Share

68. Sekutu Baru

Author: Shyneko
last update publish date: 2026-08-16 12:31:52

Operasi berjalan lancar semalam meski aku tidak menyaksikan prosesnya hingga selesai karena harus pulang ke mansion, dari kabar yang ku dapat ibu Rena masih belum sadarkan diri tapi kondisinya sudah stabil.

Aku baru kembali ke rumah sakit keesokan paginya, membawa beberapa makanan dan roti yang ku beli diperjalanan.

Begitu aku sampai di ruang pemulihan, Rena dan Dimas terlihat sedang tertidur di sofa dengan posisi bersandar satu sama lain, wajah mereka masih menyisakan lelah bekas kejadian sema
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   77. Bukti Jelas

    Kembali ke waktu sekarang, di ruang aula tempat semua orang berkumpul.“Pencuri perhiasan itu, adalah orang ini,” suaraku menggema jelas di seluruh ruangan.“Bibi Sona.”Semua orang seketika diam, atmosfer ruangan terasa penuh dengan ketegangan dan rasa terkejut yang pekat. Rasanya begitu hening tapi sesak, aku bahkan sampai bisa mendengar detak jantung sendiri.Sampai tiba-tiba tawa Ibu Seno terdengar memecah keheningan. Suara tawa yang begitu sinis dan meremehkan.“Ha ha ha… Astaga, Mia. Apa kamu udah sebegitu putus asanya mau mempermalukan Bibi Sona sampai-sampai berani ngomong hal yang nggak masuk akal kayak gini?” katanya menggeleng-gelengkan kepala, menyeka sudut mata seolah menahan air mata karena terlalu geli.Beberapa pelayan ikut tertawa mengejek, jelas sengaja menunjukkan keberpihakan mereka. Tapi ada pula pelayan lainnya yang justru diam, mereka tidak ikut tertawa dan malah menyipitkan mata penuh curiga, tanda bahwa suara di antara para pelayan mulai terbelah.Bibi Sona mu

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   76. Rangkaian Rencana

    Aku bergerak cepat mencari tempat persembunyian, menyelipkan diri di balik tirai besar yang menggantung dekat jendela koridor. Langkah kaki orang itu membuatku menahan napas, tubuhku menempel serapat mungkin dengan dinding.Semoga dia tidak menyadari keberadaanku di sini.Suami Bibi Sona akhirnya melintas di depanku, rasanya begitu dekat hingga aku bisa mencium samar aroma rokok yang menempel di seragamnya.Aku memejamkan mata, berdoa dalam hati semoga dia tidak menoleh dan menyadari keberadaanku yang bagai gundukan kecil di balik tirai ini.Beberapa detik terasa seperti satu abad lamanya, hingga akhirnya suara langkah itu terdengar menjauh.Aku memberanikan diri mengintip sedikit, suami Bibi Sona terlihat membuka pintu ruang keamanan tanpa sedikit pun rasa curiga, lalu menutupnya dengan santai.Aku menghela napas panjang sembari memegangi dada yang masih berdegup liar. Setelah memastikan koridor benar-benar aman, aku melangkah keluar dari balik tirai itu dengan langkah super hati-hat

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   75. Aksi yang Beresiko

    Perkataan Bara membuatku sedikit bingung. “Maksud kamu?”Bara mulai menjelaskan idenya, suaranya yang bersemangat membuatku mendengarkan setiap detailnya tanpa mau melewatkan sedikit pun. Penjelasan itu terus mengalir dan semakin lama Bara bicara, mataku semakin membulat karena berbagai ide mulai bermunculan di kepalaku.“Bara,” ucapku sambil tersenyum lebar. “Aku rasa… Aku udah punya gambaran rencana yang lebih baik setelah mendengar saran dari kamu.”“Oh ya? baguslah kalau gitu.” Bara terdengar senang.“Iya, hanya tinggal satu hal lagi,” kataku sengaja menggantung kalimat.“Apa itu?” tanya Bara penasaran.“Kayaknya aku butuh satu alat buat menunjang rencana ini biar berhasil. Kamu bisa bantu aku?”“Tentu, bilang aja apa yang kamu butuhin, Mia,” balas Bara, aku langsung menyebut nama barang itu yang membuat dia terkekeh pelan.“Oke, itu bukan permintaan yang sulit.” Aku menghela napas lega mendengarnya.“Makasih banyak, Bara,” ucapku tulus.“Anytime, Mia. Semoga rencana kamu berhasil

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   74. Aku Tahu Siapa Pencurinya

    Bibi Sona tidak langsung menjawab, matanya bergerak liar ke sana kemari berusaha menghindar. Dia hanya bisa duduk di kursinya dengan jemari yang saling meremas gelisah.Aku yang tidak mau menunggu jawaban Bibi Sona lebih lama berbalik menatap Ibu Seno lekat-lekat, telunjukku terangkat langsung ke arahnya.“Ibu pasti sudah tahu kalau ada kejanggalan dari rekaman ini, kan? Tapi Ibu tetap pakai rekaman konyol ini buat bikin aku disalahkan atas sesuatu yang nggak pernah ku lakuin.”Detik itu juga Ibu Seno langsung membuang muka dengan rahang mengeras, matanya menghindari tatapanku seperti Bibi Sona. Niat busuknya itu baru saja terbongkar.“Dan Bibi,” Aku melotot kembali menatapnya, bahunya tampak menegang.“Bisa-bisanya Bibi segitu pedenya ngasih rekaman palsu ini di tengah banyak orang, pasti karena Bibi ngira gimana pun jadinya, aku bakal tetap ngerasa bersalah dan pasrah, begitu?!”Mulut Bibi Sona megap-megap, jelas hendak mengatakan sesuatu tapi tidak ada satu pun kata yang sanggup ke

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   73. Rekaman CCTV

    Sesuai jadwal yang sudah ditentukan oleh Ibu Seno, pertemuan itu dilangsungkan pagi-pagi sekali di aula mansion. Para pelayan mulai berdatangan, berjejer rapi memenuhi ruangan yang biasanya sering digunakan untuk pertemuan penting, perayaan, atau pesta itu.Tapi hari ini, suasananya berubah seolah menjadi tempat penghakiman.“Mia, Seno sudah bicara denganku tadi malam.” Ibu Seno mendatangiku yang sedang berdiri di lorong lantai dua, melihat riuh rendah para pelayan yang tampak tidak sabaran.Bibi Sona mengikuti di belakangnya.“Dia ingin aku membatalkan pertemuan ini, tapi aku menolaknya. Jadi dia merajuk dan pergi ke kantor tanpa berpamitan,” Aku berdecak pelan mendengar ucapan Ibu Seno.Dasar anak mami.“Apa yang mau Ibu lakukan denganku di depan orang sebanyak ini?” tanyaku dengan nada datar.“Aku mau kamu mengakui perbuatan bodohmu itu dan dipermalukan di depan semua orang agar jera. Itu yang aku mau,” Ibu Seno mengangkat dagu pongah.“Tapi gimana kalau aku punya bukti bahwa aku

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   72. Tuduhan Palsu

    Puncak kekacauan itu akhirnya terjadi sore ini. Sebuah jeritan nyaring menggema hingga seluruh penjuru mansion, membuat semua orang yang beraktivitas seketika berhenti. “PERHIASANKU HILANG!” Teriakan itu berasal Ibu Seno. Aku bergegas keluar kamar, menuju kamar Ibu Seno yang sudah dipenuhi kerumunan pelayan yang panik, semua mata tertuju padanya yang mengobrak-abrik kamarnya sendiri menjadi tidak karuan. Ibu Seno histeris, tangannya terus menggeledah setiap sudut berharap barang berharga yang dicarinya itu tiba-tiba muncul kembali. “Semua perhiasan berhargaku ada di sana! Kalung warisan nenek, cincin almarhum suamiku. Semuanya lenyap!” pekik Ibu Seno, mengacak rambutnya frustasi. “Nyonya, apa yang Anda maksud peti ini?” Bibi Sona tergopoh menghampiri Ibu Seno, menunjuk peti jati berukuran cukup besar di pojok ruangan. Ibu Seno menggeleng. “Bukan! itu peti berisi perhiasan biasa, yang hilang adalah perhiasan paling mahal dan berharga milik leluhurku. Aku selalu menaruhnya di kota

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status