Home / Romansa / Hello, Nanny! / 82. Bapak-bapak Mesum

Share

82. Bapak-bapak Mesum

last update publish date: 2026-03-31 11:59:01
Mendengar pertanyaan Kalla, Reyga mengernyitkan dahi. “Kenapa kamu berpikir begitu?” tanya lelaki itu, agak kaget juga.

Kalla mengangkat bahu. “Duga aja sih. Selama kamu nggak bilang kalau kita punya hubungan, aku rasa semua aman.” Dia tersenyum getir. Meskipun belum pasti, tapi aura penolakan dari keluarga Reyga cukup terpancar jelas.

Masih tiduran di pangkuan Kalla, Reyga mengubah posisi berbaring terlentang, agar bisa menatap wanita itu secara langsung. “Kamu mau aku merahasiakan hubungan
Yuli F. Riyadi

Ada yang tau engga Reyga bisikin apa ke Kalla? Wkwkwk

| 16
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (8)
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Udah lanjutin
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Haiyaaah langsung gaspol
goodnovel comment avatar
Fit 82
lanjutin Thor nanggung ha.ha
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   96. Cecilia Wu

    Cade menepuk dada Reyga dengan punggung tangan ketika dia melangkah masuk. “Lain kali lebih tahan diri lo, Kak. Kalau Kael lihat dia bisa baligh lebih cepat,” kelakar lelaki itu. “Berisik banget lo.” Cade membuang napas lantas berhenti melangkah. Dia menoleh. “Gue kesel sebenarnya. Tapi gue juga nggak bisa larang kalian.” “Kalau tau cukup diem.” Mengedikkan bahu, Cade kembali melangkah menuju kamar Kael. “Kael! Ayo siap-siap, kita ke rumah oma sekarang,” serunya. Tapi sebelum masuk dia kembali memutar badan. “Tadi Kalla agak beda penampilannya. Kalian abis dari mana?” “Tadinya gue mau ajak Kalla ke rumah mama. Tap—”“Gila lo! Mama bisa tambah mencak-mencak.” “Lo yang bilang kan kalau gue nggak boleh main-main. Ini cuma salah satu wujud usaha gue kalau perasaan gue ke Kalla itu serius.”Cade menatap kakaknya itu dengan bibir berkerut. Tidak nyangka Reyga punya nyali membawa Kalla. Kumpul keluarga terakhir saja ribut gara-gara itu. Kalau beneran Kalla ke rumah, entah apa yang ter

  • Hello, Nanny!   95. Intim

    Ciuman mereka berlarut-larut dengan posisi Kalla di atas Reyga. Ketika sebelah tangan Reyga mulai merayap pahanya pun wanita itu membiarkan. Matanya terus terpejam meningkahi tiap sentuhan yang lelaki itu berikan. “Kamu… “ Rambut Kalla terburai saat dari belakang tangan Reyga melepas ikat rambutnya. Tangan itu lantas merambat ke punggung dan tengkuk. Di sana dia menarik lepas simpul gaun, lantas dalam sekejap lelaki itu membalik keadaan. Dia berada di atas Kalla sekarang. “Cantik,” bisiknya lirih, punggung jarinya menyusuri pipi halus Kalla. Lalu jatuh ke bibir Kalla yang basah. Wanita cantik di bawahnya tersentak ketika rabaan tangan Reyga sampai di bagian depan dadanya. Hanya sekali sentak, gaun itu bisa langsung lepas. Tentu saja Kalla tidak akan membiarkan begitu saja. “Kael ada di kamarnya, sedang menyelesaikan bricks barunya,” ucapnya berusaha menahan tangan Reyga agar tidak bertindak terlalu jauh. “Jadi dia lagi sibuk.” Diam-diam Reyga menyelipkan tangan ke paha bagian d

  • Hello, Nanny!   94. Masalah

    “Kenapa kamu belum pulang?” “Kalau aku pulang, Kael sama siapa?”“Aku pikir Kiana ke sini.” Kalla menggeleng. Dia memperhatikan wajah Reyga yang tampak lelah. Sepertinya benar-benar ada masalah di perusahaan. “Cade bilang kamu dari Singapur.”’Sambil melonggarkan dasi, Reyga mengangguk. “Ada masalah. Aku dan papa langsung ke Singapur tadi karena terkait hal ini. Agak bikin pusing.” “Terus, apa masalahnya sudah selesai?” tanya Kalla. Lelaki itu menggeleng. “Papa masih di sana. Aku minta pulang karena Kael.” Reyga mendekat lantas menghambur ke pelukan Kalla. Seperti anak kecil, dia menenggelamkan kepalanya di perut wanita itu. Tingkah lelaki itu membuat Kalla menduga masalah yang sedang dia hadapi bukan masalah kecil. Gurat lelah di wajah Reyga tercetak jelas. “Seharian ini kalian ngapain aja? Maaf ya, jadi nggak bisa temani kamu ke butik.” “Habis ke butik, aku jemput Kael. Kami seharian di unit, nggak ke mana-mana.” Di pangkuannya, Reyga mengangguk. Dia memejamkan mata. Lalu t

  • Hello, Nanny!   93. Khawatir

    Willa pindah duduk di depan ketika Kalla turun. Gadis itu melambaikan tangan kepada Kalla saat sang kakak melajukan kendaraannya lagi. Napasnya berembus kencang saat dia kembali duduk dengan benar. “Aku suka banget sama Kak Kalla,” desahnya, melirik singkat Wima yang sudah kembali fokus menyetir. “Cantik, humble, kelihatannya pinter. Aku yakin kalau kakak kenalin ke ibu dan nenek, mereka pasti suka.”Selagi memperhatikan jalan, Wima tersenyum. Kalau penilaian sang adik sudah seperti itu, maka penilaian keluarga lain kurang lebih bakal sama. Tapi di sini Wima merasa kurang beruntung. Dia terlambat memikat hati perempuan unik itu. “Begitu?” Di sisinya Willa berdecak sebal. “Tunggu apa lagi sih, Kak. Gercep dong. Nggak mungkin Kak Kalla nggak suka sama Kak Wima. Ibarat kata, Kak Wima tuh paket komplit. Tampan, mapan, matang, lajang. Cewek mana yang nggak tertarik sama kakakku yang paling tamvan sejagat ini?”Wima mendengus. Pujian sang adik terlalu berlebihan. Pasti ada maunya. “Kam

  • Hello, Nanny!   92. Willa Sagara

    “Saya beneran nggak nyangka kalau Willa ternyata adik Kak Wima.” “Muka kami nggak mirip ya, Kak?” “Senyum kalian mirip sih. Mata kalian juga sama warnanya, cakep.” Willa di depan Kalla mengulum senyum. Ujung matanya melirik sang kakak yang terus melengkungkan bibir sejak bertemu tanpa sengaja dengan Kalla di butik. Dengan iseng Willa menyikut sang kakak. “Kedip dulu, Kak,” tegurnya sambil terkikik. Membuat Wima tersentak dan tersenyum malu-malu. “Sampe gitu banget natap Kak Kalla.” Bukan hanya Wima, Kalla pun mendadak salah tingkah. Sumpah, adik Wima ini ceplas-ceplos banget. Wima sampai memerah mukanya. Wima berdeham, meredam perasaannya yang sedikit membuncah. “Jangan hiraukan dia, ya. Dia ini memang iseng anaknya.” Dia sedikit mencubit pinggang sang adik, memberi peringatan agar anak itu sedikit mengerem mulutnya. Tapi gadis itu malah menjulurkan lidah. “Kak Wima jeli juga ya matanya. Aku aja lihat Kak Kalla pertama kali langsung terkagum-kagum.” “Willa,” tegur Wima lembut.

  • Hello, Nanny!   91. Butik

    Harusnya sekarang Kalla pergi ke butik bersama Reyga. Memilih gaun yang akan dia pakai ketika mengunjungi orang tua Reyga malam minggu nanti. Namun karena ada urusan penting terkait pekerjaan yang tidak bisa ditinggal, Kalla akhirnya pergi sendiri. Kakinya berhenti tepat di depan sebuah butik yang tidak berani dia kunjungi sebelumnya, lantaran terkenal dengan harganya yang cuma diperuntukkan kalangan high class. Mendadak Kalla ragu melangkah masuk. Dia sendirian, kalau orang di dalam tidak menerimanya gimana? Namun dengan cepat dia menepis pikiran buruk itu, lalu melangkah masuk dengan percaya diri. Seorang pegawai butik itu menyambutnya. “Selamat datang, ada yang bisa kami bantu?” “Uhm… Saya mau pilih gaun, Mbak.”“Oke, untuk acara apa kalau boleh tau, Kak? “Makan malam aja sih.” “Baik. Mari saya antar ke sini. Banyak pilihan gaun yang cocok untuk kakaknya.”Kalla mengikuti pegawai itu. Ternyata hanya ketakutan semata, pegawai butik ini sangat ramah dan menyambutnya dengan ba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status