เข้าสู่ระบบ“Luar Jawa dong. Bali misalnya.”“Bali terlalu banyak saingan.”“Justru itu, buat menang lo harus bisa bersaing.”“Gue kembangin yang di sini aja dulu.“Minimal Surabaya ada.”Cade membuang napas. Sebagai investor kadang dia diajak brainstorming ketika manajemen akan memperluas sayap bisnisnya. Seperti saat ini, Jonas, pemilik kafe dan juga temannya itu minta bertemu, tepatnya meeting kecil-kecilan membahas soal rencana membuka cabang baru. “Gue percaya Lo aja deh,” ujar Cade pasrah. Jonas buatnya kurang visioner. Kalau bukan teman, dia ogah menggelontorkan dana buat kafe itu. Di Jakarta kafe Jonas sudah menyebar di beberapa titik, dan semua berjalan bagus sejauh yang Cade lihat. Dan ada rencana mau memperluas ke kota-kota yang ada di Jabar. Seperti Bandung, Cirebon, Subang dan sekitarnya. Sementara Cade mengusulkan untuk membuka di luar Jawa, tapi sepertinya temannya itu belum berani ambil resiko. Cade mengeluarkan batang rokok dari bungkusnya, dan menjejalkannya ke sela bibir seb
Di halaman belakang samping rumah, dekat rumah nenek, Kael berhasil menemukan Rere. Gadis itu berdiri membelakanginya, menghadap rumah nenek yang sepi. Kael berencana menginap di rumah nenek, kalau Vianna benar-benar tidak bisa dibujuk pulang. “Re?” panggil Kael seraya berjalan mendekat. Namun tiba-tiba saja Rere berbalik, membuat Kael sontak berhenti melangkah. “Kamu yakin nggak pacaran sama dia?” todong Rere spontan. “Eh?” “Kamu bilang kalian nggak pacaran, tapi yang kalian lakukan—ish!” Rere kembali berbalik saat merasa ada yang salah dengan ucapan dan reaksinya. Dia memang kesal, tapi tidak punya hak buat kesal. Rere melihat semuanya. Saat mereka berpelukan. Saat Kael dengan sabar mendengar keluhan Vianna, dan saat Kael mengantar gadis itu ke kamarnya. “Vianna… dia lagi sakit. Dia butuh istirahat,” ucap Kael. Meski bukan fisiknya yang sakit. Tapi melihat gadis itu langsung pulas begitu kepalanya menyentuh bantal, Kael yakin Vianna memang butuh bed rest.“Di kamar kamu?”“T
Mengurut pinggangnya yang sakit, Kael beranjak bangun. Dia ingin marah, tapi yang jadi sasaran malah kabur lebih dulu. Dan si pembawa berita kedatangan Vianna pun entah ngilang ke mana. “Kembaaaar!” seru Kael memanggil dua adiknya. Entah Kaia atau Lior. Suara mereka sama, jadi Kael meneriaki keduanya. Namun bukan si kembar yang muncul di ruang keluarga, melainkan Vianna. Gadis itu ternyata benar-benar datang. Hanya saja— “Kael!” Tubuh Kael agak terhuyung ke belakang ketika tiba-tiba Vianna memeluknya. Bukan pelukan bahagia karena bertemu Kael lagi setelah berminggu-minggu, tapi pelukan kesedihan. Karena sesaat setelah memeluk laki-laki itu, tangis Vianna pecah. Gadis itu bahkan meraung seolah tengah menahan luka yang begitu dalam. Kael yang tidak tahu apa-apa tertegun di tempat. “V-Vi—” Laki-laki itu kebingungan. Menghadapi dua adiknya yang menangis itu sudah biasa, tapi tidak dengan seorang perempuan yang menangis pilu seperti ini. Es krim atau permen cokelat kayaknya ngga
Rindu sakit Hati sakit Kalau tidak ingin sakit Jangan merindu Jangan menaruh hati … Kael memasang wajah jijik membaca tulisannya sendiri. Dia mengacak rambut frustasi. Sudah satu jam, tapi tugas membuat puisi belum juga selesai. “Ngapain repot, kan tinggal tanya AI, beres.” Itu usul sesat Jaya kemarin saat Kael menanyakan tugas bahasa Indonesia membuat puisi bertemakan cinta. Gimana bisa nulis cinta, kalau jatuh cinta saja Kael belum tahu gimana rasanya?“Nggak boleh pake AI, Njir. Lo kan tau Pak Roni kek apa.” “Ah gue mah tetep mau pake AI. Bodo amat sama nilai.” “Siap-siap jadi bulan-bulanan di depan kelas kalau gitu.” Kael mencoret tulisannya di kertas. Lalu kembali menulis ulang. Bagaimana cara membuat kata-kata yang selaras, tidak lebay, dan tidak aneh? Sumpah ya. Satu di antara kelemahannya adalah pelajaran mengarang, menulis cerpen atau sejenis. Puisi mungkin hanya beberapa bait, tapi demi apapun sulitnya selangit. Saking konsennya membuat bait, Kael tidak sadar Rere
“Gimana menurut Lo?” Jaya menunjukkan pekerjaannya pada Kael. Sejenak laptopnya pun berpindah ke tangan Kael. “Belum final. Jadi harus lo lihat udah sesuai belum?” Kael memperhatikan dengan seksama pekerjaan Jaya. Dia bahkan mengecek tools dan algoritma yang temannya itu pakai. Tidak berapa lama sudut bibirnya berkedut. “Kemampuan lo di JavaScript kayaknya naik pesat. Lanjutkan,” komen Kael sebelum mengembalikan laptop itu ke Jaya. Kontras saat dirinya mengomel satu jam lalu, sekarang Jaya bisa menyunggingkan senyum lebar. “Pasti dong. Kan terus dilatih. Dan proyek-proyek yang lo kasih ini bikin skill gue tiap hari nambah.” “Gue bisa ajuin lo ikut Coding Bootcamp Le Wagon kalau lo mau.” “Heh, serius?” “Ya. Om Cade biasanya ngirim salah satu pelajar terbaik yang punya potensi kayak lo.” “Jelas gue maulah. Kapan lagi gue bisa ikut berkumpul dengan para programer hebat?” Belum apa-apa Jaya sudah membayangkan keseruan itu. Pengalaman, sharing ilmu, dan mental akan terlatih d
“Beliin kita ini, Bang!” Kaia menunjuk gelang manik-manik dengan warna dominan biru dan pink yang tergantung di etalase. Saat ini mereka berada di tenan aksesoris. Banyak pernak-pernik yang disukai perempuan. Bukan tempat yang Kael sukai, tapi karena membawa tiga perempuan akhirnya dia pasrah saja ketika mereka menariknya ke tenan itu. “Ya udah ambil aja.” Kaia dan Lior sudah berteriak senang ketika penjaga tenan dengan sopan memberitahu bahwa gelang-gelang itu sudah ada pemiliknya. “Di etalase ini semua sudah ada pemiliknya. Kalau yang di rak itu masih free.” Kedua bocah itu terlihat kecewa. Tidak ada yang menarik hatinya di rak yang penjaga itu tunjuk. “Nggak ada model yang sama seperti ini lagi, Kak?” tanya Kael. “Belum ready lagi, Kak. Tapi kalau bahan-bahannya ada.” Mendengar itu sebuah ide terlintas di benak Rere. Gadis itu maju mendekat. “Bahannya semua lengkap kan, Kak?” “Lengkap. Kalau kakaknya mau, bisa meronce di sini juga.” Itu ide yang Rere maksud. Selain
Ibu, Kalla, dan Moya bergegas menuju teras ketika mendengar suara halus sebuah mobil berhenti di halaman rumah. Hari ini orang tua Reyga berkunjung untuk mendiskusikan masalah pernikahan. Luxury MVP yang terparkir rapi di halaman rumah cukup mengundang perhatian tetangga. Menyusul kemudian Maybach
Bunyi 15 bola seukuran kepalan tangan saling beradu di atas meja berukuran 260x145 cm memenuhi area sport room di rumah keluarga Abimanyu ketika Reyga berhasil memulai permainan. Dia memilih bola solid dengan angka 1-7 sebagai bola kelompoknya, yang akan menjadi sasarannya kemudian. Hanya butuh beb
Helaian rambut Reyga beterbangan tertiup angin laut. Dengan backsound suara debur ombak di sore hari, Kalla merasa seperti sedang berada di adegan-adegan film roman yang sering Moya tonton. Wanita itu masih menunggu jawaban. Menatap lekat-lekat Reyga dari samping dengan wajah penasaran. Dari lau
Jemari Reyga berjalan pelan melewati bahu Kalla. Melepas cardigan yang wanita itu pakai, dan melemparnya ke sembarang arah. Ujung jari telunjuknya menyentuh dagu Kalla, mendorong ke atas hingga leher jenjang wanita itu terlihat. “Ugh.” Kalla melenguh ketika bibir Reyga mengecup basah lehernya. Mat







