Home / Romansa / Hello, Nanny! / S2.30. Pekan Olahraga (1)

Share

S2.30. Pekan Olahraga (1)

last update publish date: 2026-07-18 08:03:47
Meskipun Kael janji akan datang untuk menggantikan orang tuanya, Kaia dan Lior tetap saja memasang wajah masam tiap kali melihat anak lain digandeng mesra oleh kedua orang tua mereka.

Rasa irinya melambung sebagai seorang anak. Tidak menangis saja sudah untung.

“Mama sama Papa kalian nggak ke sini?”

Dua bocah itu menoleh ketika Tasya—salah satu teman sekelasnya—menghampiri. Lanjut anak lain, dua sampai tiga yang datang. Nadia dan Sasha.

Si kembar menggeleng lemah. “Abang yang datang,” ujar Li
Yuli F. Riyadi

Kita bangun chemistry mereka dulu ya. Aku up cepat soalnya mau ada acara. Moga bisa sempat up dua bab seperti biasa.

| 12
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (6)
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Vianna belum muncul lage nanti aku bangun chemistry juga
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Sedih nanti dong hiks
goodnovel comment avatar
Autumn Breeze 🍁🍂
Kael - Rere itu pasti terhalang kisah lamanya om Cade. kalo Rere tau hubungan antara om cade dan mama nya pasti Rere bakal jaga jarak deh ... pdhl aku suka Rere-Kael
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   S2.43. Pagi yang meng-hadeh

    Jaya membuang napas sebelum naik ke jok belakang motor Kael. Akhirnya dia bisa terbebas dari situasi menegangkan yang terjadi pagi ini. Untuk orang yang gemar bicara seperti dirinya terjebak di tengah keheningan pelaku cinta segitiga itu sangat tidak menyenangkan. Bicara sedikit salah, bahkan bernapas pun rasanya juga salah. Untung ada dua bocil kembar. Kehadiran mereka cukup memecah suasana menegangkan itu. Jaya tidak harus terus-terusan mati gaya selama kegiatan sarapan berlangsung. Jaya bergidik sendiri kalau ingat. Yang paling menyeramkan adalah ekspresi Vianna. Dia sama sekali tidak mengeluarkan suara. Wajahnya begitu datar, tapi juga masam di saat yang bersamaan. Jaya sampai harus menendang kaki Kael di bawah meja. Namun sahabatnya itu cuma mengangkat alis tidak mengerti. Dasar nggak peka. “Aneh, kok semua pada diem?” celetuk Lior. Bocah itu masih terlalu kecil untuk memahami situasi. Kaia bahkan sampai mengerutkan kening dan memandang satu per satu wajah-wajah para kakak

  • Hello, Nanny!   S2.42. Pancake

    Rere melambaikan tangan pada seniornya yang sudah dijemput seseorang. Begitu mereka menjauh, kakinya melangkah ke bagian depan kafe yang masih ramai kendaraan bermotor. Dia berjalan menunduk sambil mengutak-atik ponsel hendak memesan ojek online. Dia baru akan menekan tombol pesan ketika suara sepeda motor terdengar di dekatnya. Gadis itu menoleh, dan menemukan sepeda motor yang tak asing baginya lagi. Spontan dia tersenyum lantaran tahu itu motor milik Kael.Pengendara motor tersebut membuka kaca helm. “Ayo, naik. Gue anter balik.” Tunggu! Senyum Rere raib, dan matanya menyipit. Dia mendekat. Memelotot pada sing pengendara motor, memperhatikan bentuk matanya. “Apaan sih Lo.” Spontan Rere menggeram. Motor, helm, dan jaket memang punya Kael. Namun pengendaranya bukan lelaki itu. “Nggak mau. Gue bisa balik sendiri,” ujar Rere judes. “Dih. Udah jauh-jauh gue jemput Lo malah pengin balik sendiri.” “Males gue balik sama Lo.”“Emang Lo ngarep balik sama siapa? Kael? Dia sibuk.”Rere

  • Hello, Nanny!   S2.41. Salah Waktu

    “Apa kamu nggak waras, Cade?! Kamu benar-benar menghancurkan ekspektasi Mama! Apa kamu mau ikutan gila seperti kakak-kakakmu?!”Cade menarik napas panjang. Dia sudah menduga akan mendapat murka sang mama saat memutuskan membawa Mella dan Rere ke rumah. Tapi dia tidak menyangka Mama melakukan ini bahkan sebelum bertemu dengan mereka. “Mereka layak untuk aku cintai, Ma.” “Layak kamu bilang?! Layak buat kamu kasih sedekah maksudnya?!”“Ma!” Diyani berdecih dengan lengan melipat dada. Kemarahannya memuncak saat tahu putra bungsunya membawa perempuan dan seorang anak. “Mama tahu persis orang seperti apa mereka. Lagian otak kamu di mana sih Cade? Bisa-bisanya berhubungan dengan janda beranak satu. Apa dunia ini kekurangan perawan sampai janda mau kamu pinang, heh?!”Dada Cade mengembang. Dia berusaha napas senormal mungkin. Meskipun hatinya begitu sakit, sang mama merendahkan kekasihnya. Siapa yang ingin menjadi janda? Tidak ada seorang wanita yang berharap takdir seperti itu. “Mama bel

  • Hello, Nanny!   S2.40. Om-om Mesum

    “Americano.”Suara itu menyentak lamunan Rere. Saat gadis itu mengangkat wajah, senyumnya pun terbit. “Om Cade, aku kira siapa.” “Emang kamu kira siapa?” Cade tersenyum, mengamati wajah cantik yang tampak muram itu. Semakin dewasa, Rere makin terlihat seperti ibunya. “Pelanggan lain dong. Oke, jadi …. Americano satu?” “Dua deh kalau kamu mau.” Rere terkekeh sambil mengetikkan pesanan Cade. “Kalau Om ke sini aku pasti dapat jatah traktiran. Makasih ya.”Cade mengangguk. Lalu matanya melirik seseorang yang datang menghampiri Rere. “Re, biar gue aja,” ujar salah satu teman kerja Rere. “Ntar pesanannya gue yang bikin, lo istirahat gih.”Meski bingung Rere hanya mengangguk. Orang itu seniornya. “Makasih, Kak.”“Mumpung kamu istirahat bisa temani Om ngobrol?” tanya Cade meraih cepat kesempatan itu. “Bisa, Om.” Di salah sudut kafe, yang sedikit jauh dari keramaian ruang utama, Cade dan Rere memilih tempat duduk. “Berkas-berkas pengajuan udah kamu submit kan?” tanya Cade, membicarakan

  • Hello, Nanny!   S2.39. Gadis Part Time

    “Luar Jawa dong. Bali misalnya.” “Bali terlalu banyak saingan.” “Justru itu, buat menang lo harus bisa bersaing.” “Gue kembangin yang di sini aja dulu. “Minimal Surabaya ada.” Cade membuang napas. Sebagai investor kadang dia diajak brainstorming ketika manajemen akan memperluas sayap bisnisnya. Seperti saat ini, Jonas, pemilik kafe dan juga temannya itu minta bertemu, tepatnya meeting kecil-kecilan membahas soal rencana membuka cabang baru. “Gue percaya Lo aja deh,” ujar Cade pasrah. Jonas buatnya kurang visioner. Kalau bukan teman, dia ogah menggelontorkan dana buat kafe itu. Di Jakarta kafe Jonas sudah menyebar di beberapa titik, dan semua berjalan bagus sejauh yang Cade lihat. Dan ada rencana mau memperluas ke kota-kota yang ada di Jabar. Seperti Bandung, Cirebon, Subang dan sekitarnya. Sementara Cade mengusulkan untuk membuka di luar Jawa, tapi sepertinya temannya itu belum berani ambil resiko. Cade mengeluarkan batang rokok dari bungkusnya, dan menjejalkannya ke sela bi

  • Hello, Nanny!   S2.38. Madu Dua

    Di halaman belakang samping rumah, dekat rumah nenek, Kael berhasil menemukan Rere. Gadis itu berdiri membelakanginya, menghadap rumah nenek yang sepi. Kael berencana menginap di rumah nenek, kalau Vianna benar-benar tidak bisa dibujuk pulang. “Re?” panggil Kael seraya berjalan mendekat. Namun tiba-tiba saja Rere berbalik, membuat Kael sontak berhenti melangkah. “Kamu yakin nggak pacaran sama dia?” todong Rere spontan. “Eh?” “Kamu bilang kalian nggak pacaran, tapi yang kalian lakukan—ish!” Rere kembali berbalik saat merasa ada yang salah dengan ucapan dan reaksinya. Dia memang kesal, tapi tidak punya hak buat kesal. Rere melihat semuanya. Saat mereka berpelukan. Saat Kael dengan sabar mendengar keluhan Vianna, dan saat Kael mengantar gadis itu ke kamarnya. “Vianna… dia lagi sakit. Dia butuh istirahat,” ucap Kael. Meski bukan fisiknya yang sakit. Tapi melihat gadis itu langsung pulas begitu kepalanya menyentuh bantal, Kael yakin Vianna memang butuh bed rest.“Di kamar kamu?”“T

  • Hello, Nanny!   10. Sudah Jatuh, Ketimpa Tangga

    Kalla menyempatkan diri mampir ke mini market sebelum kembali ke apartemen. Dan baru saja dirinya akan mengambil beberapa lolipop kesukaannya, bunyi notifikasi ponsel terdengar. Sebuah pesan masuk dari Reyga 'Ingat, jangan kasih Kael makanan atau snack sembarangan.'Secara otomatis Kalla menarik

  • Hello, Nanny!   9. Hello, Nanny!

    Kael hanya bersekolah sampai hari Jumat dengan tiga seragam yang berbeda. Di salah satu sekolah internasional yang Kalla tahu SPP bulanannya ngalahin UMR Jakarta. Artinya hari weekend anak itu akan full di rumah. Kecuali hari ini, Reyga menuntut Kalla harus membuatkan breakfast dan bekal untuk boc

  • Hello, Nanny!   8. Beautiful Nanny!

    Tidak ada rencana telat di hari pertama kerja. Namun itu yang Kalla alami. Rencananya pukul enam pagi dia sudah harus ada di stasiun, tapi kenyataannya sudah setengah tujuh lebih dia baru keluar kamar. Dengan langkah tergesa dia menghampiri ibunya yang sedang berkutat di dapur. Bahkan ibu pun belum

  • Hello, Nanny!   7. Tidak Seburuk Dugaannya

    Melihat reaksi Cade, Kalla menghela napas. Mungkin bagi lelaki itu, tawaran ini tidak bergengsi. Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya jadi pengasuh bocah? Masalahnya, Kalla benar-benar putus asa saat ini. "Good," ucap Cade kemudian. Tapi senyumnya tidak selebar sebelumnya. Ekspresi merem

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status