Se connecter“Kenapa kamu menahan diri?” bisikku dengan suara yang entah kenapa terdengar asing, aku sangat kesulitan mengendalikan hasratku sendiri saat ini.Bara tidak menjawab dengan kata-kata. Dia kembali menciumku, menciptakan bunyi kecupan yang penuh gairah.Bibirnya yang hangat turun perlahan menyasar rahangku dan memberikan kecupan lembut di sana, lalu dengan gerakan pelan turun ke leherku, membuatku sontak menggigit bibir menahan desahan yang nyaris keluar.“Haah... Bara,” Aku tanpa sadar memanggil namanya, tanganku mencengkeram kemejanya erat-erat mencari pegangan karena kepalaku mulai berputar.“Hm?” gumamnya di sela kecupan itu. Dia tidak berhenti, napasnya yang hangat terus turun hingga berhenti di tulang selangka, membuat setiap jengkal kulit yang dia sentuh terasa begitu panas bagai membakar.Tangannya bergerak, membuka dua kancing paling atas bajuku dengan gerakan yang begitu lihai. Dia mendorong tubuhku perlahan, menindihku di atas sofa empuk itu, berat tubuhnya terasa begitu nyam
Aku dan Bara akhirnya duduk bersisian di sofa panjang ruangan itu, ditemani sebuah film yang diputar dengan volume rendah di televisi besar sebagai latar belakang.Meja di depan kami sudah penuh dengan hidangan lezat yang menggoda, tapi kami terlalu asyik mengobrol hingga belum sempat menyentuhnya sama sekali.“Jiyeon udah lulus dari studinya dan sekarang mulai kerja di agensi periklanan,” ucap Bara sambil menyandarkan punggungnya santai ke sofa.“Oh ya? Bagus deh kalau gitu, waktu di Lisbon aku sering banget denger dia mau kerja di bidang itu.” Aku tersenyum lega.“Iya, dia excited banget pas hari pertama kerja. Sampai kirim voice note setiap sepuluh menit,” Bara terkekeh.Aku ikut tertawa. “Duh! nggak Jiyeon, nggak Jisoo. Energi mereka tuh emang selalu meluap-luap,” candaku, membayangkan si kembar yang selalu heboh dan ceria hampir setiap saat.“Aku juga punya kabar yang lebih mengejutkan, Mia.” Bara menyeringai jahil, sengaja menahan kalimatnya untuk membuatku penasaran.“Apa itu?”
Setelah insiden pencurian dan Bibi Sona beserta suaminya diseret keluar dari mansion hari itu, suasana rumah perlahan berubah.Beberapa pelayan tidak lagi memandang rendah diriku, setidaknya aku hampir tidak pernah mendengar lagi bisik-bisik tidak mengenakkan, pun beberapa terlihat segan ketika berpapasan denganku.Rasanya lebih lega, seolah beban yang selama ini menggantung menghantui banyak pelayan karena harus satu suara menentang dan menghinaku, akhirnya terangkat.Rena juga dipanggil bekerja kembali tidak lama setelah itu, kali ini dengan sambutan yang jauh lebih hangat. Bahkan Ibu Seno yang biasanya terkenal pelit sekali memberi pujian pada pelayan, mulai menunjukkan sedikit rasa menghargainya pada gadis itu.Aku pernah mendengar sekali, Ibu Seno berkata pada Rena kalau pekerjaannya cukup cekatan, dan Rena terlihat membungkuk sopan dengan kilat kepuasan kecil di matanya.“Satu halangan hilang aja bisa bikin selega ini, apalagi kalau nanti semuanya.”Aku menghela napas, menghirup
“Lihat, bahkan Ibu sudah mengakuinya,” ucapku dingin ke arah Bibi Sona. “Jadi, lebih baik Bibi juga mengaku sekarang kalau Bibi lah yang mencuri kotak perhiasan Ibu.”Bibi Sona mundur dua langkah, dia tidak bisa lagi melakukan alibi apa pun, sedangkan suami Bibi Sona mendekat ke arahku dengan wajah marah.“Berani-beraninya kamu menuduh istri saya! Ini jelas-jelas jebakan!” serunya tidak terima dengan perkataanku.“Siapa yang menjebak? Buktinya sudah sejelas itu, kok! Kapan sih kalian orang-orang kepala batu berhenti denial?” Aku sama sekali tidak gentar melihat ekspresi suami Bibi Sona yang sudah seperti beruang terluka, bersiap hendak menyerangku.“Dasar wanita sialan!”Tiba-tiba suami Bibi Sona menghambur ke arahku, tangannya terjulur hendak mencengkram leherku.“Tahan, Pak!” Dua atau tiga orang pelayan langsung bergerak melindungiku, membentuk pagar dengan tubuh mereka. “Tidak boleh ada kekerasan di sini, mau bagaimana pun juga Nyonya Mia itu majikan kita.”Tanganku gemetar pelan,
Kembali ke waktu sekarang, di ruang aula tempat semua orang berkumpul.“Pencuri perhiasan itu, adalah orang ini,” suaraku menggema jelas di seluruh ruangan.“Bibi Sona.”Semua orang seketika diam, atmosfer ruangan terasa penuh dengan ketegangan dan rasa terkejut yang pekat. Rasanya begitu hening tapi sesak, aku bahkan sampai bisa mendengar detak jantung sendiri.Sampai tiba-tiba tawa Ibu Seno terdengar memecah keheningan. Suara tawa yang begitu sinis dan meremehkan.“Ha ha ha… Astaga, Mia. Apa kamu udah sebegitu putus asanya mau mempermalukan Bibi Sona sampai-sampai berani ngomong hal yang nggak masuk akal kayak gini?” katanya menggeleng-gelengkan kepala, menyeka sudut mata seolah menahan air mata karena terlalu geli.Beberapa pelayan ikut tertawa mengejek, jelas sengaja menunjukkan keberpihakan mereka. Tapi ada pula pelayan lainnya yang justru diam, mereka tidak ikut tertawa dan malah menyipitkan mata penuh curiga, tanda bahwa suara di antara para pelayan mulai terbelah.Bibi Sona mu
Aku bergerak cepat mencari tempat persembunyian, menyelipkan diri di balik tirai besar yang menggantung dekat jendela koridor. Langkah kaki orang itu membuatku menahan napas, tubuhku menempel serapat mungkin dengan dinding.Semoga dia tidak menyadari keberadaanku di sini.Suami Bibi Sona akhirnya melintas di depanku, rasanya begitu dekat hingga aku bisa mencium samar aroma rokok yang menempel di seragamnya.Aku memejamkan mata, berdoa dalam hati semoga dia tidak menoleh dan menyadari keberadaanku yang bagai gundukan kecil di balik tirai ini.Beberapa detik terasa seperti satu abad lamanya, hingga akhirnya suara langkah itu terdengar menjauh.Aku memberanikan diri mengintip sedikit, suami Bibi Sona terlihat membuka pintu ruang keamanan tanpa sedikit pun rasa curiga, lalu menutupnya dengan santai.Aku menghela napas panjang sembari memegangi dada yang masih berdegup liar. Setelah memastikan koridor benar-benar aman, aku melangkah keluar dari balik tirai itu dengan langkah super hati-hat







