Share

S2.26. Achen

Penulis: Yuli F. Riyadi
last update Tanggal publikasi: 2026-07-16 11:42:08
Hanya enam anak, tapi ramainya ngalahin pasar. Jika ditambah dua anak Raven pasti akan semakin gaduh. Sayangnya, mereka sudah kembali ke Amerika lagi dan hanya akan pulang ke Jakarta setahun sekali.

Yang sedang jadi primadona saat ini Achen. Lantaran anak itu mahir bicara dengan Bahasa Mandarin. Kael heran dengan anak tujuh tahun itu. Bicara dengan ibunya menggunakan Mandarin, sementara dengan ayahnya Bahasa Inggris dan kadang disisipi Bahasa Indonesia. Tapi anak itu sama sekali tidak merasa b
Yuli F. Riyadi

Soal si Cade ini, nanti ya nyicil biar di adegan yang tepat. Makasih buat supportnya teman-teman ❤️❤️❤️

| 8
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (8)
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Wokeeeh....
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Cucook banget emang...
goodnovel comment avatar
Ivana Oktaviana
lanjutt terus ya kakk
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Hello, Nanny!   S2.39. Gadis Part Time

    “Luar Jawa dong. Bali misalnya.”“Bali terlalu banyak saingan.”“Justru itu, buat menang lo harus bisa bersaing.”“Gue kembangin yang di sini aja dulu.“Minimal Surabaya ada.”Cade membuang napas. Sebagai investor kadang dia diajak brainstorming ketika manajemen akan memperluas sayap bisnisnya. Seperti saat ini, Jonas, pemilik kafe dan juga temannya itu minta bertemu, tepatnya meeting kecil-kecilan membahas soal rencana membuka cabang baru. “Gue percaya Lo aja deh,” ujar Cade pasrah. Jonas buatnya kurang visioner. Kalau bukan teman, dia ogah menggelontorkan dana buat kafe itu. Di Jakarta kafe Jonas sudah menyebar di beberapa titik, dan semua berjalan bagus sejauh yang Cade lihat. Dan ada rencana mau memperluas ke kota-kota yang ada di Jabar. Seperti Bandung, Cirebon, Subang dan sekitarnya. Sementara Cade mengusulkan untuk membuka di luar Jawa, tapi sepertinya temannya itu belum berani ambil resiko. Cade mengeluarkan batang rokok dari bungkusnya, dan menjejalkannya ke sela bibir seb

  • Hello, Nanny!   S2.38. Madu Dua

    Di halaman belakang samping rumah, dekat rumah nenek, Kael berhasil menemukan Rere. Gadis itu berdiri membelakanginya, menghadap rumah nenek yang sepi. Kael berencana menginap di rumah nenek, kalau Vianna benar-benar tidak bisa dibujuk pulang. “Re?” panggil Kael seraya berjalan mendekat. Namun tiba-tiba saja Rere berbalik, membuat Kael sontak berhenti melangkah. “Kamu yakin nggak pacaran sama dia?” todong Rere spontan. “Eh?” “Kamu bilang kalian nggak pacaran, tapi yang kalian lakukan—ish!” Rere kembali berbalik saat merasa ada yang salah dengan ucapan dan reaksinya. Dia memang kesal, tapi tidak punya hak buat kesal. Rere melihat semuanya. Saat mereka berpelukan. Saat Kael dengan sabar mendengar keluhan Vianna, dan saat Kael mengantar gadis itu ke kamarnya. “Vianna… dia lagi sakit. Dia butuh istirahat,” ucap Kael. Meski bukan fisiknya yang sakit. Tapi melihat gadis itu langsung pulas begitu kepalanya menyentuh bantal, Kael yakin Vianna memang butuh bed rest.“Di kamar kamu?”“T

  • Hello, Nanny!   S2.37. Tak Bersinar Lagi

    Mengurut pinggangnya yang sakit, Kael beranjak bangun. Dia ingin marah, tapi yang jadi sasaran malah kabur lebih dulu. Dan si pembawa berita kedatangan Vianna pun entah ngilang ke mana. “Kembaaaar!” seru Kael memanggil dua adiknya. Entah Kaia atau Lior. Suara mereka sama, jadi Kael meneriaki keduanya. Namun bukan si kembar yang muncul di ruang keluarga, melainkan Vianna. Gadis itu ternyata benar-benar datang. Hanya saja— “Kael!” Tubuh Kael agak terhuyung ke belakang ketika tiba-tiba Vianna memeluknya. Bukan pelukan bahagia karena bertemu Kael lagi setelah berminggu-minggu, tapi pelukan kesedihan. Karena sesaat setelah memeluk laki-laki itu, tangis Vianna pecah. Gadis itu bahkan meraung seolah tengah menahan luka yang begitu dalam. Kael yang tidak tahu apa-apa tertegun di tempat. “V-Vi—” Laki-laki itu kebingungan. Menghadapi dua adiknya yang menangis itu sudah biasa, tapi tidak dengan seorang perempuan yang menangis pilu seperti ini. Es krim atau permen cokelat kayaknya ngga

  • Hello, Nanny!   S2.36. Puisi Cinta

    Rindu sakit Hati sakit Kalau tidak ingin sakit Jangan merindu Jangan menaruh hati … Kael memasang wajah jijik membaca tulisannya sendiri. Dia mengacak rambut frustasi. Sudah satu jam, tapi tugas membuat puisi belum juga selesai. “Ngapain repot, kan tinggal tanya AI, beres.” Itu usul sesat Jaya kemarin saat Kael menanyakan tugas bahasa Indonesia membuat puisi bertemakan cinta. Gimana bisa nulis cinta, kalau jatuh cinta saja Kael belum tahu gimana rasanya?“Nggak boleh pake AI, Njir. Lo kan tau Pak Roni kek apa.” “Ah gue mah tetep mau pake AI. Bodo amat sama nilai.” “Siap-siap jadi bulan-bulanan di depan kelas kalau gitu.” Kael mencoret tulisannya di kertas. Lalu kembali menulis ulang. Bagaimana cara membuat kata-kata yang selaras, tidak lebay, dan tidak aneh? Sumpah ya. Satu di antara kelemahannya adalah pelajaran mengarang, menulis cerpen atau sejenis. Puisi mungkin hanya beberapa bait, tapi demi apapun sulitnya selangit. Saking konsennya membuat bait, Kael tidak sadar Rere

  • Hello, Nanny!   S2.35. Kabar Vianna

    “Gimana menurut Lo?” Jaya menunjukkan pekerjaannya pada Kael. Sejenak laptopnya pun berpindah ke tangan Kael. “Belum final. Jadi harus lo lihat udah sesuai belum?” Kael memperhatikan dengan seksama pekerjaan Jaya. Dia bahkan mengecek tools dan algoritma yang temannya itu pakai. Tidak berapa lama sudut bibirnya berkedut. “Kemampuan lo di JavaScript kayaknya naik pesat. Lanjutkan,” komen Kael sebelum mengembalikan laptop itu ke Jaya. Kontras saat dirinya mengomel satu jam lalu, sekarang Jaya bisa menyunggingkan senyum lebar. “Pasti dong. Kan terus dilatih. Dan proyek-proyek yang lo kasih ini bikin skill gue tiap hari nambah.” “Gue bisa ajuin lo ikut Coding Bootcamp Le Wagon kalau lo mau.” “Heh, serius?” “Ya. Om Cade biasanya ngirim salah satu pelajar terbaik yang punya potensi kayak lo.” “Jelas gue maulah. Kapan lagi gue bisa ikut berkumpul dengan para programer hebat?” Belum apa-apa Jaya sudah membayangkan keseruan itu. Pengalaman, sharing ilmu, dan mental akan terlatih d

  • Hello, Nanny!   S2.34. Meronce

    “Beliin kita ini, Bang!” Kaia menunjuk gelang manik-manik dengan warna dominan biru dan pink yang tergantung di etalase. Saat ini mereka berada di tenan aksesoris. Banyak pernak-pernik yang disukai perempuan. Bukan tempat yang Kael sukai, tapi karena membawa tiga perempuan akhirnya dia pasrah saja ketika mereka menariknya ke tenan itu. “Ya udah ambil aja.” Kaia dan Lior sudah berteriak senang ketika penjaga tenan dengan sopan memberitahu bahwa gelang-gelang itu sudah ada pemiliknya. “Di etalase ini semua sudah ada pemiliknya. Kalau yang di rak itu masih free.” Kedua bocah itu terlihat kecewa. Tidak ada yang menarik hatinya di rak yang penjaga itu tunjuk. “Nggak ada model yang sama seperti ini lagi, Kak?” tanya Kael. “Belum ready lagi, Kak. Tapi kalau bahan-bahannya ada.” Mendengar itu sebuah ide terlintas di benak Rere. Gadis itu maju mendekat. “Bahannya semua lengkap kan, Kak?” “Lengkap. Kalau kakaknya mau, bisa meronce di sini juga.” Itu ide yang Rere maksud. Selain

  • Hello, Nanny!   5. Sebuah Penawaran

    Kalla tidak percaya stres karena mencari pekerjaan bisa reda hanya dengan main bersama anak kecil di Wonderland. Bukan hanya Kael yang bahagia bisa lari ke sana ke mari, tapi Kalla juga. Rasanya benar-benar luar biasa. Mungkin karena sejak kecil Kalla tidak pernah punya cukup waktu untuk bermain,

  • Hello, Nanny!   8. Beautiful Nanny!

    Tidak ada rencana telat di hari pertama kerja. Namun itu yang Kalla alami. Rencananya pukul enam pagi dia sudah harus ada di stasiun, tapi kenyataannya sudah setengah tujuh lebih dia baru keluar kamar. Dengan langkah tergesa dia menghampiri ibunya yang sedang berkutat di dapur. Bahkan ibu pun belum

  • Hello, Nanny!   7. Tidak Seburuk Dugaannya

    Melihat reaksi Cade, Kalla menghela napas. Mungkin bagi lelaki itu, tawaran ini tidak bergengsi. Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya jadi pengasuh bocah? Masalahnya, Kalla benar-benar putus asa saat ini. "Good," ucap Cade kemudian. Tapi senyumnya tidak selebar sebelumnya. Ekspresi merem

  • Hello, Nanny!   6. Menggalau

    Untuk beberapa saat Kalla terbengong mendengar pertanyaan pria sombong di depannya. Namun tiba-tiba hatinya merasa tersentil dan sedikit tersinggung. Oke, fine! Kalla bilang dirinya tidak mempersoalkan pekerjaan apa pun, meski itu bukan dari jenis bidang yang dia pelajari di perguruan tinggi. Tapi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status