MasukBlurb: Beautiful Alessandra Benjamin had been a shitty Luna! Yes, you heard that right. She was living a peaceful and luxurious life with her chosen mate, Alpha Romeo. Both of them promised to love and respect each other but all the promises flew out of the window when her equally incompetent husband found his fated mate. The one, chosen by Moon Goddess. The fated girl wanted to replace Alessandra as a Luna. Now Alessandra needed to play her cards smartly. She needed to think and re-think her every move. She needed to keep her husband away from his Juliet. But what would she do when a sinfully handsome Alpha king will be there to divert her attention from her mission…
Lihat lebih banyak“Ini malam pertama, Mas!” teriakku.
Ya, aku berteriak kepada Mas Gala. Lelaki yang siang tadi mengucapkan ijab kabul di hadapan seluruh kerabatku. Ini benar-benar gila. Di luar dugaan. Bagaimana mungkin Mas Gala bisa berubah menjadi sosok yang begitu beringas? Kenapa pula perubahan itu harus terjadi di malam pertama kami menikah?
“Kamu jangan banyak omong,” kata Mas Gala. “Saya tidak peduli dengan malam pertama!”
Sekarang, aku mundur dari hadapannya. Aku memilih duduk di ranjang yang sudah dihias sedemikian rupa. Ranjang yang kemudian diduduki oleh dua angsa yang sedang berhadap-hadapan. Ranjang yang kurasa akan menjadi saksi kemesraan kami.
“Mas, aku butuh penjelasan!” desakku. “Kamu nggak bisa giniin aku!”
Mas Gala terdiam di hadapanku. Dia hanya menatapku dengan tatapan elang. Terlihat penuh emosi, tajam, kejam, bengis. Aku sempat merasa bahwa ini bukan Mas Gala-ku. Di mana Mas Gala yang tadi siang mengecup keningku sesaat setelah ijab kabul?
Detik ini, ada sedikit senyum misterius yang merekah. Senyum yang lantas membuatku bergetar. Oh, itu senyum yang menyeramkan. Aku belum pernah melihat Mas Gala tersenyum seperti itu.
“Mas, kamu mau ngapain?” Aku yang sudah berada di atas ranjang semakin mundur ke belakang. “Kamu itu suamiku, bagaimana mungkin kamu malah ingin menyakitiku, Mas?”
Tidak ada suara dari mulut Mas Gala. Lelaki yang sekarang sudah mengenakan baju tidur berwarna putih itu malah naik ke atas ranjang. Dia membuatku terdesak, hingga badanku menempel di dinding ranjang. Kami berhadap-hadapan dalam waktu yang lama.
“Jangan kira kalau saya akan menyentuhmu,” desahnya di telingaku.
Suara Mas Gala membuat bulu kudukku meremang.
“Jangan kira, saya akan mencintaimu seperti suami-suami lain!” tegasnya.
“Terus tujuanmu menikahiku apa, Mas?” Aku bertanya dengan bibir bergetar. “Aku ini manusia. Aku punya perasaan. Kupikir, kamu akan menjadi pengganti Bapak. Kamu akan menjadi lelaki yang bisa melindungiku dari berbagai bahaya. Tapi ternyata?”
Mas Gala tertawa. Tawa yang mengingatkanku kepada keputusan yang kuambil saat bertemu dengannya di lobi kantor.
“Kamu mau jadi istriku?” bisik Mas Gala pada saat itu.
Dan bodohnya, aku mengangguk.
Manusia mana yang mau diajak menikah oleh seorang lelaki tanpa mengenal terlebih dahulu? Tidak ada yang mau, kecuali aku, karena aku bodoh! Bahkan, aku langsung menerima ajakan Mas Gala di hari pertama pertemuan itu. Gila kan? Ya, aku memang gila!
Mas Gala membuyarkan lamunan saat dia menarik selimut dari atas ranjang. Dia juga membawa satu bantal dari sisiku. Kini, lelaki itu turun dari ranjang dan menyimpan bantal di sofa. Dia kemudian menjatuhkan badan dan melingkarkan selimut di seluruh badan.
Aku mengembuskan napas saat Mas Gala sudah terbaring di sofa yang ada di depan ranjang. Ternyata, ini balasan bagi perempuan sepertiku. Perempuan murahan yang mau begitu saja diajak menikah oleh seorang Gala Bahuwirya.
Aku yang awalnya menyender di dinding ranjang, kini menggelosorkan badan. Aku menggigit bibir karena mendapati kenyataan ini. Seorang Nara Candrakara harus melihat kenyataan pahit, bahwa suaminya berubah setelah dua belas jam mengucapkan ijab kabul. Dan itu menyakitkan.
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus bertahan? Baru tadi siang aku berkhayal akan hidup bahagia bersama Mas Gala. Aku yakin jika kami akan saling menyelami satu sama lain. Aku akan berada di bawah kendali Mas Gala, tetapi ditangani dengan lembut. Mas Gala akan membuat aku memiliki pengalaman baru, tetapi dibimbing dengan penuh perasaan cinta. Tapi ternyata semuanya tidak seperti yang kubayangkan.
Sial!
Kukira hanya air mata yang mendesak keluar. Namun, darah juga melesat begitu cepat dari dalam hidung. Aku mimisan.
“Mas,” desahku.
Aku tidak punya pilihan selain meminta tolong kepada Mas Gala.
Jika ada darah yang keluar dari dalam hidung, tandanya tubuhku sedang tidak baik-baik saja. Sudah sejak kecil aku mengalami masalah seperti ini. Mimisan yang terjadi ini biasanya disebabkan oleh tekanan atau kecemasan yang berlebih. Ya, detik ini, aku memang sedang cemas luar biasa!
“Mas!”
“Apa?” jawab Mas Gala singkat. “Tidur! Besok kita harus ketemu keluargamu!”
Aku terisak. “Mas, tolong aku. Aku mimisan.”
Ucapanku tidak ditanggapi secara langsung. Mas Gala hanya menggeliat. Dia menyingkap selimut, lantas melangkah ke sisiku. Aku yakin, Mas Gala baru mau masuk ke alam mimpi. Namun dia harus kembali bangun gara-gara aku.
“Kamu .....” Wajah Mas Gala berubah keras. “Ini hari pertama kita menikah. Bagaimana mungkin kamu sudah membuat saya susah?”
Aku sedang berusaha menghentikan darah yang keluar dari dalam hidung dengan tangan. Baju tidurku, juga ranjang yang kutiduri ternoda oleh darah yang cukup banyak.
Mas Gala berjalan ke luar kamar sambil mengomel. Setelahnya, dia kembali dan membawa kotak P3K. Dia mengeluarkan kapas dari dalam kotak itu.
“Tegak!”
Ucapannya membuat ulu hatiku sedikit ngilu. Selama hidup, Bapak atau Ibu belum pernah membentakku seperti itu. Sekarang, Mas Gala memberikan pengalaman pertama yang jelas membuat dadaku sesak.
“Tegak!” tegasnya sekali lagi. “Kamu mau mimisan terus?”
Akhirnya, aku bangun dari ranjang, badanku tegak sesuai permintaan.
Aku merasa jika Mas Gala canggung berhadapan denganku. Buktinya, dia diam dengan wajah merah. Ya .... meskipun pada akhirnya, dia mengusapkan kapas di sekitar hidung, lantas menyumbatkan benda lembut itu.
Kamu tahu? Gerak-gerik Mas Gala, napas segar Mas Gala, juga harum parfum dari badannya membuat jantungku berdetak lebih kencang. Mungkin ini perlakukan terbaik dari Mas Gala setelah kami menikah. Perlakuan yang mungkin biasa saja bagi perempuan lain, namun terasa istimewa bagi perempuan sepertiku.
“Sudah!” ucapnya. Dia menjauh sambil membawa kotak P3K.
“Mas ....,”
Mas Gala menoleh.
“Makasih karena telah membantuku,” kataku tulus.
Mas Gala berlalu begitu saja dengan wajah datar.
Sekarang, aku mendapati pakaian dan juga seprai yang ternoda. Apa yang harus aku katakan kepada asisten rumah tangga Mas Gala jika dia bertanya? Sepertinya, aku sendiri yang harus mencuci seprai itu sebelum ketahuan. Aku tidak mungkin berkata jika aku tertekan oleh Mas Gala hingga menyebabkan mimisan. Aku juga tidak mungkin membuatnya khawatir. Meski hanya asisten rumah tangga, aku tahu jika dia begitu menanti kehadiranku.
“Ganti baju!” Itu ucapan Mas Gala.
Aku mendongak. “Kamu kan tahu kalau semua bajuku ada di kosan. Aku nggak bawa baju lain selain baju yang ini. Lagian, kamu sendiri yang melarangku ke kosan. Kamu ....”
“Diam! Dasar cerewet!”
Mas Gala berjalan ke arah lemari yang menempel di sisi kanan. Dia membukanya, lantas mengeluarkan kaus putih berlegan panjang dan celana training berwarna biru. Tanpa ampun, dia melemparkannya kepadaku.
“Pakek!”
Huh! Kenapa sih, dia galak banget? Apa Mas Gala tidak bisa berkata lebih lembut?
“Kamu nggak mau pakek?” Mas Gala mendekat. “Ya udah!” Dia mengambil lagi pakaian itu.
“Eh ....” Dengan gerakkan cepat, aku menarik pakaian di tangan Mas Gala, hingga dia terjatuh ke atas kasur. Hampir saja wajah kami beradu.
“Kamu jangan cari-cari kesempatan ya!” tegas Mas Gala.
Mendengar ucapan itu, aku langsung mendorong tubuhnya. “Siapa yang cari kesempatan, Mas? Aku bukan perempuan murahan.”
Seharusnya, ucapan itu tidak keluar dari mulutnya. Toh, aku memang istrinya kan? Bahkan seharusnya, aku dan Mas Gala bisa lebih mesra dari sekadar bersentuhan seperti barusan.
Mas Gala kembali membaringkan badan di atas sofa. Sementara aku, aku mengembuskan napas kasar. Aku berpikir begitu panjang soal kami berdua. Apa aku harus tetap ada di rumah ini setelah apa yang dia lakukan? Atau, aku pergi dan meminta cerai?
Berat! Ini sungguh berat.
Aku jadi ingat Bapak. Saat masih hidup, Bapak sering berkata bahwa hal yang paling baik untuk dilakukan adalah berusaha. Ya, berusaha. Dia selalu meyakinkanku jika berusaha akan membuat manusia lebih tenang ketimbang mundur begitu saja.
Berarti, aku harus berusaha mendapatkan Mas Gala? Aku harus mengejar cinta lelaki jutek yang menyebalkan itu? Ah, aku memang harus menanggung risiko. Apalagi jika aku masih punya impian. Bukankah aku ingin mewujudkan kemesraan yang sering kami lakukan di alam lain?
Mungkin kamu bingung saat aku berkata tentang ‘alam lain’. Bahkan alam lain itulah yang kemudian mendorongku untuk menyetujui ajakan menikah dari Mas Gala. Besok, aku akan ceritakan soal alam yang kumaksud. Sementara untuk sekarang, aku harus tidur. Aku harus mengisi tenaga sebelum kembali bertarung. Bisa jadi Mas Gala akan mengajakku bergulat tengah malam nanti.
Ah, sudahlah, Aku tidak boleh banyak berharap ....
***
Hello readers. Please let me know if you like the story. There is a next book expected but not that soon as I need to complete Raphael’s book first. (Added to the Oops I Married A CEO By Mistake book). Please keep following me for further updates about it. I am sharing a little blurb so that no one can blame me in the future for stealing someone’s work [As a king, he had been looking for his mate. When he found one, he rejected him immediately because he was not a g*ay. How can Moon Goddess crack such kind of joke? He was never interested in men. Her life was in danger so she transformed herself into a man and went to him. Only to get insulted and rejected by the king.] Like it? I hope you do. I don’t think I will bring back Noah, Ezequiel, or Hazel. I can’t. Because saying them goodbyes gets harder for me. So even if the next story would be about Amerigo you might not find them in his book. Or maybe a little bit! Thank you for your patience, love, and understanding. Don't fo
Alessandra BenjaminI am Alessandra Benjamin. A mere Omega. Who was so fond of becoming Luna, thinking that the position was only meant for power? For enjoying the luxuries.I was wrong.The positions are meant to fulfill responsibilities. The higher the position, the more you need to be responsible. I got a second chance to right the wrong things.Not everyone gets it.Today I have got everything within my reach. An ideal life, Amerigo: my boy, perfect family, understanding parents in law, a great sister in law, my best friend: Emma, and the love of my life.Noah James.Moon Goddess returned me everything. Well … almost!Just like Noah lost Lucas, I lost David. They were supposed to be our best friends. But they were the ones who betrayed us.My brother Russel, who would always be missed.Today was my son’s second birthday and we just cut the cake. Everything was perfect. Everyone was happy.Patricia, Beatrice, and Amerigo were running around along with other kids. Ezequiel James was
Alessandra Benjamin TWO MONTHS LATERIt was a private party arranged in the garden. Just an intimate family affair to get the chance to know each other.After roaming around with my protruding belly I was made to sit at the table beside Ezequiel James.While talking to me he had this constant mischievous glint in his eyes.The other round table was occupied by my mother in law and she was telling Noah, Goddess knows what stories. Because every other minute he would throw back his head and laugh loudly.Everyone was happy... hearty.Talia and I got the time to gossip a lot about our past lives. How we grew up, how we spent our childhood. She was a talkative girl and we seemed to get along really well. Tonight Patricia stayed with her dad most of the night."My daughter is crazy after him!" Talia had said throwing a loving gaze their way.Emma had to leave early because she wanted to go to Beatrice to make her sleep.Yes. We had handed over the little girl's responsibility at Emma's r
Juliet"Help!" There was a blood-curdling sound in the dense forest, "Someone please help us. For Goddess's sake!"I was horrified to realize that it was my voice, but that didn't stop me and I kept running at full throttle.There was no time to stop.I made certain that my backpack was still there. When I was sure that it was safe, I increased my speed.I was the luna of a pack that did not exist anymore. My life was in danger.Romeo and I had been running ever since our pack was attacked by Pink Pack.Every time we thought of getting settled somewhere and every time we had to leave the place due to rogue attacks.By now our bodies had started emitting rogue scent and it was getting harder day by day to keep ourselves safe.We didn't have any idea that we had set foot in the wrong territory.That was the reason some warriors had started following us.This was not a casual cat and mouse chase.It was a little more brutal. Like they would rip us apart as soon as their hands would find
King Noah James:[Noah!]I received Lucas's mind link.[They are quite a boring lot. Please get done with the first dance and leave.]I knew he was getting bored by all of this political drama.It was something new for him. I never spent more than five minutes at the annual ball. Before becoming a king,
King Noah Ezequiel James:I was sitting there with a bored expression. Alpha Romeo did try to accompany me along with his dull witted mistress.Her eyes had been ogling at me since we were introduced. Beta Lucas had been teasing me that she had fallen in love with me.Huh! In love? No!I would only love
Alessandra Benjamin:Swords were clanking and I was attacking Dimitri at every chance I was getting. When I kicked his knee, he dropped his sword and fell on his back.My sword was pointed towards his neck now. I was panting and my face was soaked in my sweat.“Excellent, my Luna.” He complimented me
Alessandra BenjaminI was heading to the conference room after this unexpected meeting call when I saw Drama Juliet coming out of a room that was used as a store room.She came out dramatically looking around suspiciously and scurried outside the pack house. What was that about exactly?She was more su
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak