ホーム / Romansa / Hello, Nanny! / S2.29. Kangen Mama Papa

共有

S2.29. Kangen Mama Papa

last update 公開日: 2026-07-17 20:57:24
“Maafin mama sama papa ya, Sayang.”

Lior dan Kaia bisa melihat jelas raut menyesal mama di layar laptop. Di sebelah sang mama, tampak papanya mengusap lengan wanita itu sekilas sebelum balik sibuk lagi dengan gadget.

Dua anak itu sebenarnya menginginkan kedua orang tuanya hadir di acara pekan olahraga. Tapi mereka teringat lagi ucapan abangnya.

“Jangan bikin mama merasa bersalah karena nggak bisa hadir di pekan olahraga. Nanti mama berantem sama papa, terus pekerjaan papa di sana kacau. Ma
Yuli F. Riyadi

Bonding kakak adik biasanya terbentuk saat orang tua mereka lagi gak ada. Kek dua ponakanku kalau kompak banget mereka kalau lagi berdua di rumah wkwkwk

| 8
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (7)
goodnovel comment avatar
Anies
bahagia selalu ya kaliaaaan.. bahagia selalu juga buat author sekeluarga
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Wkwkwk ntar kak nunggu mereka gede
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Abang Kael jadi kakak baik dulu
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Hello, Nanny!   S2.33. Bazar

    Jika Kael mengajak Lior ke tenan sisi kiri, Rere mengajak Kaia ke tenan sisi kanan. Mereka tidak berjalan bersama. Mengenyahkan rasa malu Kael langsung menarik tangan Lior keluar dari pusat kesehatan. Tersisa Kaia yang masih tersenyum aneh pada teman abangnya itu. “Kalau Kak Re mau ajak aku ke mana?” tanya Kaia begitu kembarannya dan sang Abang melesat pergi. “Uhm…” Rere berpikir dengan gugup hingga kata bazar muncul di kepalanya. “Kita ke bazar! Iya, kita ke sana aja.” Dia menyambar tangan Kaia dan bergegas keluar juga. Namun ketika melihat Kael ternyata ada di bazar juga, Rere mengambil jalan lain. “Ki-kita ke sebelah sana aja.” “Oke.” Kaia menurut saja. Mau lihat sampai sejauh mana mereka saling menghindar. “Kakak mau es krim!” seru Rere menuding tenan penjual es krim dan gelato. Dia butuh sesuatu yang dingin, biar otaknya yang konslet bisa lebih fresh. Kaia menyentak tangan Rere. “Ayo!” Di sisi lain, Kael dan Lior sedang berada di tenan penjual takoyaki. Sepanjang

  • Hello, Nanny!   S2.32. Pekan Olahraga (3)

    “Ini acara pekan olahraga apa lomba 17-an?” Kael menatap sarung yang diberikan panitia. Itu adalah sarung yang akan dia dan Rere gunakan sebagai perlengkapan lomba balap sarung berpasangan. “Sama aja, kan? Anggap aja kita lagi lomba lari. Lari kan masuk olahraga,” sahut Rere. Jika Kael terlihat keberatan satu sarung berdua dengannya, dia biasa saja. Hanya untuk meramaikan apa salahnya berpartisipasi?“Beda dong, Re. Kita bakal—” Kael spontan berhenti bicara saat merasa kata-kata yang akan dia keluarkan mungkin bisa terdengar aneh. “Bakal apa?” tanya Rere mengangkat alis, menatap pemuda itu yang tiba-tiba terlihat salah tingkah. Gadis itu menarik napas panjang, mendekati lelah. Dia merebut sarung dari tangan Kael. “Udah deh, tinggal lakuin aja biar cepet selesai.”Sementara panitia sudah meminta para orangtua yang ikut lomba mengenakan sarung itu secara bersama. Kael agak kesal lantaran Rere terlihat baik-baik saja sementara dirinya gusar sendirian. Harusnya tidak begini. Serius g

  • Hello, Nanny!   S2.31. Pekan Olahraga (2)

    Kael merasa kesal pada diri sendiri karena sepanjang acara berlangsung, tatapnya tidak berhenti memantau keberadaan Rere. Mulai ketika senam bersama, alih-alih memperhatikan tim pemandu senam, dia malah mengawasi Rere. Sehingga gerakan yang dia buat asal-asalan. Tidak seperti Rere yang begitu lincah dan energik. Kaia dan Lior kebagian lari estafet bersama tiga temannya. Sementara orang tua harus menyemangati anak-anak mereka. “Kael, pake ini.” Rere membentangkan pita merah. Di kepalanya sudah terikat pita yang sama. Kael mengernyit, terlihat ogah memakainya. “Harus banget pake ini?” tanya dia tampak enggan. Rere berdecak, tidak peduli dengan keengganan Kael dia membalik tubuh laki-laki itu dan maksa memakaikan pita. Namun gadis itu agak kesulitan lantaran tubuh Kael yang terlalu tinggi. Alih-alih menutupi dahi, dia menutupi mata laki-laki itu. “Gue nggak bisa lihat ini,” protes Kael. Alih-alih menutup dahi, Rere malah menutup matanya. Gadis itu tergelak ketika melihat hasilnya

  • Hello, Nanny!   S2.30. Pekan Olahraga (1)

    Meskipun Kael janji akan datang untuk menggantikan orang tuanya, Kaia dan Lior tetap saja memasang wajah masam tiap kali melihat anak lain digandeng mesra oleh kedua orang tua mereka. Rasa irinya melambung sebagai seorang anak. Tidak menangis saja sudah untung. “Mama sama Papa kalian nggak ke sini?” Dua bocah itu menoleh ketika Tasya—salah satu teman sekelasnya—menghampiri. Lanjut anak lain, dua sampai tiga yang datang. Nadia dan Sasha.Si kembar menggeleng lemah. “Abang yang datang,” ujar Lior. Suasana sekolah sudah mulai ramai. Tenan, tenan bazar juga sudah full terisi. Dekorasi meriah di area lapangan juga sudah maksimal. Dan para wali murid sudah mulai berdatangan. Hanya Kael, yang belum tampak batang hidungnya. “Abang kalian udah gede ya? Kok bisa datang? Soalnya kalau Abang aku mah masih SMP.” Tasya terkikik sambil menutup mulutnya. Kaia menoleh dan mengangguk. “Abang udah kelas sebelas.”Dan tiga bocah yang mengelilingi si kembar langsung berwah-wah ria. “Terus mana? Kok

  • Hello, Nanny!   S2.29. Kangen Mama Papa

    “Maafin mama sama papa ya, Sayang.” Lior dan Kaia bisa melihat jelas raut menyesal mama di layar laptop. Di sebelah sang mama, tampak papanya mengusap lengan wanita itu sekilas sebelum balik sibuk lagi dengan gadget. Dua anak itu sebenarnya menginginkan kedua orang tuanya hadir di acara pekan olahraga. Tapi mereka teringat lagi ucapan abangnya. “Jangan bikin mama merasa bersalah karena nggak bisa hadir di pekan olahraga. Nanti mama berantem sama papa, terus pekerjaan papa di sana kacau. Makin lama nanti mereka di sana.” Itu yang Kael ucapkan sebelum mereka melakukan panggilan video. Dan belum apa-apa Kalla beneran terlihat sedih padahal si kembar cuma memberi tahu acara tersebut, tidak meminta mama harus hadir. Bahkan sekarang mereka melihat mamanya itu menyeka sudut matanya yang basah. Hadeehhh. “Ih, mama lebay deh,” celetuk Kaia dengan wajah yang tetap menampilkan senyum ceria. Padahal di bawah meja, tangannya sedang berpegangan erat dengan tangan Lior. “Iya ih, mama apa-a

  • Hello, Nanny!   S2.28. Cie... kompakan!

    “Kak Re!” Itu suara si kembar. Rere yang sedang melewati jalan dekat lapangan bola melambatkan laju sepeda. Dia memutuskan hendak ke rumah Kael setelah memikirkan beberapa pertimbangan. Lapangan sepi hanya ada satu orang yang terlihat sedang berlari. Sementara di taman bermain ada sekitar sepuluh anak yang tengah lari-larian. Salah duanya adalah si kembar. Secara otomatis Rere menghentikan laju sepeda dan mengernyit bingung. Dua anak itu langsung berlari ke arahnya. Sudah pukul empat sore tapi dua anak itu main jauh dari rumah lagi. “Kalian kenapa di sini? Nanti Abang kalian nyariin.” Terakhir main sampai ke lapangan, Kael kelimpungan mencari anak itu. Kaia meringis lebar, memamerkan deretan giginya yang belum rapi lantaran masih ada gigi rongah yang sedang tumbuh. “Abang ada di sana.” Dia menunjuk lapangan bola. Dan secara otomatis pandangan Rere mengikuti arah telunjuk Kaia. “Bang Kael lagi jogging,” imbuh Lior. Rere mengerjap. Tak percaya bahwa seseorang yang sekilas dia

  • Hello, Nanny!   165. Empat Bersaudara

    Bunyi 15 bola seukuran kepalan tangan saling beradu di atas meja berukuran 260x145 cm memenuhi area sport room di rumah keluarga Abimanyu ketika Reyga berhasil memulai permainan. Dia memilih bola solid dengan angka 1-7 sebagai bola kelompoknya, yang akan menjadi sasarannya kemudian. Hanya butuh beb

  • Hello, Nanny!   161. Kamu Berharga

    Helaian rambut Reyga beterbangan tertiup angin laut. Dengan backsound suara debur ombak di sore hari, Kalla merasa seperti sedang berada di adegan-adegan film roman yang sering Moya tonton. Wanita itu masih menunggu jawaban. Menatap lekat-lekat Reyga dari samping dengan wajah penasaran. Dari lau

  • Hello, Nanny!   152. Binal (mature area)

    Jemari Reyga berjalan pelan melewati bahu Kalla. Melepas cardigan yang wanita itu pakai, dan melemparnya ke sembarang arah. Ujung jari telunjuknya menyentuh dagu Kalla, mendorong ke atas hingga leher jenjang wanita itu terlihat. “Ugh.” Kalla melenguh ketika bibir Reyga mengecup basah lehernya. Mat

  • Hello, Nanny!   151. A Chance

    Motor sudah berhenti, tepat di parkiran apartemen. Namun dua manusia beda jenis itu masih belum beranjak turun. Kalla diam, Reyga pun sama. Keduanya seolah sedang menikmati momen tenang bersama. Saat tangan Kalla yang melingkari perut Reyga bergeser ingin lepas, lelaki itu menahannya. “R-Rey,

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status