بيت / Romansa / Hello, Nanny! / S2.31. Pekan Olahraga (2)

مشاركة

S2.31. Pekan Olahraga (2)

مؤلف: Yuli F. Riyadi
last update تاريخ النشر: 2026-07-19 11:56:28
Kael merasa kesal pada diri sendiri karena sepanjang acara berlangsung, tatapnya tidak berhenti memantau keberadaan Rere. Mulai ketika senam bersama, alih-alih memperhatikan tim pemandu senam, dia malah mengawasi Rere. Sehingga gerakan yang dia buat asal-asalan. Tidak seperti Rere yang begitu lincah dan energik.

Kaia dan Lior kebagian lari estafet bersama tiga temannya. Sementara orang tua harus menyemangati anak-anak mereka.

“Kael, pake ini.” Rere membentangkan pita merah. Di kepalanya sudah
Yuli F. Riyadi

Aku balik update. Ternyata kemarin sama sekali nggak bisa nulis karena banyak kegiatan. Makasih ya yang masih tetep stay

| 6
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق
تعليقات (6)
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Tararengkyuuh kak,,,
goodnovel comment avatar
Anies
makasih banyak² pokoknya thor... kamu terbaik
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Wkwkwk duplikat emak
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Hello, Nanny!   S2.34. Meronce

    “Beliin kita ini, Bang!” Kaia menunjuk gelang manik-manik dengan warna dominan biru dan pink yang tergantung di etalase. Saat ini mereka berada di tenan aksesoris. Banyak pernak-pernik yang disukai perempuan. Bukan tempat yang Kael sukai, tapi karena membawa tiga perempuan akhirnya dia pasrah saja ketika mereka menariknya ke tenan itu. “Ya udah ambil aja.”Kaia dan Lior sudah berteriak senang ketika penjaga tenan dengan sopan memberitahu bahwa gelang-gelang itu sudah ada pemiliknya. “Di etalase ini semua sudah ada pemiliknya. Kalau yang di rak itu masih free.”Kedua bocah itu terlihat kecewa. Tidak ada yang menarik hatinya di rak yang penjaga itu tunjuk. “Nggak ada model yang sama seperti ini lagi, Kak?” tanya Kael. “Belum ready lagi, Kak. Tapi kalau bahan-bahannya ada.”Mendengar itu sebuah ide terlintas di benak Rere. Gadis itu maju mendekat. “Bahannya semua lengkap kan, Kak?”“Lengkap. Kalau kakaknya mau, bisa meronce di sini juga.”Itu ide yang Rere maksud. Selain bisa menda

  • Hello, Nanny!   S2.33. Bazar

    Jika Kael mengajak Lior ke tenan sisi kiri, Rere mengajak Kaia ke tenan sisi kanan. Mereka tidak berjalan bersama. Mengenyahkan rasa malu Kael langsung menarik tangan Lior keluar dari pusat kesehatan. Tersisa Kaia yang masih tersenyum aneh pada teman abangnya itu. “Kalau Kak Re mau ajak aku ke mana?” tanya Kaia begitu kembarannya dan sang Abang melesat pergi. “Uhm…” Rere berpikir dengan gugup hingga kata bazar muncul di kepalanya. “Kita ke bazar! Iya, kita ke sana aja.” Dia menyambar tangan Kaia dan bergegas keluar juga. Namun ketika melihat Kael ternyata ada di bazar juga, Rere mengambil jalan lain. “Ki-kita ke sebelah sana aja.” “Oke.” Kaia menurut saja. Mau lihat sampai sejauh mana mereka saling menghindar. “Kakak mau es krim!” seru Rere menuding tenan penjual es krim dan gelato. Dia butuh sesuatu yang dingin, biar otaknya yang konslet bisa lebih fresh. Kaia menyentak tangan Rere. “Ayo!” Di sisi lain, Kael dan Lior sedang berada di tenan penjual takoyaki. Sepanjang

  • Hello, Nanny!   S2.32. Pekan Olahraga (3)

    “Ini acara pekan olahraga apa lomba 17-an?” Kael menatap sarung yang diberikan panitia. Itu adalah sarung yang akan dia dan Rere gunakan sebagai perlengkapan lomba balap sarung berpasangan. “Sama aja, kan? Anggap aja kita lagi lomba lari. Lari kan masuk olahraga,” sahut Rere. Jika Kael terlihat keberatan satu sarung berdua dengannya, dia biasa saja. Hanya untuk meramaikan apa salahnya berpartisipasi?“Beda dong, Re. Kita bakal—” Kael spontan berhenti bicara saat merasa kata-kata yang akan dia keluarkan mungkin bisa terdengar aneh. “Bakal apa?” tanya Rere mengangkat alis, menatap pemuda itu yang tiba-tiba terlihat salah tingkah. Gadis itu menarik napas panjang, mendekati lelah. Dia merebut sarung dari tangan Kael. “Udah deh, tinggal lakuin aja biar cepet selesai.”Sementara panitia sudah meminta para orangtua yang ikut lomba mengenakan sarung itu secara bersama. Kael agak kesal lantaran Rere terlihat baik-baik saja sementara dirinya gusar sendirian. Harusnya tidak begini. Serius g

  • Hello, Nanny!   S2.31. Pekan Olahraga (2)

    Kael merasa kesal pada diri sendiri karena sepanjang acara berlangsung, tatapnya tidak berhenti memantau keberadaan Rere. Mulai ketika senam bersama, alih-alih memperhatikan tim pemandu senam, dia malah mengawasi Rere. Sehingga gerakan yang dia buat asal-asalan. Tidak seperti Rere yang begitu lincah dan energik. Kaia dan Lior kebagian lari estafet bersama tiga temannya. Sementara orang tua harus menyemangati anak-anak mereka. “Kael, pake ini.” Rere membentangkan pita merah. Di kepalanya sudah terikat pita yang sama. Kael mengernyit, terlihat ogah memakainya. “Harus banget pake ini?” tanya dia tampak enggan. Rere berdecak, tidak peduli dengan keengganan Kael dia membalik tubuh laki-laki itu dan maksa memakaikan pita. Namun gadis itu agak kesulitan lantaran tubuh Kael yang terlalu tinggi. Alih-alih menutupi dahi, dia menutupi mata laki-laki itu. “Gue nggak bisa lihat ini,” protes Kael. Alih-alih menutup dahi, Rere malah menutup matanya. Gadis itu tergelak ketika melihat hasilnya

  • Hello, Nanny!   S2.30. Pekan Olahraga (1)

    Meskipun Kael janji akan datang untuk menggantikan orang tuanya, Kaia dan Lior tetap saja memasang wajah masam tiap kali melihat anak lain digandeng mesra oleh kedua orang tua mereka. Rasa irinya melambung sebagai seorang anak. Tidak menangis saja sudah untung. “Mama sama Papa kalian nggak ke sini?” Dua bocah itu menoleh ketika Tasya—salah satu teman sekelasnya—menghampiri. Lanjut anak lain, dua sampai tiga yang datang. Nadia dan Sasha.Si kembar menggeleng lemah. “Abang yang datang,” ujar Lior. Suasana sekolah sudah mulai ramai. Tenan, tenan bazar juga sudah full terisi. Dekorasi meriah di area lapangan juga sudah maksimal. Dan para wali murid sudah mulai berdatangan. Hanya Kael, yang belum tampak batang hidungnya. “Abang kalian udah gede ya? Kok bisa datang? Soalnya kalau Abang aku mah masih SMP.” Tasya terkikik sambil menutup mulutnya. Kaia menoleh dan mengangguk. “Abang udah kelas sebelas.”Dan tiga bocah yang mengelilingi si kembar langsung berwah-wah ria. “Terus mana? Kok

  • Hello, Nanny!   S2.29. Kangen Mama Papa

    “Maafin mama sama papa ya, Sayang.” Lior dan Kaia bisa melihat jelas raut menyesal mama di layar laptop. Di sebelah sang mama, tampak papanya mengusap lengan wanita itu sekilas sebelum balik sibuk lagi dengan gadget. Dua anak itu sebenarnya menginginkan kedua orang tuanya hadir di acara pekan olahraga. Tapi mereka teringat lagi ucapan abangnya. “Jangan bikin mama merasa bersalah karena nggak bisa hadir di pekan olahraga. Nanti mama berantem sama papa, terus pekerjaan papa di sana kacau. Makin lama nanti mereka di sana.” Itu yang Kael ucapkan sebelum mereka melakukan panggilan video. Dan belum apa-apa Kalla beneran terlihat sedih padahal si kembar cuma memberi tahu acara tersebut, tidak meminta mama harus hadir. Bahkan sekarang mereka melihat mamanya itu menyeka sudut matanya yang basah. Hadeehhh. “Ih, mama lebay deh,” celetuk Kaia dengan wajah yang tetap menampilkan senyum ceria. Padahal di bawah meja, tangannya sedang berpegangan erat dengan tangan Lior. “Iya ih, mama apa-a

  • Hello, Nanny!   132. Mati

    “Kamu masih lama di sana?” “Uhm, Kak. Boleh saya izin satu hari ini? Panas Kael belum turun, mungkin efek lukanya juga.” “Oke. Kamu bisa kabari saya kalau mau pulang.” “Iya. Sekali lagi makasih.” Kalla menutup panggilan dari Wima. Dia menyimpan ponsel sebelum masuk ke kamar Kael. Anak itu se

  • Hello, Nanny!   128. Rage Room

    Ragu menyerbu ketika Wima menawarinya pulang. Kalla sadar wajahnya saat ini pasti kacau. Ibu akan bertanya ini itu kalau dia pulang dalam keadaan muka lecek. “Nggak mau pulang? Mau ke suatu tempat?” tanya Wima saat melihat keraguan di wajah wanita itu. Hidung Kalla masih agak memerah meskipun dia

  • Hello, Nanny!   123. Larangan Menikah

    Tepat ketika Kael melambaikan tangan dan pintu lift akhirnya tertutup, Reyga langsung menyambar pinggang Kalla. Dia memepet wanita itu ke dinding dan mengurungnya. Gimana Kalla nggak panik? Ini masih di luar unit meskipun mustahil orang lain bisa muncul di sini tanpa akses. “Kamu apa-apaan sih?”

  • Hello, Nanny!   117. Nanny Pengganti

    “Udah nemu pengganti lo?”Itulah yang sedang Kalla pikirkan. Dua kali dirinya dan Reyga membawa Kael ke penyalur. Berharap anak itu bisa menemukan seseorang yang cocok. Namun hasilnya nihil. Anak itu malah minta papanya buat mindahin sekolah ke Jepang. Gimana Kalla nggak tepok jidat?Kalla menggel

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status