Share

Bab 4

Author: Binja
Aku bergegas maju tanpa berpikir panjang. Di tengah tatapan heran semua orang yang hadir, aku mengulurkan tangan ke arah Rhea dengan ekspresi dingin. "Kembalikan."

Kilasan rasa bersalah melintas di mata Rhea. Dia segera berlindung di belakang Ibu.

Ayah memelototiku. "Apa-apaan kamu?"

Aku mengabaikannya dan tetap menatap Rhea lekat-lekat. Tanpa terkendali, air mataku mulai menggenang lagi. "Kubilang, kembalikan!"

Seruanku yang histeris membuat Rhea marah. Dia menyembunyikan tangannya di balik punggung.

"Kenapa Nenek cuma kasih kamu gelangnya, sedangkan aku nggak dapat? Itu nggak adil. Aku cuma mau keadilan."

Saking marahnya, suaraku pun bergetar. Aku tersenyum sinis dan berseru, "Adil? Sejak kecil, Ayah dan Ibu cuma terima dua bagian uang pemberian kerabat. Satu untuk kamu, satu lagi untuk Kak Rey. Selama ini, aku cuma pernah terima satu gelang ini. Ini yang kamu sebut nggak adil?"

Rhea tidak bisa membantah. Wajahnya merah padam karena marah. Air mata dengan cepat menggenang di pelupuk matanya.

Tepat saat itu, Rey melangkah mendekat. Dia menyambar gelang itu dari pergelangan tangan Rhea, lalu membantingnya ke lantai.

Di bawah tatapanku yang terkejut dan putus asa, gelang itu hancur berkeping-keping.

Rey menatapku dengan penuh kebencian. Suaranya terdengar dingin. "Gelang itu sudah hancur. Nggak ada yang akan memilikinya lagi. Sudah puas sekarang?"

Sebelum amarahku sempat memuncak, sebuah tamparan keras mendarat di wajahku.

"Cukup!"

Ibu menamparku dengan kuat. Aku hampir kehilangan keseimbangan dan terhuyung mundur beberapa langkah. Sambil memegangi pipiku yang terasa perih, aku menoleh dan menatapnya tidak percaya.

Wajah Ibu terlihat suram, mengandung kekecewaan dan amarah. Mungkin karena merasa malu untuk memarahi anak di depan umum, dia melampiaskan amarahnya kepada Nenek.

"Ibu, sudah kubilang, jangan ikut campur dalam urusan ketiga anakku!"

Nenek berdiri di tengah kerumunan dengan bibir pucat pasi. Tubuhnya yang ringkih terhuyung sejenak. Dia terlihat seperti anak kecil yang baru saja melakukan kesalahan.

Rasa sakit wajah dan kepedihan di hati hampir membuat akal sehatku hilang. Aku akhirnya berkata dengan suara serak dan lirih, "Jangan salahkan Nenek."

Aku mendengar suaraku yang pelan dan kecil.

"Ini semua salahku. Aku nggak seharusnya berebut. Mulai sekarang, aku nggak akan berebut lagi."

Saat berbicara, aku tersenyum pada orang tuaku, tetapi air mataku terus mengalir tak terbendung. Air mata mengalir melewati bekas tamparan di wajahku. Perihnya terasa membakar.

Kemudian, aku meminjam sapu dari seorang pelayan. Dengan hati-hati, aku mengumpulkan pecahan-pecahan gelang itu dan membungkusnya dalam selembar kain.

Saat aku sibuk melakukan itu, Ayah sedang dengan canggung membicarakan masalah satu orang yang tidak kebagian tempat duduk dengan Ibu. Dia bertanya apakah perlu menambah satu kursi lagi. Namun, Ibu meninggikan suaranya, tanpa peduli didengar orang.

"Kalau kurang satu tempat, biarkan saja dia pulang. Dia sudah merusak acara yang awalnya baik. Apa dia nggak malu untuk tetap tinggal?"

Tatapan para kerabat di sekelilingku terasa menusuk. Namun, kali ini, aku tidak meneteskan air mata lagi.

Aku hanya berdiri sambil menggenggam bungkusan pecahan gelang itu dengan hati yang terasa mati rasa, lalu melangkah pergi kaku. Begitu sampai di rumah, aku mengemasi barang-barangku secepat mungkin. Aku meminjam uang dari dosen pembimbingku dan membeli tiket penerbangan paling awal menuju kampus di luar negeri.

Dosen pembimbingku bertanya dengan cemas, "Ayla, apa sudah terjadi sesuatu? Mau aku bicara dengan keluargamu?"

Kebetulan, aku baru saja tiba di bandara dengan koperku. Mendengar kata-kata itu, aku tersenyum getir dan menjawab, "Nggak perlu. Aku nggak punya keluarga lagi."

Tepat saat itu, pengumuman panggilan naik pesawat terdengar. Sambil mendekap erat pecahan gelang giok di dadaku, aku melangkah maju tanpa menoleh lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hidup dalam Ketidakadilan Selama 20 Tahun   Bab 9

    Setelah berpikir dengan cermat, aku masih merasa agak khawatir. Oleh karena itu, aku menghabiskan satu malam untuk menghitung semua biaya makanan dan pakaian yang kuhabiskan di rumah selama bertahun-tahun. Tak disangka, jumlah terakhirnya begitu sedikit, sampai aku ingin tertawa. Hanya 100 juta.Aku membuka blokir WhatsApp mereka, lalu mengirim dokumen itu ke grup keluarga. Segera, aku menerima balasan.[ Ibu: Ayla, kenapa kamu tiba-tiba hitung ini? ][ Ayah: Mana mungkin cuma 100 juta. ]Aku membalas dengan tenang.[ Aku belajar dari kalian. Gimanapun, sejak kecil, kalian berdua selalu hitung segala sesuatu yang kalian berikan padaku. Semua yang ada di rumah kalian bagi jadi dua bagian, tapi nggak pernah ada bagianku. ][ Aku sama sekali nggak kurang hitung. Aku yakin kalian tahu persis berapa jumlah uang yang kalian habiskan untukku. Jadi, soal penyakit Kak Rey, aku nggak akan donorkan ginjalku. Paling-paling, aku akan nabung secepat mungkin untuk kembalikan 100 juta itu. ]Pesan su

  • Hidup dalam Ketidakadilan Selama 20 Tahun   Bab 8

    Wajah Ibu memucat sedikit demi sedikit. Dia merasa telinganya berdengung, sedangkan tangan dan kakinya terasa dingin. "Apa katamu?"Dosen pembimbingku makin bingung. "Kamu seharusnya tahu. Bukannya waktu itu kamu sudah tandatangani formulir persetujuan orang tua Ayla?"Ibu secara refleks ingin membantah. Namun, sebuah kenangan tiba-tiba terlintas di benaknya. Pada hari itu, dia memaksaku untuk menyerahkan penghargaanku kepada Rhea. Aku memang memberinya sebuah formulir persetujuan orang tua. Namun, dia bahkan tidak membacanya dengan serius.Memikirkan hal ini, Ibu menjadi makin putus asa. Dia bertanya dengan gemetar, "Bu, kalau boleh tahu, kapan Ayla daftarkan diri dalam program itu?"Dosen pembimbingku segera memberitahukan tanggalnya. Setelah mendengarnya, Ibu menyadari sesuatu dan memejamkan matanya dengan putus asa. Kemudian, di depan semua orang di asrama, dia yang telah berbangga diri selama separuh hidupnya tiba-tiba berlutut di depan dosen pembimbingku."Bu, aku mohon. Tolong

  • Hidup dalam Ketidakadilan Selama 20 Tahun   Bab 7

    Rey tiba-tiba pingsan. Mereka sekeluarga segera membawanya ke rumah sakit. Setelah melakukan beberapa pemeriksaan, dokter berbicara kepada orang tuaku dengan ekspresi serius."Dia mengidap gagal ginjal akut. Kalian sekeluarga perlu jalani pemeriksaan kecocokan donor ginjal secepat mungkin. Operasinya harus segera dijadwalkan."Begitu mendengar Rey perlu menjalani operasi transplantasi ginjal, wajah Rhea langsung menjadi pucat. Dia menggeleng tanpa sadar dan berjalan mundur. "Nggak, aku nggak mau."Dokter melirik Rhea. "Kamu dan pasien itu saudara kembar, 'kan? Kemungkinan ginjalmu cocok lebih tinggi. Saat ini, pasien sedang dalam kondisi kritis. Hal ini nggak bisa ditunda lagi."Ibu sangat panik. Dia segera meraih tangan Rhea. "Sayang, cuma sebuah ginjal kok. Dia itu kakak kandungmu."Namun, Rhea menepis tangan Ibu dengan kuat. Tanpa memedulikan orang-orang yang berlalu-lalang di koridor, dia berseru, "Kenapa? Kenapa aku harus kasih dia ginjalku? Ini sama sekali nggak adil!"Mendengar

  • Hidup dalam Ketidakadilan Selama 20 Tahun   Bab 6

    Gudang itu kosong melompong. Karton bobrok yang biasa kugunakan untuk menyimpan pakaian dan bukuku sudah kosong. Bahkan aromaku juga sudah nyaris hilang sepenuhnya.Saat ini, orang tuaku baru sadar. Ternyata, aku tidak pernah kembali dari pesta hari itu. Selama beberapa hari terakhir, aku tidak berada di rumah.Ketakutan dan rasa tidak aman mulai menyelimuti hati Ibu. Dia mengeluarkan ponselnya dengan gemetar dan mengirimiku pesan dengan nada marah sekaligus khawatir.[ Ayla, ke mana kamu? Cuma karena masalah sepele, kamu ngambek sampai kabur dari rumah? ]Ayah berdiri di sebelahnya dengan wajah muram, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya terus merokok.Saat menyadari pesan yang dikirimnya tidak dibalas, Ibu akhirnya panik. Dia meraih ujung pakaian Ayah dengan panik. "Johan, cepat pikirkan solusinya. Selama ini, Ayla nggak pernah buat ulah. Ini pertama kalinya dia kabur dari rumah. Dia nggak punya kerabat atau teman di luar. Dia bisa pergi ke mana?"Ayah menggertakkan gigi dan me

  • Hidup dalam Ketidakadilan Selama 20 Tahun   Bab 5

    Berhubung aku menyebabkan keributan seperti itu di pesta perayaan, banyak kerabat yang diam-diam menasihati orang tuaku agar tidak pilih kasih.Ibu yang merasa malu pun melampiaskan amarahnya padaku. Dia melihat ke arah gudang dan sengaja meninggikan suaranya."Mulai hari ini, jangan ada yang pedulikan dia, sampai dia ngaku salah dan bersedia minta maaf pada kita."Selama beberapa hari berikutnya, seluruh keluarga menganggap gudang sebagai tempat terlarang. Tidak ada yang mendekat ataupun menanyakan keadaanku. Setelah sekian lama, masih tidak terdengar suara atau pergerakan apa pun dari dalam gudang.Ibu akhirnya tidak tahan lagi dan diam-diam berbicara dengan Ayah. "Kenapa dia begitu keras kepala? Aku cuma mau dia akui kesalahannya kepada keluarga. Kita semua sekeluarga. Apa mungkin kita nggak maafkan dia?"Ayah yang sedang merokok juga merasa tidak berdaya. "Kenapa anak itu begitu mudah ngambek?"Ibu juga tidak mengerti. Dia merasa sebagai orang tua, dia boleh berpihak pada anak man

  • Hidup dalam Ketidakadilan Selama 20 Tahun   Bab 4

    Aku bergegas maju tanpa berpikir panjang. Di tengah tatapan heran semua orang yang hadir, aku mengulurkan tangan ke arah Rhea dengan ekspresi dingin. "Kembalikan."Kilasan rasa bersalah melintas di mata Rhea. Dia segera berlindung di belakang Ibu.Ayah memelototiku. "Apa-apaan kamu?"Aku mengabaikannya dan tetap menatap Rhea lekat-lekat. Tanpa terkendali, air mataku mulai menggenang lagi. "Kubilang, kembalikan!"Seruanku yang histeris membuat Rhea marah. Dia menyembunyikan tangannya di balik punggung."Kenapa Nenek cuma kasih kamu gelangnya, sedangkan aku nggak dapat? Itu nggak adil. Aku cuma mau keadilan."Saking marahnya, suaraku pun bergetar. Aku tersenyum sinis dan berseru, "Adil? Sejak kecil, Ayah dan Ibu cuma terima dua bagian uang pemberian kerabat. Satu untuk kamu, satu lagi untuk Kak Rey. Selama ini, aku cuma pernah terima satu gelang ini. Ini yang kamu sebut nggak adil?"Rhea tidak bisa membantah. Wajahnya merah padam karena marah. Air mata dengan cepat menggenang di pelupuk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status