LOGINCuma mo kasih info, Reyga TIDAK se-Green Flag Mas Gyan.😭
Helaian rambut Reyga beterbangan tertiup angin laut. Dengan backsound suara debur ombak di sore hari, Kalla merasa seperti sedang berada di adegan-adegan film roman yang sering Moya tonton. Wanita itu masih menunggu jawaban. Menatap lekat-lekat Reyga dari samping dengan wajah penasaran. Dari laut lepas, tatapan Reyga akhirnya berpaling ke Kalla. Pandangan mereka bertemu pada satu titik. “Menurutmu apa?” tanya lelaki itu balik. “Mana aku tau. Kan aku nanya. Masih ada angka 1 sampai 4 sebelum 5. Kenapa harus 5?” Mata bulat itu berkedip pelan. Cantik banget. Membuat Reyga tak tahan menyentuh wajah wanita itu. “Itu karena aku tau kamu butuh banyak waktu. Termasuk meraih satu per satu impian kamu. Uhm, bisa aja sih aku nyusul kamu ke Jepang, tapi aku merasa belum waktunya.” “Waktu yang kamu kasih terlalu banyak. Kalau selama itu aku kecantol sama cowok lain gimana?” Reyga terkekeh seraya menunduk. “Ya nggak mungkin.” Jawaban yang sangat percaya diri. Membuat Kalla berdecak m
“Sayang, sayang, sabar dulu, oke?” Reyga panik dan langsung menenangkan wanita itu. Dia meringis ngeri mendapati muka Kalla yang sudah seperti ingin menerkamnya hidup-hidup. Hidung wanita itu sudah mengeluarkan asap. “Aku ini—maksudnya begini tuh, nggak mau bikin kamu pusing. Kan kamu lagi sibuk ngurus pameran. Makanya aku nggak kasih tau kamu dulu. Begitu, Sayang. Dan niatnya hari ini aku mau kasih tau kamu setelah acara kamu beres,” terang Reyga mencoba menjelaskan. Jangan sampai gara-gara ini Kalla mencabik-cabik dirinya lalu menolak menikah. No way! Kalla menarik napas panjang beberapa kali sembari memejamkan mata. Sibuk menghalau rasa kesalnya pada lelaki ngeselin di sampingnya ini yang kini menciptakan jarak lantaran takut ditelan. Dua tangannya yang sejak tadi mengepal dia buka secara perlahan. “Sayang…,” panggil Reyga hati-hati, mencoba mendekat kembali. “Sayang, maaf ya udah bikin kamu terkejut. Tapi, bukannya ini berita bagus?” Setelah merasa tenang, Kalla kembali me
Matahari Canggu sudah cukup tinggi, tapi Kalla masih betah tengkurap di atas kasur dengan mata yang masih terkatup rapat. Selimut hanya menutupi bagian bawah tubuhnya. Sementara punggung putihnya dibiarkan terbuka. Melihat itu, Reyga yang baru saja masuk menggeleng dan tersenyum. Dini hari hingga subuh menjelang, wanita itu sudah lumayan bekerja keras. Jadi dia membiarkan saja ketika Kalla masih terlelap meski jam sudah hampir memasuki waktu makan siang. Lelaki itu mendekat, merangkak ke ranjang, dan mengurung Kalla yang masih belum juga terbangun. Kepalanya menunduk dan mencium punggung wanita itu, sebelum bergerak ke sisi sebelah yang kosong. Dia merebah dengan posisi miring, sebelah tangan menyangga kepala. Tangan lainnya mulai sibuk membelai punggung mulus itu. “Halus banget,” gumamnya, menyusuri punggung Kalla dari atas hingga lekuk pinggang dengan tangannya. Ada bercak kemerahan, bekas gigitannya semalam di beberapa titik. Kulit wanita itu yang putih bersih membuat bercak itu
Disclaimer dulu yak hehe; Cerita ini hanya hiburan semata. Adegan mature dalam cerita ini tidak untuk ditiru ya, apalagi dipraktekkan. Kalau mau praktek minimal kudu nikah dulu. Muehehe. Author minta maaf sebesar-besarnya kalau ada yang nggak berkenan. =================Reyga langsung merangkul pinggang Kalla saat wanita itu segera menyambut kedatangannya. Dia melambaikan tangan pada Danesh sebelum menggiring Kalla ke tempat parkir motor. “Kalian ngapain aja sampai jam satu baru keluar?” tanya lelaki itu, sembari memakaikan jaket ke badan Kalla. “Makan, minum, nari-nari, ya seneng-seneng. Namanya juga perayaan.” Saat Reyga meresleting jaket tersebut, Kalla sedikit mendongak. Bibir Reyga mencebik. “Happy banget ya sampe nggak mau diganggu. Aku telpon pun nggak diangkat.” “Oh ya? Sori, aku nggak denger.” Setelah memakaikan jaket, lelaki itu memakaikan Kalla helm. “Udara dini hari dingin jadi harus rapet. Yuk!” Meski sudah mengenakan jaket yang lumayan tebal, Kalla tetap mengulu
“Selamat atas kesuksesan kita semua. Tanpa kalian pameran ini tidak akan berjalan sempurna!” Wima mengangkat gelas anggurnya tinggi-tinggi. “Dinasty…?!” “Jaya! Jaya! Yes!” sambut para stafnya dengan yel-yel kompak. “Cheers, untuk kita semua!” “Cheers!” Closing pameran berjalan lancar dua hari lalu. Wima mengapresiasi keberhasilan event itu dengan gala dinner yang diadakan di beach club di kawasan Canggu malam ini. Semua staf divisi hadir tanpa terkecuali. “Ini di luar ekspektasi. Selamat buat kalian berdua,” ucap Wima pada dua orang kepercayaannya, Danesh dan Kalla. “Sesuai janji selain bonus, kalian akan liburan ke Eropa.” Danesh dan Kalla kompak menyambut kabar baik itu dengan bertos ria. Keduanya sudah menantikan momen itu. “Eropa, Kal! Sekalian ajak Celine pulang kampung ke Paris!” seru Danesh kegirangan. Tubuhnya lantas berjoget mengikuti irama musik. “Yee, sekali mendayung. Sekalian kenalan sama mertua, Nesh.” “Yoi!” Lelaki berambut jabrik itu lantas berdiri. “Ta
“Kalau kamu mau tidur sama roommate-ku juga silakan.” Kalla mengangkat bahu. Sangat tidak mungkin mengajak lelaki itu menginap di kamarnya. Kening Reyga mengerut. “Sekamar berdua? Sekelas Sagara?” “Kan nggak cuma kamu yang mau hemat, Rey.”“Oke, kita buka kamar di Oshom. Bagus langsung menghadap laut.” “Di sana ada Wima by the way.” “Shit.”Reyga mendebas keras sampai rambut bagian depannya terbang. Wima Sagara benar-benar bencana. Dia benar-benar harus bersabar sampai dua minggu ke depan sebelum memukul mundur pria itu. Kalla terkekeh lantas berdiri. Tangannya terulur. “Aku lapar, tapi nggak mau makan di sini.”Menyambut uluran tangan wanita itu, Reyga turut berdiri. “Kenapa?” “Makanan di sini nggak ramah di kantong,” bisik Kalla, membuat Reyga terkekeh geli. “Meskipun bukan CEO Ganesha lagi, tapi aku masih sanggup kok bayar makan malam kita di sini.”Kepala Kalla menggeleng, dia menarik tangan lelaki itu, dan membawanya keluar dari area beach club. “Kalau cuma buat mengenyang
“Pizzaaa!” seru Cade saat Reyga membuka pintu. Lelaki berkulit pucat itu mendorong pintu lebar dan masuk begitu saja. Meninggalkan helaan napas panjang kakaknya yang merasa bete maksimal karena aktivitasnya terganggu. “Gue juga beli Mac and Cheese kesukaan Kael. Mana dia, Kak?” cerocos Cade seraya
Sabtu full di unit pun sekarang sudah cukup bagi Reyga. Banyak kegiatan bermanfaat yang sudah Kalla susun untuk putranya. The real me time bareng keluarga mungkin seperti ini. Empat tahun lamanya kehangatan seperti keluarga lain tidak pernah Reyga rasakan. Dia membesarkan Kael sendiri dengan bantu
“Serius Lo?” Kalla melotot dan mengacungkan telunjuk di depan bibirnya. “Jangan berisik!”geramnya lirih. Kalau ibu dengar bisa amsyong.“Ini sih namanya momong anaknya bonus bapaknya!” seru Moya lebih bisa mengendalikan dirinya. Cengiran Kalla membuat Moya ingin muntah. “Ngapain aja Lo di Bali sela
“Kenapa kita ke sini?” “Papa mau beli baju?” Reyga membawa Kael dan Kalla ke salah satu Boutique and Beauty Salon yang ada di Benoa. Rekomendasi dari staf vila ketika dia bertanya. “Papa lupa memberitahu kalau malam ini ada undangan anniversary pernikahan teman papa. Dan papa belum menyiapkan ap







