Home / Romansa / Hello, Nanny! / 83. Ukuran Cincin

Share

83. Ukuran Cincin

last update publish date: 2026-03-31 17:19:29

Kalla menenggelamkan muka ke bantal. Malunya merambat sampai ke ubun-ubun. Dia tidak percaya dirinya bisa melakukan sampai sejauh itu. Pacaran dengan duda benar-benar mengkontaminasi dirinya. Sesekali kakinya berguncang kesal.

“Kamu mau gulungan terus kayak gitu?” tanya Reyga menyembulkan kepala dari balik pintu kamar. Rambut lelaki itu basah. Badan seksinya hanya tertutup handuk yang melilit pinggang. Dia baru saja selesai mandi setelah sesuatu yang hebat telah terjadi di antara mereka.

Lela
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (12)
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Butuh kekuatan dia
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Anu ituuu.... Hi hi
goodnovel comment avatar
Dinaningtyas Apriy
giliran cius, Kalla yg ngeperrr OPO tp karepmu
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   84. Ibu Menor

    Pembicaraan soal lamaran menguap ketika Kalla benar-benar tidak menggubris. Menurut wanita itu terlalu dini untuk lanjut ke jenjang lamaran. Secara perasaan mungkin Kalla siap, tapi secara lain-lain belum. Terlebih tentang perbedaan keluarga yang begitu jelas jurang pemisahnya. Ah, Kalla berusaha tidak memikirkan itu. Fokusnya sekarang bekerja dengan baik sambil menunggu peluang impiannya. Reyga pun akhirnya capek sendiri karena Kalla terus-terusan menghindari pembasahan itu. Kalla sedang memasukkan baju milik Kael yang baru di-laundry ke lemari ketika ponselnya berbunyi. Dari layar yang tertera, nama Miss Farah muncul. Dia segera mengangkat panggilan itu. Sekarang baru pukul sebelas siang, masih dua jam-an lagi dari jam jemput. Tapi kenapa guru Kael meneleponnya? Perasaan Kalla mendadak tidak enak. “Selamat siang, Miss,” sapa Kalla begitu mengangkat panggilan. “Mbak Kalla, maaf saya terpaksa menelepon Mbak. Saya sudah berusaha menelepon Pak Reyga tapi tidak diangkat.” Kalau sa

  • Hello, Nanny!   83. Ukuran Cincin

    Kalla menenggelamkan muka ke bantal. Malunya merambat sampai ke ubun-ubun. Dia tidak percaya dirinya bisa melakukan sampai sejauh itu. Pacaran dengan duda benar-benar mengkontaminasi dirinya. Sesekali kakinya berguncang kesal. “Kamu mau gulungan terus kayak gitu?” tanya Reyga menyembulkan kepala dari balik pintu kamar. Rambut lelaki itu basah. Badan seksinya hanya tertutup handuk yang melilit pinggang. Dia baru saja selesai mandi setelah sesuatu yang hebat telah terjadi di antara mereka. Lelaki itu mendekat dan duduk di tepi ranjang, dekat Kalla yang masih bergelung di bawah selimut. Dia memunguti pakaiannya yang berserakan. “Aku malu!” seru Kalla masih menenggelamkan wajah di bantal. “Malu sama siapa?” Reyga terkekeh, lalu melepas handuknya. Dengan percaya diri, lelaki itu mengenakan celana dalam tanpa risih. “Ya malu, aku nggak pernah kayak gitu sebelumnya. Dan kamu maksa banget!” Setelah mengenakan celana dalam, lelaki itu kembali mendekat. Menggapai rambut Kalla yang gelunga

  • Hello, Nanny!   82. Bapak-bapak Mesum

    Mendengar pertanyaan Kalla, Reyga mengernyitkan dahi. “Kenapa kamu berpikir begitu?” tanya lelaki itu, agak kaget juga. Kalla mengangkat bahu. “Duga aja sih. Selama kamu nggak bilang kalau kita punya hubungan, aku rasa semua aman.” Dia tersenyum getir. Meskipun belum pasti, tapi aura penolakan dari keluarga Reyga cukup terpancar jelas. Masih tiduran di pangkuan Kalla, Reyga mengubah posisi berbaring terlentang, agar bisa menatap wanita itu secara langsung. “Kamu mau aku merahasiakan hubungan kita ke keluargaku?” “Kalau itu memang harus ken–” “Nggak ya, Kalla. Kamu pikir aku main-main?” potong Reyga langsung. Seakan tak terima dengan pendapat itu. “Aku bahkan udah izin sama ibu kamu.” “Memang kamu beneran serius soal kita?” Sontak Reyga ternganga. Dia dengan cepat bangun dari rebahan, dan menatap tak percaya kekasihnya itu. “Jadi selama ini kamu anggap aku nggak serius? Astaga…” dia meraup muka, tak habis mengerti. Usianya sudah tidak cocok lagi buat main-main. “Ya, aku man

  • Hello, Nanny!   81. Si Sempurna

    “Maaf.” Itu kata pertama yang Reyga ucapkan begitu berhadapan langsung dengan Kalla lagi. Dia lantas bergerak pelan, duduk di sisi wanita itu. “Aku tadi nggak bermaksud bicara kasar atau apapun. Aku cuma—”“Cemburu?”Kali ini Reyga tidak mengelak. Dia mengangguk. “Ya, aku cemburu.” Lelaki itu memejamkan mata sebentar, sebelum meraih tangan Kalla. “Aku nggak mau kita ribut. Maaf ya.” Bahu Kalla naik seiring helaan napasnya yang keluar. “Maaf juga. Aku juga salah. Nggak seharusnya aku minta tolong K—Wima, buat nganter ke sini.” Senyum Reyga terulas, begitu pun Kalla. Keduanya saling tatap sebelum bergerak mendekat, hendak berpelukan. Namun sebelum berhasil saling merapat, Moya dengan sigap mengurai kedekatan mereka berdua. Persis wasit pertandingan tinju. “Tahan, tahan, ini nikahan orang, Gaes. Bukan nikahan kalian.” Kalla kontan berdecak dan memutar bola mata, sementara Reyga terkekeh dengan wajah memerah. “Gitu dong! Kalau pada baik gini kan enak lihatnya. Jangan adu urat Mulu.

  • Hello, Nanny!   80. Jauhi Wima

    “Kal, cowok Lo tuh, lagi dikerubun ibu-ibu.” Celetukan salah seorang sodara jauh membuat Kalla dan Moya saling pandang. Alis kedua perempuan itu menyatu. “Emang siapa?” tanya Moya kemudian. “Ya cowoknya si Kalla. Bude lagi pamerin calon mantunya ke Tante-tante.” Kembali Kalla dan Moya saling pandang, dan sejurus kemudian keduanya bergerak mencari kerumunan yang dimaksud. Benar. Dari kejauhan Kalla dan Moya bisa melihat Reyga tersenyum. Bukan senyum ikhlas, tapi jenis senyum terpaksa. Di sisi lelaki itu ada Ibu yang tersenyum lebar sambil mengusap-usap pundaknya. “Oh My… beneran cowok Lo, Kal. Ternyata dia ngikut sampe sini,” ujar Moya, agak terkejut melihat Reyga di sana. “Kasihan banget dia, Kal. Kayak terjebak gitu di tengah ibu-ibu. Kita tolongin nggak sih?”Di samping Moya, sambil terus mengawasi Reyga, Kalla melipat lengan ke dada. “Biarin aja. Biar tau rasa, siapa suruh masih ngikut sampai sini.” Alih-alih menyelamatkan Reyga, wanita itu beranjak pergi. “Loh, Kal!” Melir

  • Hello, Nanny!   79. Artis Dadakan

    Reyga memukul stir kencang. Dia terpaksa menepikan mobilnya. Terjadi keributan sedikit sebelum akhirnya dia membiarkan Kalla keluar bersama Moya. Dari dalam mobil dia mengawasi dua wanita itu menghentikan dan menaiki sebuah taksi. Namun bukan berarti Reyga diam saja. Lelaki itu mengikuti taksi tersebut. Meski lagi emosi dia tidak bisa membiarkan Kalla pergi begitu saja. Walaupun ada Moya, tetap saja Reyga khawatir. Dia harus memastikan Kalla sampai dengan selamat. Di sebuah gedung pertemuan yang tampak ramai, Kalla dan Moya turun dari taksi. Dari dalam mobil Reyga terus mengawasi keduanya. Begitu wanita itu terlihat memasuki gerbang gedung yang terbuka, Reyga melajukan kembali mobilnya dan ikut masuk. Terlihat tak tahu malu, tapi cara ini yang bikin dirinya tenang. Suasana ramai begitu Reyga bergabung bersama tamu lain. Dia kehilangan jejak Kalla dan Moya. Namun kehadirannya cukup menyita perhatian. Posturnya yang tinggi ditambah looks-nya yang menawan, membuat siapa pun yang lihat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status