Home / Romansa / Hello, Nanny! / 56. Kesiangan

Share

56. Kesiangan

last update publish date: 2026-03-17 21:00:50
Bahkan Reyga terkejut sendiri menyadari nada suaranya yang meninggi. Mata legamnya mengerjap. Dadanya berdebar kencang menanti reaksi Kalla yang hanya terdiam dengan wajah syok.

Namun beberapa detik berlalu, wanita itu tidak merespons, dan malah perlahan turun dari meja dapur, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Reyga gelagapan dan mengutuk dirinya sendiri dalam hati. "Kalla, a-aku minta maaf. Aku tadi nggak bermaksud membentak kamu. Ak—"

"Nggak apa-apa," potong Kalla tanpa mau menatap Rey
Yuli F. Riyadi

Yuk sikat Cade, Bos. 🤣😅

| 15
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Anita Ratna
Kok jd sm kayak judulnya, udh siang blm up kak ...
goodnovel comment avatar
Anies
Semangat Rey... jelasin pelan² ke kalla ya.. ingat harus jujur nggak boleh ada yang ditutupin. makasih kak yuli semangaaaat
goodnovel comment avatar
Anita Ratna
Siap² Cade diamuk kakakmu Reyga. Bikin huru-hara sih ...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   164. Realistis

    “Kallaaa!”Suara cempreng bernada itu menembus telinga Kalla, hingga wanita itu menoleh. Kalla yang sedang duduk bersama ibu–tengah mendiskusikan tentang konsep pernikahan–kontan tersenyum. Itu jelas suara sahabatnya tersayang. Dan benar, tidak berapa lama Moya dengan gaya kasualnya muncul. Bibir wanita itu mencebik dan alisnya berkerut sedih ketika akhirnya bisa bertemu Kalla lagi. Dua sohib itu saling menghampiri lantas berpelukan hangat. “Lo betah banget sih di Bali. Nggak kangen sama gue? Udah ditinggal ke Jepang, eh malah nyambung ke Bali,” kesah Moya dengan bibir maju satu senti. “Yah, Moy. Namanya juga lagi nyari sebongkah berlian. Jauh pun gue jabanin.”“Minta sama Kak Wima dong biar bisa mutasi ke Jakarta. Emang lo nggak kasian sama ibu? Sendirian terus gitu.” Yang jadi obyek mengangkat alis. “Ibu nggak apa-apa kok sendiri. Kan banyak tetangga. Ada kamu juga yang sering datang jenguk ibu kan?” sahut ibu. Dia beranjak berdiri. “Udah makan belum? Ibu tadi masak urap sama i

  • Hello, Nanny!   163. Tak Kenal Maka Tak Sayang

    Dibalik kemudi Reyga menggeram. Sesekali tatapnya melirik ke kaca spion depan. Mengintip interaksi putranya dan Kalla, yang sudah seperti kekasih lama tak jumpa. Menjengkelkan. Mentang-mentang baru bertemu anak itu ngadi-ngadi. Kael melarang Kalla duduk di sampingnya. Reyga sudah seperti supir duo majikan yang lagi saling melepas rindu saja. “Mau makan di mana kita, Bos?” tanya lelaki itu, menaikkan sudut bibirnya. Kael menatap mantan pengasuhnya dengan senyum manis. “Kakak mau makan apa?” “Gimana kalau pizza?” sambar Reyga. Membuat Kael mengerutkan dahi tak suka. “Aku nggak nanya papa ya. Ladies first.”“Hm, okay.” Reyga mengedikkan bahu dan kembali fokus ke jalanan yang lumayan ramai. Melihat itu Kalla terkikik. Lima tahun tidak bertemu membuat Kael sedikit lebih ekspresif. Ya, hanya sedikit. Dia masih tetap Kael si cuek dan pendiam. “Jadi, kakak mau makan apa?” tanya Kael sekali lagi. Mata beningnya begitu berkilau saat menatap Kalla. Anak itu tidak menyangka lama tak jumpa

  • Hello, Nanny!   162. Lelaki Kuat

    Ucapan salam kompak sekitar 20 murid mengudara bersamaan dengan bunyi bel pulang sekolah. Beberapa detik kemudian kegaduhan anak-anak keluar kelas pun tak bisa terelakkan. Sesuatu yang biasa terjadi di jam pulang sekolah atau istirahat. Tak terkecuali di ruang kelas 3 Einstein, kelas yang Kael tempati sekarang. Di kursinya Kael tengah membereskan alat tulis. Sesaat dia membalas kalem sapaan temannya yang keluar lebih dulu. “Kael,” panggil guru kelasnya yang masih duduk di balik meja guru.“Ya, Miss,” sahut Kael dengan ekspresi datar andalannya. Anak sembilan tahun itu mengangkat wajah, menunggu guru kelas itu mengucapkan sesuatu. “Papa kamu bilang, hari ini kamu dijemput nanny baru.” Meski nyaris tanpa ekspresi, Miss Luna, nama guru kelas 3 Einstein itu melihat kerut samar muncul di dahi anak muridnya itu. Beberapa saat tidak ada respons, Miss Luna menganggap Kael mengerti. Dia pun melanjutkan kegiatan membereskan bawaannya. “Miss, saya bisa minta tolong?” tanya Kael, membuat gur

  • Hello, Nanny!   161. Kamu Berharga

    Helaian rambut Reyga beterbangan tertiup angin laut. Dengan backsound suara debur ombak di sore hari, Kalla merasa seperti sedang berada di adegan-adegan film roman yang sering Moya tonton. Wanita itu masih menunggu jawaban. Menatap lekat-lekat Reyga dari samping dengan wajah penasaran. Dari laut lepas, tatapan Reyga akhirnya berpaling ke Kalla. Pandangan mereka bertemu pada satu titik. “Menurutmu apa?” tanya lelaki itu balik. “Mana aku tau. Kan aku nanya. Masih ada angka 1 sampai 4 sebelum 5. Kenapa harus 5?” Mata bulat itu berkedip pelan. Cantik banget. Membuat Reyga tak tahan menyentuh wajah wanita itu. “Itu karena aku tau kamu butuh banyak waktu. Termasuk meraih satu per satu impian kamu. Uhm, bisa aja sih aku nyusul kamu ke Jepang, tapi aku merasa belum waktunya.” “Waktu yang kamu kasih terlalu banyak. Kalau selama itu aku kecantol sama cowok lain gimana?” Reyga terkekeh seraya menunduk. “Ya nggak mungkin.” Jawaban yang sangat percaya diri. Membuat Kalla berdecak m

  • Hello, Nanny!   160. Surfing

    “Sayang, sayang, sabar dulu, oke?” Reyga panik dan langsung menenangkan wanita itu. Dia meringis ngeri mendapati muka Kalla yang sudah seperti ingin menerkamnya hidup-hidup. Hidung wanita itu sudah mengeluarkan asap. “Aku ini—maksudnya begini tuh, nggak mau bikin kamu pusing. Kan kamu lagi sibuk ngurus pameran. Makanya aku nggak kasih tau kamu dulu. Begitu, Sayang. Dan niatnya hari ini aku mau kasih tau kamu setelah acara kamu beres,” terang Reyga mencoba menjelaskan. Jangan sampai gara-gara ini Kalla mencabik-cabik dirinya lalu menolak menikah. No way! Kalla menarik napas panjang beberapa kali sembari memejamkan mata. Sibuk menghalau rasa kesalnya pada lelaki ngeselin di sampingnya ini yang kini menciptakan jarak lantaran takut ditelan. Dua tangannya yang sejak tadi mengepal dia buka secara perlahan. “Sayang…,” panggil Reyga hati-hati, mencoba mendekat kembali. “Sayang, maaf ya udah bikin kamu terkejut. Tapi, bukannya ini berita bagus?” Setelah merasa tenang, Kalla kembali me

  • Hello, Nanny!   159. Berita dari Ibu

    Matahari Canggu sudah cukup tinggi, tapi Kalla masih betah tengkurap di atas kasur dengan mata yang masih terkatup rapat. Selimut hanya menutupi bagian bawah tubuhnya. Sementara punggung putihnya dibiarkan terbuka. Melihat itu, Reyga yang baru saja masuk menggeleng dan tersenyum. Dini hari hingga subuh menjelang, wanita itu sudah lumayan bekerja keras. Jadi dia membiarkan saja ketika Kalla masih terlelap meski jam sudah hampir memasuki waktu makan siang. Lelaki itu mendekat, merangkak ke ranjang, dan mengurung Kalla yang masih belum juga terbangun. Kepalanya menunduk dan mencium punggung wanita itu, sebelum bergerak ke sisi sebelah yang kosong. Dia merebah dengan posisi miring, sebelah tangan menyangga kepala. Tangan lainnya mulai sibuk membelai punggung mulus itu. “Halus banget,” gumamnya, menyusuri punggung Kalla dari atas hingga lekuk pinggang dengan tangannya. Ada bercak kemerahan, bekas gigitannya semalam di beberapa titik. Kulit wanita itu yang putih bersih membuat bercak itu

  • Hello, Nanny!   33. Didiemin

    Mengenalkan diri sebagai Wima Sagara pria itu terlihat ramah dan baik. Tidak seperti cerita Reyga yang katanya orang itu menjengkelkan dan sulit dihadapi. Pria itu juga mengucapkan terima kasih pada Kalla atas pertolongan semalam. Untuk hal ini Kalla mengerjap bingung. Pertolongan apa? Tapi beber

  • Hello, Nanny!   32. Wima Sagara

    Kaki Kalla menghantam ke samping. Posisi tidurnya berubah dan seketika matanya memicing ketika cahaya menerpa wajahnya. Dia kembali membalik posisi dengan malas. Tapi samar-samar matanya menangkap bayang-bayang orang duduk di depannya. Secara perlahan dan terpaksa, dia membuka mata. Satu lelaki dew

  • Hello, Nanny!   30. Bar

    Kael menggerakkan jempol ke bawah mengiringi kepergian Gatra. Sementara Reyga melambaikan tangannya, merasa menang. Lalu Kalla? Dia dengan buru-buru menjauh dari Reyga, menyingkirkan lengan lelaki itu dari pinggangnya. Tindakannya kontan membuat Reyga menoleh. Lelaki itu mengangkat alis saat Kalla

  • Hello, Nanny!   29. Pecundang

    “Jadi sekarang Lo di Bali?”“Hu-um.”“Buset, belum apa-apa udah honeymoon.” “Honeymoon pale Lo.” Di ujung telepon sana Moya tergelak. “Jadi baby sitter anaknya orang tajir mah beda ya. Jalan-jalan aja pake jet pribadi. Nginepnya di vila mahal. Mana bapaknya duda lagi. Lo banyak-banyak bersyukur tu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status