Reyga pergi, Moya kehebohan. BerWow-Wow ria tidak ada hentinya sampai Kalla bosan mendengarnya.

“Kan gue udah cerita kalau dia itu ganteng.”

“Tapi gue nggak ekspek bakal seganteng ini. Bodynya, Kaaaal. Lengannya, Kaaaaal. Ya ampuuun. Gimana rasanya dipeluk lengan semacho itu, Kaaal?”

“Anget sih yang pasti.” Tanpa diduga Moya menjerit, membuat sekonyong-konyong Kalla mendelik. “Astaga, Lo bisa biasa aja nggak sih?”

“Nggak bisa, Ka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (8)
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Yuk intip yuk
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Hihihi bakaaar
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Yuk bakaaar
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   70. Jemari (18+)

    Selama beberapa detik Kalla menatap pria di depannya. Pria yang jauh terlihat lebih muda ketika rambut dan facial hair-nya dipangkas. Pria yang sudah membuatnya jatuh hati dan memberi kenyamanan. Kalla menunduk, dan dengan cepat mengecup bibir Reyga. “Kenapa aku nggak mau terima kamu?” Meski sempat kaget dan ragu, Kalla masih ingin mencobanya. “Aku percaya kamu udah berubah. Dan aku harap kamu nggak ngancurin kepercayaan aku, seperti dulu kamu ke mantan kamu itu.” Reyga menggeleng kencang. “Nggak akan. Kali ini aku yakin kita punya rasa yang sama.” Senyumnya mengembang. Hanya dari tatapan mata saja Reyga bisa tahu Kalla juga mencintainya. Perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan seperti dulu pada Kiana. Tidak membutuhkan kata-kata lagi, cukup dengan tindakan cinta keduanya melebur jadi satu. Pagi yang cerah, tepat di belakang rumah Kalla, mereka saling mencumbu. Reyga melepas ikatan rambut Kalla, membuat helaian halus itu terburai. Di saat yang sama, dia memperdalam ciumannya.

  • Hello, Nanny!   69. Rambut Baru

    Hal yang tidak Reyga sangka, tapi harus pasrah menerima adalah hukuman yang Kalla beri. Meski ada hati yang tidak rela, dia tidak bisa menolak. Matanya melirik horor peralatan yang Kalla siapkan. Setelah tiga tahun nyaman dengan model rambut semi panjangnya ini, dia terpaksa harus merelakan rambut itu dieksekusi demi mendapat maaf dari sang kekasih. “Mukanya biasa aja. Potong rambut nggak akan bikin kamu mati,” ujar Kalla tak berperasaan sambil membentangkan kain putih. Dia membungkus badan Reyga dengan kain itu, supaya baju lelaki itu tidak kotor terkena potongan rambut. Pagi ini Kalla menjadi barber dadakan. Potong rambut memang tidak bikin mati. Tapi Reyga sudah terlanjur nyaman dengan model rambutnya.“Iya,” sahut Reyga pasrah. Ketika mendengar suara gesekan gunting, matanya refleks terpejam. Hatinya menangis ketika helai demi helai rambut ditebas. Kalla benar-benar melakukannya. Memangkas rambut kebanggannya dengan sadis tanpa kompromi. Bukan hanya rambut, Kalla juga membaba

  • Hello, Nanny!   68. Market

    Cade mencibir melihat muka jumawa sang kakak. Sudah dapat restu dari ibu Kalla saja bangga. Padahal perjuangannya tidak akan cukup sampai di situ. “Lo nggak punya kesempatan buat deketin Kalla. Ibu udah tau kalau kami pacaran,” ucap Reyga merasa satu langkah lebih ke depan daripada Cade. Lagi-lagi Cade mencibir. “Lo udah baikan sama Kalla emangnya?” Itu masalahnya, gara-gara ciuman tanpa sengaja tadi wanita itu malah makin marah padanya. Ya Tuhan, harus dengan cara apa lagi Reyga harus membujuk? “Lo punya ide nggak?” tanya Reyga. “Ide apaan?”“Ide buat bujuk cewek biar nggak ngambek lagi.” Sambil memutar kursi dan menghadap layar PC lagi, Cade menjawab asal. “Kasih aja hadiah.”“Kalau cewek lain mungkin ngaruh, tapi gue nggak yakin mempan buat Kalla.” “Iya sih,” sahut Cade sambil terus menekan tombol-tombol di papan kibor. Dia mulai tenggelam lagi ke dunia virtual. “Kenapa lo nggak minta bantuan ibu aja. Kalau lo tanya gue, bakal gue sesatin.” “Emang adik kurang ajar lo.” Cad

  • Hello, Nanny!   67. Serius

    Di bawah tatapan Ibu, Kalla menunduk dalam. Mulutnya terkunci rapat, dan dua tangannya saling tertaut. Sementara Reyga masih dengan percaya diri tetap menyunggingkan senyum. Seolah kejadian bibir nempel tadi bukan masalah besar. "Jadi, kalian... punya hubungan lebih dari sekedar teman?" "Iya!" "Enggak!”Kalla dan Reyga tersentak dan refleks saling tatap. Jawaban serentak tapi tidak sinkron itu membuat alis ibu menanjak tinggi-tinggi. "Jadi yang benar mana?" Dua orang lelaki dan perempuan di depan ibu menunjuk diri masing-masing. Ibu makin mengernyit. Lalu ketika keduanya berdecak, ibu cuma bisa menghela napas. "Itu tadi cuma kecelakaan, Bu. Kalla hampir jatuh tadi, terus Reyga nolongin dan yaah berakhir seperti yang ibu lihat. Itu nggak sengaja, Bu," terang Kalla. Mencoba menjelaskan supaya ibu tidak salah paham. Namun ibu seperti kurang percaya. "Oh ya?" Ibu menatap Reyga. "Apa benar begitu, Nak Reyga? Bukannya kalian sengaja diam-diam ketemu?" "Iya.""Enggak!”Lagi-lagi mer

  • Hello, Nanny!   66. Nginep

    “Enak banget!” Kael mengacungkan dua jempolnya, dan mendapat senyum dari Kalla. Di sisi anak itu Reyga pun melakukan hal sama, tapi cuma dibalas lirikan singkat tanpa senyum dari Kalla. Akhirnya Kalla membuat dua porsi macaroni schotel. Porsi besar dan kecil. Sementara Cade memilih makan nasi uduk yang dia beli di warung depan. Kalla sendiri tidak ikut makan, karena dia sudah makan malam bersama Wima. “Kael kamu mau tidur di rumah kakak cantik atau di rumah Om?” tanya Cade pada Kael yang sedang menyendok makanannya. “Aku mau sama kakak aja,” sahut Kael santai. Tidak perlu meminta persetujuan sang papa. “Lo, Kak? Mau balik ke Sudirman atau mau nginep di sini?” Yang ditanya alih-alih menjawab malah menatap Kalla. Tapi boro-boro ditatap balik, melirik pun Kalla rasanya ogah. “Gue nginep di rumah Lo,” sahut Reyga pelan, berusaha agar Kalla tidak mendengar. “Maunya sih di sini, tapi ntar digrebek warga.” Di tempatnya Cade berdecih. Dia masih belum percaya kalau Reyga benar-benar men

  • Hello, Nanny!   65. Macaroni schotel

    Kael menggeliat, bergerak, saat merasakan ada pergerakan orang lain. Perlahan kelopak matanya terbuka. Meski pandangan masih buram, dia bisa tahu sosok di depannya itu Kalla. “Kakak?” Suara seraknya terdengar, anak itu terlihat tak sabar dan langsung bangun. “Kakak udah pulang?” tanya anak itu sambil mengucek mata. Di depannya Kalla tersenyum. “Iya, kakak udah pulang. Maaf ya, kamu udah nunggu lama.” “Kakak dari mana? Kakak kenapa nggak datang ke sekolah?” “Siapa bilang kakak nggak datang? Kakak datang kok. Kakak juga lihat kamu pentas.” Kalla membuka galeri ponsel lalu menunjukkan video saat Kael pentas. “Kamu hebat, Kael. Lukisan kamu juara.”“Jadi kakak datang?” Kael tersenyum ketika Kalla mengangguk. Rasa tidak diinginkan yang sempat merayap saat melihat kedekatan Kael dan Kiana pelan-pelan lenyap ketika Kael meloncat ke pelukannya. Hati Kalla menghangat memeluk anak itu erat-erat, dan mencium rambut Kael yang wangi shampo rasa apel. “Kamu udah makan?” tanya Kalla kemudian.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status